ホーム / Fantasi / Legenda Tongkat Semesta / Bab 7 Kekuatan Terpendam

共有

Bab 7 Kekuatan Terpendam

作者: Pujangga
last update 最終更新日: 2025-10-19 20:45:08

Lama menunggu tetua Daeng Lambada, akhirnya Masayu merasa jenuh, apalagi dia juga sangat mengkhawatirkan keadaan Lintang.

Tidak mau terjadi sesuatu yang buruk terhadap sahabatnya, gadis itu memutuskan untuk memberitahu ayahnya agar membantu mencari Lintang.

“Benar juga, tugasku disini sudah selesai, biarkan paman Daeng yang mengurus penyusup itu, aku harus memberitahu Bopo tentang si Bodoh yang dari kemarin menghilang entah kemana.”

Masayu segera melesat menuju ke diaman ayahnya di puncak tertinggi gunung berapi, perlu waktu menuju kesana, jaraknya sekitar 2 kilo meter dari aula perguruan.

Dia melompat melewati beberapa atap bangunan komplek murid dalam, setelah itu Masayu berlari menaiki anak tangga menuju puncak gunung.

Sesaat kemudian, gadis itu sampai di depan sebuah bangunan besar dengan pelataran sangat luas yang terdapat taman bunga dan kolam ikan berwarna warni di dalamnya.

Tanpa mengetuk pintu, Masayu langsung masuk dengan berteriak keras memanggil Ki Ageng Jagat.

“Bopo? Bopo? Bopo …..?”

Lama memanggil, gadis itu tetap tidak mendapatkan jawaban, “Kemana perginya Bopo, mengapa dia tidak berada di rumah? apa mungkin ….”

Masayu selanjutnya melesat menuju taman belakang yang biasa dipakai dirinya berlatih kanuragan bersama sang ayah.

Taman itu menyimpan banyak kenangan saat Masayu memulai berlatih kanuragan bersama Lintang, sebelum akhirnya Lintang memutuskan berhenti dari latihan.

“Ah, mengapa si bodoh itu selalu saja membuatku cemas.” Masayu berdiri mematung seraya memandangi dua boneka kayu yang terlihat sudah lapuk termakan usia.

Satu dari boneka itu adalah miliknya, dan satu lagi adalah milik Lintang.

Beberapa tahun yang lalu kedua boneka itu selalu mereka pakai untuk latihan.

Taman di belakang kediaman Ki Ageng Jagat memang sangat luas, Masayu berjalan menuju sebuah gubuk tua tempat biasa ayahnya menghabiskan waktu.

Benar saja, ternyata Ki Ageng Jagat sedang berada di sana, dia tengah duduk bersila melakukan semedi.

Masayu tersenyum memandangi wajah Bopo-nya yang nampak tenang, namun senyum itu seketika menukik saat melihat sosok hewan buas yang tidak asing yang sudah seharian dirinya cari bersama pemiliknya.

Dia adalah seekor beruang besar berwarna hitam yang kini sedang bermain mengejar kupu-kupu, berlarian tepat di belakang Ki Ageng Jagat.

“Limo…!” Masayu berteriak memanggil beruang itu.

“Kwii, kwi , kwiii.”

Limo langsung berlari mendekati Masayu, layaknya kepada Lintang, dia juga senang mengeluskan kepalanya di kaki Masayu.

“Hahaha, ternyata kau berada di sini, dasar nakal,” Masayu menggetok kepala Limo dengan gagang pedang secara pelan.

“Kwiiiii,” beruang itu meringis dan segera mundur dua langkah menjauhi Masayu.

“Dimana tuanmu? apa dia juga di sini?” Masayu bertanya cepat, dia sangat kesal jika benar Lintang berada di tempat itu.

Sungguh merepotkan, dirinya mencari Lintang dari pagi buta hingga sampai dibatas hutan terlarang, ternyata pemuda bodoh itu berada di sini ditempat kediaman ayahnya sendiri.

Masayu menatap Limo tajam menunggu jawaban, membuat beruang gendut tersebut mundur ketakutan, sementara Masayu terus melangkah memberi ancaman, namun ….

Limo yang terlalu ketakutan malah lari terbirit-birit, melompat dan bersembunyi di belakang Ki Ageng Jagat, dia tidak mengerti kenapa sahabat tuannya tampak begitu marah.

Limo tahu, jika seorang gadis sudah marah, maka langit sekalipun tidak dapat menahannya.

Limo menggigil berlindung dibalik tubuh Ki Ageng Jagat.

“Bopo, cepat katakan dimana si bodoh kesayanganmu itu?” Masayu bertanya dengan nada kesal, auranya sungguh terasa benar-benar mengerikan.

Membuat Ki Ageng Jagat yang sedang bersemedi pun sampai terbatuk 2 kali, kemudian membuka sebelah mata seraya mengangkat tangan kanan menunjuk ke arah dapur di belakang kediamannya.

Melihat itu, Masayu sontak melesat menuju arah yang ditunjuk oleh ayahnya, dia tidak sabar ingin segera menghajar Lintang.

“Dasar gadis manja, dia masih saja tidak berubah, tapi kenapa dia terlihat sangat kesal?” Ki Ageng Jagat selanjutnya tertawa, menggeleng berpikir anak gadisnya kini sudah dewasa.

“Kwii, kwii, kwiiii.” Limo juga ikut bersuara namun Ki Ageng tidak mengerti entah apa yang diucapkannya.

“Kau sama saja dengan dia Limo, tidak pernah berubah.” Ki Ageng Jagat mengatai Limo dan Lintang yang menurutnya masih tetap polos, dimana yang mereka tahu hanya bermain dan makan saja.

“Kwiiiiii,” Limo mengelus-ngeluskan kepalanya di kaki Ki Ageng Jagat, membuat Ki Ageng Jagat tersenyum lembut seraya mengelus balik kepala Limo dengan tangannya.

Sementara di dapur kediaman Ki Ageng Jagat, Lintang nampak sedang memasak sup daging rusa hasil tangkapannya dari Hutan Larangan. Tepat setelah tak lagi menemukan Madu Lanang.

Sebelum ini, pagi ketika ia turun dari caruk tebing tempat dirinya bermalam bersama Limo dan Madu Lanang, Lintang tidak sengaja terpeleset jatuh menghantam keras bebatuan dasar tebing. Orang lain harusnya akan langsung mati dengan tubuh hancur tak beraturan. Namun anehnya, tubuh Lintang tidak terluka sedikitpun, bahkan dia tidak merasakan apa-apa.

Lintang amat heran tidak mengerti mengapa tubuhnya menjadi begitu kuat dan ringan. Padahal ia hanya manusia biasa tanpa bakat apapun di bidang kanuragan.

Serupa keajaiban, dalam beberapa hari ini, Lintang memang merasa tubuhnya mengalami perubahan. Dimulai saat kemarin bisa meloloskan diri dari kejaran Bangga Sora hingga sekarang jatuh tanpa luka.

Terdapat beberapa kejanggalan yang Lintang rasakan.

Lintang pikir waktu itu Bangga Sora tidak mengejarnya.

Tapi setelah di ingat-ingat, tidak mungkin pula Bangga Sora melepaskan buruannya.

Bangga Sora merupakan murid dalam yang sangat berbakat dan memiliki ilmu meringankan tubuh jauh diatas rata-rata. Tapi mengapa dirinya bisa lolos?

Kemudian, semua luka yang didapat dari serangan Silah dan kawan-kawan juga bisa sembuh hanya dalam waktu semalam, bahkan sampai tak meninggalkan jejak sedikitpun.

Padahal biasanya jika dia terluka, luka itu akan memerlukan waktu setidaknya 3 hari untuk pulih, itupun dengan bantuan ramuan obat racikannya sendiri.

Lintang benar-benar bingung tak kunjung menemukan pemahaman.

Lintang terus berpikir menerka-nerka.

Tanpa tahu bahwa Limo di atas tebing begitu panik mencemaskan keselamatannya.

Limo turun tergesa-gesa hanya untuk memastikan tuannya, takut Lintang celaka.

Namun ketika tiba, Limo pun amat terkejut karena Lintang ternyata tidak apa-apa, bahkan tidak mendapat lecet secuil pun.

Limo sempat tertegun memikirkan bagaimana itu bisa terjadi. Tapi kemudian dia langsung berlari menghampiri Lintang dengan raut amat bahagia.

Seperti biasa, Limo mengungkapkan perasaannya dengan menjilati wajah Lintang. Limo sangat senang karena tuannya sungguh baik-baik saja.

Sementara Lintang tidak menunjukan ekspresi apapun, masih tidak tidak habis pikir dengan apa yang dialami. Tapi bagaimanapun Lintang mencari, dia tetap tak menemukan titik terang.

Merasa penasaran terhadap batas tubuhnya saat ini. Lintang pun meminta Limo agar naik ke atas punggungnya, Lintang berniat membawa Limo berlari seperti apa yang dilakukannya ketika kabur dari kejaran Bangga Sora.

Menurutnya jika dia sungguh mampu belari cepat sembari menggendong Limo, maka kemungkinan memang tubuhnya telah berkembang jauh melebihi struktur tubuh manusia normal.

Awalnya Lintang juga sempat ragu, namun ketika Limo telah naik ke gendonganya, barulah Lintang yakin semua ini bukan mimpi.

“A-apa yang terjadi dengan tubuhku …? A-apa sekarang kau agak kurusan Limo? Mengapa tubuhmu serasa sangat ringan sekali?”

Lintang sungguh bingung dengan mengapa dia tidak bisa merasakan bobot Limo? Padahal beruang hitam miliknya itu berukuran dua kali tubuh manusia dewasa.

Biasanya, jangankan menggendong, menahan tindihan Limo saat bermain saja Lintang tidak sanggup. Tapi sekarang tidak lagi.

“A-apa mungkin ini efek dari ramuan pengeras tulang yang kubuat? Ta-tapi, rasanya tidak mungkin.”

Lintang semakin tak habis pikir dengan kondisi yang dia alami, dia tetap tidak mengerti entah dari mana sumber kekuatannya berasal.

Sementara Limo malah terlihat kegirangan, senang karena kini dia bisa berada di atas tubuh Lintang kapan pun ia mau tanpa harus lagi menghiraukan kondisi sang Tuan.

Sudah lama, sejak 3 tahun lalu terakhir Limo digendong Lintang, diajak bermain berlarian di atas gendongan, saat tubuh Limo masih belum sebesar sekarang.

Dan Limo selalu merindukan saat-saat itu. Namun Lintang sudah tak sanggup lagi melakukannya.

Kejadian ini sungguh membuat Limo bernostalgia tanpa peduli pada apa yang Lintang pikirkan.

“Hahahaha, sekarang aku bisa membawamu dengan mudah kapan pun kita dalam bahaya Limo” Lintang tertawa terbahak-bahak, memilih menerima perubahan pada dirinya tanpa lagi mau pusing memikirkan apa dan mengapa dan dari mana kekuatan itu berasal.

Dan untuk menguji semua itu, Lintang segera berlari secepat yang dia bisa, dan hasilnya sungguh mengejutkan karena kini, dia bisa berlari secepat angin menapaki pucuk-pucuk belukar dan rerumputan.

** 

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 602 Perpisahan Terakhir

    Namun ketika betara Arstrajingga berdiri, semua tamu hampir tersedak napasnya sendiri di mana apa yang mereka lihat, tidak sesuai harapan.“Hahaha, bodoh! Tidak semua yang mewah itu baik dan tidak selama yang terlihat jelek itu buruk. Penampilan hanyalah gambaran semu, jika kalian melihat semua dari penampilan, maka dunia hanya tempat kesia-siaan,” Betara Astrajingga tertawa memberikan petuah membuat semua tamu langsung terdiam tidak bisa berkata-kata.Galuh sendiri tersenyum lebar karena baru kali ini dia mendengar kata-kata bijak keluar dari bibir kakaknya tersebut. Biasanya, jika tidak umpatan, maka hinaanlah yang akan terlontar. Tetapi dalam pernikahan Lintang, dia benar-benar menjadi sosok panutan.“Hidup bukan untuk sekedar hidup, jika hidup hanya untuk bernapas dan makan, apa bedanya kita dengan hewan? Hidup sejatinya adalah sebuah proses memberi dan menerima, kita menerima anugrah kehidupan dari Sang Maha Pencipta, dan tugas kita adalah memberi penghidupan bagi yang lain,” Bet

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 601 Pernikahan Lintang

    Hari ini kerajaan Aru lebih ramai dari biasanya, kota raja dipenuhi makhluk lelembut dan siluman dari berbagai wilayah.Mereka bercampur aduk dengan bangsa manusia mengantri memasuki wilayah istana. Begitu damai dan teratur.Tidak ada perselisihan saling hina, saling hujat, atau bahkan saling menakut-nakuti.Mereka berbaris rapi dan saling menyapa satu sama lain layaknya seorang saudara.Di pintu gerbang, prajurit yang menjaga ketertiban pun sangat ramah. Sembari memeriksa identitas para tamu satu persatu, mereka juga kerap melayangkan candaan membuat semua tamu merasa berada di kampung halaman sendiri.Tamu yang telah masuk, mereka langsung menuju alun-alun kerajaan menunggu pesta pernikahan yang tidak lama lagi akan di gelar.Meski aman dan tentram, di setiap alun-alun berdiri sekumpulan pendekar dari berbagai makhluk.Tidak hanya di alun-alun, tetapi setiap sudut kota bahkan sampai di luar gerbang kota juga terdapat penjagaan ketat.Hanya saja yang berada di luar kota adalah hewan

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 600 Dewa Aneh

    Maha patih Hulubuan hanya dapat pasrah mendapati penolakan dari Galuh karena memang dia tidak bisa menekan kekuatannya di alam manusia.“Hamba mengerti Maha Prabu,” Maha patih Hulubuan menunduk.“Hahaha, tapi jangan khawatir. Setelah pernikahan selesai, pangeran kalian akan datang kemari bersama istrinya. Siapkan sambutan meriah semampu kalian,” ungkap Galuh membuat Hulubuan dan semua senopati serta panglima di tempat itu sangat senang.“A—apa kami harus berdandan?” tanya Hulubuan sedikit terbata.“Benar Maha Prabu, apa kami harus berpenampilan seperti manusia?” tanya para panglima.“Hahaha, tidak perlu. Kalian seperti apa adanya saja, pangeran Lintang tidak menyukai hal yang berlebihan,” Galuh tertawa terbahak-bahak.Galuh mengerti, kecintaan pasukannya terhadap keluarga sama dengan kecintaannya terhadap dirinya.Sehingga setiap Galuh pulang, Maha patih dan yang lain selalu menanyakan kabar mereka.Dari mulai kabar Dewi Utari, Kanjeng Ratu Kidul, Putri Gayatri bahkan kepada semua ana

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 599 Sosok Galuh sesungguhnya

    “Hormat kami maha prabu,” sesosok makhluk setinggi 3 depa dengan dua sayap lebar di punggungnya memimpin semua pasukan berlutut di depan Galuh.“Hahaha, berdirilah, aku senang kalian sedang dalam keadaan sehat,” ucap Galuh menerima hormat para pasukannya.“Hulubuan, apa ratu kalian sudah tahu kepulanganku?” tanya Galuh pada makhluk bersayap yang merupakan maha patihnya.“Su-sudah maha prabu, mungkin gusti ratu sedang menunggu anda di istana,” jawab Hulubuan penuh hormat.“Wanayasa, Sabo, Tusa, Guno, mengapa kalian masih berlutut?” tanya Galuh pada ke 4 panglima tertingginya.Wanayasa adalah bangsa siluman harimau mantan panglima siluman tengkorak darah.Sementara Subo, Tusa, dan Guno adalah 3 bangsa iblis yang dia taklukan ketika perang besar puluhan tahun silam.“Hamba tidak berani maha prabu,” ungkap ke 4 panglima tertinggi secara bersamaan.“Bangunlah, kalian masih saja sungkan seperti dulu,” ucap Galuh.Mendengar itu, Wanayasa, Tusa, Guno, dan Subo serentak bangkit sembari menundu

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 598 Istana Atas Awan

    Sebelum menjemput putri Isyana, Galuh membantu para prajurit dan Senopati Drupada membereskan bekas kekacauan yang diciptakan oleh kedua istrinya.Di sana Bawana juga turut membantu, sementara Lintang menemani semua ibundanya menuju istana.“Salam ayahanda prabu, paman Datuk,” sapa Galuh kepada prabu Bisma dan Prabu Datuk Lhangkem Lhamuri yang baru saja memulihkan diri.“Aku hampir saja terbunuh oleh kedua istri anda anak prabu,” prabuk Datuk Lhangkem Lhamuri merapikan pakaiannya.“Bagaimana kabarmu Nak? Sudah lama kita tidak bertemu,” ucap prabu Bisma.Dia baru kembali dari istana setelah menemui Lintang di dalam.“Aku baik ayahanda, dan maafkan atas kelakuan istri-istriku paman. Itu salahku karena kurang mendidik mereka,” Galuh membungkukkan badan sembari tersenyum bodoh.“Hahaha, kau memang masih selalu merendah. Tidak apa, dengan begini aku jadi tahu bagaimana kekuatan seorang dewi,” prabu Datuk Lhangkem Lhamuri tertawa.“Apa ibunda juga sudah di sini ayahanda?” tanya Galuh kepada

  • Legenda Tongkat Semesta   Bab 597 Kemelut Keluarga

    “Kalian hampir saja membuat semua orang di kerajaan Aru celaka, kemarilah,” ucap Galuh dengan penuh wibawa.Tanpa sepatah kata apa pun, Ratu Kidul dan Dewi Utari terbang menghampiri Galuh dengan pikiran dipenuhi rasa bersalah.Keduanya terlalu tersulut emosi karena dendam masa lalu di mana Dewi Utari adalah penyebab ratu kidul di usir dari alam dewa.Sementara ratu kidul adalah penyebab dewi Utari di hukum selama ribuan tahun.Mereka berseteru hanya karena seorang lelaki dari bangsa manusia, tetapi pada akhirnya, lelaki itu tewas terbunuh dalam peperangan besar para dewa.Dan aura lelaki tersebut sangat mirip dengan Galuh yang sekarang menjadi suami ke duanya.Entah itu takdir atau hukuman langit, Galuh seperti titisan dari kekasih mereka di masa lalu. Tetapi paras Galuh jauh lebih tampan dan lebih gagah.Terlebih Galuh bukanlah manusia biasa karena dia merupakan makhluk setengah dewa yang bangsa dewa sekalipun akan berpikir dua kali jika ingin berhadapan dengannya.Selain bisa membun

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status