LOGINLiz lari ke kota kecil setelah mengandung. Bertahun berlalu dan ia memiliki seorang putra bernama Axel. Sementara Caden, pria yang tidak lain ayah Axel datang ke kota dan bertemu lagi dengan Liz dan Axel...
View More"Ah..."
Rintihan itu lolos begitu saja dari bibir Li Lian, memecah kesunyian yang pengap. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri—serak, basah, dan penuh damba.
Sentuhan itu tidak lagi sekadar menelusup, tapi menuntut. Telapak tangan yang lebar dan panas itu merayap naik dari pinggang, menekan lekuk tubuh Li Lian hingga ia terpaksa melengkungkan punggung, mencari lebih banyak kontak.
Jubah sutranya yang tipis terasa seperti gangguan, ia bisa merasakan tekstur kasar jemari pria itu yang bergesekan dengan kulitnya yang sensitif, menyulut api di setiap titik yang dilewatinya.
Li Lian memejamkan mata erat-erat, membiarkan kepalanya tersandar pada dada bidang yang keras dan kokoh. Aroma maskulin yang bercampur dengan wangi cendana dan hujan menyergap indra penciumannya, membuatnya pening oleh gairah yang belum pernah ia rasakan selama tiga tahun pernikahan dinginnya dengan Wu Chen.
Di sini, di bawah kukungan pria asing ini, Li Lian bukan lagi istri yang diabaikan. Ia adalah pusat semesta pria ini.
Napas pria itu memburu, terasa panas dan lembap saat bibirnya menyapu lembut tengkuk Li Lian, meninggalkan jejak panas yang merayap hingga ke tulang belakang. Setiap sentuhan terasa seperti klaim—sebuah kepemilikan yang begitu intens hingga membuat kaki Li Lian terasa lemas.
"Putri Li Lian..." bisik pria itu. Suaranya berat dan rendah, bergetar tepat di telinganya seperti petir yang menggelegar namun menenangkan.
Li Lian tersentak, mencoba membuka kelopak matanya yang terasa berat. Dalam keremangan bayangan, ia hanya bisa melihat siluet rahang yang kokoh dan garis bibir yang tegas.
Panggilan itu—Putri Li Lian—adalah racun sekaligus penawar.
Sudah terlalu lama gelar itu dikubur bersama harga dirinya. Ia adalah anak haram yang tak diinginkan, buah dari skandal bangsawan yang memalukan. Darahnya terlalu mulia untuk dibuang, namun keberadaannya dianggap sampah oleh keluarga Wu Chen.
Pria itu menghentikan gerakannya, namun tidak menjauh. Ia justru mengeratkan pelukannya, menekan tubuh Li Lian lebih rapat hingga tak ada lagi celah udara di antara mereka. Matanya yang tajam mengunci tatapan Li Lian, seolah sedang meminum seluruh luka yang selama ini ia sembunyikan.
Pria itu menarik dagunya, memaksa Li Lian menatap kedalaman matanya yang penuh badai. "Putri Li Lian, jangan pernah lupakan aku saat kau terbangun nanti. Fajar akan memisahkan kita, tapi aku butuh kau tetap hidup agar aku bisa menemukan jalan pulang."
“Tapi….”
“Aku percaya padamu, Putri Li Lian.”
Sentuhan panas itu tiba-tiba tersentak hilang. Cahaya fajar menusuk masuk melalui celah jendela, merobek kenyamanan mimpi itu dengan paksa.
Li Lian tersentak bangun. Napasnya pendek-pendek, dadanya naik turun dengan cepat sementara paru-parunya terasa sempit. Ia meraba leher dan wajahnya yang masih terasa panas merona. Di sampingnya, ranjang itu tetap luas, rapi, dan sedingin es.
Wu Chen, suaminya, tidak ada di sana. Seperti biasanya, pasti menghabiskan malam di paviliun Mawar.
Wu Chen, suaminya, memang tidak pernah sekalipun tidur bersamanya karena sehari setelah pernikahan mereka, dia sudah memutuskan mengambil Mei Lan yang hanya seorang pelayan istana biasa sebagai selir. Namun, Mei Lan adalah satu-satunya perempuan yang ada di hati Wu Chen.
Dan ini adalah mimpi kesekian kali ketika pria itu muncul.
"Nyonya Muda, Anda sudah bangun?" suara datar dan dingin dari pelayan senior, Bibi Rumi, memecah keheningan. "Cepatlah bersiap. Tuan Besar sedang dalam suasana hati yang buruk karena perintah mendadak dari Kaisar."
Li Lian membiarkan para dayang membasuh tubuhnya. Mereka bekerja dengan gerakan kasar, tanpa rasa hormat yang seharusnya diberikan pada istri sah seorang Perdana Menteri. Pikiran Li Lian masih tertahan pada suara rendah pria di mimpinya. Putri Li Lian...
"Siapa tamu yang akan datang?" tanya Li Lian pelan saat rambutnya disanggul.
"Jenderal Chen Xu," jawab Bibi Rumi sambil memasangkan tusuk konde perak dengan gerakan menyentak. "Beliau dari perjalanan perang dalam keadaan terluka parah dan membutuhkan tempat istirahat serta menyembuhkan dirinya, tidak mungkin langsung kembali ke istana. Jadi…"
Li Lian mengernyit. Nama itu, Chen Xu, terasa asing namun memicu debaran aneh di dadanya.
“Aku mengerti, Bi…untuk sementara jenderal itu akan tinggal di sini”
Langkah kaki Li Lian bergema di koridor kayu aula utama. Dari kejauhan, ia sudah bisa melihat suaminya, Wu Chen, berdiri memunggungi pintu dengan sikap tubuh yang angkuh. Di hadapan WU Chen, serombongan prajurit kekaisaran berdiri tegap, mengelilingi sebuah kursi tandu.
"Li Lian…Kau terlambat," tegur Wu Chen tanpa menoleh, suaranya penuh penghinaan terselubung. "Sambutlah tamu kita. Pastikan kamu melayaninya dengan baik. Jangan membuatku kesulitan di hadapan Kaisar."
Li Lian menunduk, mencoba mengabaikan rasa sakit di hatinya. Namun, saat ia mengangkat wajah untuk memberikan salam formal, dunianya seolah berhenti berputar.
Seorang pria sedang mencoba berdiri dari kursinya, bersandar pada tongkat kayu hitam. Sosok itu tampak ringkih, kulitnya pucat seolah tak pernah tersentuh matahari, dan napasnya terdengar berat. Namun, saat pria itu mendongak, Li Lian merasa bumi bergeser dari porosnya.
Rahang itu. Garis bibir itu. Dan yang paling utama—aroma cendana yang samar terbawa angin saat pria itu bergerak.
"Jenderal Chen Xu..." Wu Chen memperkenalkan dengan nada malas. "Ini istriku, Li Lian."
Tatapan Chen Xujatuh tepat di mata Li Lian. Detik itu juga, udara di aula terasa mampat. Mata itu tidak lagi terpejam seperti dalam mimpi, mata itu kini terbuka, tajam, kelam, dan penuh dengan badai yang tak terucapkan.
Jantung Li Lian jatuh ke dasar perutnya. Ia mengenali tatapan itu. Itu adalah sorot mata yang sama yang menatapnya dengan penuh gairah dan kepedihan beberapa menit yang lalu di bawah pohon persik.
"Nyonya Muda Chen," suara Chen Xu terdengar parau, jauh lebih rendah dan pecah dibanding suaranya di dunia mimpi, namun getarannya tetap sama. Ia membungkuk sedikit, tubuhnya yang lemah terlihat gemetar, namun matanya tetap mengunci Li Lian.
Li Lian membeku. Pria ini... pria yang telah menyentuh bagian terdalam dari jiwanya, pria yang tahu setiap rahasia dan air matanya, kini berdiri hanya tiga langkah darinya. Nyata. Hidup.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya karena ia adalah seorang Jenderal besar, dan dirinya adalah istri sah dari pria yang paling dibenci Chen Xu di kekaisaran ini.
"Selamat datang... Jenderal," bisik Li Lian, suaranya nyaris hilang.
"Mulai hari ini, kau yang akan mengurus semua keperluan Jenderal Chen Xu," perintah Wu Chen tanpa beban.
"Teriak saja, maka aku akan bilang pada orang-orang kau yang menghentikan mobil dan menggodaku," tukas Caden. "A-pa ... apa katamu? Lihat saja mereka pasti tidak akan percaya padamu!" Caden menyeringai mendengar itu."Coba saja!" ucapnya. "A-pa?" Liz tertegun karena tidak menyangka Caden justru menantang dia. Memanfaatkan kesempatan, Caden justru kemudian membopong Liz di pundaknya. Perempuan muda itu memekik dan memukul-mukul punggung Caden. Namun Caden malah memasukkan Liz ke dalam mobil dan membawa gadis itu pergi dari sana.*** "Hentikan, hentikan mobilnya sekarang atau aku akan berteriak!" Liz yang duduk di samping Caden kembali mengancam. "Kau ini aneh sekali. Selalu mengancam akan berteriak. Kau tadi menjerit saja tidak ada yang datang menolong." "Kau ....!" Ucapan Liz terhenti saat men
Axel baru tiba di rumah, tetapi Liz telah menjewer dia. "Pak Edwar tadi menelepon, dia bilang kau kabur dari sekolah. Dia sempat mencari-carimu. Mom tadi juga mau ke sana, tapi dia lalu bilang kau sudah kembali," omel Liz pada anak lelakinya itu. Axel kemudian justru menangis dengan keras."Mom marah karena Pak Edwar. Mom tidak sayang lagi padaku. Mom lebih sayang sama dia.," "Kau ini, sudah, sudah, jangan menangis," bujuk Liz sambil melepas jeweran dari telinga bocah lelaki itu. "Sudah, jangan menangis lagi," ucap Liz lagi saat melihat bocah itu masih saja sesenggukan. Perempuan tersebut kemudian memberi kue pada Axel. "Mom, itu tadi bukan salahku. Pak Edwar yang salah. Dia nggak bisa nemuin aku," ucap Axel sambil mengunyah kue. Tangis bocah tersebut telah reda sepenuhnya. "Mom, jangan suka sama dia. Dia nggak bisa jaga aku. Aku cuma
Axel terisak sambil terus memanggil sang ibu. Ia juga berulangkali menggedor pintu. Liz yang berada tidak jauh segera berlari menghampiri. "Axel!" panggilnya sambil mengetuk pintu. "Mom!!!" Axel kembali berteriak dari dalam. Ia begitu ketakutan membayangkan dirinya terkurung di gudang tersebut selamanya. Ia tidak akan bisa lagi memakan kue kesukaannya yang dibuat oleh sang ibu. "Mom!" Axel kembali memanggil berulangkali. Liz mencoba memutar handel pintu. Akan tetapi, pintu tetap saja tidak bisa dibuka. Liz makin panik dan terus mencoba memutar handel tersebut. Pintu itu masih saja tertutup rapat. "Biar aku saja mencoba mendobrak pintu ini," ucap Edwar. Liz mengangguk. Edwar kemudian menyuruh Axel mundur. Bocah lelaki itu mundur dan bersembunyi di balik meja. Edwar mendobrak pintu dengan tubuhnya. Pintu tersebut tetap bergeming dan tidakau membuka. Edwar mend
Liz tengah bersiap pergi ke restoran yang telah direncanakan sebagai tempat kencannya dengan Henry. Gaun putih terusan dengan pita di belakang membuat perempuan muda tersebut tampak jelita. Polesan riasan tipis dan tatanan rambut yang dibiarkan tergerai begitu saja justru menambah pesona perempuan yang terlihat seperti anak remaja tersebut. "Kau sudah siap?" tanya Nyonya Emma. Liz mengangguk. Ia kemudian mengenakan sepatu dengan hak rendah dan segera bergegas. Liz berangkat dengan taksi yang telah dipesan. Ia tidak ingin Henry datang menjemput. Siapa tahu Axel mungkin membuat ulah yang tidak-tidak? "Kau sudah datang," sambut Henry yang menanti di luar restoran. Pria itu juga terlihat rapi dengan setelan kemeja, jas, dan celana kain berwarna putih. Ia kemudian berjalan bersama Liz menuju meja. Lilin yang menyala dan buket mawar merah terdapat di atas meja. Segera H












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews