LOGIN“Jangan terpancing!” Rakabumi menginterupsi begitu kalimat yang Bianca ucapkan langsung membuat Celine berdiri.Aku spontan menggenggam pergelangan tangan Celine. Tubuh gadis itu gemetar hebat, tatapannya tidak lepas dari wajah perempuan yang selama ini ia panggil Mama.Setelah jeda cukup lama, Bianca kembali membuka suara. "Terkait borgol, saya mengakui... itu memang benar."Beberapa wartawan langsung saling berbisik. Flash kamera menyala bertubi-tubi. Bianca kembali mengusap air matanya."Namun itu bukan penyekapan. Saya melakukan itu atas saran tenaga profesional karena putri saya berada dalam kondisi yang membahayakan dirinya sendiri."Brak!Celine membanting telapak tangannya ke atas meja. "Itu bohong!" Air matanya langsung jatuh. “Aarrggh....!” Gadis itu memukul kepalanya dengan kedua tangan.Aku spontan menarik tangannya agar berhenti memukul diri sendiri. Rakabumi akhirnya mematikan layar tablet, dan ruangan kembali hening. Hanya terdengar napas Celine yang mulai tidak beratur
POV KIARAAku masih duduk di ruang tunggu sejak Pak Rakabumi menyuruhku beristirahat. Segelas teh hangat di atas meja sudah lama dingin, tapi tak sedikit pun kusentuh. Kepalaku masih dipenuhi berita tentang Kak Celine yang terus diputar di televisi kantor polisi.Wajah Kakak muncul berkali-kali di layar. Rambutnya berantakan, piyamanya kusut, bekas borgol di kedua tangannya menjadi sorotan semua media.Dadaku kembali sesak.Selama ini aku selalu berpikir Kak Celine tidak akan pernah berpihak padaku, bahwa dia akan terus membela Mama apa pun yang terjadi. Tapi hari ini... ternyata aku salah.Pintu ruang tunggu terbuka perlahan. Pak Rakabumi berdiri di sana sambil menatapku beberapa detik."Kiara,” panggilnya.Aku langsung berdiri. "Iya, Pak?""Sudah siap bertemu Celine?"Jantungku berdegup cepat.Pak Rakabumi berbalik, memberi isyarat agar aku mengikutinya. Aku berjalan di belakangnya melewati lorong kantor polisi yang masih dipenuhi lalu lalang para penyidik. Semakin jauh kami melangk
"Tinggalkan semuanya. Kembali sekarang."Nada suara Rakabumi membuatku tidak bertanya apa-apa. Tepat setelah aku melaporkan penemuan penting kami di rumah Bianca, keadaan dengan cepat berubah.Aku turun dari mobil hampir berlari. Beberapa anggota yang berpapasan denganku hanya sempat memberi hormat sebelum kembali sibuk membawa berkas dan melanjutkan tugas masing-masing.Suasana kantor jauh lebih ramai daripada satu jam lalu. Televisi di ruang tunggu masih menayangkan wajah Celine yang sedang viral. Suara reporter bercampur dengan langkah kaki para penyidik yang hilir mudik memenuhi lorong."Putri keluarga Satvika diduga menjadi korban penyekapan....""Kasus ini menjadi perhatian publik setelah video...."Aku melewati layar itu tanpa berhenti.Kalau Rakabumi memanggilku sekarang, berarti ada sesuatu yang jauh lebih penting."Komandan?""Masuk ke ruang penyidik tiga. Sekarang!” ti
Pintu ruang pemeriksaan menutup perlahan setelah Celine dibawa masuk oleh dua orang penyidik. Tatapanku masih mengikuti langkahnya sampai sosok itu benar-benar menghilang di balik pintu.Entah kenapa, aku masih ingin mengejarnya. Aku ingin memastikan dia baik-baik saja, ingin duduk di sampingnya dan meyakinkannya kalau semuanya akan segera berakhir. Walau aku tahu, itu bohong."Jev." Suara Rakabumi membuyarkan lamunanku.Aku menoleh. Pria itu sudah berdiri beberapa langkah di belakangku sambil membawa map berwarna cokelat."Ikut saya."Aku mengangguk pelan, lalu mengikuti langkahnya menuju ruang rapat.Begitu pintu tertutup, beberapa anggota tim langsung berdiri memberi hormat. Di atas meja sudah terbentang denah rumah keluarga Satvika beserta beberapa foto yang baru saja dikirim tim lapangan."Rumah Bianca sudah kami amankan." Kalimat pertama Rakabumi langsung membuat seluruh ruangan hening. "Saat Celine datang ke kantor polisi, kami bergerak bersamaan. Surat penggeledahan sudah turu
“Akan saya bantu,” jawabnya tanpa banyak bertanya, lalu ia membantuku berdiri.Beberapa orang di sana juga menawarkan kendaraan mereka untuk kutumpangi sampai ke kantor polisi, pemuda-pemuda yang tadi berseru ingin membantu juga tidak hanya membual saja.Bu Raras memanggil salah satu ojek mengikuti iring-iringan yang mengantarku ke kantor polisi. Dia ingin sekali menghampiriku, tapi aku menyuruhnya jaga jarak aman karena aku tidak mau membahayakan keselamatannya.Sepanjang perjalanan, jumlah orang yang mengikutiku semakin banyak. Beberapa berjalan kaki, beberapa mengendarai motor, beberapa lagi sibuk merekam dengan ponsel.Aku bahkan sempat mendengar namaku disebut berkali-kali."Celine Satvika!""Kasihan banget....""Itu ibunya kejam banget sih.""Apa dia korban penyekapan?""Viral banget sekarang."Aku tak merasa malu, justru memang ini tujuanku. Aku
BRAK!Tubuhku membeku begitu pintu kamar terbuka lagi. Refleks, gunting kuku kecil itu langsung kusembunyikan di belakang tubuhku.Aku mengira Mama kembali atau mungkin salah satu pria suruhannya. Namun sesaat kemudian aku tertegun."Bu Raras?"Perempuan paruh baya itu berdiri di ambang pintu dengan napas memburu. Wajahnya pucat, matanya langsung tertuju pada kedua tanganku yang masih diborgol."Nona..." suaranya bergetar.Aku belum pernah melihat Bu Raras seperti ini. Wanita ini memang hanya pengganti pelayan sebelumnya tapi bukan berarti aku tak mengenal sosoknya.Sama sepertiku, dia penurut, dia wanita yang lebih banyak diam padahal matanya sering mengamati tingkah busuk Mama. Namun, Bu Raras selalu tenang, tetapi sekarang kedua matanya memerah."Nyonya benar-benar memborgol Nona?" bisiknya.Aku tersenyum hambar. “Ibu udah lihat sendiri,” sahutku sembari menunjukkan kedua tanganku yang terluka karena kepayahan membuka borgol-borgol ini.Bu Raras menutup mulutnya sendiri. "Nona haru
“Jevan, ikut aku!”Aku terlonjak kala seseorang menarik tanganku. Kuperhatikan gaun merah dengan potongan rendah di bagian punggung. Aku mengenalinya.“Nadira?”Wanita itu berbalik badan, menatapku berbinar. “Kenapa gak hubungi aku, Jev? Emangnya Komandan gak bilang kalau aku datang juga ke pesta i
“Mama kamu selingkuh lagi,” bisikku.Kiara tersenyum kecil dengan menggigit bibirnya. “Itu artinya Om mau hukum aku lagi?”Aku menggeleng. “Gak sekarang, tapi nanti.”Kiara mengangguk cepat, lalu tiba-tiba ia berjinjit, kedua tangannya mengalung di belakang leherku. Sebuah kecupan singkat mendarat
“Jangan kosongkan jadwal saya setelah pernikahan,” kataku tegas.POV Bianca.Fino membuka layar tablet yang biasa ia gunakan untuk mencatat jadwal-jadwal kerja dan pertemuan penting. “Semua jadwal sudah dikosongkan karena tidak ada yang me
“Ssshhh... Ju-Juan, jangan berisik, eemh....”Mataku membulat sempurna. Si pria menyebut nama Bianca, dan suara lembut yang amat kukenali itu menyebut nama Juan.Dasar binatang! Gengsi setinggi langit, menolak disentuh saat di pelabuhan, tapi berlagak seperti kucing birahi di tempat umum seperti in







