Home / Fantasi / MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN / 2. TAWARAN MENARIK SEORANG DUKE LUDWIG

Share

2. TAWARAN MENARIK SEORANG DUKE LUDWIG

Author: Purple Rain
last update Last Updated: 2026-01-23 22:36:01

Tristan tertegun. Tangannya yang masih menggantung di udara perlahan mengepal, lalu turun kembali ke sisi tubuhnya. Reaksi Briana barusan bukanlah reaksi seorang wanita yang sedang merajuk atau sekedar jual mahal. Itu adalah penolakan mutlak yang dibalut dengan harga diri yang setinggi langit.

​"Gila? Gila katamu?" Tristan mengulang kata itu dengan nada rendah, seolah sedang mencicipi rasa asing di lidahnya. "Semalam kau memohon padaku untuk menyelamatkanmu dari perjodohan busuk itu. Kau bilang kau bersedia melakukan apa saja asalkan tidak kembali ke tangan keluarga Rhys atau... pria bernama William itu."

​Briana tertawa sumbang. Tawa yang terdengar sangat kontras dengan wajah cantiknya yang pucat. "Itu semalam. Itu adalah Briana yang sedang labil, Briana yang tidak menggunakan akal sehatnya akibat… mabuk.”

​Ia melangkah maju, kini giliran dia yang menginvasi ruang pribadi Tristan. Briana mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata gelap sang Duke tanpa ada secuil pun rasa takut.

​"Dengar, Duke Ludwig. Aku baru saja kembali dari ambang kehancuran yang sangat membosankan. Dan kau memberiku tawaran menjadi seorang selir? Yang benar saja. Aku bukan Charlotte sepupumu, perempuan gatal itu, yang telah selingkuh dengan mantan calon suamiku.” 

Ada sengatan tak kasat mata yang menjalar di sepanjang tulang belakangnya, memaksa tubuh Tristan mematung dalam posisi canggung.

“Aku tidak suka tawaran sepele seperti yang kau katakan. Itu hanya akan menjadikanku burung dalam sangkar emas, menunggu giliran untuk dipetik atau dibuang saat kau bosan. Aku tidak butuh perlindungan yang merendahkan seperti itu, Sayang..."

​Tristan menyipitkan mata. Atmosfer di kamar mewah itu berubah seketika. "Lalu apa yang kau inginkan, Briana? Kau tidak punya harta lebih, kau tidak punya sekutu, dan saat ini, statusmu di luar sana adalah wanita yang melarikan diri dari pesta perjamuan Duke. Tanpa perlindungan namaku, William akan menyeretmu kembali ke dalam pernikahan terpaksa."

​"Aku menginginkan tahta, bukan ranjang," jawab Briana lugas.

​Tristan terdiam, rahangnya mengeras. "Apa katamu?"

​"Jadikan aku istrimu. Istri yang sah. Seorang Duchess," Briana melanjutkan dengan nada setenang air telaga, namun setiap katanya mengandung kekuatan yang tidak bisa dibantah. "Bukan sebagai objek kesayangan, atau pemuas di atas ranjang belaka, tapi sebagai partner strategis. Aku tahu rahasia yang tidak diketahui siapa pun di kekaisaran ini. Aku tahu siapa yang akan berkhianat pada keluargamu dalam tiga bulan ke depan, dan aku tahu bagaimana caramu memenangkan perebutan wilayah di perbatasan Utara tanpa menumpahkan darah prajuritmu satu pun."

​Tristan tertawa kecil, tawa dingin yang tidak mencapai matanya. "Kau mulai berhalusinasi, Briana. Bagaimana mungkin seorang putri bangsawan yang hanya tahu cara berdansa bisa tahu urusan politik dan militer?"

​Briana tersenyum miring—senyum predator yang belum pernah Tristan lihat sebelumnya. "Karena aku sangat peka jika masalah yang terjadi menyangkut sebuah pengkhianatan. William dan Charlotte... mereka bukan hanya sekedar pasangan yang berselingkuh di belakangku. Mereka adalah sekutu yang akan menghancurkan keluarga Ludwig dari dalam, jika kau tetap membiarkan mereka bergerak bebas."

​Ia menyentuh kerah jubah hitam Tristan, merapikan sulaman benang emas di sana dengan gerakan yang sangat berwibawa.

​"Berikan aku posisi Duchess, dan aku akan memberimu kesetiaan ini di bawah kakimu. Jika tidak..." Briana menjeda kalimatnya, matanya berkilat tajam. "Aku akan mencari jalan sendiri, dan saat itu terjadi, kau mungkin akan menyesal karena tidak mau mendengar apa kataku."

​Tristan merasakan desiran aneh di dadanya. Wanita di depannya ini bukan lagi Briana yang menangis tersedu-sedu di balkon semalam. Ia tampak seperti badai yang terbungkus dalam kulit porselen, membawa sebuah rencana yang tidak bisa ia baca.

​"Satu tahun," ucap Tristan tiba-tiba.

​Briana mengangkat alisnya. "Hm?"

​"Kontrak satu tahun. Aku akan memberimu gelar Duchess. Aku akan memberimu otoritas untuk menggunakan nama Ludwig. Tapi jika dalam enam bulan kau tidak bisa membuktikan kata-katamu tentang pengkhianatan itu..." Tristan menunduk, membisikkan ancaman tepat di telinga Briana, "...Aku sendiri yang akan memberimu hukuman, karena sudah berani mempermainkan kepercayaan seorang Duke."

​Briana tidak mundur. Ia justru mengulurkan tangannya, seolah ingin menjabat kesepakatan itu.

​"Deal. Dan siapkan sarapan yang enak setelah ini, Duke. Aku sangat-sangat lapar…” senyumnya terlihat begitu licik, mengalungkan kedua tangannya di leher Tristan dengan manja. “Kita punya banyak rencana besar, sebelum pesta perayaan pernikahan digelar.”

​Tristan menatap tangan Briana yang terulur padanya sejenak, “Aku harus bertemu dengan ibuku, memberitahunya soal rencana pernikahan kita.”

Jari lentik Briana menari di ceruk leher Tristan, mempermainkan rambut ikalnya. “Yakin mereka setuju dan mau menerimaku? Apa kau tidak memiliki seorang kekasih?”

Dengan gerakan lambat Tristan meraih tangan Briana, lalu menggenggam dengan erat, bukan sekadar sentuhan lembut, tapi seperti simpul yang mengikat nasib dua jiwa ambisius. 

“Kau cemburu kalau aku memiliki perempuan lain di luar sana?” Duke tristan mengecup punggung tangan Briana. Kulitnya terasa dingin saat bergesekan, tapi ada panas laten di baliknya, seperti bara yang menunggu hembusan angin.

“Kau pikir aku peduli?” ujar Briana dengan senyum acuhnya.

“Yakin kau tidak akan jatuh cinta padaku?” godanya yang berusaha membuat dinding pertahanan Briana runtuh.

“Kita saling membutuhkan di sini. Kau memberiku sebuah penawaran, dan aku mengambilnya.” Briana mengalihkan topik pembicaran.

“Bagaimana kalau William masih mengejarmu? Meminta kau kembali padanya,” tanya Tristan.

“Itu tugasmu. Kau harus melindungiku dari pria munafik itu,” tantang Briana.

"Baiklah. Satu tahun," ulang Tristan, suaranya rendah dan bergetar seperti guntur jauh. "Dan tidak ada ruang untuk penyesalan, Duchess Ana."

Briana menarik tangannya pelan, tapi tatapannya tak pernah lepas. "Penyesalan hanya untuk perempuan yang lemah, Duke. Aku pastikan itu, dan kau bisa memegang janjiku ini.”

Udara di kamar terasa semakin berat, diwarnai suara jam dinding yang berdetak lambat. Tristan membetulkan surai Briana yang menutupi sebagian wajahnya, rasa canggungnya mencerminkan keraguan di hatinya. 

“Kenapa menatapku seperti itu? Aku cantik, ya?” Briana memutus tatapan tristan yang membuatnya salah tingkah.

Duke Tristan tertawa kecil, ia memalingkan wajahnya, ‘Sial!’ (batin Tristan mengumpat).

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   8. KEPUTUSAN MUTLAK BRIANA

    “A-Ayah?” Briana menautkan kedua alisnya, menatap tajam presensi tambun dengan seragam kebesaran panglima; berjalan susah payah karena zirah itu cukup mengganggu dengan permukaan perut yang menggembung seperti ikan buntal. ‘Benarkah itu kau—Ayah?’ (tanya Briana pada dirinya sendiri). Lucius Maguy. Menahan pedang ke arah samping agar tidak mengganggu langkahnya, pria berambut putih sebahu sedikit bergelombang itu berusaha menyeimbangkan pahatan besi cor pada sarung panjang berlapis perak. Briana menahan tawa yang hampir meledak di kerongkongannya. Melihat Lucius Maguy berjalan terengah-engah dengan baju zirah lengkap yang berderit di setiap langkah, ia merasa seperti sedang menonton pertunjukan komedi di tengah drama operet yang serius. ​Cring. Cring. Cing. ​Suara logam yang saling beradu itu terdengar konyol di lorong kastil Ludwig yang elegan. Briana teringat akan karakter kaleng dalam cerita lama, namun ia segera memulihkan ekspresinya menjadi datar, meski binar jenaka di mat

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   7. PESTA PERTUNANGAN YANG KACAU

    Setelah keheningan yang mencekam itu, Tristan memberikan isyarat kepada para pengawal. "Tunjukkan jalan keluar bagi Tuan Rhys dan rombongannya.”“Aku belum selesai dengan Briana, Duke!” Seru William.“Kita sudah impas, William. Kau dapatkan Charlotte, dan Briana memilihku.” Telunjuknya mengarah tegas pada presensi William yang keras kepala.“Ini bukan pertandingan, Duke! Anda tidak berhak memutuskan sendiri, sebelum Briana mengatakan padaku; siapa yang pantas untuk menjadi suaminya.” Bantah William yang masih menegakkan harga dirinya setinggi langit.“Sudahlah, William. Akhiri kebohongan ini segera. Apa masih kurang jelas bagimu? Aku berada di kediaman Ludwing, diperlakukan baik oleh Duchess Guine, lalu bermalam di sini. Pria dewasa sepertimu masa tidak paham soal ini?” penjelasan Briana menusuk logika William, merobek rasa percaya diri yang semula diagung-agungkan.William menatap tak percaya. Ia yang bersikeras untuk memperbaiki kesalahannya, meminta maaf terlebih dahulu, merendahka

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   6. RAHASIA DAN BUKTI KECURANGAN WILLIAM RHYS THADDEUS

    Langkah kaki mereka bergema di sepanjang lorong batu yang dingin, menuju sayap timur kastil di mana ruang kerja Tristan berada. Pelayan yang mereka lewati menunduk dalam, merasakan aura ketegangan sekaligus dominasi yang terpancar dari pasangan baru ini.​Begitu pintu ruang kerja yang berlapis kulit itu tertutup dan terkunci, Tristan berjalan menuju meja mahoni besarnya. Ia mengambil sebuah amplop kecil dengan segel lilin merah darah yang masih utuh.​"Ini baru tiba sepuluh menit sebelum kita masuk ke ruangan Ibuku," ujar Tristan, menyerahkan amplop itu kepada Briana.​Briana memecahkan segelnya dengan cepat. Di dalamnya terdapat beberapa lembar salinan surat cinta yang ditulis dengan tangan yang sangat ia kenali, tulisan tangan William Rhys yang berantakan dan sebuah nota pembayaran dari sebuah toko perhiasan ternama.​"Lihat tanggalnya," bisik Briana, matanya menyipit tajam. "Dua hari sebelum hari pertunangan kami, William membeli kalung zamrud untukku. Dan surat ini... dia berjanji

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   5. SURAT BERSEGEL LILIN MERAH

    ​Tangan Duchess Senior berhenti bergerak. Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan. Perlahan ia meletakkan jarum bordirnya dan berbalik. Sepasang mata abu-abu yang dingin menyapu penampilan Briana dari ujung kepala hingga ujung kaki, berhenti cukup lama pada warna biru tua gaunnya.​"Maguy?" Duchess Guine berdiri, keanggunannya mengintimidasi. "Putri yang kabur dari tunangannya sendiri? Berita itu sudah sampai ke telingaku sebelum tehku dingin, Tristan."​Ia melangkah mendekati Briana, berhenti tepat di hadapannya. Jarak mereka begitu dekat hingga Briana bisa melihat garis-garis tegas di wajah wanita tua itu.​"Kau sangat sehat, tidak seperti yang mereka beritakan pagi ini, Nona Maguy. Tristan pasti mengurusmu dengan sangat baik..." ia menyentuh dagu Briana dengan ujung jari yang dingin, memaksa Briana menatap matanya. "Kau terlihat seperti wanita yang baru saja memenangkan lotre. Apa yang kau tawarkan pada puteraku, sehingga ia begitu ceroboh membawamu ke sini?"​Briana tidak men

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   4. BRIANA ELEANOR MAGUY

    Langkah kaki yang bergema di lorong pualam kediaman Ludwig terdengar seperti genderang perang. Tristan tidak melepaskan rangkulannya pada pinggang Briana; ia justru mempereratnya, seolah mendeklarasikan pada dunia bahwa wanita di sisinya adalah bagian dari dirinya yang tak terpisahkan.​Pintu ganda ruang tamu utama terbuka lebar. Di sana berdiri William Rhys Thaddeus dengan wajah merah padam dan Charlotte Adelaide Bjorn yang tampak pucat. namun tetap berusaha menjaga keanggunannya yang rapuh.​"Tristan! Apa maksud semua ini?" seru William tanpa basa-basi, mengabaikan etika bertamu. "Pelayanmu bilang Briana ada di sini. Kau tahu dia adalah tunanganku, dan menghilangnya dia semalam telah membuat keluarga kami—"​Kalimat William terhenti di udara. Matanya membelalak menatap sosok wanita yang berdiri di samping sang Duke.​Briana tidak tampak seperti wanita yang melarikan diri dalam kehancuran. Ia berdiri tegak dengan gaun beludru biru tua yang memancarkan aura kemewahan yang dingin. Tida

  • MENJADI TAWANAN SANG PENYAMUN   3. PERMEN KAPAS UNTUK CALON DUCHESS

    ​"Percaya diri sekali," gumam Tristan, berusaha menetralisir debaran aneh yang menyerang dadanya. Ia segera berbalik, melangkah menuju jendela besar yang menghadap ke taman labirin kediaman Ludwig. "Mandilah. Aku akan meminta pelayan menyiapkan pakaian yang layak untuk calon Duchess. Kita tidak mungkin menemui Ibu dengan gaun pesta semalam yang sudah kusut itu." ​Briana hanya mengangkat bahu, seolah perintah Tristan hanyalah angin lalu. Ia kembali berjalan menuju cermin besar di sudut kamar, memperhatikan pantulan dirinya. "Pastikan warnanya bukan merah muda. Aku benci terlihat seperti permen kapas yang rapuh." Briana merasa jijik dengan dirinya yang lama; lemah, penakut, dan tidak memiliki kekuatan apa pun. ​Tristan berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit. "Aku akan mencarikan sesuatu yang tepat untukmu, kau harus terlihat cantik dan bisa memikat mata semua orang.” Suaranya dibuat setenang mungkin, namun tidak demikian yang terdengar di telinga Briana; suara itu seperti menyalurk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status