Home / Romansa / LANGIT penuh MELODY / 107. SEPERTINYA BESAR

Share

107. SEPERTINYA BESAR

Author: Ryanty_tian
last update Last Updated: 2026-01-02 22:42:29

Telinga Langit merasa gatal mendengar desahan nikmat film yang ditonton oleh Melody, tampak wanita itu begitu serius menatap laptop tanpa berpaling sedikit pun. Apa Melody tidak merasakan apa pun ketika menonton film itu?

“Dasar penakut, nonton film beginian aja takut,” ejek Melody bergumam sendiri.

Mendengar Melody mengatakan hal itu tentu membuat Langit tidak terima, dia tidak takut dan hanya tak ingin terbawa suasana yang membuatnya melayang.

“Padahal filmnya nggak melulu tentang begituan aja,” ujar Melody berbicara sendiri karena dia tahu kalau Langit sudah tertidur.

“Sudah nontonnya, tidurlah,” kata Langit membuat Melody menoleh.

“Berisik, ya,” jawab Melody melebarkan senyumnya.

“Tidak berisik, tapi geli mendengarnya,” kata Langit menatap Melody yang tampak berbeda ketika seperti ini.

“Ya, udah nggak usah dengar,” balas Melody kembali melihat film tersebut.

“Saya punya telinga dan masih 100% mendengar dengan jelas,” sahut Langit langsung.

“Tidur aja.”

Langit gemas ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • LANGIT penuh MELODY   107. RIWAYAT PENERIMA

    “Papa jangan bercanda,” jawab Alfred tertawa.“Papa serius, dulu Papa sangat mencintai Nada di saat wanita itu sudah menikah dengan Ivander. Papa juga berusaha keras meyakinkan tante Nada supaya kembali bersamaku,” cerita Alby.Alfred tidak menyangka kalau Alby juga merasakan hal yang sama dengannya saat ini, dan sungguh fakta yang membuat dirinya berakhir seperti Alby.“Tapi semua tetaplah tidak mudah, Nada mencintai Ivander lebih dari segalanya. Dan Nada terlihat begitu bahagia ketika bersama dia,” lanjutnya, “dan Papa lebih memilih merelakan hal itu, ikhlas melihat Nada bahagia dengan pilihannya. Memang berat, tapi pasti bisa terlewati.”“Apa aku harus merelakan Melo?” tanyanya.“Jika Melo sudah mencintai yang lain, maka relakan dia. Papa yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik lagi,” jawab Alby menepuk pundak Alfred berkali-kali.Sepertinya memang benar yang dikatakan oleh Alby, mungkin Alfred harus berusaha merelakan Melody untuk Langit. Melihat wanita itu bahagi

  • LANGIT penuh MELODY   107. SEPERTINYA BESAR

    Telinga Langit merasa gatal mendengar desahan nikmat film yang ditonton oleh Melody, tampak wanita itu begitu serius menatap laptop tanpa berpaling sedikit pun. Apa Melody tidak merasakan apa pun ketika menonton film itu? “Dasar penakut, nonton film beginian aja takut,” ejek Melody bergumam sendiri.Mendengar Melody mengatakan hal itu tentu membuat Langit tidak terima, dia tidak takut dan hanya tak ingin terbawa suasana yang membuatnya melayang.“Padahal filmnya nggak melulu tentang begituan aja,” ujar Melody berbicara sendiri karena dia tahu kalau Langit sudah tertidur.“Sudah nontonnya, tidurlah,” kata Langit membuat Melody menoleh.“Berisik, ya,” jawab Melody melebarkan senyumnya.“Tidak berisik, tapi geli mendengarnya,” kata Langit menatap Melody yang tampak berbeda ketika seperti ini. “Ya, udah nggak usah dengar,” balas Melody kembali melihat film tersebut.“Saya punya telinga dan masih 100% mendengar dengan jelas,” sahut Langit langsung.“Tidur aja.”Langit gemas ka

  • LANGIT penuh MELODY   105. AJAKAN YANG MENGGODA

    “Iya, aku ingin melepas lelahku,” jawab Melody rasanya begitu lega meninggalkan Alfred dan mengungkapkan isi hatinya.“Kamu bilang apa nanti kalau ditanya sama ayah kamu?” tanya Langit memastikan.“Gampang, tinggal bilang pergi sama kamu,” jawab Melody dengan santai, “Ayah pasti udah mengerti, Honey. Kayak kita masih anak kecil aja.”“Baiklah kalau begitu.”Langit dan Melody saling bercerita dan mungkin saatnya dia ingin menanyakan perihal Darel pada Langit.“Memang hubunganmu dan papa kamu begitu buruk?” tanya Melody hanya menebak.“Bisa dikatakan begitu, sejak kecil saya selalu sendiri dan tidak mendapatkan kasih sayang darinya. Bahkan ketika Ibu pergi, dia malah semakin sibuk lalu menikah lagi. Saya selalu sendiri, entah itu sedih maupun senang. Dan satu-satunya yang menguatkan saya adalah gelang yang kamu berikan,” cerita Langit mengingat masa lalu yang sedikit menyedihkan.“Tante Roseline apa nggak memperlakukanmu dengan baik?” tanya Melody lagi, karena penasaran tentang h

  • LANGIT penuh MELODY   104. KEKESALAN YANG MENCUAT

    Melody tak mampu menahan rasa yang bergemuruh dalam jiwanya, beberapa hari dia tahan karena berharap akan menjadi lebih baik jika dia menemani Alfred menjalani segala terapi dan bersamanya. Tapi, ternyata hal itu salah besar. “Aku tahu ini salahku kamu lumpuh seperti ini, aku udah berusaha menemani kamu, jaga kamu dan bantu kamu terapi,” tatap Melody berkaca-kaca karena diperlakukan seperti ini, “tapi... tapi kenapa kamu terus memojokkanku, menambah rasa bersalah yang berusaha udah aku terima dengan lapang. Aku juga nggak meminta kamu selamatkan, kalau perlu biarlah aku yang tertabrak dan aku nggak perlu merasakan perasaan ini!”Melody menangis meluapkan emosinya pada Alfred, padahal dia berharap lelaki itu bisa lebih baik menyikapi tapi ternyata itu salah besar.“Apa kamu begitu puas menyiksaku begini? Puas,” teriak Melody mengusap air mata yang tak bisa dibendung lagi.Melihat reaksi Melody seketika membuat Alfred panik bukan main, maksud dia tidak seperti ini. Dia hanya ingin

  • LANGIT penuh MELODY   103. LELAKI TIDAK TAHU DIRI

    Alexandra sendiri terkejut dengan pernyataan Alfred yang baginya terlalu aneh, dia menatap keduanya penuh pertanyaan. Karena yang Alexandra tahu adalah Melody akan menikah dengan Langit.“Kamu jangan bercanda, jangan mengganggu hubungan mereka,” ingatkan Alexandra yang tahu kalau Alfred berusaha keras untuk mempertahankan Melody di sisinya.“Aku beneran, Ma. Melo nggak akan meninggalkanku, iya ‘kan?” balas Alfred menatap Melody, diikuti oleh Alexandra.“Iya, Tan. Tapi hanya sebagai sahabat aja, dan tentu aku akan tetap menikah dengan Langit,” tegas Melody.Jawaban Melody kembali membuat Alfred bungkam, kenapa Melody terus saja menolaknya? Bukankah dia harusnya berterima kasih padanya karena sudah menolong hidupnya? Setidaknya balaslah dengan perasaan yang tulus, keluh Alfred.“Maaf, saya dan Melody harus pergi. Kami masih harus melakukan fitting baju pengantin setelah ini,” ujar Langit pamit pada Alexandra.“Iya, maaf merepotkan kalian,” jawab Alexandra begitu ramah karena melih

  • LANGIT penuh MELODY   102. PERKARA BARU

    Melody masih tak menjawab, memilih berdiam diri untuk memberikan jawaban yang pas untuk dirinya. Dan dia juga harus berpikir dengan tenang, meski menyakitkan tapi Melody tetap harus mengatakan semuanya. “Iya, aku nggak akan meninggalkanmu,” jawab Melody membuat senyum Alfred mengembang seketika, tak menyangka kalau wanita itu akan memberikan respons seperti ini.“Aku yakin kamu emang masih mencintaiku,” jawab Alfred tersenyum lega, meski masih lemas tapi mendengar Melody mengatakan hal ini membuatnya bersemangat untuk sembuh.Langit tampak belum bereaksi sedikit pun ketika mendengar jawaban Melody, lelaki itu ingin mendengar lebih lanjut ucapan Melody. Dia yakin kalau perkataan Melody belum sepenuhnya selesai.“Aku tetap akan bersama kamu, tapi sebagai sahabat,” lanjut Melody mengatakan hal ini, meski berat tapi mau bagaimana lagi.Wajah Alfred seketika berubah murung, dan Melody melihat hal itu. Melody sendiri memang merasa bersalah atas keadaan yang menimpa Alfred, tapi meski

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status