LOGINMalam harinya, Gea sedang menunggu Stefano di ruang keluarga. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu pria itu, banyak sekali hal yang ingin dia bahas. "Kenapa dia belum datang juga," gumam Gea. Sampai tak lama kemudian, orang yang sudah dia tunggu akhirnya muncul juga. Dia tidak menyangka kalau akan kedatangan orang tersebut. "Mas, bagaimana?" Stefano tersenyum ketika melihat istrinya. "Semuanya sudah ditangkap."Gea terdiam sejenak sebelum akhirnya tersenyum lega. "Benarkah?"Stefano mengangguk sambil tersenyum meyakinkan semuanya. "Raya juga sudah memberikan keterangannya. Hans dan Sonia sekarang berada dalam penanganan kepolisian."Gea mengembuskan napas panjang."Syukurlah."Stefano merangkul bahu istrinya."Masalah ini akhirnya bisa kita selesaikan."Gea menyandarkan kepalanya di dada Stefano. Ini adalah hal yang biasa dia lakukan untuk melepaskan pe
Stefano masih memperhatikan foto Adrian yang terpampang di layar laptopnya.Pria itu terlihat biasa saja. Tidak ada sesuatu yang mencolok dari penampilannya. Namun, informasi yang baru saja diterima Stefano membuatnya semakin yakin bahwa Adrian bukan orang sembarangan."Jadi, dia pernah bekerja sama dengan Sonia?" tanya Gea.Stefano mengangguk."Beberapa tahun lalu, Adrian pernah terlibat dalam sebuah proyek bersama perusahaan yang memiliki hubungan dengan Sonia.""Apakah dia juga terlibat dalam rencana untuk mencelakai kita?""Saya belum bisa memastikannya."Stefano menutup laptopnya."Namun, ada sesuatu yang lebih menarik. Adrian sepertinya sengaja mencari informasi tentang kamu melalui Raya."Gea mengerutkan kening."Tapi aku bahkan tidak mengenalnya."Stefano menatap istrinya."Itulah yang membuat saya penasaran."Gea terdiam. Dia mencoba mengingat apakah pernah bertemu seseorang bernama Adrian, tetapi tidak ada satu pun ingatan yang muncul."Mas, menurutmu apa mungkin dia pernah
Pagi itu, Hans sudah bersiap sejak awal. Dia mengenakan kemeja putih dengan jas berwarna gelap. Penampilannya terlihat rapi seperti biasa.Sementara itu, Sonia masih berada di apartemen. Wanita tersebut duduk di sofa sambil memperhatikan Hans yang sedang memeriksa ponselnya."Jadi, kamu akan bertemu dengannya sekarang?" tanya Sonia.Hans mengangguk."Raya akan datang sekitar satu jam lagi.""Bagaimana dengan orang yang akan kamu perkenalkan kepadanya?""Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan."Sonia tersenyum tipis."Semoga kali ini rencanamu berhasil."Hans menoleh kepadanya."Saya tidak mau mendengar keluhan apa pun hari ini. Kamu tetap di sini dan jangan melakukan sesuatu yang bisa menarik perhatian."Sonia mendengus."Kamu tidak perlu terus mengingatkanku."Hans tidak menjawab. Dia mengambil kunci mobil, lalu berjalan keluar dari apartemen.Begitu pintu tertutup, senyum di wajah Sonia menghilang.Dia mengambil ponselnya dan membuka sebuah nomor yang tersimpan tanpa nama.Jarinya
Stefano kembali memperhatikan layar ponselnya. Pesan dari anak buahnya masih terbuka, disertai sebuah foto yang baru saja dikirimkan.Dia memperbesar foto tersebut.Seorang wanita terlihat keluar dari gedung apartemen dengan mengenakan jaket panjang, masker, dan topi yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, Stefano tetap bisa mengenali sosok itu."Sonia," gumamnya pelan.Gea yang duduk di sampingnya langsung menoleh."Siapa, Mas?"Stefano menunjukkan foto tersebut kepada istrinya."Ini wanita yang keluar dari apartemen Hans?"Stefano mengangguk.Gea memperhatikan foto itu dengan saksama. Meskipun penampilannya berbeda, dia tidak kesulitan mengenali wajah wanita tersebut."Itu memang Sonia.""Benar. Anak buah saya juga sudah memastikan identitasnya."Gea mengerutkan kening."Tapi kenapa Sonia keluar dari apartemen? Bukankah selama ini dia bersembunyi di sana?""Itulah yang sedang saya cari tahu."Stefano kembali menghubungi anak buahnya."Terus awasi pergerakannya. Jangan sampai dia men
Pagi itu, Raya terlihat sibuk mempersiapkan diri. Sesekali dia memeriksa ponselnya, memastikan tidak ada pesan baru dari Hans.Pria itu sudah menghubunginya sejak pagi dan mengatakan bahwa dia akan menjemput Raya untuk makan siang bersama.Sementara itu, di rumah Gea, wanita tersebut tampak gelisah. Pikirannya terus tertuju pada pertemuan sahabatnya dengan Hans."Mas, apa orang-orangmu sudah bersiap?" tanya Gea ketika Stefano baru saja keluar dari ruang kerjanya.Stefano mengangguk sambil merapikan jam tangannya."Mereka sudah berada di sekitar tempat yang akan dikunjungi Hans dan Raya. Saya juga sudah meminta mereka untuk tidak melakukan sesuatu yang bisa membuat Hans curiga."Gea mengembuskan napas perlahan."Aku hanya takut Raya kenapa-kenapa."Stefano mendekat, kemudian menggenggam tangan istrinya."Jangan terlalu khawatir. Selama orang-orang saya mengawasi mereka, Raya tidak akan dibiarkan menghada
Stefano masih duduk di depan laptopnya. Dia kembali memutar rekaman yang berhasil didapatkan dari apartemen Hans.Sementara itu, Gea duduk di sampingnya dengan wajah serius. Dia benar-benar ingin mengetahui apa yang sebenarnya direncanakan oleh pria yang kini menjadi kekasih Raya tersebut.Suara Hans kembali terdengar."Kalau kita berhasil mendekati Gea, semuanya akan jauh lebih mudah."Kemudian terdengar suara Sonia."Memangnya kamu yakin bisa melakukan itu? Stefano bukan orang bodoh. Dia pasti akan mencurigai kita."Hans tertawa kecil."Justru itu sebabnya aku mendekati Raya. Aku tahu dia memiliki hubungan dekat dengan Gea. Dengan begitu, aku bisa mendapatkan informasi yang kubutuhkan tanpa harus berhadapan langsung dengan Stefano."Gea langsung menoleh kepada suaminya."Jadi, selama ini dia memang sengaja mendekati Raya?"Stefano mengangguk."Sepertinya begitu."Gea kembali memperhatikan laptop.Suara Sonia terdengar lagi."Tapi aku tidak suka kalau kamu terlalu dekat dengan wanita
Gea di depan pintu ruangan pribadi milik Stefano. Ada rasa perasaan gelisah ketika dia handak akan masuk ke dalam ruangan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu dengan pelan. Tok tok tok..."Masuk."Mendengar suara maskulin itu membuat Gea sedikit ragu, sampai akhirnya dia memberan
Gea sudah mulai melupakan kejadian yang terjadi padanya. Dia tidak tahu pria asing yang tidur dengan dirinya semalam. Gea duduk di kursi kampusnya, berusaha terlihat tenang di antara mahasiswa lain. Tapi pikirannya terus berputar. Ia menatap kosong halaman catatan yang belum disentuh sama sekali.“
Dentuman musik memenuhi ruangan, lampu-lampu neon berkilau di antara orang-orang yang menari di bar hotel malam itu. Gea Andriana tersenyum kecil sambil memegang gelas koktailnya. Malam ini seharusnya menyenangkan. Teman-teman satu jurusannya merayakan kelulusan beberapa senior, dan Gea berniat mel
Rumor tentang Gea berada di perpustakaan bersama dengan Stafano kini kian menyebar. Semuanya karena Satpam itu yang membicarakan ini pada penjaga lainnya. Bahkan mahasiswa lain juga ada yang ikut mendengar rumor tersebut. "Tidak menyangka yah, Gea orang yang seperti itu.""Demi nilai, dia merenda







