เข้าสู่ระบบDarto melihat Yuyun dan Devan tengah berbicara serius, sepertinya Devan ingin membahas tentang pekerjaan Yuyun di kantor. Darto segera pergi dan tidak mau ikut campur lagi dengan pembicaraan mereka.
Darto berjalan menuju ke ruang makan lalu menarik kursi dan duduk di sana. Tak lama setelah itu Amina tiba di rumah. Amina melihat Yuyun dan Devan berdiri di dekat pintu belakang. Amina tidak menegur karena ada Darto di kursi meja makan. Amina hanya melihat sekilas ke arah Devan, dari penampil“Ah, terus Pak, lebih kencang lagi sodoknya, oukhh, Pak, aahh, ssh, oukhhssshh, uhh,” desah Amina. Amina meminta terus untuk dipuaskan oleh Darto akan tetapi Darto tidak bisa mengabulkannya karena dia harus secepatnya pergi ke peternakan. Itu untuk pertama kalinya Darto merasa pikirannya waras. Sebelum-sebelumnya dia tidak pernah peduli dengan jam pergi ke peternakan yang sudah terlambat asalkan bisa menikmati tubuh Amina istrinya yang jelita.Tidak hanya itu, Darto akhir-akhir ini lebih banyak memikirkan Yuyun daripada Amina. Itu lebih gila dan tidak pernah terjadi sebelum-sebelumnya.Amina terus menggoyangkan bokongnya, liang intim Amina semakin lama semakin basah lantaran Amina sangat bernafsu sekali untuk melakukan hubungan intim di awal pagi. Biasanya kalau Darto tidak memuaskan keinginannya maka Amina akan melakukan hubungan intim bersama Anto si supir.“Oukh, Pak, akhhm, enak sekali sodokanmu, ah, ah, terus Pak, aku sangat senang dan puas, oukhhhsss, aahhh, emhh,”
Darto di luar pintu merasa penasaran, dia mengintip melalui lubang kunci. Dan yang dia lihat Yuyun sedang duduk dengan poisisi setengah rebah di atas tubuh Devan. Devan di bawah Yuyun juga terlentang, tongkat Devan menggesek dari sisi bawah. Area intim mereka berdua terlihat sangat basah dan terus melelehkan cairan.“Seksi sekali, Yuyun, ssshh punyaku jadi tegang gara-gara melihat pepek dia yang basah dan digesek sama Devan,” gumam Darto sambil mengelus tongkatnya yang sudah menegang.“Ah, Mas, oukh, nikmat, oukhh, Mas Dev, enghhh, emh, oukh,” desah Yuyun sambil menatap area intimnya.“Enak, Yun, oukhhssshh, oukhh, ah, ah, pepek kamu Yun oukhh,” desah Devan sambil menarik-narik kacang Yuyun. Devan juga memainkan puncak bukit kenyal Yuyun.Darto tidak tahan dengan pemandangan itu, dia ingin sekali menggesek menggenjot liang Yuyun sampai Yuyun tersengal-sengal seperti yang dia lihat saat ini. Tubuh Yuyun telanjang basah penuh keringat.Wati sudah selesai sarapan, d
Keesokan harinya, Devan lebih dulu bangun dari atas ranjang. Devan melihat Yuyun masih rebah di atas ranjang dengan tubuh berbalut sehelai selimut dengan poosisi miring memunggunginya. Devan keluar dari dalam kamarnya untuk pergi mandi. Dia melihat beberapa orang sudah duduk di ruang makan untuk menikmati sarapan, hanya Yuyun yang masih berada di dalam kamar.Wati baru keluar dari dalam kamarnya, dia sudah bersiap pergi pagi ini.“Bang? Nggak sarapan?” tanya Wati sambil berjalan menuju ke ruang makan.Devan tidak menyahut pertanyaan Wati, dia sedang mengeringkan rambutnya. Devan kembali masuk ke dalam kamarnya, niatnya ingin membangunkan Yuyun. Devan naik ke atas ranjang lalu merangkak mendekat dan menyentuh bahu Yuyun.“Yun, sudah pagi, kamu nggak bangun? Ayo sarapan,” ajaknya.Yuyun menepis tangan Devan dari bahunya, “kamu saja, aku ogah duduk sama Mami yang nggak tahu adat itu! Jijik akuuuu!” jeritnya dengan penuh emosi.Devan menghela napas panjang. “Yun,
“Ngomong apa kamu, Wat!” bentak Amina dengan wajah kesal penuh amarah.“Wati kenapa Bu?” tanya Darto, dia ikut menarik kursi dan duduk di sebelah Amina.“Kerasukan setan! Enak saja nyuruh Bapak tukar istri! Awas saja!” omel Amina dengan wajah bersungut-sungut.Darto bingung, dia tidak tahu apa yang sudah terjadi. Karena Amina tidak menjelaskan dengan rinci, Darto memilih berdiri dari kursinya dan pergi menghampiri Devan yang sedari tadi mengetuk pintu kamar namun tidak dibukakan sama Yuyun.“Dev? Malam-malam begini kenapa ribut-ribut sih?” tanya Darto.Devan tidak mungkin sudi mengaku salah, dia langsung berteriak pada Darto. “Bapak urus saja itu si janda ganjen, dia rayu-rayu aku di dapur. Aku normal mana tahan Pak! Yuyun melihat kami! Tapi lihat apa yang dia perbuat? Dia malah nggak peduli dengan hubunganku sama Yuyun yang rusak!” bentak Devan pada Darto.“Mami kamu? Amina? Sarinten?” tanya Darto sambil menaikkan kedua alisnya.Devan masih marah dan kes
Di dalam kamar Devan, Yuyun terlelap setelah menceritakan pekerjaan. Devan tidak bisa tidur, iseng-iseng Devan mengambil ponselnya di atas meja. Cukup lama Devan menatap layar ponselnya. Di sana ada pesan dari Mita, Mita bilang bahwa dia bertaruh dengan Rangga dan semuanya terjadi karena Yuyun.Devan menoleh ke arah Yuyun di sebelahnya. “Kalau dulu kamu nggak hamil anak si Rangga, apa kamu mau nikah sama aku, Yun? Apa kamu nggak mikir aku pria pengangguran yang nggak bisa diandalkan?” gumam Devan pada dirinya sendiri. Devan meletakkan kembali ponselnya di atas meja, dia tidak membalas pesan dari Mita.Tiba-tiba saja dia merasa haus, jadi Devan segera bangun dari atas ranjang dan pergi menuju ke dapur. Di ruang makan Devan melihat Amina hanya mengenakan baju tipis sekali, hampir menyerupai telanjang karena seluruh isi tubuhnya terlihat dari luar bajunya.Amina merasa senang saat melihat Devan melintas, dia langsung mengekornya menuju ke dapur. “Dev,” panggil Amina sambil
Malam itu Anto terus melakukan hubungan intim bersama Wati tanpa henti. Anto sama sekali tidak sadar kalau waktu terus bergulir semakin malam. Anto tahu dia harus secepatnya mengakhiri permainan panas antara mereka berdua. Akan tetapi Wati sepertinya tidak ingin Anto pergi meninggalkannya malam itu. Anto masih sibuk menggenjot Wati dengan aktif di atas ranjang, Wati sedang rebah dengan kedua paha mengangkang lebar. “Terus, oukh, To, terus sodok aku, oukhh, To,” pintanya dengan penuh gairah. “Wat, ah, setelah ini aku harus pulang, ya?” ucap Anto. Anto segera memperlaju sodokan organ intimnya pada liang intim Wati. Wati menggelengkan kepalanya, dia ingin menahan agar tidak klimaks tapi sodokan Anto yang super cepat membuat Wati tidak bisa menahannya. Tubuh Wati mengejang hebat. Cairan Wati tumpah meluber begitu banyak, Anto tersenyum penuh kemenangan. Puas meladeni Wati Anto menarik diri dari atas tubuh Wati yang kini basah kuyup penuh peluh aki
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







