FAZER LOGIN**Bab 091 Kabar Berita**
Atthy menundukkan kepalanya, jemarinya saling menggenggam erat di atas selimut yang menutupi tubuhnya. Matanya tampak berkabut, seakan ada perasaan yang begitu dalam sedang ia tahan agar tidak pecah di hadapan Sania.
"Bibi, terima kasih sudah membantuku. Maaf membuatmu repot, aku tidak tahu kalau aku akan tidur sampai berhari-hari. Aku pasti sangat merepotkanmu... maaf, aku tidak punya apa pun untuk membalasmu," ujar Atthy lir
**Bab 131: Siluet Di Tengah Samudra**Deru mesin memenuhi lambung kapal. Berat. Stabil. Menggetarkan papan dek di bawah kaki mereka.Air terbelah kasar di haluan. Asap naik dari cerobong, tebal dan lurus sebelum dipatahkan angin laut.Saihan berdiri paling depan. Tatapannya terkunci ke satu titik.Di kejauhan—laut lepas terasa membentang luas tak berujung. Gelap, pekat, hanya deru angin dan debur ombak terdengar.“…belum terlihat apa-apa,” gumam Kevin di sampingnya.Ash menyipitkan mata. “Kita hanya mengikuti naluri.”Safin tidak menjawab. Ia berdiri sedikit di belakang, namun posisinya jelas pusat. Tidak banyak bergerak. Tidak banyak bicara.
**Bab 130: Setelah Cahaya**Kembali ke dek.Angin berubah arah.Thally berdiri diam.Namun matanya bergerak.Tali. Layar. Arah angin. Ia menghitung.Langkah kecil. Satu langkah ke samping.Pengawas langsung bereaksi. “Jangan bergerak terlalu jauh.”Thally berhenti. Mengangguk tipis.Kapal uap. Mesin berdenyut berat. Asap membumbung lebih tebal.Saihan berdiri di depan. Tatapannya ke cakrawala. Kosong. “H
**Bab 129: Cahaya yang Tidak Seharusnya Ada**BOOM—Suara itu mengguncang udara.Bukan sekadar keras—tapi dalam. Seperti sesuatu yang pecah… dari atas, bukan dari laut.Semua orang diam. Tidak ada yang langsung bicara. Bahkan suara mesin uap yang berat itu—seolah tertelan sesaat oleh gema yang tersisa.Di cakrawala—cahaya itu naik.Cepat.Garis terang menembus langit senja yang mulai memerah—lalu mekar.Kilatan singkat. Tajam. Menyebar dalam satu ledakan cahaya yang terlalu rapi untuk disebut kebetulan.Dan kemud
**Bab 128: Laut yang Tenang**Laut di sisi ini… lebih sunyi.Tidak ada jejak kejaran. Tidak ada bayangan kapal lain di cakrawala. Hanya garis air yang memanjang tanpa gangguan, seolah dunia benar-benar telah ditinggalkan di belakang.Kapal itu melaju stabil.Layar terbentang penuh, menangkap hembusan angin. Tidak tergesa. Tidak menyimpang.Seperti perjalanan yang sudah dipastikan aman.—Thally masih duduk. Namun kali ini—tidak lagi terikat.Tali di pergelangan tangannya telah dilepas. Bekas gesekannya masih terlihat samar, merah tipis di kulitnya. Tapi ia tidak mengusapnya. Tidak juga mengeluh.
**Bab 127: Target Terkunci**Pagi baru saja bangun.Kabut tipis masih menggantung di atas pelabuhan, bercampur dengan bau asin laut dan sisa asap dari aktivitas dini hari. Cahaya matahari belum sepenuhnya kuat—hanya garis keemasan pucat yang menyelinap di antara tiang-tiang kapal.Namun suasana… sudah tegang.Langkah kaki terdengar cepat di atas papan dermaga.Saihan berjalan paling depan. Tidak berlari—tapi cukup cepat untuk membuat orang-orang di sekitarnya menyingkir tanpa diminta.Kevin di sampingnya.Ash sedikit di belakang.Pelabuhan bar
**Bab 126: Thally dan Julius**Ruangan itu lembap dan nyaris gelap.Dinding kayu lapuk, dipenuhi noda hitam dan bekas air asin. Bau amis menyengat—bukan sekadar ikan, tapi campuran darah, garam, dan sesuatu yang sudah lama membusuk.Thally duduk di kursi kayu tua. Tangan dan kakinya terikat. Tali kasar menggesek kulitnya setiap kali ia bergerak.Namun punggungnya tetap tegak.“Jadi… ini caramu memperlakukan putrimu sendiri… Ayah.”Nada suaranya rendah, tapi tajam.Robert berdiri tidak jauh darinya. Wajahnya tegang, namun bukan ragu—lebih seperti seseorang yang menahan harga dirinya agar tidak runtuh.“Kau yang m
**Bab 068 Lelah **Saihan berjalan cepat di lorong panjang dengan ekspresi muram. Napasnya berat, sorot matanya tajam. Kekesalan dan amarah mengendap di dalam dirinya. Hari ini terlalu panjang. Terlalu banyak hal yang mengacaukan pikirannya. Lalu—BRUK!Tubuhnya menabrak seseorang dengan cukup keras
**Bab 067 Hugh dan Ash**Hugh melangkah cepat keluar dari ruang interogasi, diikuti oleh Ashton yang masih diliputi kemarahan yang ditahannya dengan susah payah. Langkah mereka berat, membawa beban dari informasi yang baru saja mereka dapatkan.Dari awal, semua ini sudah direncanakan.Dari awal, Att
**Bab 066 Tiga Pelayan**Keheningan yang menekan menyelimuti ruangan. Alwyn, yang biasanya sigap memberikan tanggapan, kali ini memilih diam. Ia ingin melihat bagaimana Hugh akan bereaksi terhadap situasi yang baru saja terbuka di depannya.Hugh, yang sejak tadi mengamati interaksi antara Ash dan Sa
**Bab 065 Duka Ayah**Hugh tertegun, memahami kemarahan Ashton. Tidak ada ayah yang bisa menerima kenyataan bahwa putrinya menikah tanpa seizinnya, terlebih lagi dalam keadaan yang penuh kekacauan seperti ini.Namun, Hugh juga bukan pria yang akan membela diri dengan alasan rapuh. Ia menegakkan pung







