Masuk**Bab 091 Kabar Berita**
Atthy menundukkan kepalanya, jemarinya saling menggenggam erat di atas selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya tampak berkabut, seakan ada perasaan yang begitu dalam sedang ia tahan agar tidak pecah di hadapan Sania.
"Bibi, terima kasih sudah membantuku. Maaf membuatmu repot, aku tidak tahu kalau aku akan tidur sampai berhari-hari. Aku pasti sangat merepotkanmu... maaf, aku tidak punya apa pun untuk membalasmu," ujar Atthy lir
**Bab 128: Laut yang Tenang**Laut di sisi ini… lebih sunyi.Tidak ada jejak kejaran. Tidak ada bayangan kapal lain di cakrawala. Hanya garis air yang memanjang tanpa gangguan, seolah dunia benar-benar telah ditinggalkan di belakang.Kapal itu melaju stabil.Layar terbentang penuh, menangkap hembusan angin. Tidak tergesa. Tidak menyimpang.Seperti perjalanan yang sudah dipastikan aman.—Thally masih duduk. Namun kali ini—tidak lagi terikat.Tali di pergelangan tangannya telah dilepas. Bekas gesekannya masih terlihat samar, merah tipis di kulitnya. Tapi ia tidak mengusapnya. Tidak juga mengeluh.
**Bab 127: Target Terkunci**Pagi baru saja bangun.Kabut tipis masih menggantung di atas pelabuhan, bercampur dengan bau asin laut dan sisa asap dari aktivitas dini hari. Cahaya matahari belum sepenuhnya kuat—hanya garis keemasan pucat yang menyelinap di antara tiang-tiang kapal.Namun suasana… sudah tegang.Langkah kaki terdengar cepat di atas papan dermaga.Saihan berjalan paling depan. Tidak berlari—tapi cukup cepat untuk membuat orang-orang di sekitarnya menyingkir tanpa diminta.Kevin di sampingnya.Ash sedikit di belakang.Pelabuhan bar
**Bab 126: Thally dan Julius**Ruangan itu lembap dan nyaris gelap.Dinding kayu lapuk, dipenuhi noda hitam dan bekas air asin. Bau amis menyengat—bukan sekadar ikan, tapi campuran darah, garam, dan sesuatu yang sudah lama membusuk.Thally duduk di kursi kayu tua. Tangan dan kakinya terikat. Tali kasar menggesek kulitnya setiap kali ia bergerak.Namun punggungnya tetap tegak.“Jadi… ini caramu memperlakukan putrimu sendiri… Ayah.”Nada suaranya rendah, tapi tajam.Robert berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya tegang, namun bukan ragu—lebih seperti seseorang yang menahan harga dirinya agar tidak runtuh.“Kau yang m
**Bab 125: Thally Hilang**Keributan tidak pernah benar-benar muncul di aula utama.Musik tetap mengalun. Tawa tetap terdengar. Gaun-gaun masih berkilau di bawah cahaya lampu gantung.Namun di balik itu—satu hal kecil bergerak.Yseult tidak memanggil dengan suara keras. Tidak pula menarik perhatian. Ia hanya mendekat pada kepala pelayan, berbisik singkat. Kalimatnya halus. Nyaris seperti permintaan biasa.Cukup untuk dipahami. Tidak cukup untuk menimbulkan tanya.Beberapa menit kemudian, Lady Borgia sendiri yang mendekat. Senyumnya tetap sempurna, tak berubah sedikit pun di hadapan para tamu.“Viscountess,” sapanya ringan, seolah tidak ada yang berbeda.
**Bab 124: Mirva Galina**Pagi hari.Annex, Manor Cindra.Sinar matahari masuk dari jendela tinggi. Meja makan sudah kosong—sarapan selesai beberapa saat lalu.Tidak ada yang benar-benar santai.Kevin berdiri di ujung meja.Tangannya bertumpu ringan di permukaan kayu.“Lima hari,” katanya singkat.“Kita sudah punya apa?”Tidak ada pembukaan panjang.
**Bab 123: Manor Cindra**Setelah rapat.Ruang kerja Laurent.Pintu tertutup rapat.Tidak ada pelayan. Tidak ada penjaga di dalam.Hanya mereka.Laurent berdiri di belakang mejanya. Tidak duduk.Tatapannya menyapu satu per satu.Kevin dan Ashton bersebelahan di sisi kiri.Yseult dan Thally bersandar tenang di kursi di sisi kanan.Saihan dan Safin berdiri tegak—lebih diam dari yang lai
**Bab 088 Siuman**Dunia terasa berat, seperti ada selubung tebal yang membelenggu kesadarannya. Atthy membuka matanya perlahan, tapi cahaya yang menyelinap dari sela-sela jendela membuatnya menyipit. Napasnya pendek, dadanya naik turun dengan irama yang tidak stabil. Tenggor
**Bab 087 Rusha****Kembali ke masa kini sambungan bab 081...**Tatapan Saihan meredup sejenak, tapi ia segera membalas dengan nada tak terima. ''Apa kau sedang mengkritikku? Aku yang memimpin penyelidikan itu. Kau tahu itu, 'kan?!''
**Bab 086 Hugh dan Cavero**Angin musim dingin menyelinap masuk ke balkon istana, membawa hembusan dingin yang menusuk kulit. Langit yang cerah bertabur bintang, cahayanya memantul di atas hamparan salju yang menyelimuti taman kerajaan. Udara yang seharusnya membekukan justru
**Bab 085 Perjamuan 2**Pengumuman resmi berkumandang, menggema di seluruh aula perjamuan yang telah dipenuhi aristokrat dari seluruh penjuru Xipil."Yang Mulia Ratu Silvia dan Yang Mulia Putra Mahkota Cavero memasuki aula perjamuan."Sekejap, semua perhatian tertuju ke arah pintu utama. Pembicaraa







