تسجيل الدخول“Iya, Mas Sam sekali lagi terimakasih.” Ujarnya.
Samsudin menganggukkan kepalanya, dia kembali menuju gedung. Setelah Samsudin pergi, Narti masuk ke dalam kamar mandi. Dia melihat Susanti sedang membetulkan bajunya. Susanti tidak menjelaskan apapun, perutnya memang sudah mendingan tapi dia tidak suka dengan Narti, menurutnya karena ada Narti di peternakan, Samsudin lebih memilih Narti yang memiliki wajah manis ketimbang dirinya yang putih dan cantik. Susanti keluar dari dalam kamarPuas menggoda Yuyun, Devan segera melepaskan seluruh bajunya dan juga melepaskan gaun merah yang membalut tubuh Yuyun hingga mereka berdua kini telanjang bulat tanpa sehelai benang. Devan menekan kedua paha Yuyun ke samping dan mulai berpacu cepat di atasnya.Yuyun menggigit bibir bawahnya, dia merasa nikmat diperlakukan demikian oleh Devan."Mas lebih cepat lagi, sshhh, oohhh, ouhhhh," pintanya."Kamu suka? Mau ganti gaya?" Tawar Devan seraya membuat kedua paha Yuyun tinggal di atas kedua bahunya. Devan terus menggenjot liang intim Yuyun sampai pukulan keras pada liang intim Yuyun yang dia lakukan terdengar dari luar kamar mereka berdua. ***Di sisi lain, Darto sudah selesai memuaskan Amina. Dia ingin melihat kondisi Yuyun karena cemas. Belum sampai mendekat ke pintu Darko mendengar suara desahan dan rintihan keenakan di balik pintu yang tertutup.Darto mengendap mendekat dan mengintip dari lubang kunci. Dia bisa melihat Devan sedang memukul keras liang int
“Bapak, ooohhhh, bapak pintar bikin aku puas, sepertinya aku, oohhh, aku, sssssshhhh, a-aku pengen muncrat lagi, aaaaaaaaaakkkkhh! Eeemhhhh, ouhhhh, ooooouhhhhhh!” Jerit Amina sambil mengangkang lebar-lebar. Cairan kepuasan Amina keluar lagi, Darto bisa melihatnya pada seluruh batang kejantanan miliknya yang kini basah dengan cairan putih kental seperti susu. Sekali lagi Darto mengukir senyum pada bibirnya, dia sangat puas melihat Amina melenguh nikmat. Darto mulai mempercepat sodokan batang kejantanannya.“Ah, ah, ah, ah, baru satu jam Bu, oohh, ah, ahhh, ahh,” ujarnya sambil menarik kedua sisi pinggang Amina maju ke depan untuk menerima sodokan bertubi-tubi dari kejantanan miliknya.“Paaak, ooohhh, kalau begini aku bakalan klimaks lagi, oohhh, Pak, emhh, okkhh,” ujarnya sambil menatap sodokan Darto pada sisi intimnya yang kini membuat ranjang tidur mereka mulai berderit-derit. Darto tidak hanya menahan pinggang Amina. Tapi sambil memegangi sisi pinggang Amina, ibu jarinya
Yuyun menggelengkan kepalanya, ucapan Rangga tentang perasaannya begitu jelas dan masih terngiang-ngiang di telinganya hingga sekarang. Yuyun sedang duduk di dalam taksi dalam perjalanan menuju ke rumah. Yuyun masih belum memikirkannya, apakah besok pagi dia akan pergi ke kantor seperti biasa dan Mita akan terus-menerus berusaha menghalangi langkahnya. Ataukah tetap tinggal di rumah seperti hari ini dengan pikiran tak menentu karena Mita pasti bakalan datang lagi ke rumah Darto untuk mencari Devan.Setibanya di rumah, Yuyun langsung masuk ke dalam. Yuyun berjalan menenteng tasnya memasuki rumah, wanita itu terlihat sedang melamun, entah hal apa yang dipikirkannya.Devan yang sejak tadi menunggunya pulang segera berdiri dari kursi ruang tengah dan pergi menghampirinya.Devan melihat Yuyun berlalu masuk ke dalam kamar. Darto juga melihat Devan berjalan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya. Sampai-sampai Darto melupakan keberadaan Amina yang sejak tadi mengamati
Sejenak Rangga tertegun menyaksikan penampilan Yuyun yang begitu cantik. Rangga merasa sangat menyesal sudah menyakiti hati Yuyun kemarin. Karena alasan itulah dia nekat datang menemui Yuyun di kediamannya hari ini."Kenapa Mas Rangga datang ke sini?" Tanya Yuyun dengan wajah panik. Yuyun sangat takut kalau Devan tiba-tiba pulang lalu melihat Rangga bertamu di kediaman Darto. Pasti Devan sangat marah karena sejak awal Devan tahu jelas hubungan antara Yuyun dengan Rangga."Duduklah sebentar, aku datang bukan karena urusan pribadi," ujarnya pada Yuyun.Yuyun bersedia duduk di kursi seberang meja menghadap ke arah Rangga."Aku ingin minta maaf padamu, aku sudah menyelesaikan masalah proyek, aku tidak akan membebankan masalah ini padamu lagi. Kamu lupa apa hubungan kita selain partner di kantor? Lili dan Aldi anakmu adalah darah dagingku! Kamu mungkin bisa resign, suka-suka kamu! Tapi kamu harus pindah secepatnya ke kediaman yang aku belikan untukmu itu! Aku tidak akan m
Dua jam sebelum Sarinten pergi ke kamar Yuyun untuk membangunkannya ..."Awh, Pak, ouhhh, Pak, ayo lebih cepat lagi, ouhhh, aku nggak tahan Pak, pepekku pengen muncrat," rintih Amina sambil menungging dengan memegangi dinding kamar mandi."Iya Bu, oh, oh, oh, awh, ah, ah, ah, pepek Ibu makin kenceng saja, oohh, enak Bu?" Desah Darto."Enak, ohh, Pak, ohhhh, ssshhh," Amina merintih nikmat sambil menggoyangkan bokongnya ke kanan dan ke kiri. Mereka pagi ini sengaja mandi bersama sambil menyalurkan hasrat satu sama lain. Sebelumnya mereka sudah beradu di atas ranjang dan Amina juga sudah mendapatkan klimaksnya. Akan tetapi rupanya Darto dan Amina sama-sama belum puas hingga mereka kembali melakukannya di dalam kamar mandi.***Dua jam kemudian Amina sudah selesai berdandan, dia keluar dari dalam kamarnya dan dia melihat Sarinten melewati koridor depan kamarnya."Lo kamu nggak bangunkan Yuyun, Ten?" Tanya Amina pura-pura peduli."Katanya libur Bu," jawab
"To, sudah nggak waras kamu?" Tanya Yuyun sembari mengangkangkan pahanya lebih lebar.Anto mengukir senyum nakal menatap Yuyun dalam keremangan cahaya garasi tersebut. Yuyun menelan ludahnya sendiri sambil merem melek mengangkat kedua kakinya ke atas. "Emmm, ssshhhh, ouhhh, awhhhh, sshhhh, sudah, To, biarkan aku pergi," pinta Yuyun seraya menjauhkan lengan Anto dari sisi intimnya. Batang kejantanan Anto sudah terlanjur menegang. Anto langsung menekannya ke dalam liang Yuyun kembali.Yuyun yang posisinya mengangkang lebar-lebar hanya melotot menatap Anto kembali berpacu dengan cepat."Ah, ah, ah, Neng, oukhh, pepek Neng Yuyun enak sekali, aku jadi enggan berhenti," ujarnya sambil terus mendorong bokongnya maju-mundur.Yuyun meremas bahu Anto sambil menatap wajah Anto yang kini bercucuran keringat sibuk memberikan kepuasan padanya."Emh, emh, ah, ah, To, ssshhh, oouhhh," erang Yuyun lirih."Neng, kok diam? Jangan desah-desah terus, jawab Neng, oo
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







