FAZER LOGINSetelah selesai dengan makan siangnya, Narti bergegas pergi meninggalkan ruangan di mana semua orang masih berkumpul di dalam untuk membahas Lindarwati.
Susanti melihat Narti keluar, dia segera mengikutinya dari belakang. Sampai di dekat Narti, Susanti segera menyentuh bahunya. "Ada apa San?" Tanyanya pada Susanti. "Sebenarnya aku tahu selama ini Mbak Narti memiliki affair sama Mas Samsudin, sudah nggak perlu ditutup-tutupi lagi," ujarnya seolahKeadaan rumah Darto yang sepi membuat Darto bebas melakukan hubungan intim dengan Sarinten pelayan yang sudah bekerja selama bertahun-tahun di kediamannya tersebut. "Ten, ooh, aku gesek-gesek pakai ujung batang tongkatku, bagaimana rasanya, ouuhh, aahh, sshhh, ookhh, ujung tongkatku rasanya enak sekali Ten, kebelet aku, nggak tahan pengen masuk ke dalam, sodok-sodok liang pepekmu yang enak ini," ujarnya seraya menelan ludahnya sendiri.Darto terus menggesekkan ujung batangnya hingga Sarinten menggoyangkan bokongnya maju mundur, Sarinten mengarahkan liangnya yang sudah tidak tahan untuk mendapatkan sodokan dari tongkat Darto yang berukuran cukup besar. "Ooouuuuhhhh, ssshhhh, Pak, aahhh, masuk, oouhhh, enak sekali, aahhh, sshh, aahhh," erang Sarinten sembari menggoyangkan bokongnya maju-mundur dengan lebih cepat. Darto menatap tongkatnya yang kini sudah masuk dan menggesek liang intim Sarinten."Ah, ah, Ten, pepekmu enak sekali, aahh, ooh, goyangan bokongmu biki
"Makasih Mas, kenapa Mas Minto nggak cari pacar beneran saja? Bukannya Mas bilang Mbak Lindar menolak mengakui kesalahannya dan malah meminta Mas buat ceraikan dia?" Mina menatap Juminto dengan tatapan heran seraya menyelipkan uang tersebut ke dalam bra-nya. Juminto menghela napas panjang lalu menenteng tas sambil berjalan lesu keluar dari dalam ruangan. Minarti merupakan karyawan baru, tapi dia masuk sekitar satu bulan yang lalu dibandingkan dengan Fredi pacar Lindarwati. *** Di sisi lain, gosip panas antara Lindar dengan Fredi akhirnya sampai ke telinga Darto. Beberapa karyawan pria membahasnya langsung di ruangan Darto ketika mengambil gaji pada sore itu. Darto tidak berkomentar karena sebelum-sebelumnya Lindar juga ikut mengambil jatah sodokan tongkat dengan dirinya di ruangan kerjanya. Darto tidak tertarik dengan gosip itu. Setelah semua pekerjaan selesai dia langsung pulang ke rumahnya.
Setelah selesai dengan makan siangnya, Narti bergegas pergi meninggalkan ruangan di mana semua orang masih berkumpul di dalam untuk membahas Lindarwati. Susanti melihat Narti keluar, dia segera mengikutinya dari belakang. Sampai di dekat Narti, Susanti segera menyentuh bahunya. "Ada apa San?" Tanyanya pada Susanti. "Sebenarnya aku tahu selama ini Mbak Narti memiliki affair sama Mas Samsudin, sudah nggak perlu ditutup-tutupi lagi," ujarnya seolah-olah dia adalah sahabat dekatnya. Narti hanya mengangkat kedua alisnya, dia merasa tersinggung dengan pernyataan Susanti barusan. Selama ini Narti berusaha diam dan tidak ingin ikut campur dengan urusan pribadi orang lain akan tetapi Susanti dia pikir sudah kelewatan dan mengupas kulit Narti dengan terang-terangan sama seperti ditelanjangi di depan kedua mata sendiri. "Aku pikir kamu harus tahu sesuatu, beberapa hari lalu aku melihatmu bugil digenjot sama Nardi d
"Kalau tidak bisa baikan mendingan cerai saja," gumam Samsudin pada dirinya sendiri lantaran dia mulai jengkel gara-gara Juminto terus mengejar jawaban yang tidak Nardi ketahui. Juminto juga terus meminta Nardi mengakui bahwa Nardi sebenarnya ikut andil dalam perselingkuhan antara Lindar dan karyawan baru itu."Ngomong apa kamu barusan, Sam? Kamu nggak pernah diselingkuhi! Jadi mana tahu kamu seperti apa rasanya harga diriku yang jatuh di depan istri! Kamu istri saja dapat dari komplek! Pelacur dinikahi, mana tahu rasa cinta sejati!" Sindir Juminto pada Samsudin.Samsudin yang tadinya tenang-tenang saja mulai tersulut api amarah akibat ucapan yang terlontar dari bibir Juminto barusan.Karena geram Samsudin mengepalkan tinjunya dia mengarahkan pukulan pada rahang Juminto.Jraaak! Jraaak! Brush! Duak! Gedubrak!"Aku sudah bersabar, aku berusaha bersikap baik! Aku prihatin melihatmu dikhianati sama Lindar, tapi rupanya kamu tidak tahu diri dan tidak bisa menjaga mul
"Si Nardi kenapa lari-lari begitu?" Tanya salah satu dari mereka.Juminto mendahului mereka masuk ke dalam dan tidak ikut serta dalam obrolan.Ketika menuju ke arah rak, Juminto melihat Lindar sedang membetulkan pakaiannya. Sontak wajah Juminto memerah karena amarah. Dia langsung menuju ke sisi belakang rak dan melihat istrinya sibuk mengancingkan bajunya. Juminto langsung menarik tangannya."Mas Minto? Kamu kenapa ke sini?" Tanya Lindar seraya menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Juminto."Harusnya aku yang tanya sama kamu, Lin, ngapain kamu di gudang? Bukannya tugas kamu ngitung setoran tabung susu dari kereta karyawan? Kenapa malah di sini? Dan tadi aku barusan melihat Nardi berlari keluar dari dalam sini, jangan-jangan kamu ada apa-apa sama si Nardi?" Kejarnya dengan tatapan mata tidak senang."Aku di sini disuruh ngitung itu peralatan yang rusak, Mas Minto tahu aku pegang pembukuan keuangan, jadi uang yang keluar masuk harus dicatat, enak saja kamu
Anto yang tadi terdiam segera angkat bicara. "Ayo Mi, sudah siang nanti telat nyampe di toko," ujar Anto, dia sengaja mengalihkan perhatian Amina dari percakapan sebelumnya.Amina mendengus kesal, mau tak mau dia segera masuk ke dalam mobil.Dalam perjalanan Anto konsentrasi mengemudi dan tidak banyak mengajak Amina mengobrol seperti biasanya.Sampai di tempat tujuan Anto segera memarkir mobil Amina di halaman toko kemudian turun dari dalam mobil untuk membukakan pintu.Ketika Amina turun dari dalam mobil, Amina menyerahkan selembar uang kertas senilai seratus ribu.Anto menatap tangan Amina yang kini menyodorkan uang padanya."Bensinnya masih ada Mi, kemarin Mami bilang padaku untuk diisi penuh," ujarnya pada Amina."Untuk bensin perut kamu itu, To, sudah buruan ambil," ujarnya seraya menyelipkan uang tersebut ke dalam saku kemeja Anto.Anto menatap uang yang tadi dimasukkan Amina ke dalam saku bajunya. ***Di sisi lain, Narti baru saj
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







