เข้าสู่ระบบLan Xuan menarik napas dalam-dalam, lalu menutup kembali peti itu dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Ia menatap Ye Tian dengan sorot mata yang jauh lebih serius dari sebelumnya. "Dengan sumber daya seperti ini… dalam waktu singkat, kekuatan kami akan melonjak," ucapnya perlahan. "Bahkan kultivasi Jenderal Lang Wu, jenderal Lang Ruohai, komandan Shen Tong, komandan Muyue beserta prajuritku bisa menembus batas yang selama ini menghambat mereka." Ia memandang Ye Tian dengan mata berkaca-kaca dan terharu atas kebaikan yang di tunjukan oleh pemuda itu. Sumberdaya itu amat sangat berharga bagi dirinya maupun seluruh bawahannya untuk meningkatkan kekuatan mereka. Jenderal Lang Wu dan Lang Ruohai saling berpandangan. Keduanya tidak berbicara, tetapi kepalan tangan mereka mengeras—bukan karena gugup, melainkan karena semangat yang menyala. Akhirnya mereka bisa menerobos ke ranah Kaisar. Keduanya kini lebih menghormati sosok Tuan Muda Ye Tian. "Kami tidak akan menyia-nyiakan keper
Langit malam perlahan gelap, bulan sabit menggantung di antara awan-awan tipis. Di puncak tebing Pegunungan Kematian, Lan Xuan berdiri tegak dengan kedua tangan di belakang punggungnya. Angin dingin bertiup kencang, menggoyangkan rambut peraknya yang panjang. "Sudah lama wilayah ini tidak pernah kedatangan tamu istimewa," ucap Lan Xuan pelan. "Dan sekarang, Tuan Muda Ye Tian sendiri akan datang ke sini." Lan Wu yang berdiri di sampingnya menunduk hormat. “Apakah kita akan menyambutnya secara terbuka, Raja?" Lan Xuan tersenyum tipis, "Benar, bagaimanapun kita sudah menantikan hari dimana kita bertemu langsung dengan Tuan Muda Ye Tian." Beberapa pasukannya muncul di sekitar mereka, berlutut sambil menundukkan kepala. "Raja, mereka sudah tiba di luar kawasan pegunungan kematian sisi utara," lapor salah satu dari mereka. Lan Xuan membuka matanya perlahan. Cahaya keunguan berkilat di dalam pupilnya. "Baiklah," ujarnya datar. "Mari kita sambut kedatangan Tuan Muda." Lan Xuan,
Beberapa hari kemudian, Ye Tian yang berada di atas punggung Shen Long kembali melanjutkan perjalanan menuju wilayah selatan. Dari atas pemuda itu melihat pemandangan di bawahnya, hutan, gunung, danau, desa-desa dan Kerajaan Nanyue di kejauhan. Namun keduanya tidak akan singgah di kerajaan itu. "Terus bergerak, Senior Shen Long. Kita harus secepatnya sampai di wilayah selatan," ucap Ye Tian. "Baik, Tuan Muda," jawab Shen Long sambil menambah kecepatannya. Angin menderu semakin kencang saat Shen Long menambah kecepatan. Awan-awan tipis terbelah di hadapan mereka, sementara cahaya matahari perlahan condong ke barat. Ye Tian yang duduk di atas punggung Shen Long, jubahnya berkibar pelan. Wajahnya tenang, namun sorot matanya tajam, seolah tengah menghitung setiap kemungkinan yang akan mereka hadapi ke depan. "Wilayah selatan tidak setenang yang terlihat," ucap Shen Long setelah beberapa saat. "Banyak kekuatan tersembunyi berakar di sana. Bahkan sekte-sekte besar pun jarang iku
Energi hijau keemasan terus-menerus masuk ke dalam tubuh Ye Tian, mengalir melalui pori-pori, meresap ke daging, tulang, dan meridian, menstabilkan energi qi yang kacau. Wajahnya tampak semakin segar. Setiap tarikan napas seakan menarik energi spiritual murni dunia kecil ke dalam tubuhnya, sementara setiap embusan napas perlahan membuang sisa-sisa energi hitam yang tertinggal di dalam tubuhnya. Aura di sekelilingnya berangsur menjadi tenang. Bao Liang berdiri di sisi batu giok hijau keemasan tempat Ye Tian terbaring. Wajahnya yang sejak tadi tegang akhirnya sedikit mengendur. "Syukurlah… keadaan Tuan Muda mulai berangsur membaik," ucapnya pelan sambil menghembuskan napas lega. Semua orang yang ada di ruangan itu bernapas lega melihat kondisi Ye Tian. *** Di malam hari, Ye Tian membuka matanya perlahan. Ia melihat Su Wan’er dan Jiang Ruolan berada di sisi kanan dan kirinya. "Maaf, jika sudah membuat kalian khawatir," ucapnya sambil tersenyum lembut. Ia lalu mengulurkan
Ye Tian tidak bergerak dari gendongan Bao Liang. Ia hanya mengangkat sedikit kepalanya, menatap pemandangan di hadapan mereka dengan sorot mata tenang. "Tempat ini," ucapnya pelan, suaranya terdengar jelas meski tubuhnya masih lemah, "akan menjadi tempat kalian tinggal. Kalian bisa berlatih dan meningkatkan tingkat kultivasi di sini dengan tenang tanpa adanya gangguan." Jiang Ruolan menarik napas dalam-dalam. Tatapannya masih terpaku pada istana emas dan pohon-pohon buah abadi yang berjejer rapi. Getaran energi spiritual yang pekat membuat jantungnya berdebar kencang. "Tian'er…," ujarnya perlahan, "tempat ini… bukan dunia biasa, bukan?" Ye Tian tersenyum tipis dari atas bahu Bao Liang. "Benar. Dunia kecil ini dulunya milik seorang leluhurku Ye Mo Tian. Beliau telah mewariskannya padaku untuk aku jaga dan merawatnya. Heylong menatap sekeliling dengan sorot mata berbeda dari sebelumnya. Senyum tipisnya perlahan memudar. Ia menengadah ke langit dunia kecil, merasakan aliran huku
“Cepat katakan, apa yang telah terjadi di dalam dunia kuno itu? Kenapa hanya murid-murid sekte, klan, ataupun keluarga besar yang kembali? Sedangkan murid-murid kami tidak ada satu pun yang kembali. Dan kalian adalah orang yang keluar terakhir dari gerbang dimensi dunia kuno itu sebelum hancur. Jadi… aku yakin pasti kalian mengetahui apa yang telah terjadi dengan murid-murid kami, atau bisa saja kalian yang telah membunuh mereka," tanya Tetua Sekte Huangquan sambil menatap ke arah Ye Tian beserta rombongannya. Ia telah bertanya pada murid Klan Ma, Klan Nan, Sekte Laut Biru, sekte-sekte lain, bahkan hingga murid keluarga besar sekalipun. Namun tidak satu pun dari mereka mengetahui keberadaan murid-muridnya setelah memasuki dunia kuno. Mereka menjelaskan bahwa setibanya di dunia itu, mereka terlempar ke tempat yang berbeda-beda. Karena itu, ia bersama tiga tetua lainnya mencurigai Ye Tian, Jiang Ruolan, dan rombongannya. Namun Tetua itu merasa sangat asing dengan wajah empat pria ya







