แชร์

MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA
MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA
ผู้แต่ง: ADZWADA_KINAKA

Bab 1. Pergi

ผู้เขียน: ADZWADA_KINAKA
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-12-05 17:48:56

"Mau tidak mau kamu harus pergi sekarang?" usir seorang wanita kepada seorang gadis muda yang sedang terisak di hadapannya.

"tapi, Bi, apa tidak ada cara lain? Mega tidak mau mengambil jalan itu, Bi?" tolak Mega masih dengan suara terisak.

Sang Bibi berkacak pinggang, "cara lain, kamu pikir dengan cara apa untuk cepat mengumpulkan uang banyak sedangkan kamu sendiri tau pengobatan ibuku membutuhkan uang yang tidak sedikit," sinis sang Bibi.

Pelan tapi pasti wanita bernama Romlah itu berjalan mendekati Mega dan sedikit membungkukkan tubuhnya membuat wajahnya begitu dekat dengan Mega.

"Kamu jual diri dengan 100 priapun tidak akan bisa langsung menutup semua biaya. Dan tentunya kamu menginginkan kesembuhan Nenekmu kan? Ingat! dialah orang yang paling berjasa dalam hidupmu?" tegas Romlah yang kemudian bangkit membetulkan posisinya.

mega lebih dulu menyeka air mata yang membanjiri wajahnya.

Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, 'apa tidak apa-apa?' batin Mega, keraguan masih menyelimuti hatinya.

"Bagaimana, telalu lama berfikir hanya membuang-buang waktu, ibuku tidak bisa menunggu lagi," omel sang Bibi.

Mega kembali menghela nafas lalu bangkit dari duduknya, "baiklah ... demi Nenek, apapun akan Mega lakukan," mantap Mega berucap.

Romlah menyunggingkan senyum miring pada bibirnya, kepuasan tampak menyelimuti wajah.

Romlah kemudian merogoh tas selempang yang ia sandang di lengannya, ia aduk-aduk isi dompetnya beberapa saat hingga secarik kertas kini sudah berada di genggaman tangannya.

Potongan kertas itu kemudian ia berikan pada Mega, "itu alamat orang kaya yang akan menyewa rahimmu, setelah tiba disana segera minta uang imbalan agar Nenekmu bisa segera dioprasi," perintah Romlah.

Sejenak Mega tatapi potongan kertas yang masih berada dalam genggaman tangan sang Bibi.

"Ambil!" seru Romlah membuat Mega terjingkat kaget. Dengan tangan gemetar Mega mengembil potongan kertas itu dari tangan Romlah.

Tak ia baca isi dalam potongan kertas itu, Mega memilih menyimpannya di dalam saku celananya.

"Sebelum berangkat, biarkan Mega pamit pada Nenek dulu, Bi," pinta Mega.

Romlah bersedekap, ia lalu memberi isyarat agar Mega masuk ke dalam rawat inap sang Nenek.

*****

Di Dalam Ruang Rawat Narsih

"Mega," panggil Narsih.

Mega tersenyum dan segera duduk tepat di samping Narsih. Tanpa terasa air mata kembali luruh membasahi wajah Mega.

"Ada apa? kenapa kamu menangis?" tanya sang Nenek.

"Nenek seperti ini karene merawat Mega, ini waktunya Mega membalas budi Nenek," ucap Mega.

"Maksudmu?" Narsih tampak terheran.

"Pengobatan Nenek membutuhkan biaya banyak, Mega ingin bekerja, Nek. Mega sudah dapat pekerjaan," jawab Mega.

"Pekerjaan? pekerjaan apa?" tanya Narsih lagi.

"Menjadi Art di kota, Nek, dari pada di rumah, upahnya tidak sepadan!" jawab Mega tentu tak memberi jawaban yang sebenarnya.

"Di kota? ... Tidak ... kamu tidak boleh ke kota!" larang Narsih. Tentu saja, kehilangan Lastri yang berpamitan hendak pergi ke kota namun tak berkabar sampai sekarang menyisakan rasa trauma tersendiri bagi Narsih. Apa lagi Mega satu-satunya harta berharga yang di tinggalkan oleh Lastri.

"Tapi, Nek, kita butuh banyak uang?" sahut Mega.

"Tidak, sekali Nenek bilang tidak, ya tidak boleh. kamu harus tetap di rumah, biar Nenek dan Bibi yang mencari uang," tegas Narsih.

Mega menggenggam erat tangan Narsih.

"Bohong memang kalau kita tidak butuh uang, tapi kalau kepergianmu hanya untuk pengobatan Nenek, itu semua tidak perlu, lagi pula Nenenk ini sudah tua, tidak usah di obati. Mengobati Nenek hanya buang-buang uang, toh lama kelamaan Nenek pasti akan ....!" Narsih tak melanjutkan ucapannya saat ia mendapati sang cucu masih terisak.

"Nenek hanya tidak mau merepotkan kamu, Mega!" lanjut Narsih.

"Tapi, Nek, Nenek harus sembuh!" Mega mengeratkan genggam tangannya.

"Nenek harus sehat, Nenek harus berumur panjang. Di dunia ini Mega hanya punya Nenek, orang yang tulus menyayangi Mega. Kalau nenek tidak ada, bagaimana nasib Mega nanti, Nek!" kali ini tangis Mega semakin terdengar pilu.

Tanpa memberi aba-aba, Mega segera memeluk Narsih dengan erat, "Mega janji, Nek, Mega akan berusaha agar Nenek bisa sembuh!" ucap Mega sembari terisak.

Narsih melepas pelukan dari cucu perempuan semata wayangnya itu, di sekanya air mata yang telah membasahi wajahnya. "Nenek takut kamu seperti ibumu, pamit pergi tapi tidak pernah kembali, cukup sudah nenek kehilangan ibumu, Nenek tidak mau juga kehilangan kamu, Nak!" air mata Narsih ikut meluruh mendapati kesedihan Mega.

Kembali Mega menggenggam erat tangan Narsih, "percayalah, Nek, percaya pada Mega, Mega tidak akan seperti ibu, Mega pasti akan kembali setelah ... setelah pekerjaan Mega selesai dan Mega rasa cukup untuk membiayai pengobatan Nenek!" lanjut Mega.

Narsih tatapi wajah ayu sang cucu, ia belai lembut kedua pipi cucu perempuannya itu, hal itu membuat Narsih menangis tersedu.

"Nenek jaga diri baik-baik ya! Mega pamit, doakan pekerjaan Mega di kota lancar agar Mega bisa cepat pulang untuk mengurus nenek lagi!" ucap Mega kembali memeluk sang nenek.

Suasana di kamar rawat Narsih kala itu tiba-tiba berubah sendu, ada ketidak relaan dalam hati pasangan cucu dan nenek itu untuk saling berpisah.

******

Tanpa membawa apapun Mega melangkah keluar dari rumah sakit. Dengan perasaan kalut Mega melangkahkan kakinya menuju terminal Bus antar kota yang letaknya tidak begitu jauh dari Rumah Sakit tempat sang Nenek di rawat.

Suasana Terminal sore itu begitu ramai, Mega yang belum pernah berpergian jauh masih merasa bingung harus memilih Bus mana yang bisa membawanya ke alamat tujuan.

"Mbak?" sapa seseorang membuat Mega terkejut dan segera menoleh.

"Mbak mau kemana?" tanya si lelaki yang menyadari kebingungan gadis dihadapannya.

Mega lebih dulu merogoh potongan kertas yang ada di dalam saku celananya, lalu memberikan potongan kertas itu pada lelaki di hadapannya.

"Kalau mau ke alamat itu, saya harus naik Bus apa ya, Pak?" tanya Mega ragu.

Si lelaki dengan saksama membaca isi dari potongan kertas yang baru saja diberikan oleh Mega.

"Emm, setau saya ini alamat perumahan elit, Mbak? Mbak yakin mau kesana?" tanya si lelaki meastikan.

Mega mengangguk, "iya, Pak, Emm ... saya akan menjadi ART disana," jelas Mega.

Si lelaki mengangguk-anggukkan kepalanya, "begini saja, Mbak, kalau naik Bus, Mbak, pasti repot, biar saya carikan trevel saja, walau bayarnya sedikit mahal tapi pasti diantar sampai tempat tujuan," jelas si Lelaki, beruntungnya Mega bertanya dengan orang yang tepat.

******

Di mobil

Mega yang merasa lelah selama perjalanan, memilih menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya. Hingga tanpa ia sadari, perlahan matanya pun terpejam dan tertidur lelap.

Sampai beberapa jam kemudian, mobil yang membawa Mega pun akhirnya tiba di rumah Angkasa.

Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang sesuai alamat yang ada pada sebekan kertas milik Mega.

"Mbak ... Mbak ! bangun, Mbak, kita sudah sampai!" ucap sang sopir trevel membangunkan Mega.

sejenak Mega mengerjapkan kedua matanya dan segera menegakkan posisi duduknya, mata Mega masih tampak memerah, sepertinya Mega masih belum puas dalam tidurnya.

"Maaf ya, tapi kita sudah sampai sesuai alamat yang Mbak berikan tadi," ucap sang supir.

Mega mengangguk dan segera turun dari mobil.

Kedatangan Mega segera disambut oleh satpam yang menjaga rumah, "maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam.

Mega sejenak kebingungan, "Emm, saya ... saya dari kampung," jawab Mega dengan nada kebingungan.

"Maaf, Mbak, tapi saya tidak bisa sembarangan menerima tamu," jelas sang satpam.

"Emmm, Bapak bisa panggilkan Bos, Bapak, bilang saja ada tamu dari kampung," perintah Mega sekenanya.

Melihat jika gadis dihadapannya tak menunjukkan gelagat aneh, sang satpam pun memberikan ijin masuk kedalam halaman rumah.

"Tunggu sebentar biar saya panggilkan Nyonya," ucap sang satpam.

Sementara Mega menunggu di halaman, Mega dibuat terheran saat melihat rumah di hadapannya yang begitu besar, bahkan nyaris seperti istana.

"Rumahnya besar sekali!" gumam Mega.

Tidak lama berselang, "Mbak, silahkan masuk, Bu Amelia dan Pak Awan sudah menunggu di dalam," ucap satpam yang baru saja datang.

Mega mengangguk, namun ia segera teringat, "aku baru bangun tidur, belum cuci muka!" guman Mega.

Mega kemudian mengarahkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah, dan sorot mata itu terhenti tepat pada sungai kecil yang mengalir di depan teras yang di lengkapi dengan air mancur di beberapa bagian. Sungai buatan itu nampak begitu asli di mata Mega.

Tanpa bertanya lebih dulu, Mega segera melangkah menuju sungai kecil itu, sesaat Mega di buat takjub melihat banyaknya ikan yang sedang berenang kesana kemari di dalam aliran sungainya.

Setelah puas menatap ikan, Mega segera teringat dengan niat awalnya. Mega kemudian bersiap mengeruk air yang mengalir di dalam sungai dengan kedua tangannya lalu mengangkat kedua tangan yang sudah penuh dengan air untuk ia sapukan pada wajahnya.

"Hentikan!" cegah sebuah suara yang seketika membuat Mega membuang semua air yang sempat ia tampung pada kedua tangannya.

Segera Mega menoleh pada sumber suara, hingga nampaklah sesosok lelaki berwajah tampan namun nampak garang degan perawakan tinggi sedang menuju ke arahnya.

Merasa ketakutan, Mega segera bangkit menjauh dari pinggiran sungai, "maaf, Pak, maaf, saya tidak mengganggu ikan, Bapak, saya hanya ingin meminta air sedikit untuk mencuci muka!" jelas Mega sembari menundukkan kepalanya.

"Siapa kamu?" tanya lelaki galak itu pada Mega yang masih menunduk ketakutan.

Mega masih diam, ia begitu tercekam ketakutan saat berhadapan dengan Lelaki yang tidak lain adalah si tuan rumah.

"Tegakkan pandanganmu dan lihat aku!" tegas Awan.

Walau ragu, perlahan Mega mengangkat pandangannya, dan mengarahkan tatapannya itu pada Awan.

Awan membalas tatapan dari Mega, 'siapa dia? Wajahnya familiar sekali?' batin Awan bertanya dalam hati.

"Jawab pertanyaanku! Siapa kamu, kenapa kamu ada di rumahku?" ulang Awan.

"Sa ... saya ... saya!" Mega masih gugup.

"Jawab!" sentak Awan tak sabar.

BERSAMBUNG ....

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 48. Tantangan

    Mega terkesiap saat akhirnya pintu kamarnya terbuka, wajahnya tampak menegang, hingga perasaan tegang itu menghilang saat sosok Awanlah yang muncul dari balik pintu. "Pak Awan!" ucap Mega penuh kelegaan. Awan segera mengarahkan tatapannya pada Mega. "Ada apa? kenapa wajahmu begitu sumringah setelah melihat aku?" tanya Awan. Seketika itu juga, wajah sumringah Mega kembali berubah masam. "Ada apa lagi, Bapak kemari? Bukannya saya sudah bilang jangan datang kemari kecuali Bapak ....!" Mega tak melanjutkan ucapannya. Awan tak segera menjawab, ia lebih dulu melangkahkan kakinya lalu duduk tepat di sebalah Mega. Mega pun menggeser duduknya menjauhi Awan. "Kenapa harus membuat aturan seperti itu?" tanya Awan tanpa menoleh pada Mega. Sementara Mega justru mengarahkan tatapannya pada Awan, "saya sudah pernah bilang, saya tidak mau menghancurkan rumah tangga anda dan Bu Amelia," jelas Mega. "Cukup Mega!" Awan menoleh membalas menatap Mega, kini sorot mata keduanya saling ber

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 47. Siapa?

    Di balik pintu, Mega masih terdiam. "Ayolah, Mega, nampan ini berat," keluh Awan dari balik pintu. Akhirny Mega mengalah, ia lalu membuka pintu selebar-lebarnya. Awan menyunggingkan senyum lebar, namun senuman itu tak mendapat balasan dari Mega. Mega lebih dulu memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu di depan Awan. Hingga langkah kaki keduanya tiba di dapur. Awan segera menurunkan nampan di atas meja, dan ia pun menata meja makan Mega yang awalnya kosong menjadi berisi makanan yang lengkap. "Sudah siap ... ayo kita makan!" ajak Awan. Lebih dulu Mega tatapi satu persatu makanan yang sudah tersaji di atas meja makannya, "kenapa, Bapak repot-repot begini, saya sedang tidak berselera," Mega tampak lesu. Awan tak menjawab, ia justru menarik satu kursi di dekat Mega, "duduklah ... walau tidak berselera, kau harus tatap makan, jangan sampai kamu sakit bahkan sampai kurus, nanti apa kata orang?" ucap Awan sengaja membercandai Mega. "Kata orang ... memang siapa yang tau kala

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 46. Pintu Paviliun

    Melihat kehadiran Amelia, Minah seketika menundukkan kepalanya, sementara Awan justru mengarahkan tatapan tajam pada wanita yang masih menyandang setatus istri pertamanya itu. "Memangnya semalam kau pergi kemana?" tanya Awan. Amelia membalas tatapan tajam dari Awan, "setelah perdebatan semalam, aku memilih menenangkan diri dirumah, Mama," sahut Amelia beralasan. "Lain kali jangan keluar rumah tanpa seijinku," sahut Awan yang kemudian melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Amelia terdiam, hanya sorot matanya yang mengikuti langkah Awan, sampai Awan masuk ke dalam kamarnya. Lalu perlahan Amelia melangkahkan kakinya menghampiri Minah. Minah yang merasa takut hanya menundukkan tanpa berani menegakkan kepalanya. "Atas dasar apa Mbak Minah mengadu seperti itu?" tanya Amelia. "Maaf, Nyonya, bukan maksud saya mengadu, tapi ...." "Alah ... tidak usah banyak tapi, sudah jelas aku mendengar semuanya dengan telingaku sendiri," potong Amelia sebelum Minah selesai melanjutkan ucap

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 45. Hasrat

    Mega tak menerima begitu saja. Ia berusaha membrontak, namun sayang tenaganya yang tidak sepadan dengan Awan disertai tubuh yang belum benar-benar pulih membuat Mega kalah dan hanya bisa menerima apa yang dilakukan Awan padanya. ****** Di Kamar Amelia "Sepertinya Awan tadi tidak menyadari," ucap Amelia sembari menatapi pantulan lehernya yang tampak memerah di beberapa bagian. Cermin besar itu terus ia tatapi, "dasar Adit sialan, bisa-bisanya dia meninggalkan bekas sebanyak ini!" grutu Amelia. Ia lalu meraih sebuah botol berisi cairan bening, lalu ia teteskan pada sebuah kapas tipis. Amelia lalu menggosokkan kapas yang sudah basah itu pada beberapa titik lehernya yang tampak memerah. "Aduuhhh ... kenapa tidak mau hilang?" wajah Amelia tampak kebingungan. "Kalau begini caranya, bagaimana aku bertemu dengan Awan nanti," gumamnya. Merasa kesal karena tak mendapatkan cara menghilangkan bekas merah disekitar lehernya, Amelia memilih bangkit dari duduknya. Ia lalu merebahkan

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 44. Menyalurkan Hasrat

    Sorot mata Amelia segera tertuju pada kedua tangan Mega dan Awan yang tengah saling bergandengan, sontak saja Mega menarik paksa tangannya dari genggaman tangan Awan. Amelia yang awalnya hendak masuk ke dalam lift pun akhirnya memutar tubuhnya dan berjalan lebih dulu disusul Mega dan Awan di belakanya. "Aku dengar dari Mbak Minah kalau Mega sakit, makanya aku sengaja datang untuk membesuk. Tapi ternyata seudah sembuh," ucap Amelia ketika telah sampai di depan pintu lobby. "Semalam dia memang sakit, makanya aku langsung membawanya kesini," sahut Awan. Sahutan itu hanya dijawab senyum sinis oleh Amelia, hingga akhirnya mobil yang di kemudikan Pak Arman pun telah datang. Amelia dan Awan duduk di kursi belakang sementara Mega duduk di kursi depan di samping Pak Arman. "Sudah baikan, Neng?" tanya Arman. Mega tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. "Tentu saja baik, semalam aku ke paviliun juga dia baik-baik saja," sahut Amelia sedikit sinis. "Atau sakitmu hanya pura-pura, un

  • MENJADI ISTRI KEDUA TUAN MUDA   Bab 43. Pulang

    "Sudahlah, Pak!, Saya sudah tau semuanya. Tidak perlu ada yang ditutupi lagi," sahut Mega sinis. Awan mengehela nafas, berusaha meredam gejolak emosinya yang sempat memanas, "jangan mengajak aku berdebat, keadaanmu belum pulih, beristirahatlah," pungkas Awan. Mega kini hanya diam, hal itu membuat suasana ruang perawatannya sejenak terasa sunyi senyap. "Mau makan apa? Biar aku carikan?!" tawar Awan. Namun Mega hanya diam. "Aku bertanya padamu, Mega," Awan sedikit meninggikan suaranya. Hal itu membuat Mega mengarahkan tatapannya pada Awan. "Saya tidak lapar," singkat Mega yang kembali membuang muka ke arah yang lain. "Setidaknya makanlah sesuatu untuk mengisi perutmu," Awan sedikit melembutkan nada bicaranya. "Saya sudah bilang saya tidak lapar, lagi pula nanti pasti mendapat jatah makan dari rumah sakit, saya makan itu saja," sahut Mega lagi. Awan kembali menghela nafas, "dasar keras kepala," gumam Awan mengepal geram. Ia sandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di bela

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status