LOGINSetelah melambaikan tangan melepas Catherine yang berjalan masuk ke lorong keberangkatan komersial menuju Hong Kong, Brian mengajak Sarah beserta rombongan melangkah menuju area terminal VIP privat, sebuah lounge eksklusif terpisah yang dikhususkan untuk penerbangan jet pribadi keluarga Volkov.
Di dalam VIP Lounge yang mewah da
Keesokan paginya, beberapa orang kepercayaan Owen yang bertugas menjaga Ted, Vania, Krista, Viktoria dan Ksenia yang sudah diketahui tempat persembunyiannya, membawa para tahanan itu ke halaman vila tempat Sarah dan keluarga menginap.Ted yang satu kakinya telah dipotong hingga lutut oleh Owen dan salah satu lengannya dilepaskan dari persendian berusaha merangkak payah di atas tanah. Ia merayap menuju ke hadapan Sarah, yang duduk anggun di kursi dengan Ethan dan Mister Konstantin mendampingi di kedua sisinya."Berhenti!" ucap Abah Rizal tegas sembari menempelkan mata pedang samurai panjang yang baru saja diberikan oleh Sergei sesaat lalu, tepat di tengkuk Ted.Bu Indar, Sergei, serta agen-agen rahasia dari kelompok assassin yang ditinggalkan Rubi memperhatikan situasi di sekeliling dengan penuh kewaspadaan.Tak jauh dari Sarah, Catherine duduk tenang di kursi sambil menikmati buah segar dengan Tachi berada di pangkuannya. Disava duduk di sebelah Catherine, tampak sama sekali tak terga
Sarah dan keluarganya menginap di salah satu vila megah milik Catherine yang berlokasi di area elit Hong Kong Peak.Malam sudah sangat larut, namun Sarah berkali-kali terjaga dari tidurnya. Perasaannya tidak tenang dan gelisah tanpa alasan yang jelas.Sarah melirik Ethan yang telah tertidur pulas. Perlahan, ia melepaskan dekapan lembut suaminya itu dari pinggangnya, lalu turun dari ranjang seraya meraih mantel hangat di kapstok untuk menutupi gaun tidur transparannya.Guna menenangkan diri, Sarah melangkah keluar dari kamar menuju pantry untuk mengambil segelas air minum hangat. Di sana, ia terkejut melihat sosok Sergei yang duduk diam di kursi bar dengan segelas air mineral di atas meja, pria itu tampak gelisah dan tak bisa tidur. Sergei memang tidak ikut pulang ke Jakarta bersama mereka dari Jepang karena meminta izin untuk menemui istrinya."Bagaimana kabar istrimu?" tanya Sarah basa-basi, mencoba mencairkan suasana.Belum sempat Sergei menjawab, derap langkah kaki yang berlarian k
Tiga bulan berlalu dengan cepat, membawa perubahan besar yang begitu luar biasa dalam hidup Sarah, Novi, Azriel, Maya dan para karyawan yang dulu bekerja di ruko. Bisnis sepatu impor Sarah di bawah naungan V.M Company melesat tajam menjadi distributor tunggal nasional.Koko Yayan, sosok penjual grosir besar yang dahulu tempat Azriel memesan sepatu impor mewakili Sarah, kini justru berbalik menjadi pelanggan utama yang memesan puluhan ribu pasang sepatu tiap bulannya dari perusahaan Sarah.Semua karyawan ruko yang kini telah menjadi karyawan resmi V.M Company bekerja dengan penuh semangat di bawah kepemimpinan Azriel sebagai Branch General Manager dan Novi sebagai Head of Admin.Tak hanya itu, perusahaan security milik Dewa juga resmi diakuisisi oleh Sarah di bawah payung Mansouri Holdings, memperkokoh benteng keamanan bisnis dan keluarga mereka.Kini, di lantai teratas pencakar langit kota Hong Kong, gedung markas pusat Mansouri Holdings yang megah dan telah resmi sepenuhnya jatuh ke
Suasana rumah sakit di pagi hari belum terlalu ramai. Dokter Ali membawa rombongan besar Sarah dan keluarga, beserta Disava dan Dewa yang telah tiba lebih awal, menuju Ruang Periksa VVIP Suites di lantai atas.Sebagai mantan dokter di rumah sakit tersebut, kehadiran Dokter Ali bersama rombongannya disambut hangat oleh para staf.Dokter Laras, spesialis obgyn senior sekaligus sahabat lama Dokter Ali yang kemarin memeriksa kehamilan Catherine, tersenyum lebar begitu membuka pintu ruang periksa khusus yang sudah ditata sangat luas."Luar biasa, Dokter Ali! Sekarang membawa tiga calon ibu sekaligus, nih!" terkekeh Dokter Laras seraya menjabat tangan Dokter Ali hangat."Mari masuk semuanya, kita lihat pemeriksaannya bersama-sama di dalam," tambah Dokter Laras sambil menganggukkan kepala ramah pada Mister Konstantin dan Abah Rizal, yang dibalas anggukan samar penuh wibawa oleh keduanya.Dokter Ali memang sengaja memesan VVIP Suite ini secara khusus agar seluruh keluarga bisa masuk untuk mend
Malam harinya, Sarah bersama keluarga berkumpul di restoran cabe hijau. Yang mana, area bagian dalam restoran sengaja dipesan khusus oleh Catherine untuk rombongan keluarga besar mereka agar lebih nyaman, termasuk Disava dan Dewa yang datang menyusul. Sementara pelanggan dan tamu lainnya menikmati sajian mereka di area halaman outdoor yang ditata cantik serta estetik.Catherine meletakkan alat tes kehamilannya di dalam kotak beludru berwarna putih, lalu menggesernya ke arah Sarah di sebelahnya yang turut meletakkan alat tes kehamilan bergaris dua milik dirinya."Aku tadi menyimpannya di mana, ya?" gumam Dewa sembari merogoh saku celananya, namun tidak menemukan apa-apa."Ah, ada... di sini!" seru Dewa lega, merogoh dan mengeluarkan alat tes kehamilan serupa dari dalam kantung mantel Disava yang sudah disampirkan pada sandaran kursi.
Setelah menikmati camilan sore dan pembicaraan hangat tentang masa depan bisnis Sarah, Bu Indar memegang lembut jemari Sarah lalu membimbingnya masuk ke dalam kamar."Ada apa, Bu?" tanya Sarah pelan, mengerjapkan kelopak matanya menatap ibu kesayangannya itu.Bu Indar merogoh kantong pakaiannya dan menyerahkan satu test pack ke tangan Sarah.Sarah memajukan bibirnya sambil tertawa kecil, "Sepertinya Cathy sudah membelinya sendiri, Bu. Sebentar, kutelpon dia dulu. Belum ada kabar, nih..." ucapnya seraya meraih ponsel di atas nakas.Bu Indar mengulum senyuman tipis, membiarkan Sarah menghubungi Catherine yang langsung dijawab pada deringan kedua."Ra...! Oh, Sarah...! Aku baru mau menghubungimu! Aku baru dari rumah sakit, memastikannya bersama
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar







