LOGINO arquirrival do meu tio salvou minha vida duas vezes. Na primeira, foi no mar — um naufrágio, ondas violentas. Ele surgiu pilotando um jet ski e me tirou da morte certa. Na segunda, eu fui enganada. Puseram algo na minha bebida. Desesperada, dormi com o homem dez anos mais velho do que eu, o lendário herdeiro de Solmaré, Lourenço Monteblanco. Depois daquela noite intensa, o antigo mulherengo finalmente sossegou, e passou a ser só meu. Ele registrava, uma vez após a outra, meu corpo entregue ao desejo. Meu rosto queimava de vergonha, mas por dentro eu sorria — embriagada pela doçura de ser amada. Até que, do fim do corredor, vieram vozes soltas e sujas... — Lourenço, você tá se divertindo até demais, hein? — Aliás, imagina o Gilberto Marques sabendo que a sobrinha dele tá sendo comida há três anos pelo inimigo dele?
View MoreDi sebuah ruangan, Ella terbangun, setelah hampir 10 jam tidak sadarkan diri, akibat kecelakaan yang di alaminya semalam.
Sinar matahari pagi menghangatkan ruangan dan membuat matanya menyipit karena kilauan sang mentari."Nyonya sudah bangun?"Ella membuka mata dan melihat seorang perawat sedang membereskan beberapa peralatan medis dan Ella merasakan sekujur tubuhnya sangat sakit."Di.... di mana saya dan apa yang terjadi?" Ella mencoba menggerakkan tangannya, ouh sakit, Ella berusaha untuk bangkit. Dengan sigap perawat itu menahan tubuhnya agar tetap berada di tempat tidur."Tenang. Nyonya. Tenanglah dulu. Luka anda belum pulih." kata perawat."Apa yang terjadi?" tanya Ella kembali menahan rasa sakit di tangannya."Semalam nyonya mengalami kecelakaan. Dan seseorang membawa nyonya kemari." jawab perawat itu.Ella yang masih tampak lemah, berusaha mengingat kejadian semalam.Di mana saat dia dan Dion, suaminya sedang bertengkar hebat karena Dion menuduh Ella telah berselingkuh.Bahkan Dion mencurigai, Chintya bayi mereka yang baru berumur 2 bulan ini, bukan putrinya."Kenapa kau mengkhianati aku?!" tanya Dion pada saat itu dengan dingin menahan amarah."Tolonglah percaya padaku, aku mohon. Aku tidak pernah berselingkuh," jawab Ella setengah menangis.Tetapi Dion dengan segala bukti-bukti yang di dapatnya, tidak mempercayai penjelasan Ella. Ini membuat Ella sangat putus asa."Kau adalah pembohong yang sangat kejam! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" kata Dion geram.Dan tiba-tiba dari arah yang berlawanan, sebuah mobil dengan kecepatan tinggi, menghantam mobil mereka yang sedang terparkir di pinggir jalan, yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat mereka duduk.Ella yang berada tidak terlalu jauh dengan mobil tersebut, tidak ayal kena imbas juga. Sesuatu yang keras menghantam tubuh Ella, membuat Ella tak sadarkan diri."Cintya!" Ella seperti teringat sesuatu.Ya Allah. Cintya, bayinya yang baru berumur 2 bulan yang sedang tertidur, berada di dalam mobil saat kejadian itu.Ella menjadi panik dan memanggil anaknya. Di lihat sekelilingnya, tapi bayi itu tidak ada."Tenanglah, nyonya. Anda belum sepenuhnya pulih." perawat tersebut berusaha menenangkan Ella."Di mana anakku?! Cepat katakan, dimana anakku?!" Ella tampak panik dan menjadi histeris.Perawat tersebut, dengan cepat menekan tombol bel yang berada di dekatnya. Tak lama kemudian, dua orang perawat pria datang dan langsung memegang tangan Ella yang memberontak."Lepaskan!! Aku ingin anakku. Dimana anakku?!" Ella semakin histeris, karena perasaan keibuannya merasakan sesuatu telah terjadi pada bayinya.Perawat wanita yang sejak tadi sudah berada di ruang itu, dengan segera menyuntik lengan Ella.Ellla yang awalnya memberontak, kini menjadi lemah., air matanya tiada berhenti mengalir di pipinya."Anakku." Ella kembali menumpahkan tangisannya. Perawat tersebut, perlahan mendekati Ella.Ada rasa iba di hati perawat ini melihat keadaan wanita cantik ini, yang sejak pertama datang ke sini hanya sendirian, tanpa ada sanak keluarga yang menemaninya.Bahkan sampai saat ini, sang suami pun belum tampak kehadirannya."Suster dimana anak saya?" Ella kembali bertanya dalam tangisnya."Nyonya maafkan saya, semalam cuma nyonya sendiri yang di bawa kesini. Dan menurut informasi yang saya dengar, jenazah anak nyonya sudah di kebumikan di tempat kejadian." sahut perawat itu."Ya Allah." tangisan Ella semakin keras. Dia merasakan dunianya runtuh saat ini.Ella merasa frustasi. Dia pun segera mengambil ponsel untuk menghubungi Dion. Namun, Dion tidak mengangkatnya.Ella mengulangi lagi panggilan itu, hingga berkali-kali, dan akhirnya terdengar suara dari seberang."Ada apa?! Selain urusan perceraian kita, aku tidak akan menemuimu,"Walau pun hati Ella merasa sangat sedih dengan perkataan Dion, seperti biasa dia tetap sabar dan bertahan."Dion benarkah....bayi kita....?" suara Ella terdengar sumbang menahan tangis."Anakmu sudah di kebumikan," suara Dion terasa dingin dan kejam."Anak kita, Dion!?" tangis Ella kembali pecah. hatinya benar-benar hancur mendengar bayinya sudah tiada.Padahal baru kemarin dia masih memeluk bayinya. Aroma dan tangisannya masih ada dalam Ingatan Ella.Dan sekarang, di tambah lagi sikap tidak berperasaan dari Dion, membuat hati Ella semakin hancur.Ella tidak mengerti mengapa Dion tiba-tiba berubah dan lebih mempercayai orang lain dari pada istrinya sendiri.Padahal dulu Dion sangat sayang dan cinta pada Ella. Ella pun merasakan kehangatan cinta Dion pada dirinya.Jangankan saat Ella sakit parah, tergores pisau saja Dion paling panik.Ach, Ella mengusap air mata yang mengalir di pipinya."Dion, coba lihat gaun pengantin ini, sangat cocok untuk pernikahan kita nanti," suara seseorang sangat jelas, memberitahukan dengan siapa Dion saat ini.Jantung Ella seakan berhenti berdetak, mulutnya ternganga."Vivian?," desis Ella perlahan.Beberapa detik Ella seperti tersadar dari mimpinya, tangannya bergetar hebat membuat ponsel di tangannya hampir terlepasVivian adalah cinta pertama sekaligus tunangan Dion di masa lalu. Tetapi saat itu Vivian lebih memilih pergi mengejar karirnya di Australia dari pada melanjutkan pertunangan mereka.Dion yang sedang patah hati bertemu dengan Ella. Kemudian mereka menikah setelah beberapa bulan saling mengenal satu dengan lainnya.Ella yang jatuh cinta pada pandangan pertama pada Dion, merasa sangat bahagia karena merasa di cintai oleh pangeran menawan.Tapi sekarang, Ella menemukan fakta yang sangat mengejutkannya."Jadi Vivian sudah kembali, dan kini mereka sedang berencana akan memulai kehidupan baru," lirih Ella yang tiba-tiba merasakan tubuhnya seperti sudah tidak bertulang lagi.Kemudian, Ella teringat dengan tuduhan Dion terhadap dirinya.Jadi semua ini hanya alasan Dion saja၊, supaya bisa berpisah darinya.Ella memejamkan mata, ya Allah sesakit ini.Mengapa dia tidak menyadari bahwa Dion ternyata tidak pernah mencintainya.Ella merasakan dunianya sudah runtuh, dan kini dia tidak punya kekuatan untuk bangkit kembali.Apa lagi dari seberang telpon, Ella masih mendengar percakapan mesra antara Dion dan Vivian.Dan sepertinya, Dion sengaja memperdengarkan percakapan itu pada Ella.Seakan-akan, kehadiran Ella selama ini tidak berarti di dalam hidup Dion.Suara manja Vivian, suara mesra Dion, dan tawa mereka berdua, telah menggores luka yang sangat dalam di hati Ella.Sekarang Ella mengerti, mengapa Dion begitu menginginkan mereka berpisah.Karena Dion dan Vivian sangat jelas menginginkan satu sama lainnya. Apa gunanya mempertahankan pernikahan ini."Dion, ayo kita bercerai." kata Ella dengan bibir bergetar.Dion tersentak, setelah terdiam sejenak, terdengar tawa sinis Dion, "Ella, trik apa lagi yang kau mainkan." ujar Dion dingin.Ella merasa tidak ada gunanya lagi untuk berbicara, dengan tenang dia berkata, "Besok aku menunggumu di rumah,"Setelah menutup ponselnya, Ella meringkukkan badannya di sudut tempat tidur, di pejamkan mata, meredakan rasa nyeri di hatinya.Tubuhnya membeku, bibirnya terlihat pucat dan bergetar. Tidak ada air mata, tidak ada keluhan dari bibirnya."Semua sudah berakhir," Ella menangis tanpa suara, tanpa air mata. Dia sendirian di sudut kamar.Dion yang masih terpaku di seberang sana, menatap ponselnya dengan gusar. Baru kali ini Ella mematikan ponselnya terlebih dahulu."Dion, kau kenapa?." Vivian heran melihat sikap Dion berubah. Padahal tadi, beberapa menit yang lalu, Dion begitu hangat mesra padanya.Tapi sekarang....."Tidak apa-apa. Ayo kita pulang," kata Dion dingin, sambil berjalan keluar dari butik tersebut tanpa menoleh pada Vivian yang menatapnya aneh.Mal tinha dado alguns passos apressados e, de repente, tudo me pareceu familiar demais, como se eu tivesse voltado para aquele dia de três anos atrás.O dia da minha formatura. O mesmo dia em que deixei Lourenço para trás e embarquei para Paris。Só então percebi que nunca contei a ele o motivo de eu ter me apaixonado por ele.Quando eu tinha dez anos, por conta do trabalho dos meus pais, voltamos ao Aurélvia. As lembranças daquela fase eram quase todas embaçadas. Fui deixada numa casa de um amigo deles, como um dente de leão ao vento, sendo soprada de um canto a outro.Quando, enfim, nos estabelecemos nos Estados Unidos, meus pais contrataram um motorista — um homem calado, aparentemente pacato.Mas seus olhos sempre me observavam de um jeito que me deixava desconfortável.Quis contar à minha mãe, mas ela e meu pai estavam sempre ocupados demais.Até que, numa noite, ele entrou escondido no meu quarto.Entrei em desespero. Na luta, consegui alcançar uma tesoura na cabeceira. E, tomada
Lourenço abaixou a cabeça, a voz baixa como um sussurro:— Não. Eu só estou te pedindo pra me amar.Eu já estava exausta com aquela cena no meio da madrugada. Suspirei fundo, tentando acalmá-lo:— Lourenço, você não precisa fazer isso. O mundo não gira só em torno do amor. Você sabia que nem zumbis comem gente com cérebro obcecado por amor? Eles preferem morrer de fome.Ele me olhou com os olhos cada vez mais apagados. Forçou um sorriso.— Desculpa, Ariadne. É que eu te amo demais.Soltou minha mão e foi em direção ao quarto. Eu o segui.O apartamento tinha uma decoração sóbria, de tons acinzentados, estilo industrial. No centro da sala, um sofá macio contrastava com o resto do ambiente.— Por que ainda não foi embora? — Perguntou, parando à porta do quarto.— Vou esperar você se acalmar. — Respondi com cautela. Não teria coragem de deixá-lo sozinho daquele jeito.Ele não disse nada. Simplesmente começou a soltar o cinto do robe.— Não precisa se forçar. Eu entendo que você não me ama
Até aquele grupo começar a me notar também, foi que Lourenço tomou a decisão de se infiltrar. Coincidentemente, o plano de vingança que ele já vinha amadurecendo há tempos começava a ganhar forma.Jesiane o procurou com o objetivo de selar uma parceria.Por conta da depressão pós-parto da mãe, ela nutria um ódio profundo pelo pai e pelo filho bastardo dele — que por acaso era o CEO do Grupo Stellaris e inimigo declarado de Lourenço.No começo, ele hesitou. Mas com Jesiane como desculpa, ele poderia entrar mais facilmente na confiança daquele grupo.E em situações assim, as oportunidades não costumam bater duas vezes.Se cortasse o contato com Jesiane, talvez perdesse anos tentando conseguir as provas novamente.Após muita ponderação, aceitou a proposta.Assumir um papel “interno” aceleraria seu acesso ao núcleo do esquema criminoso liderado pelo irmão de Jesiane.Lourenço me disse que pensou, sim, em me contar. Mas apenas depois que tudo estivesse resolvido.Afirmou também que aquelas
Quando voltei para Vale do Riaçol, encontrei Lourenço.Ele estava agachado diante da porta do meu apartamento, abraçando os próprios joelhos, o olhar completamente vazio.Só quando me aproximei, algo brilhou nos olhos dele.— Você voltou. Finalmente. — Murmurou, como se estivesse esperando por mim há séculos.Não disse nada. Apenas estendi a mão, peguei a dele com cuidado e subi lentamente a manga da blusa. Debaixo do tecido, como eu já suspeitava, havia cicatrizes retorcidas, profundas e dolorosamente reais.Lourenço tentou esconder o braço, enfiando-o de volta na manga.Meu coração afundou. A raiva tomou conta de mim.Sem pensar, levantei a mão e dei um tapa forte em seu rosto.— Lourenço, você enlouqueceu?!A cabeça dele tombou de leve com o impacto, mas ele não respondeu.Em vez disso, segurou minha mão e a encostou com ternura na própria face avermelhada.— Eu achei que você tinha morrido.O rosto ainda ardia do tapa, mas ele continuava apertando meus dedos contra a pele quente.—






Bem-vindo ao Goodnovel mundo de ficção. Se você gosta desta novela, ou você é um idealista que espera explorar um mundo perfeito, e também quer se tornar um autor de novela original online para aumentar a renda, você pode se juntar à nossa família para ler ou criar vários tipos de livros, como romance, leitura épica, novela de lobisomem, novela de fantasia, história e assim por diante. Se você é um leitor, novelas de alta qualidade podem ser selecionados aqui. Se você é um autor, pode obter mais inspiração de outras pessoas para criar obras mais brilhantes, além disso, suas obras em nossa plataforma chamarão mais atenção e conquistarão mais admiração dos leitores.
reviews