LOGIN"Ibu... Abah akan datang. Please... tunggu Abah...""Abahmu datang untukmu, Nak. Dari dulu, cinta dan pengabdiannya hanya untukmu," sahut Bu Indar tenang. Tak ada nada cemburu atau iri sedikit pun dari intonasi suaranya.Bu Indar sangat sadar posisinya. Sejak awal, dirinya diminta menjadi istri Abah Rizal semata-mata hanyalah agar Sarah kecil tidak kehilangan kasih sayang dan figur seorang ibu. Itu bukanlah pernikahan yang didasari cinta romantisme, meskipun pada akhirnya mereka berhasil menjadi orang tua yang sangat saling menghormati dan penuh kasih sayang untuk Sarah.Bibir Sarah bergetar hebat mendengar perkataan Bu Indar. Bagaimanapun juga, ia harus menyelamatkan Bu Indar demi Abah Rizal.Sarah menarik kuat tangan Bu Indar menuju mobil musuh yang terparkir tidak jauh dari posisi mereka. Bu Indar yang ditarik tangannya, memperhatikan sekeliling, ada tubuh-tubuh yang tertelungkup di atas salju, tak lagi bergerak.Namun mereka baru membunuh empat orang dari total sembilan orang yang
Satu detik sebelum batang besi menghantam kaca jendela pada sisi Bu Indar, Sarah berteriak kencang seraya tangannya menekan tuas pengatur kursi hingga tubuh Bu Indar rebah telentang. Secepat kilat, Sarah juga menarik lengan ibunya itu ke belakang, menumpuknya di atas punggung pria bertopeng yang telah roboh tewas ditembak sebelumnya."Ibu ga apa-apa! Cepat kemudikan mobilnya, Sayang!" seru Bu Indar cepat.Sarah tersadar sepenuhnya. Ia harus membawa mobil baja ini keluar dari tumpukan salju sebelum mereka benar-benar terkubur di sini. Sarah kembali menginjak gas dalam-dalam, membuat mesin mobil meraung panjang, lalu memutar setir sekuat tenaganya.Di saat yang bersamaan, Bu Indar dari posisinya yang terbaring di atas punggung mayat mengarahkan moncong pistol. Ia membidik pria yang menghantamkan batang besi ke jendela tadi. DOR!Peluru dari pistol Bu Indar tepat mengenai wajah sang pria yang langsung tersungkur jatuh ke atas salju putih dengan genangan darah merah mengucur deras.Baru
Bu Indar yang sudah lama tidak mengemudikan mobil, terutama dengan posisi setir di sebelah kiri. Namun, kini beliau tanpa canggung sedikit pun mengendalikan mobil baja berbodi besar yang dibawa Sergei dari Moskow. Mobil itu meluncur lancar menyusuri jalanan bersalju Yaroslavl dibawah kendali Bu Indar. "Ibu hebat! Lama tidak menyetir di Jakarta, begitu kembali ke sini langsung bisa mengemudi lagi," puji Sarah ceria dari kursi penumpang."Ah, kau ini. Jantung Ibu rasanya berdebar-debar," tanggap Bu Indar seraya terkekeh rendah."Kenapa Ibu tidak bilang sebelumnya kalau keluarga Ibu tinggal di Yaroslavl?" tanya Sarah mulai serius, matanya memandang Bu Indar lalu beralih memperhatikan sekeliling jalanan yang mereka lewati.Di sisi kiri dan kanan jalan hanya membentang hutan lebat dan tumpukan salju tebal. Meskipun hari masih siang menjelang sore, tengkuk Sarah mendadak merasakan firasat merinding yang tidak nyaman."Ibu juga baru tahu tadi pagi. Praded-mu yang membantu Ibu mencari keber
Pagi baru saja menjelang, ketika semua orang terbangun oleh aroma wangi roti panggang dan selai lembut yang menguar hangat di seluruh kediaman.Di dapur, tangan Sarah tampak berlumuran tepung saat sedang menguleni adonan. Sementara itu, Ethan sibuk membakar roti-roti tradisional khas Rusia di oven, mengangkat Piroshki gurih dan adonan Vatrushka yang mengembang cantik begitu matang berawarna kuning keemasan.Ethan membelah sepotong Piroshki hangat, mengisinya dengan tumisan sayuran yang sudah diberi racikan chili oil,"Cobain racikanku," bisiknya seraya menyuapi Sarah yang langsung membuka mulut dan mengunyahnya pelan."Bagaimana, enak? T
Sarah baru saja keluar dari kamar mandi dan telah berganti pakaian, ketika melihat ponselnya tergeletak di atas meja rias.Bibir Sarah tersenyum tipis. Begitu membuka kunci layar ponsel, terdapat pesan suara dari Tachi yang segera ia putar.[Mommeeee, Tachi izin tidur dengan Nenek ya. Mommy 'kan lelah, Jadi Tachi mau dibacakan buku dongeng sama Nenek. Oyasumi... Mommy cantik Tachi, Zaika kesayangannya Daddy...] ucap Tachi dengan nada sangat manja dan Sarah bisa membayangkan wajah iseng putranya itu ketika mengucapkan kata-katanya.Sarah segera mengirimkan balasan pesan suara ke ponsel Bu Indar, "Ya, Sayang. Tachi cepat tidur, jangan ajak Nenek begadang. Nenek juga lelah, hm?"
Sejak sore ini salju tidak turun. Cahaya matahari bersinar sangat cerah, bertahan sedikit lebih lama sebelum akhirnya malam pelan-pelan merayap gelap.Aroma rempah nan gurih menguar harum dari area dapur kediaman mendiang ibu Ethan. Pavel dan Oksana berseru takjub begitu mencicipi daging kelinci liar yang sudah disemur kaya bumbu oleh Bu Indar."Miss Novak, ini masakan Indonesia? Enak sekali!" puji Oksana seraya mencicipi kembali daging kelinci yang empuk dan sangat cocok di lidahnya itu."Ternyata bisa seenak ini. Pantas Tuan Muda Ethan sangat menyukai masakan Indonesia," timpal Pavel ikut mengangguk-angguk setuju.Mendengar keributan menyenangkan di dapur, Mister Konstantin melangkah keluar dari kamar diikuti oleh Tachi yang masih memegang buku cerita di tangannya."Masak apa? Kenapa aromanya wangi sekali?" tanya Mister Konstantin antusias.Pavel membantu menjelaskan bahwa Bu Indar baru saja memasak daging kelinci liar yang masuk perangkap di hutan. Nanti daging itu akan dimakan ber
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se







