LOGINSarah berbalik, melangkah mendekati Ksenia yang sedang tertawa kecil tanpa rasa dosa."Dia terpeleset dan jatuh sendiri ke kolam! Aku berniat menyelamatkannya, tapi pelayanmu itu justru menuduh dan memarahiku! Dasar tidak tahu terima kasih!" tutur Ksenia dalam bahasa Rusia dengan nada meremehkan."Terpeleset dan jatuh sendiri ke kolam?" ulang Sarah dengan nada tenang, kini sudah berdiri tepat satu langkah di depan Ksenia. Matanya menancap tajam, "Kalau begitu..."Dengan gerakan secepat kilat, tangan Sarah mencengkeram erat tengkuk Ksenia. Ia menarik tubuh wanita itu ke tepi kolam, lalu menghantamkan lututnya keras-keras ke pinggang Ksenia hingga wanita itu terpental dan jatuh terjerembab tercebur ke dalam air dingin.SPLASH!Pelayan di belakangnya memekik panik, "Lady..." namun kakinya melangkah mundur dengan wajah ketakutan melihat emosi Sarah.Belum sempat pelayan itu kabur, cengkeraman Sarah sudah lebih dulu mengunci tengkuknya dengan sangat kuat."Benamkan kepalanya ke dalam air j
Mister Konstantin tersenyum lebar begitu tangannya berhasil meraih sebuah buku catatan kecil berisikan formula parfum rahasia yang tak lain adalah tulisan tangan Adeline dari dalam laci tersembunyi di meja kerja Ethan.Sarah membalik lembar demi lembar buku catatan milik Adeline yang diberikan kakek buyutnya itu. Setiap jenis bunga dan racikan campurannya ditulis serta digambar dengan sangat detail oleh Adeline."Apakah Ethan tidak keberatan jika Praded memberikan buku ini padaku?" tanya Sarah lirih, "Uhm... maksudku, ini peninggalan ibunya. Siapa tahu nanti pernikahan kami putus di tengah jalan, dan dia bisa memberikan buku ini pada istrinya kelak...""Sssshhh..." Mister Konstantin berdesis, menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri. Dengan tangannya yang lain, ia segera menekan panggilan video ke ponsel Ethan."Kami menemukan buku ini di dalam laci kerjamu. Apakah kau keberatan jika Praded memberikannya pada Sarah?" tanya Mister Konstantin to the point, memperlihatkan buku
Hari jelang pernikahan Sarah dan Ethan semakin dekat. Namun, keduanya masih sangat sibuk oleh pekerjaan masing-masing. Sarah disibukkan dengan pekerjaan daringnya memeriksa laporan dari Pak Budi dan Mister Hiraga yang kemudian ia kirimkan ke Abah Rizal untuk laporan akhir, serta melukis beberapa desain modular AC kelas premium sekaligus versi sederhana untuk segmen pasar yang berbeda.Sementara itu, Ethan sangat sibuk dengan urusan kantor pusat Volkov Holdings, juga mengambil alih memeriksa hasil temuan hasil tim hukum independent yang menemukan ketimpangan dana di akun Madam Maria."Disa..." panggil Ethan di sambungan telpon ke Disava, adik sepupu dipihak Ibunya yang bekerja di bagian independent, tidak terkait dengan Volkov Holdings. "Orang yang melakukan pembayaran untuk pesta pernikahanku adalah Krista. Coba kau periksa akunnya secara pribadi." "Oh, kau harus membayarku mahal, Bro! Memeriksa akun pelayan, bukan pekerjaan team independent!" Ethan mendengkus rendah, "Kalau kau tak
Sebelum tengah malam, mobil yang membawa Sarah dan Ethan dengan Brian di balik kemudi, akhirnya tiba di halaman mansion mewah milik Madam Maria di Moskow. Sementara itu, Tachi bersama Bu Indar dan Abah Rizal telah dialihkan menuju kediaman Mister Konstantin demi keamanan."My Lady..." sapa seorang pelayan yang berjaga di depan pintu utama, menundukkan kepala saat menyambut kedatangan Sarah dan Ethan yang melangkah mantap diiringi Brian.Sarah hanya menganggukkan kepala sekilas sebagai tanggapan. Langkah kakinya bergerak cepat menaiki tangga menuju kamar tidur Madam Maria di lantai dua.'Nanti, tolong temui dulu Grandma kalian. Kondisinya sedikit kurang bagus.' pesan Mister Konstantin sebelum mereka berangkat dari Yaroslavl pada Sarah dan Ethan. Namun, baru saja tangan Sarah terangkat hendak mengetuk daun pintu, Krista sudah lebih dulu membukanya dari dalam. Pelayan wanita senior itu menyunggingkan senyuman tipis yang terulas canggung seolah menutupi kegugupan di dadanya."Lady Sarah.
Tidak satu pun dari musuh yang terpancing datang ke Yaroslavl berhasil melapor balik, karena semuanya telah tewas dan terkubur di dalam tanah salju. Pun dengan Igor. Perintah serangan rupanya diberikan melalui saluran ponsel sekali pakai, sementara alat komunikasi yang Igor gunakan sebelumnya telah terjatuh dan hilang entah di mana.Demi menyambung nyawanya sendiri, Igor terpaksa patuh sepenuhnya pada Mister Konstantin. Meskipun pria itu masih diberi kesempatan bernapas, keberadaannya tidak ubahnya bagaikan budak yang siap disembelih kapan saja jika jika tak lagi berguna.Di dalam kamar Mister Konstantin, kakek buyut Sarah dan Ethan tersebut sedang melangsungkan panggilan video tertutup dengan Rubi yang sudah berada di sebuah penginapan tersembunyi."Jangan khawatir. Sebelum hari pernikahan Lady Sarah dan Mister Ethan dilaksanakan, aku akan membawa mereka semua berlutut di depan kaki Anda," tutur Rubi dengan suara beratnya yang agak serak, menanggapi laporan pengakuan dari Igor."Kala
Setelah Ethan dan Tachi melangkah keluar kamar, Sarah tidak langsung menuju ke kamar mandi. Ia justru melangkah pelan menuju balkon, membiarkan terpaan angin malam bersalju menyapa kulitnya, angin dingin yang biasanya sangat ia hindari.Hsssshhhh... Sssshhh...Sarah sontak terkejut dan melangkah mundur saat matanya menangkap seekor ular hitam sepanjang satu meter tengah merayap di atas pagar pembatas balkon. Mata reptil itu berkilat misterius di bawah pancaran sinar bulan, menatap lurus ke arahnya."Sim-Sim, stop!" tegur sebuah suara bariton yang sangat rendah namun terdengar lembut.Ular hitam itu seketika diam menatap tuannya, lalu melingkarkan tubuhnya dengan tenang di pagar besi. Detik berikutnya...Tup!Suara pendaratan kaki yang sangat ringan terdengar saat sebuah tubuh meloncat naik dan mendarat sempurna di atas balkon kamar Sarah.Meskipun terkejut, Sarah berusaha memasang senyum tipis yang sedikit kikuk, "Mister Rubi..." sapanya sopan, "Terima kasih sudah datang membantu kami
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru







