LOGINZeil was raised in a complicated family. His dad left her mother for his mistress, then his mother committed suicide because of the depression. Zeil left alone until his father came back and took him to his new family. And then he meet Amanda, a famous, innocent, and pretty girl in their school who soon become his younger stepsister. But as a years passed by, Zeil's heart was filled with anger and eager for revenge. He can't accept the fact that their family was so happy and joyful that his family could never have, so he distance himself and enrolls in the Southern Island University. Southern Island University is a prestigious school only for students from a wealthy families and to those who have a large amount of money. A private University on a private island in the middle of the ocean. 10% of the graduating students population was left to the island to provide special class for those who failed in their major subjects. They thought that it was a boring summer class. But it became a nightmare that took the lives of everyone. Amanda Ceistria was one of the survivors of the tragedy. She thought that after the nightmare happened at SIU, she would forget everything and start all over again. But not until her stepbrother came back, using someone else's face and identity, to exact revenge on her and make life a living hell. As a time passed by, not only Zeil's heart become filled with rage and vengeance, but also with obsession and.... Love?
View More“Gimana, Abra, enak nggak sup iganya?” suara Riani mengisi ruang makan.
Serayu melirik suaminya yang menjawab singkat, “Enak,” sambil tetap makan. Senyum puas muncul di wajah sang mertua, senyum yang sudah sering Serayu lihat, tapi tak pernah terasa hangat. Abra merangkul bahu Serayu dengan santai. Sentuhan itu membuatnya kaku, bukan karena tidak nyaman, tapi karena ia tahu mata Riani sudah memperhatikan. Dan benar saja, tatapan tajam itu langsung menusuk, seolah menilai bahwa Serayu tak pantas berada di sana. “Ini masakan Aileen,” ucap Riani tiba-tiba. Nama itu menghantam Serayu lebih kuat daripada nada suara yang mengatakannya. Abra tersedak spontan dan saat Serayu hendak memberinya air, Riani menepis tangannya seolah ia hanya gangguan. Sang mertua yang kemudian menyodorkan gelas pada Abra, membuat batas antara mereka semakin jelas, bahwa Serayu tetap orang luar. “Aileen mampir tadi. Sekarang dia pindah tugas ke sini,” lanjut Riani. “Tambah cantik, pintar, karirnya bagus… harusnya dulu kamu sabar nunggu dia S2.” Ucapan itu menusuk, bukan karena Serayu cemburu, tetapi karena ia sudah terlalu sering dibandingkan dengan perempuan yang bahkan belum pernah ia temui. Abra menahan ibunya dengan satu kata, “Mama.” Saat itu juga Serayu tahu makan siang itu sudah berakhir untuknya. “Kenapa, Abra? Nyatanya, sampai detik ini Mama memang tidak pernah merestui pernikahan kalian,” ujar Riani tanpa ragu. Ia menatap Serayu dengan tajam, seperti bagaimana ia selalu menatap menantunya itu. “Ma, sudahlah.” Abra mulai kesal, tapi masih menahan diri. Sementara Serayu, ia hanya bisa menundukkan kepalanya. Ia tahu, ia hanyalah koas dari keluarga sederhana yang masuk rumah sakit itu lewat beasiswa. Hidupnya berubah sejak kecelakaan kecil dengan mobil milik Abra, dokter bedah muda yang arogan dan pewaris rumah sakit. Berniat bertanggung jawab, Serayu menyadari jumlah uang yang dikeluarkan untuk memperbaiki mobil itu cukup besar. Hingga akhirnya, tawaran pernikahan kontrak muncul dari Abra sebagai jalan keluar. Serayu sudah menolaknya, tapi keadaan keluarganya yang serba kekurangan memaksanya menerima. Tak ada yang tahu perjanjian itu, termasuk Riani, yang sejak awal menolaknya. Serayu terlalu “biasa” untuk keluarga besar itu. Apa pun yang Serayu lakukan selalu tampak salah di mata Riani. Bahkan hal sekecil menaruh gelas pun bisa menjadi alasan untuk merendahkannya. “Abra, sampai kapan kamu mau dibutakan oleh istri kecilmu itu? Dia ini hanya mengincar hartamu, memanfaatkan popularitasmu di dunia kedokteran!” seru Riani tak tahan lagi. Tatapannya kembali terarah pada Serayu. “Kamu ini dari keluarga miskin, modal beasiswa, harusnya kamu sadar diri.” Serayu kembali menunduk, tak tahu harus merespon dengan kalimat apa. Ia tahu, pernikahan ini hanya di atas kertas, tapi apa yang ibu mertuanya katakan tentang latar belakang keluarganya benar-benar meluikai hatinya. “Ibu Riani, saya memang dari keluarga miskin, tapi saya nggak pernah punya niatan buruk pada Mas Abra dan keluarga,” lirih Serayu berusaha membela diri. Awalnya, ketika menerima perlakuan buruk dari sang ibu mertua, Serayu tak ingin ambil pusing. Ia hanya perlu bertahan hingga kontrak pernikahannya dengan Abra berakhir. Namun lama-kelamaan, ibu mertuanya semakin keterlaluan. “Di dunia ini tidak ada maling yang mengaku, Serayu! Saya nggak tahu, apa yang sudah kamu perbuat sampai bisa mencuci otak anak saya dan berani melawan ibunya sendiri,” cibir Riani tanpa perasaan. Serayu meremas ujung bajunya di bawah meja. Tatapannya terarah ke arah Riani dengan penuh rasa tidak terima. Abra yang melihat ekspresi Serayu langsung mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan istrinya di bawah meja. Seolah memberi instruksi untuk tidak lagi membalas ucapan ibunya agar suasana tidak semakin keruh. “Sejak awal semua sudah berjalan lancar. Abra hanya tinggal menunggu waktu untuk menikah dengan Aileen, tapi tiba-tiba kamu muncul dan mengacaukan semuanya. Seharusnya kamu nggak usah menampakkan diri di hidup anak saya,” lanjut Riani seolah masih belum puas menyudutkan sang menantu. “Ma, dari awal Abra memang nggak ingin menikah dengan Alieen,” sahut Abra menyanggah. “Iya karena perempuan ini lebih dulu mencuci otakmu, Abra!” seru Riani makin kesal. Serayu makin merasa kesal. Ia tahu, tiap kali kejadian seperti ini datang, Abra memang berusaha membelanya. Entah apa motif sebenarnya, setidaknya Serayu sedikit merasa terbantu meskipun rasanya juga percuma karena ibu mertuanya itu sama sekali tak bisa dibantah. Jika saja Abra bersikap abai, mungkin hidup Serayu akan semakin terasa terperosok. Sudah terjebak dalam pernikahan kontrak, masih juga ditindas di keluarga suaminya tanpa pembelaan sedikitpun. “Sudahlah, Abra antar Mama pulang,” kata Abra pasrah. Ia berdiri dan bersiap untuk pergi dari ruang makan. “Kamu benar-benar berubah semenjak menikah dengannya,” tuduh Riani dengan nada dingin. Abra tidak menanggapi, hanya menghela napas lalu menoleh pada istrinya. “Masuklah dulu, Saya akan antar Mama pulang,” titahnya berbisik, meminta Serayu masuk ke dalam kamar. Serayu menurut, tapi belum genap langkahnya tiba-tiba suara Riani membelah keheningan. “Ceraikan Serayu, Abra!”Pagbukas pa lang ni Ericka sa pinto ng kwarto ni Zeil ay nagkalat na bote ng alak agad ang bumungad sa kaniya. Napapailing na lamang ang dalaga at naglakad patungo sa lalaking naka-upo sa sahig habang naka sandig ang kaniyang likuran sa pader. Malayo ang tingin at para bang walang pake kung sino ba ang pumasok sa kanyang silid.“Zeil,” tawag niya sa pangalan nito upang matawag ang pansin ng binata. Nakatulala lamang ito sa isang sulok ng kaniyang kwarto.“Ikaw pala,” tipid na ani ng lalaki nang mapansin siya. Mukha itong kababalik lang sa sariling wisyo, ni hindi man lang siya nito napansin na pumasok sa loob.“May balita ka na ba kay Amanda?” tanong ni Ericka sa lalaki. Umiling lamang ito bago itinunga ang hawak na bote at saka ipinagulong sa sahig. Napabuntong hinga na lang si Ericka at naglakad patungo sa higaan ni Zeil upang doon maupo.Mag-iisang linggo na kasing hindi umuuwi si Amanda matapos ang pagkikita n
Hindi na muna sumama si Amanda kay John, kailangan niya munang bumalik sa mansion. Gusto niyang kausapin si Zeil tungkol sa babae niya. Pero hindi niya alam kung ano ang dapat sabihin sa lalaki.Naiayos niya na rin ang kaniyang mga gamit at handa nang umalis bukas matapos ang kaniyang klase sa umaga. Gusto niya rin munang makausap si Kian upang hindi na mag-alala ang kaibigan.Nang marinig niya ang mga yapak ng paa ay mabilis na tumayo si Amanda sa kaniyang higaan upang salubungin si Zeil. Ngunit mga ilang sandali na ang nakakalipas hindi parin ito pumasok sa kaniyang kwarto.Mabilis namang naglakad si Amanda papalabas sa kaniyang kwarto upang siya na ang kusang pumunta roon. Ngunit nang buksan niya ang siradura ng pinto ay napatigil siya nang marinig ang kaniyang pangalan sa usapan ng kaniyang tito Henry at ni Zeil.“So anong gagawin mo sa kaniya?” ani ng kaniyang tito Henrry, nasa corridor nag-uusap ang dalawa kaya rinig na rinig ni Amanda a
Mabilis na bumaba si Amanda palabas ng kanilang bahay matapos niyang sabihin kay John ang eksaktong address ng kaniyang tinutuluyan."Hey, Amanda. Saan ka pupunta?" tanong sa kaniya ni Zeil nang makasalubong niya ito sa labas. Hindi niya ito pinansin kahit ilang beses na nitong tinawag ang kaniyang pangalan.Hindi niya alam kung bakit nagagalit siya sa lalaki dahil sa nangyari kay Jene. Pakiramdam niya ay may kinalaman roon sina Zeil at Trey at bumabalik na naman ang nangyaring bangungot sa kanilang paaralan.Nang matanaw niya ang sasakyan ni John ay mabilis siyang pumasok roon."Tara na?" ani nito sa kaniya, tumango naman si Amanda bilang tugon."Amanda, hindi na maganda ang nangyayari. Tingnan mo itong bagong news." ani ni John at iniabot ang kaniyang cellphone kay Amanda.Kahit hindi basahin ni Amanda ang kabuohan ng balita ay malalaman niya na kung ano iyon dahil sa mga pictures na naroon. Halos mapatakip naman siya ng kaniyang bibig dah
Pagmulat ni Amanda ay nasa kaniyang kwarto na ito, meron na rin siyang suot na damit. Wala na rin si Zeil sa kaniyang tabi. Napakusot pa siya ng kaniyang mga mata bago nagpasyang bumangon upang maligo at makapag-repare papasok sa kanilang paaralan.Napapakanta pa siya dahil maganda ang kaniyang naging gising. Mukha siyang teenager na ngayon lang kinikilig, kung sabagay dalaga pa rin naman talaga siya. Sa dami ng lalaking naging crush niya noon ay 'saka niya lang naranasan ang mga nakakatwang bagay na iyon.Hindi niya na kailangan pang tanungin ng direkta ang lalaki dahil alam niya na ang sagot sa mga iyon. Malinaw na sa kaniya na mahal rin siya nito at nahihiya lang itong ipahalata sa kaniya."Shit ka Amanda! Kumalma ka nga!" ani niya sa kaniyang sarili habang tinatapik tapik ang kaniyang pisngi sa sobrang kilig.Napakunot ang kanyang noo nang makita ang sunod sunod na miss calls ni Jene sa kaniya kagabi. Sinubukan niya itong tawagan ngunit hindi na ito m
“How’s the party?” sarcastic na tanong ni Erich sa kaniyang kakambal na si Ericka nang makita siya nitong papaakyat na ng hagdan patungo sa kaniyang kwarto.“Ok lang.” walang gana niyang sagot sa tanong nito, nawalan na kasi siya ng gana matapos siyang iwan na
Ito na ang gabi ng graduation ball nila. Naglagay lang si Amanda ng kaniyang simpleng make-up na babagay pa rin sa kaniyang damit. Kasama si yaya Manda upang tulungan siya sa pag-aayos ng kaniyang sarili.“Ayan, bagay na bagay talaga sa ‘yo ang napili mong damit. Paniguradong may mabibingwi
Araw ng sabado, nagmamadaling nag-ayos si Amanda ng kaniyang sarili matapos niyang tawagan si John sa kaniyang telepono. Pupunta siya ngayon sa mental hospital kung nasaan naka-confine si Marie upang makamusta naman niya ang kalagayan ng kaibiga.Hindi na kasi sila muli pang nagkita matapos
“Ihja pinapatawag ka na sa ibaba para kumain.” ani ni yaya Manda kay Amanda nang pumasok ito sa kaniyang kwarto. Habang si Amanda naman ay abalang nagbabasa ng kaniyang libro. Malapit na kasi ang kanilang exams kaya kinakailangan niyang magsunog ng kilay.“Sige po yaya, susunod na po ako.” magalang n












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews