LOGINPagi di kamar 504 terasa berbeda.
Tidak ada yang berubah secara fisik. Ranjang masih di tempat yang sama, jendela masih membiarkan cahaya masuk dengan sudut yang sama, tanaman rosemary masih berdiri di tepinya. Tapi ada sesuatu yang sudah bergeser di antara mereka sejak tadi malam, sesuatu yang tidak bisa dilihat dan tidak bisa dijelaskan dengan mudah, hanya bisa dirasakan.
Ruang Dewan kerajaan jauh lebih tertutup daripada ruang audiensi biasa.Letaknya di sisi utara istana, di balik koridor yang dijaga dua penjaga yang berdiri tanpa bergerak. Pintunya tinggi, terbuat dari kayu tua dengan ukiran lambang kerajaan di bagian tengah. Begitu pintu terbuka, bau lilin dan kayu tua langsung keluar, bercampur dengan hawa dingin batu istana yang tidak pernah sepenuhnya hilang bahkan di tengah hari.Meja panjang berbentuk setengah lingkaran berdiri di tengah. Di atasnya, beberapa lilin menyala dalam tempat dari perak. Kursi-kursi tinggi mulai terisi satu per satu oleh anggota Dewan. Pakaian mereka gelap, jubah mereka panjang, dengan pin kerajaan di dada kiri. Beberapa sudah duduk dan berbicara pelan. Beberapa lagi berdiri di dekat jendela, dan menatap ke luar.Rosemary berdiri di sisi yang diperu
Edmund duduk di meja paling ujung perpustakaan.Owen datang beberapa menit kemudian dengan membawa satu buku tipis. Ia menarik kursi di seberang Edmund, membuka bukunya, lalu menatap Edmund tanpa bicara.“Sidang Dewan tinggal dua hari,” kata Edmund.Owen tidak langsung menjawab. Ia membalik halaman, tapi matanya tidak benar-benar membaca. “Ayahku harus tahu.”“Pulanglah ke rumah, sampaikan langsung.”“Dia akan bertanya apa yang harus dilakukan."“Biarkan dia di rumah. Pengawal kerajaan yang akan datang menjemputnya. Dia tidak perlu melakukan apapun selain menunggu dan bersiap.”Owen menatap Edmund. “Kapan pengawal itu datang?”“Aku tidak tahu. Tapi mereka akan datang sebelum sidang.”“Itu saja yang perlu disampaikan?”“Itu saja.”Owen menatap buku di tangannya. Jarinya masih berada di antara dua halaman yang sejak tadi ia buka. Ia akhirnya menutupnya.“Aku akan segera berangkat.”Edmund mengangguk.Owen tidak langsung berd
Cedric dipanggil pulang keesokan harinya. Ia langsung berjalan ke ruang kerja. Di dalam, Duke Ashworth sudah duduk di belakang meja. Buku catatan cokelat tua terletak di sisi mejanya, tidak jauh dari tangan kanannya.“Duduk,” kata Ashworth.Cedric menurut.Ruangan itu begitu sunyi sampai suara jarum jam di dinding terdengar jelas. Cedric bisa mencium aroma tinta dan kayu tua dari meja di hadapannya. Ia tidak tahu kenapa ayahnya membiarkannya duduk dalam diam selama itu, tetapi ia tahu lebih baik tidak memulai percakapan lebih dulu.Ashworth masih belum bicara. Ia menatap putranya selama beberapa detik, lalu membuka laci kecil di samping meja, mengeluarkan selembar kertas, dan membacanya.Baru setelah i
Pagi datang dengan cahaya yang masuk melalui celah tirai.Henry tiba di Kingsley sebelum matahari sepenuhnya naik. Ia datang tanpa kereta mencolok, hanya dengan satu orang kepercayaan yang kini sudah dikenal Benedict. Mereka masuk lewat pintu samping, menghindari ruang utama yang mulai ramai oleh mahasiswa.Rosemary, Benedict, Edmund, dan Oliver sudah menunggu di kamar Benedict. Meja sudah bersih. Kertas-kertas tugas Langston disingkirkan. Yang tersisa hanya beberapa cangkir teh yang belum tersentuh.Henry mengetuk dan Benedict membukakan pintu. Begitu pintu tertutup, Henry meletakkan sebuah map kulit tipis di atas meja.“Hasil pemeriksaan sudah keluar,” katanya.Tidak ada yang bertanya. Semuanya menunggu.Henry membuka map itu. Dua surat tampak terselip di dalamnya, tapi kini sudah dilapisi kertas pelindung tipis."Pemeriksa menemukan kecocokan. Bentuk huruf, cara menulis angka, tekanan tinta, dan tanda tangan
Rosemary berdiri di dekat jendela kamar Benedict.Dari sini, halaman Kingsley terlihat cukup jelas. Obor sudah menyala di sepanjang jalan masuk, sementara sebagian besar bangunan sudah tenggelam dalam kegelapan malam.Benedict berdiri di sampingnya.Rosemary menunjuk ke arah halaman. “Lihat.”Benedict mengikuti arah pandangannya.Seorang pria berdiri di dekat pohon yang tidak jauh dari gerbang. Ia tidak melakukan apa-apa. Hanya berdiri di sana dengan posisi yang membuatnya bisa melihat sebagian besar sisi bangunan dan siapa yang keluar masuk asrama.“Orang yang Cedric katakan tadi?” tanya Benedict.“Sepertinya.”Benedict memperhatikannya beberapa detik. “Berarti dia memang mulai mengawasi.”Rosemary mengangguk. “Lebih cepat dari yang kita kira.”“Dia memang tidak akan diam setelah tahu ada seseorang yang membuka bukunya.”Mereka kembali melihat ke halaman.“Cedric bilang dia h
Cedric kembali ke Kingsley seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari caranya berjalan. Ia masih membawa buku catatan yang sama, masih menyapa beberapa orang yang berpapasan, masih terlihat seperti mahasiswa yang tidak punya urusan penting selain menyelesaikan tugas-tugas kuliah. Tetapi sejak masuk gerbang akademi, matanya sudah bergerak memperhatikan sekeliling dengan waspada. Ia menunggu sampai sore. Di perpustakaan, Rosemary dan Benedict duduk di meja dekat jendela. Beberapa buku terbuka di hadapan mereka. Oliver berada di meja yang sama, menumpuk kertas-kertas yang sebagian sudah ia coret. Cedric masuk dengan tenang. Ia berdiri sebentar di antara rak, memastikan tidak ada yang memperhatikan, lalu berjalan mendekat. "Finch." Oliver mendongak. "Cedric. Kau datang." "A
Pengumuman peringkat akhir semester baru saja ditempel, dan dalam waktu kurang dari lima menit seluruh koridor sudah penuh.Oliver Finch: peringkat 3.“PERINGKAT TIGA!
Surat itu tiba di meja sarapan, disampaikan oleh seorang pelayan istana dengan sikap resmi yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh."Temani aku di perpustakaan pagi ini. Aku butuh seseorang yang mengerti sejarah untuk melihat beberapa arsip. —H."Oliver membaca dari
“Mulai,” kata Benedict, dan ia melangkah maju.Dunia di balik topeng terasa berbeda. Jaring kawat di depan mata Rosemary mengubah sosok Benedict menjadi potongan-potongan kecil—bahu bidang, lengan kokoh, ujung pedang yang mengarah lurus ke dadanya. Suara napasnya sendiri menggema di dalam topeng, l
“Ini demonstrasi sederhana,” suara Master Alden menggema. “Ingat, ini bukan duel. Hanya demonstrasi teknik menyerang dan bertahan. Lord Harrington akan menyerang. Yang Mulia Pangeran Henry akan bertahan.”“Dan kalau aku tidak bisa bertahan?” tanya Henry dengan nada bercanda, tapi matanya tidak.“Ka







