LOGINRafa menyentuh dadanya yang mendadak sesak, langkahnya mundur satu tapak hingga tubuh tambunnya hampir menabrak kursi. Matanya membelalak lebar, memantulkan bayangan Helena dan Cla yang kini berdiri dengan keangkuhan yang sangat familiar, keangkuhan darah Rifai Djatmiko."Helena... Clarissa..." gumam Rafa dengan suara serak yang tertahan di kerongkongan. "Kalian... bagaimana mungkin...""Bagaimana mungkin kami masih hidup?" potong Helena dengan nada dingin menyindir.Bibirnya mengukir senyum penuh kemenangan saat melihat wajah pria paruh baya di hadapannya pucat bagaikan mayat. "Atau bagaimana mungkin anak-anak dari pria yang Paman hancurkan sepuluh tahun lalu, kini berdiri dan akan mengambil perusahaan Paman?"Stevani di samping ayahnya memekik kaget, menggelengkan kepala secara histeris sembari menunjuk Cla. "Tidak! Ini mustahil. Kamu cuma wanita biasa yang memanipulasi Tuan David! Papa, katakan kalau semua ini bohong!""Tutup mulutmu, Stevani!" gertak Rafa dengan suara gemetar, k
Malam ini Cla tak dapat tidur. Dia gelisah sepanjang malam memikirkan rencana besok. David merasakan pergerakannya. Hubungan mereka memang telah saling terbuka tapi David belum pernah menyentuh Cla secara utuh."Ada apa?" Bisik David. Cla tidak bergerak, dia menutup mata dan berharap suaminya ikut tidur tanpa bertanya lagi namun hal yang mengejutkan terjadi, David menarik tubuh Cla dan memeluknya dari belakang."Tidak mau cerita?" Hembusan nafas pemuda itu membuat seluruh tubuh Cla menegang."A-aku.... Aku .... hanya mengkhawatirkan hari esok."David menempelkan pipinya ke wajah Cla. Kedekatan yang intens ini membuat Cla menahan nafas."Kamu percaya padaku?"Cla mengangguk."Kalau begitu tidurlah, besok semuanya akan baik-baik saja."Cla tertegun, David memeluknya sepanjang malam. Hembusan nafas yang teratur kini menyapu wajahnya. Cla ingin menyentuhnya tapi urung dilakukan. Bagaimana jika nanti semua masalah sudah selesai, akankah mereka tetap bertahan. Cla memikirkan banyak hal,
Atmosfer di dalam butik mendadak sunyi, ketegangan yang tercipta membuat Stevani mengepalkan tangannya semakin erat, wanita itu berusaha keras menjaga harga diri dan keanggunannya agar tidak hancur di depan Zeland. Senyum di bibir merahnya terlihat semakin kaku saat matanya kembali menatap Cla dari ujung kepala hingga ujung kaki."Aura yang sangat kuat untuk seseorang yang baru bergabung dengan keluarga Reevand," sindir Stevani pelan, suaranya diatur sedemikian rupa agar terdengar ramah namun menusuk. "Ternyata kejutan di keluarga ini tidak ada habisnya. Pertama pernikahan mendadak Tuan David, dan sekarang..." Stevani beralih menatap Helena dengan sorot mata penuh selidik. "Kehadiran anda juga tampak begitu percaya diri berdiri di samping Tuan Zeland."Helena tidak berkedip sedikit pun. Dia melangkah setengah ke depan, menegakkan bahunya hingga posisinya sejajar dengan Cla."Kepercayaan diri datang dari posisi yang sah, Nona Stevani," balas Helena dingin, matanya menembus tepat ke
Zeland menatap punggung Kakek Abraham yang perlahan menghilang di balik lorong menuju ruang kerjanya. Kalimat sang kakek menyentil relung hatinya yang paling dalam. Penyesalan, rasa tanggung jawab, dan tekad untuk melindungi kini menjadi satu alasan kuat mengapa dia harus berdiri pasang badan untuk Helena.Tak berapa lama, Helena dan Cla turun dari lantai atas dengan pakaian yang lebih rapi namun kasual. Wajah Cla masih menyiratkan keraguan yang teramat sangat, sementara Helena berjalan dengan dagu terangkat, sebuah pertahanan diri yang sengaja dia bangun untuk tetap bertahan."Sudah siap?" tanya Zeland lembut.Helena mengangguk singkat. "Ayo. Semakin cepat kita menyelesaikan ini, semakin cepat kita bisa fokus pada hari lusa."Zeland memberi isyarat pada Tiger, pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang sudah setia menjadi pengawal pribadi keluarga Reevand, datang bersama dua anak buahnya untuk membuntut dari jarak aman. Merekapun melaju menuju butik kelas atas milik Madam Sav
Suasana di kediaman utama Reevand tak lagi sama. Meski fajar mulai menyingsing membiaskan warna keemasan di balik jendela, ketegangan di dalam rumah mewah itu justru semakin pekat. Di kamar utama, Cla akhirnya tertidur karena kelelahan setelah meluapkan seluruh emosi dan kepedihannya. David menyelimutinya dengan perlahan, mengecup kening istrinya lama sebelum melangkah keluar dengan raut wajah yang berubah total. Dingin, tajam, dan penuh amarah. Di ruang tengah, Zeland dan El sudah menunggu. Tuan Abraham duduk di kursi kebesarannya, menatap ketiga cucunya yang kini berdiri sejajar dengan ikatan yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. "Helena sudah agak tenang," ujar Zeland memecah keheningan, matanya sedikit merah karena ikut merasakan penderitaan wanita itu. "Tapi dia menuntut keadilan atas semuanya. Dia ingin Rafa dan Stevani membayar setiap detik penderitaan yang mereka lewati selama sepuluh tahun ini." "Bukan hanya Helena," sela David dengan suara berat yang menekan kewarasanny
Langkah kaki Cla mengayun berat menjauh dari ruang kerja, seolah setiap pijakannya menapak pada serpihan kaca yang tajam. David mencoba mengejarnya, namun tangannya tertahan di udara. Jarak beberapa senti di antara mereka mendadak terasa bagai jurang yang tak menentu."Biarkan dia sendiri dulu," bisik Zeland pelan. "Dia butuh waktu untuk mencerna semua ini."David memejamkan mata. Rasa bersalah melingkupi dadanya begitu sesak. Pria yang mulai ingin membangun hubungan itu, kini merasa tak dapat melindungi Cla dari segala bentuk penderitaan, kenyataan pahit adalah bahwa darah yang mengalir di nadinya adalah darah dari sosok yang merenggut nyawa orang tua istrinya sendiri."Apa dia akan membenciku?" Zeland terpaku. Dia tak memiliki jawaban atas pertanyaan itu."Orangtua kita yang menabrak mama dan papanya. Apa menurutmu dia bisa memaafkan semuanya?""Entahlah, Bang. Tapi, walau bagaimanapun juga kita memang tak tahu apa-apa. Jika Cla bisa berpikir jernih, dia pasti tak akan menyalah
Tiba di Rumah Sakit, Zeland dan David langsung keluar dari mobil, Angelo tiba lebih awal dan berdiri dengan tampang bete di lobby. Jelas terlihat jika Angelo tidak nyaman menuruti keinginan Abraham. “Dimana cewek miskin itu?” tanya Elo saat Zeland dan David berdiri di sampingnya. “Tuh,” ucap David
Semalaman dilayani bak putri raja, Clarissa merasa dirinya sedang di alam dunia mimpi. Pelayan bahkan mengikutinya hingga ke kamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuknya. Clarissa merasa kehilangan privasi saat kedua pelayan utusan Abraham memutuskan semuanya. Mulai dari pakaian yang harus dike
Abraham tidak peduli dengan sikap yang ditunjukan ketiga pewarisnya terhadap Clarissa, sebaliknya dia justru senang jika cucu-cucunya terang-terangan menyindir Cla di sana. Abraham ingin melihat perlawanan dari wanita muda itu. Ingin tahu sampai dimana dia sanggup untuk bertahan. Makan malam kini s
Helena tidak sadarkan diri saat bantuan datang dan mengankat tubuhnya masuk ke dalam mobil Ambulance. Anak buah Abraham dengan cepat mengawal prosesinya. Clarissa memilih untuk ikut di mobil yang membawa kakaknya. Gadis itu tak hentinya berdoa dan menggenggam tangan saudarinya. "Bertahan, Kak. Semu







