MasukSetelah melambaikan tangan melepas Catherine yang berjalan masuk ke lorong keberangkatan komersial menuju Hong Kong, Brian mengajak Sarah beserta rombongan melangkah menuju area terminal VIP privat, sebuah lounge eksklusif terpisah yang dikhususkan untuk penerbangan jet pribadi keluarga Volkov.Di dalam VIP Lounge yang mewah dan tenang tersebut, proses imigrasi dan pemeriksaan paspor Sarah, Bu Indar, serta Tachi diurus sepenuhnya oleh Brian dan petugas khusus. Tentu saja tidak ada antrean, tidak ada riuk pikuk kerumunan."Saya tidak pergi, sedang banyak pekerjaan di perusahaan." ucap Abah Rizal ketika Brian meminta passpornya untuk diperiksa.Ethan menoleh cepat, sorot matanya tak terbaca memandang Abah Rizal sekilas, tetapi bibir seksinya terkatu
Tiga mobil berhenti berurutan di area parkir keberangkatan Bandara Internasional Soekarno-Hatta.Sarah turun dari mobil yang dikemudikan Pak Donny bersama Tachi. Di belakangnya, Bu Indar ikut turun usai mengangguk hangat pada Abah Rizal.Sementara dari mobil lainnya, Catherine dibantu Dokter Ali menurunkan kopernya. Catherine akan kembali ke Hong Kong dengan penerbangan yang dijadwalkan tiga puluh menit lebih cepat dari jet pribadi keluarga Volkov.Ethan rupanya sudah tiba lebih dulu bersama Brian, menggunakan jasa mobil dan sopir dari hotel tempat mereka menginap."Sudah siap?" sapa Ethan melangkah mendekati Sarah, yang dibalas senyum samar oleh wanita itu."Memangnya jika aku bilang belum siap, kau akan membatalkan penerbangan ini?" kekeh Sarah sembari mengulurkan tangannya ke belakang.Dokter Ali yang selesai membantu menumpuk semua koper di atas troli, kini didorong oleh Pak Donny, langsung menyambut uluran tangan Sarah.Dokter Ali dan Sarah saling menautkan jari-jemari, seolah ha
Dari rumah sakit, selesai dari jaga malam, Dokter Ali mampir ke rumah Abah Rizal untuk melepaskan Sarah dan Tachi yang akan ditemani Bu Indar pergi ke Rusia pada penerbangan malam dari Jakarta. "Kabari aku begitu kalian sudah sampai di sana, kapan pun itu, akan ku kosongkan jadwalku untuk menjadi wali pernikahanmu ..." ucap Dokter Ali sembari tersenyum tipis dan sorot matanya terlihat sengaja menggoda Sarah. Sarah memutar bola matanya malas, lalu melirik Catherine yang baru saja meletakkan secangkir kopi dan roti ke atas meja."Daripada sibuk mengurus pernikahanku yang masih menunggu beberapa bulan lagi, lebih baik perjelas dulu hubunganmu dengan sahabatku ini," balas Sarah memutar balik arah serangan.Catherine yang berdiri tepat di samping Dokter Ali langsung tersentak kaget. Wajahnya gelagapan melirik Dokter Ali yang justru melebarkan senyum pada Sarah."Loh, kok jadi membawa-bawa aku sih, Ra?" cicit Catherine sangat pelan."Sudahlah, mengaku saja! Semalam aku lupa menanyakanmu y
"Dasar Sarah... kenapa tadi kau mau dicium oleh Ethan? Apakah kau menyukainya? Penampilannya membuat sejuk matamu? Ingat Sarah, kau baru saja disakiti! Jangan cari pelampiasan lain, jika tidak... kau akan lebih disakiti lagi!"Sarah menggerutu sendirian, memukul setir kemudi sedikit kesal hingga merasakan perih di telapak tangannya.Baru saja mobil Sarah tiba di depan rumah, dua orang security bergegas membukakan pintu gerbang. Pintu gerbang itu kini telah dirombak total dalam waktu singkat oleh Abah Rizal menggunakan sistem modern dengan pagar setinggi tiga meter.Sarah tersenyum, menurunkan kaca jendela untuk menyapa dua orang security yang sudah ia kenal bekerja di perusahaan V.M Company.Sarah baru saja mengeluarkan belanjaan dari bagasi kala ponsel di saku celananya berdering nyaring."Ma Bear, tolong jawab ponsel Mommy..." pinta Sarah saat Tachi berlari menyambutnya dengan tawa lebar dan sorot mata riang.Tanpa menunggu, Tachi langsung merogoh kantong celana Mommynya, mengambil p
Sarah akhirnya mengemudikan mobil SUV pulang ke Jakarta, sebab Pak Donny minta ijin pulang ke rumahnya lebih cepat karena lokasinya lebih dekat untuk pulang daripada bolak-balik dulu ke Jakarta. Suasana di dalam kabin mobil sangat hening, hanya terdengar dengung halus mesin mobil dan gesekan roda dengan aspal.Ethan menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke depan dengan sisa rasa hangat ciuman Sarah yang masih tertinggal di bibirnya. Sesekali pria itu mengulum bibirnya lalu merabanya seolah tekstur bibirnya terasa jauh lebih kenyal dari sebelumnya. Sebaliknya, Sarah memutar kemudi santai, seolah adegan ciuman dan gesekan Ethan sebelumnya tidak pernah terjadi. Sesekali Sarah melirik ke kaca spion tengah sebelum akhirnya membuka suara."Nanti di Moskow... siapa saja anggota keluarga Volkov yang harus aku dan Tachi temui?" tanya Sarah datar, memecah keheningan.Ethan tak langsung menjawab. Ia memperbaiki posisi duduknya, menyilangkan kaki seraya bersedekap dada, sedikit memiringkan tub
Usai berbincang dengan Azriel, Sarah segera mengalihkan fokusnya kembali ke pekerjaan. Ia mengambil ponsel, menghubungi Koko Yayan serta beberapa supplier sepatu impor lainnya untuk mengkoordinasi pemesanan stok baru secara mendesak.Tanpa menunda waktu, Sarah langsung memproses pembayaran via m-banking agar proses pengiriman tetap berjalan lancar selama ia berada di Rusia.Selesai dengan urusan transfer, Sarah mengumpulkan Azriel, Novi, dan empat orang karyawan magang di depan meja tengah ruko untuk melakukan briefing singkat.Sarah memberikan instruksi tegas terkait pembagian tugas harian, pengelolaan stok, hingga penanganan komplain pelanggan yang dianggukkan mengerti oleh semuanya. Namun, di tengah-tengah penjelasan Sarah, Pak Donny mendadak berlari masuk ke dalam ruko dengan napas terengah-engah."Nona... ada Rafli di ujung jalan sana!" ucap Pak Donny panik, "Sepertinya dia sudah tahu kalau gudang sepatu impor Nona ada di sini!"Seketika suasana ruko menjadi tegang. Azriel dan No
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri
Tidur Sarah semakin gelisah seiring dengan dirinya yang semakin terangsang di alam mimpi. Sedangkan Tachi yang tetap pulas di sebelahnya sama sekali tak terganggu oleh desahan dan erangan halus yang sesekali lolos keluar dari mulut Sarah.Tepat ketika pria bayangan di dalam mimpi itu hendak bergera







