LOGIN
"Mau tidak mau kamu harus pergi sekarang?" usir seorang wanita kepada seorang gadis muda yang sedang terisak di hadapannya.
"tapi, Bi, apa tidak ada cara lain? Mega tidak mau mengambil jalan itu, Bi?" tolak Mega masih dengan suara terisak. Sang Bibi berkacak pinggang, "cara lain, kamu pikir dengan cara apa untuk cepat mengumpulkan uang banyak sedangkan kamu sendiri tau pengobatan ibuku membutuhkan uang yang tidak sedikit," sinis sang Bibi. Pelan tapi pasti wanita bernama Romlah itu berjalan mendekati Mega dan sedikit membungkukkan tubuhnya membuat wajahnya begitu dekat dengan Mega. "Kamu jual diri dengan 100 priapun tidak akan bisa langsung menutup semua biaya. Dan tentunya kamu menginginkan kesembuhan Nenekmu kan? Ingat! dialah orang yang paling berjasa dalam hidupmu?" tegas Romlah yang kemudian bangkit membetulkan posisinya. mega lebih dulu menyeka air mata yang membanjiri wajahnya. Gadis itu menarik nafas dan menghembuskannya perlahan, 'apa tidak apa-apa?' batin Mega, keraguan masih menyelimuti hatinya. "Bagaimana, telalu lama berfikir hanya membuang-buang waktu, ibuku tidak bisa menunggu lagi," omel sang Bibi. Mega kembali menghela nafas lalu bangkit dari duduknya, "baiklah ... demi Nenek, apapun akan Mega lakukan," mantap Mega berucap. Romlah menyunggingkan senyum miring pada bibirnya, kepuasan tampak menyelimuti wajah. Romlah kemudian merogoh tas selempang yang ia sandang di lengannya, ia aduk-aduk isi dompetnya beberapa saat hingga secarik kertas kini sudah berada di genggaman tangannya. Potongan kertas itu kemudian ia berikan pada Mega, "itu alamat orang kaya yang akan menyewa rahimmu, setelah tiba disana segera minta uang imbalan agar Nenekmu bisa segera dioprasi," perintah Romlah. Sejenak Mega tatapi potongan kertas yang masih berada dalam genggaman tangan sang Bibi. "Ambil!" seru Romlah membuat Mega terjingkat kaget. Dengan tangan gemetar Mega mengembil potongan kertas itu dari tangan Romlah. Tak ia baca isi dalam potongan kertas itu, Mega memilih menyimpannya di dalam saku celananya. "Sebelum berangkat, biarkan Mega pamit pada Nenek dulu, Bi," pinta Mega. Romlah bersedekap, ia lalu memberi isyarat agar Mega masuk ke dalam rawat inap sang Nenek. ***** Di Dalam Ruang Rawat Narsih "Mega," panggil Narsih. Mega tersenyum dan segera duduk tepat di samping Narsih. Tanpa terasa air mata kembali luruh membasahi wajah Mega. "Ada apa? kenapa kamu menangis?" tanya sang Nenek. "Nenek seperti ini karene merawat Mega, ini waktunya Mega membalas budi Nenek," ucap Mega. "Maksudmu?" Narsih tampak terheran. "Pengobatan Nenek membutuhkan biaya banyak, Mega ingin bekerja, Nek. Mega sudah dapat pekerjaan," jawab Mega. "Pekerjaan? pekerjaan apa?" tanya Narsih lagi. "Menjadi Art di kota, Nek, dari pada di rumah, upahnya tidak sepadan!" jawab Mega tentu tak memberi jawaban yang sebenarnya. "Di kota? ... Tidak ... kamu tidak boleh ke kota!" larang Narsih. Tentu saja, kehilangan Lastri yang berpamitan hendak pergi ke kota namun tak berkabar sampai sekarang menyisakan rasa trauma tersendiri bagi Narsih. Apa lagi Mega satu-satunya harta berharga yang di tinggalkan oleh Lastri. "Tapi, Nek, kita butuh banyak uang?" sahut Mega. "Tidak, sekali Nenek bilang tidak, ya tidak boleh. kamu harus tetap di rumah, biar Nenek dan Bibi yang mencari uang," tegas Narsih. Mega menggenggam erat tangan Narsih. "Bohong memang kalau kita tidak butuh uang, tapi kalau kepergianmu hanya untuk pengobatan Nenek, itu semua tidak perlu, lagi pula Nenenk ini sudah tua, tidak usah di obati. Mengobati Nenek hanya buang-buang uang, toh lama kelamaan Nenek pasti akan ....!" Narsih tak melanjutkan ucapannya saat ia mendapati sang cucu masih terisak. "Nenek hanya tidak mau merepotkan kamu, Mega!" lanjut Narsih. "Tapi, Nek, Nenek harus sembuh!" Mega mengeratkan genggam tangannya. "Nenek harus sehat, Nenek harus berumur panjang. Di dunia ini Mega hanya punya Nenek, orang yang tulus menyayangi Mega. Kalau nenek tidak ada, bagaimana nasib Mega nanti, Nek!" kali ini tangis Mega semakin terdengar pilu. Tanpa memberi aba-aba, Mega segera memeluk Narsih dengan erat, "Mega janji, Nek, Mega akan berusaha agar Nenek bisa sembuh!" ucap Mega sembari terisak. Narsih melepas pelukan dari cucu perempuan semata wayangnya itu, di sekanya air mata yang telah membasahi wajahnya. "Nenek takut kamu seperti ibumu, pamit pergi tapi tidak pernah kembali, cukup sudah nenek kehilangan ibumu, Nenek tidak mau juga kehilangan kamu, Nak!" air mata Narsih ikut meluruh mendapati kesedihan Mega. Kembali Mega menggenggam erat tangan Narsih, "percayalah, Nek, percaya pada Mega, Mega tidak akan seperti ibu, Mega pasti akan kembali setelah ... setelah pekerjaan Mega selesai dan Mega rasa cukup untuk membiayai pengobatan Nenek!" lanjut Mega. Narsih tatapi wajah ayu sang cucu, ia belai lembut kedua pipi cucu perempuannya itu, hal itu membuat Narsih menangis tersedu. "Nenek jaga diri baik-baik ya! Mega pamit, doakan pekerjaan Mega di kota lancar agar Mega bisa cepat pulang untuk mengurus nenek lagi!" ucap Mega kembali memeluk sang nenek. Suasana di kamar rawat Narsih kala itu tiba-tiba berubah sendu, ada ketidak relaan dalam hati pasangan cucu dan nenek itu untuk saling berpisah. ****** Tanpa membawa apapun Mega melangkah keluar dari rumah sakit. Dengan perasaan kalut Mega melangkahkan kakinya menuju terminal Bus antar kota yang letaknya tidak begitu jauh dari Rumah Sakit tempat sang Nenek di rawat. Suasana Terminal sore itu begitu ramai, Mega yang belum pernah berpergian jauh masih merasa bingung harus memilih Bus mana yang bisa membawanya ke alamat tujuan. "Mbak?" sapa seseorang membuat Mega terkejut dan segera menoleh. "Mbak mau kemana?" tanya si lelaki yang menyadari kebingungan gadis dihadapannya. Mega lebih dulu merogoh potongan kertas yang ada di dalam saku celananya, lalu memberikan potongan kertas itu pada lelaki di hadapannya. "Kalau mau ke alamat itu, saya harus naik Bus apa ya, Pak?" tanya Mega ragu. Si lelaki dengan saksama membaca isi dari potongan kertas yang baru saja diberikan oleh Mega. "Emm, setau saya ini alamat perumahan elit, Mbak? Mbak yakin mau kesana?" tanya si lelaki meastikan. Mega mengangguk, "iya, Pak, Emm ... saya akan menjadi ART disana," jelas Mega. Si lelaki mengangguk-anggukkan kepalanya, "begini saja, Mbak, kalau naik Bus, Mbak, pasti repot, biar saya carikan trevel saja, walau bayarnya sedikit mahal tapi pasti diantar sampai tempat tujuan," jelas si Lelaki, beruntungnya Mega bertanya dengan orang yang tepat. ****** Di mobil Mega yang merasa lelah selama perjalanan, memilih menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi di belakangnya. Hingga tanpa ia sadari, perlahan matanya pun terpejam dan tertidur lelap. Sampai beberapa jam kemudian, mobil yang membawa Mega pun akhirnya tiba di rumah Angkasa. Mobil itu berhenti tepat di depan gerbang sesuai alamat yang ada pada sebekan kertas milik Mega. "Mbak ... Mbak ! bangun, Mbak, kita sudah sampai!" ucap sang sopir trevel membangunkan Mega. sejenak Mega mengerjapkan kedua matanya dan segera menegakkan posisi duduknya, mata Mega masih tampak memerah, sepertinya Mega masih belum puas dalam tidurnya. "Maaf ya, tapi kita sudah sampai sesuai alamat yang Mbak berikan tadi," ucap sang supir. Mega mengangguk dan segera turun dari mobil. Kedatangan Mega segera disambut oleh satpam yang menjaga rumah, "maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya satpam. Mega sejenak kebingungan, "Emm, saya ... saya dari kampung," jawab Mega dengan nada kebingungan. "Maaf, Mbak, tapi saya tidak bisa sembarangan menerima tamu," jelas sang satpam. "Emmm, Bapak bisa panggilkan Bos, Bapak, bilang saja ada tamu dari kampung," perintah Mega sekenanya. Melihat jika gadis dihadapannya tak menunjukkan gelagat aneh, sang satpam pun memberikan ijin masuk kedalam halaman rumah. "Tunggu sebentar biar saya panggilkan Nyonya," ucap sang satpam. Sementara Mega menunggu di halaman, Mega dibuat terheran saat melihat rumah di hadapannya yang begitu besar, bahkan nyaris seperti istana. "Rumahnya besar sekali!" gumam Mega. Tidak lama berselang, "Mbak, silahkan masuk, Bu Amelia dan Pak Awan sudah menunggu di dalam," ucap satpam yang baru saja datang. Mega mengangguk, namun ia segera teringat, "aku baru bangun tidur, belum cuci muka!" guman Mega. Mega kemudian mengarahkan pandangannya ke sekeliling halaman rumah, dan sorot mata itu terhenti tepat pada sungai kecil yang mengalir di depan teras yang di lengkapi dengan air mancur di beberapa bagian. Sungai buatan itu nampak begitu asli di mata Mega. Tanpa bertanya lebih dulu, Mega segera melangkah menuju sungai kecil itu, sesaat Mega di buat takjub melihat banyaknya ikan yang sedang berenang kesana kemari di dalam aliran sungainya. Setelah puas menatap ikan, Mega segera teringat dengan niat awalnya. Mega kemudian bersiap mengeruk air yang mengalir di dalam sungai dengan kedua tangannya lalu mengangkat kedua tangan yang sudah penuh dengan air untuk ia sapukan pada wajahnya. "Hentikan!" cegah sebuah suara yang seketika membuat Mega membuang semua air yang sempat ia tampung pada kedua tangannya. Segera Mega menoleh pada sumber suara, hingga nampaklah sesosok lelaki berwajah tampan namun nampak garang degan perawakan tinggi sedang menuju ke arahnya. Merasa ketakutan, Mega segera bangkit menjauh dari pinggiran sungai, "maaf, Pak, maaf, saya tidak mengganggu ikan, Bapak, saya hanya ingin meminta air sedikit untuk mencuci muka!" jelas Mega sembari menundukkan kepalanya. "Siapa kamu?" tanya lelaki galak itu pada Mega yang masih menunduk ketakutan. Mega masih diam, ia begitu tercekam ketakutan saat berhadapan dengan Lelaki yang tidak lain adalah si tuan rumah. "Tegakkan pandanganmu dan lihat aku!" tegas Awan. Walau ragu, perlahan Mega mengangkat pandangannya, dan mengarahkan tatapannya itu pada Awan. Awan membalas tatapan dari Mega, 'siapa dia? Wajahnya familiar sekali?' batin Awan bertanya dalam hati. "Jawab pertanyaanku! Siapa kamu, kenapa kamu ada di rumahku?" ulang Awan. "Sa ... saya ... saya!" Mega masih gugup. "Jawab!" sentak Awan tak sabar. BERSAMBUNG ....Awan mengangkat kedua bahunya, "aku tidak tau," jawab Awan singkat. Dahi Mega berkerut, "memang Pak Awan tidak bertanya?" "Untuk apa?" sahut Awan dengan nada malas. “Memang Pak Awan tidak mau tau Bu Amelia pergi kemana?” sahut Mega. "Biar saja, asal dia tidak banyak tingkah aku tidak mau terlalu mengikuti urusannya," jawab Awan. ** Saat detik berganti menjadi menit, menit bergerak menjadi jam, jam berputar menjadi hari dan hari pun berganti menjadi minggu. Dan selama bebrapa hari tanpa kehadiran Amellia, tanpa Mega dan Awan sadari jika hubungan mereka terjalin semakin dekat dan semakin hangat. Setelah kedekatannya dengan Awan membuat keadaan kehamilannya tak lagi merepotkan, Mega tak lagi meraskan mual hebat seperti sebelumnya. Pagi itu, Mega terbangun lebih dulu dari Awan, dan seperti biasanya ia akan melakukan persiapan kebutuhan Awan. Namun baru saja akan beranjank dari tempat tidurnya Mela merasakan sebuah tangan menggenggam pergelangan tangan. Hal itu tentu saja m
'Ngidam?' batin Mega, sorot matanya tiba-tiba berubah nanar.Melihat perubahan wajah Mega, Awan pun bangkit berdiri tepat di hadapan Mega. Awan arahkan wajah Mega sedikit mendongak menatap dirinya."Kalau ada bilang saja!, apapun selagi aku mampu pasti aku turuti" lanjut Awan.Sejenak Mega menatap wajah Awan dengan lekat, lalu ia menggelengkan kepalanya.Awan menghela nafas lalu melepaskan wajah Mega. Awan mengambil dompet yang ia simpan di saku belakang celananya, Awan membuka dompet itu lalu mengambil selembar kartu dari sela kantung dompetnya dan meletakkan kartu itu di tangan Mega, "ambil kartu ini!, aku rasa kamu sungkan untuk meminta langsung padaku, jadi dengan kartu ini kamu bisa langsung membeli sendiri kalau kamu menginginkan sesuatu," jelas Awan.Mega segera mengembalikan kartu itu pada Awan, "tidak usah Pak, saya masih punya uang jatah bulanan yang diberi Bu Amel," tolak Mega."Itu pemberian Amelia, kalau ini pemberian dari aku untuk kamu, ambil saja," ucap Awan lagi.Mega
Beberapa waktu kemudian, Amelia tampak menggeliat di dalam balutan selimut tebal milik Aditya sementara Aditya masih terlelap disebelahnya.Amelia tersenyum, lalu miringkan tubuhnya menjadi menghadap Aditya, "bangun, Sayang!" ucap Amelia sembari mengelus lembut wajah Aditya.Aditya mengerjap lalu perlahan ia membuka kedua bola matanya, Aditya membelas senyuman Amelian lalu ia melingkarkan tagannya pada tubuh Amelia."Pagi ini harusnya aku sudah berada di ruanganku, gara-gara kamu aku jadi ketiduran sepertin ini," ucap Aditya menarik Amelia kedalam pelukannya."Tapi kamun yakinkan, Sayang, kali ini aku pasti akan hamil ... rasanya aku sudah malas melihat wajah perempuan kampungan itu," ucap Amelia.Aditya beberapa kali melayangkan kecupan lembut pada pipi Amelia, "kamu tenang saja ... aku sudah menghitung masa ovulasimu dan hari ini adalah waktu yang pas karena hari ini merupakan waktu kamu yang palingb subur," jawab Aditya."Nanti aku berikan beberapa vitamin dan obat penguat kandunng
"Memberi tau, Bu Amel ... apa tidak apa-apa?" tanya Mega, ada sebuah keraguan dari nada bicara Mega. "Ada apa lagi?' tanya Awan lagi, namun Mega hanya menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu masih ragu, tidak apa-apa lain kali saja kita beri tau Amelia," ucap Awan yang setidaknya sedikit mengobati kegundahan hati Mega. Mega mengangguk, "Pak Awan langsung sarapan saja, saya mau beberes kamar," pinta Mega. "Kamu tidak mau sarapan juga?" tanya Awan, dan lagi Mega hanya menggelengkan kepalanya. "Saya benar-benar belum lapar," jawab Mega. "Kalau memang belum lapar, setidaknya temani aku sarapan, bisa?" pinta Awan. Mega tampak ragu, "saya ... benar-benar belum lapar, rasanya saya ingin jalan-jalan saja, boleh?" pinta Mega dengan tatapan penuh harap. "Jalan-jalan kemana?" "Hanya berkeliling di sekitar rumah, emmm ... sungai buatan juga, rasanya sudah lama tidak melihat ikan-ikan berenang," jelas Mega. Awan mengelus lembut pipi Mega, "ya sudah aku beri ijin tapi ingat tidak boleh kelu
Sama dengan Awan, Mega pun merasa terkejut melihat kehadiran Amelia yamg sudah tepat di depan pintu kamarnya.Mega segera menarik tangannya dari genggam tangan Awan lalu menundukkan kepalanya."Kalian semalam ...?!""Tidak, Bu, ini semua tidak seperti yang Bu Amel pikirkan," potong Mega sebelum Amelia sempat melanjutkan ucapannya.Awan menarik tubuh Mega agar berada di belakang tubuhnya, ":semalam aku memang menginap di kamar Mega, aku sengaja menjaga dia," jelas Awan.Amelia menatap Awan dengan mimik wajah tak senang, "ya sudah, ayo kita sarapan," ajak Amelia dengan nada sedikit sinis.Amelila memutar tubuhnya lalu berjalan lebih dulu, sementara Awan yang baru saja akan menyusul Amelia segera dihentiksn oleh Mega."Apa tidak apa-apa begini, Pak ... saya takut Bu Amellia marah," ucap Mega.Awan merangkul pundak Mega, "kamu tenang saja, soal Amelia biar menjadi urusanku."Awan lalu menggeser posisinya menjadi menghadap Mega, "tugasmu sekarang hanya menjaga calon anak kita dengan baik,
Mega terhenyak sesaat, perlahan Mega menegakkan pandangannya menatap pantulan wajahnya pada cermin besar yang ada di hadapannya. "Tes sekarang?" gumam Mega. "Ada apa, apa kamu keberatan?" tanya Awan menyadari perubahan pada wajah Mega yang tampak pada cermin kamar mandi. Mega menghela nafas, lalu menghembuskannya perlahan "tidak apa-apa, Pak. Emm ... bisa tolong ambilkan alat-alatnya biar saya tes sekarang?!" pinta Mega. Awan sangat girang senyumnya pun tampak sumringah, ia pun bergegas pergi untuk mengambilkan peralatan tes kehamilan untuk Mega. Karena begitu bersemangat, tak membutuhkan waktu lama, Awan pun telah kembali menemui Mega. "Ini!" ucap Awan sembari mengulurkan bungkusan plastik itu pada Mega. "Terimakasih!" jawab Mega sembari meraih plastik pemberian Awan. Keduanya sesaat saling terdiam larut dalam kecnggungan. "Emmm ... Maaf, Pak, Pak Awan bisa menunggu di luar saja!" pinta Mega. "Hah, Ahhh ... i, iya ... a aku menunggu di luar," jawab Awan tergagap lalu memundu
Amelia terkesiap, sejenak ia arahkan perhatiannya pada Awan "ada apa lagi? Kau meminta aku memulangkan dia lagi?" tebak Amelia sedikit sewot. Awan lebih dulu mengedarkan pandangannya kesegala arah, "masuk! Tidak enak membahas disini!" ajak Awan, lelaki itu berjalan lebih dulu sementara Amelia men
Sesorang menyodorkan botol minuman pada Mega, "minum ini!", suara itu membuat Mega menoleh. "Pak Tomi!" ucapnya. Tomi lebih dulu mengangguk, "aku melihat saat kamu hampir tersrempet mobil tadi!" lanjutnya. "Minumlah, agar kamu lebih tenang!" lagi Tomi menyodorkan botol minum yang di genggamnya p
"Iya ... makanya cepat keluar, jangan buat mereka menunggu terlalu lama!" sahut Minah sedikit berseru. Mega lebih dulu menoleh pada jam dinding yang bertengger di atas dinding kamarnya. "Hah ... sudah setengah 8!" Mega terhenyak. Mega lalu turun dari ranjang, barulah kemudian berjalan cepat mer
"Mumpung kita sudah dirumah sakit bagaimana kalau ....!" Amelia menghentikan ucapannya, lebih dulu ia arahkan pandangannya pada Mega dan Awan secara bergantian. Awan membalas tatapan Amelia dengan tatapan sinis, "kalau apa lagi? Kamu mau apa lagi?" tanya Awan masih dengan nada sinis. "Bagaimana k







