ログインOliver masih duduk di tempatnya, menatap mereka bergantian. Suasana di kamar 504 sudah berubah sejak Benedict masuk—lebih berat dan lebih dingin, seperti udara sebelum hujan.
“Aku akan ke kamar,” katanya sambil berdiri dan mundur selangkah. “Kuenya dimakan, Lord Sterling. Ibuku akan sedih kalau tidak habis.”
Pintu tertutup pelan.
Pagi di Sterling Manor datang dengan cahaya yang lebih hangat dari biasanya. Musim dingin belum berakhir, tapi hari ini matahari cukup berani untuk muncul di balik awan.Di ruang tengah, Rosemary berdiri di samping Edmund, satu tangan siap menangkap kalau kakaknya kehilangan keseimbangan.Edmund melangkah. Satu. Dua. Tiga. Wajahnya berkeringat, tapi senyumnya tidak hilang. “Aku benci latihan ini.”“Dokter bilang kau harus melakukannya.”“Ya, dan kau bahkan lebih galak daripada dokter itu.”“Aku memang terlahir galak.”Edmund tertawa kecil, lalu terbatuk. Tapi batuknya tidak separah dulu—tidak lagi mengguncang seluruh tubu
Rosemary dan Henry kembali ke aula, dan tidak ada yang berubah.Musik masih mengalun, lilin-lilin masih menyala, para tamu masih tertawa dan berdansa dan berbisik tentang hal-hal yang tidak penting. Dunia di dalam ruangan ini tidak tahu bahwa sesuatu baru saja terjadi di taman yang gelap di luar jendela.Rosemary berdiri di samping Henry, membiarkan dirinya menjadi bayangan.Henry berbicara dengan seorang Earl tentang sesuatu—kebijakan perdagangan, atau aliansi politik. Rosemary tidak mendengarkan. Ia mengangguk pada waktu yang tepat, tersenyum pada waktu yang tepat. Tapi pikirannya ada di pohon ek, di topeng burung hantu yang miring, di tatapan abu-abu yang terlalu lama.Kau Rosemary Sterling.Suara Oliver masih terngi
Benedict masih berdiri di tempat yang sama, tangannya di saku, matanya tidak bergerak dari wanita di depannya.Dan untuk pertama kalinya malam itu, Rosemary benar-benar merindukan menjadi Edmund Sterling.“Lord Harrington,” kata Oliver, dengan nada dan ekspresi seseorang yang akan memperkenalkan dua orang penting dalam hidupnya, “izinkan saya memperkenalkan Nona Rosemary Sterling. Adik Lord Sterling.”Benedict mengalihkan perhatiannya pada wanita itu.“Jadi Anda Rosemary Sterling.”Kalimat itu jatuh seperti batu ke permukaan air yang tenang—bukan pertanyaan, bukan tuduhan, hanya pernyataan. Tapi ada sesuatu dalam cara Benedict mengucapkannya, dalam cara matanya tidak melepaskan
Oliver berdiri di depan Rosemary, topeng burung hantunya masih miring seperti sebelumnya, tapi ekspresi di balik topeng itu sama sekali tidak miring. Ia tersenyum dengan cara seseorang yang baru saja menemukan kebenaran.“Aku tahu sekarang.”Rosemary tidak bergerak.Oliver mengangguk puas. “Akhirnya semuanya masuk akal.”Ia melangkah maju. Rosemary otomatis mundur sampai punggungnya menyentuh batang pohon ek di belakangnya. Tidak ada jalan keluar. Oliver berdiri di depannya, menghalangi satu-satunya jalan kembali ke aula.“Awalnya aku hanya curiga,” kata Oliver, nadanya ringan seperti sedang mengatakan suatu hal yang biasa. “Tapi saat quadrille aku semakin yakin. Cara kau berdir
Henry ditarik ke berbagai arah begitu quadrille selesai.Duke Ashford ingin bicara soal aliansi politik yang sudah lama tertunda. Earl Blackwood ingin menyampaikan undangan berburu. Dua Lady tua yang namanya sudah disebutkan dua kali tapi tidak melekat di kepala Rosemary bertanya tentang kesehatan Ratu dengan cara yang sebenarnya bertanya tentang banyak hal lain. Henry menangani semuanya dengan senyum yang sama—tenang, sopan, tidak memberikan informasi apapun yang berguna bagi siapapun yang menginginkannya.Tapi sebelum ia pergi, ia menoleh pada Rosemary. “Aku akan kembali.”“Aku tidak akan hilang.”“Itu yang membuatku khawatir.”Dan ia pergi, ditarik oleh arus bangsawan yang ti
Duchess Harrington bergerak cepat—entah dari mana, entah bagaimana, dengan cara ibu-ibu yang bergerak di ruangan ramai tanpa terlihat bergerak. Benedict baru saja melangkah menjauh dari meja minuman ketika lengannya sudah dikait. Gerakan ibunya terlalu anggun untuk disebut paksaan, tapi terlalu kuat untuk disebut permintaan. “Lady Eleanor sudah menunggu.” “Ibu—” “Satu dansa. Itu saja yang kuminta. Setelah itu kau bebas kembali ke sudutmu dan menatap dinding seperti biasanya.” Benedict melirik ke arah jendela tempat wanita misterius itu berdiri. Dia sudah tidak ada di sana. Henry sudah membawanya ke lantai dansa. “Satu dansa,” ulang Duchess, dan kali ini nadanya bukan negosiasi. Di sisi lain aula, Henry menawarkan tangannya. “Kita berda
Malam sebelum pertandingan.Rosemary tidak bisa tidur. Ia sudah mencoba segalanya. Berbaring. Membaca. Menatap langit-langit. Tidak ada yang berhasil. Pikirannya terlalu penuh—tentang turnamen, tentang papan tandi
Rosemary masih menatap Benedict.Tapi pikirannya melayang ke beberapa hari ke depan. Turnamen anggar. Babak delapan besar. Papan tanding di Ruang Santai yang masih tercetak jelas di matanya sampai sekarang.
Tubuh Rosemary ambruk, dan Benedict menangkapnya sebelum lututnya menyentuh lantai.“Sterling.”Tidak ada jawaban. Kepala Rosemary terkulai di lengannya, napasnya pendek dan panas. Kulitnya pucat, tapi pipinya merah—demam yang tidak wajar. Rambutnya yang masih sedikit lembap men
Pintu kamar 504 terbuka, dan Benedict masuk tanpa mengetuk. Kamar itu gelap. Perapian tidak menyala. Tidak ada suara napas dari ranjang. Hanya keheningan dan udara dingin yang menusuk. Ranjang Rosemary kosong. Selimut terlipat rapi. Di jendela, tanaman rosemary berdi






