LOGINSarah seperti merasa sedang bermimpi saat telapak tangan seseorang membelai kepalanya dengan sangat lembut."Ethan..." gumam Sarah lirih dengan kelopak mata masih terpejam rapat.Tiba-tiba Sarah tersentak dan terbangun, mengangkat wajahnya dari tepi brankar seraya berseru sedikit nyaring, "Ethan...!"Tubuh Sarah seketika seolah membeku. Mulutnya sedikit terbuka dan kelopak matanya terbeliak, beradu pandang langsung dengan manik biru gelap milik Ethan yang sudah terbuka menatapnya dengan sudut bibir mengukir senyum tipis."Ethan... kau... sudah bangun?" Sarah berkata terbata-bata, "Ta-tapi ini belum 48 jam..." cicitnya lirih.Sarah bergerak hendak menekan tombol pemanggil perawat dan dokter, tetapi tangan Ethan yang tidak dipasangi jarum infus bergerak cepat mencekal lembut pergelangan tangan Sarah."Aku baik-baik aja. Besok pagi aja panggil mereka," bisik Ethan dengan suara sedikit parau."Apakah kau... baik-baik aja? Apakah ada yang luka selain ini?" tanya Ethan pelan dengan sorot ma
Baru saja mereka selesai makan malam, tiba-tiba ponsel Sarah berdering nyaring. Pada layarnya tertera nama Grandma."Halo, Grandma..."[Sarah, Sayang... helikopter sudah menuju rumah sakit. Kamu istirahat pulang ya, Nak. Bawa Tachi dan Indar. Biarkan Brian yang menjaga Ethan di rumah sakit.]Belum sempat Sarah menjawab, ponsel di tangannya sudah diambil oleh Mister Konstantin. "Maria..."[A-ayah...?]"Ya, Maria. Ini aku. Kau terkejut kenapa aku bisa bersama Sarah?" dengkus Mister Konstantin sedikit kesal. "Jika Brian tidak datang ke kediamanku, mungkin kau tak akan memberitahuku bahwa cicitku ada di Moskow, bukan?""Ethan bahkan berencana menikahi Sarah dan pestanya akan dilangsungkan sebulan lagi, tapi k
Tachi menoleh memandang Sarah dengan sorot mata tajam menunggu jawaban, begitu pula Bu Indar dan Brian. Sarah melepaskan genggaman tangan Mister Konstantin, kemudian memeluk pundak kakek buyutnya itu dengan mesra, seperti yang biasa ia lakukan pada Abah Rizal ketika sedang bermanja. "Aku mau, Praded. Aku mau menikah dengan Ethan. Bahkan begitu dia siuman pun, aku siap untuk dinikahi olehnya jika dia mau." "Terima kasih, Nak. Terima kasih banyak. Praded akan pastikan pernikahanmu dengan Ethan berjalan lancar dan kalian hidup bahagia bersama." Mister Konstantin menepuk-nepuk sayang tangan Sarah yang melingkar di depan dadanya. Sudah sangat lama Mister Konstantin tak merasakan pelukan hangat dari seseorang, terutama sejak Anna, yang dulu sangat senang bermanja padanya, memilih menikah dengan Raphael hingga keluar dari keluarga Volkov karena Madam Maria tidak menyetujui hubungan kedua orang tua Sarah tersebut. Tanpa menoleh, Mister Konstantin berkata tenang namun penuh penekanan,
Mister Konstantin perlahan mengendurkan kekehannya, lalu matanya berganti menatap Sarah dengan sorot yang sangat lembut. "Dari mana kau mendapatkan racikan Serein Blue ini, Nak?" tanya Mister Konstantin pada Sarah, yang segera mendekat ke arah kakek buyutnya itu. "Dulu saat kecil... Ibu dan Abah sering memberikan berbagai jenis bunga padaku, sampai akhirnya aku menyukai salah satunya. Bertahun-tahun kemudian, tiba-tiba aku ingin meracik parfum, dan parfum pertama yang aku buat adalah ini, yang kuberi nama Serein Blue," tutur Sarah menceritakan awal mula ia meracik parfum pada Mister Konstantin seraya melirik Bu Indar yang tersenyum tipis. "Serein Blue..." gumam Mister Konstantin mengulang perkataan Sarah. Pria tua yang masih terlihat sehat dan berwibawa tersebut kemudian melirik Bu Indar yang menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Indar, Anna gagal membuat Siniy Seraphim, bukan?" tanya Mister Konstantin dengan senyum tipis. "Maaf, Mister... Lady Anna tidak gagal. Hanya kurang
Sebelum sore, Bu Indar dan Tachi sudah kembali lagi ke rumah sakit. Mereka membawa koper kulit mini berisi beberapa botol sampel oil murni parfum, reed diffuser, botol kaca kosong, serta peralatan lainnya yang diperlukan Sarah untuk meracik wewangian.Tachi langsung berlari ke samping brankar Ethan, menyapa Daddy-nya dan mengajak pria itu bicara, menceritakan apa yang hendak dilakukan Mommynya."Anak jenius! Ajak Daddy bicara terus ya, Sayang," bisik Bu Indar seraya membelai dan mendaratkan kecupan lembut di puncak kepala Tachi, yang dibalas anggukan cepat dari anak lelaki itu.Bu Indar melangkah mendekati Sarah yang duduk di sofa, memperhatikan putrinya tersebut yang sudah membuka koper mini ters
Siang hari, selesai meeting di perusahaan pusat, Madam Maria ditemani Krista dan Brian menggunakan helikopter kembali ke rumah sakit.Namun karena tidak ada perkembangan apa pun selain suara detak jantung Ethan di mesin dan alat pendeteksi kehidupannya yang masih aktif, Sarah meminta Krista membawa Madam Maria pulang untuk beristirahat di rumah.Bu Indar dan Tachi pun ikut pulang bersama mereka, sementara Brian tetap tinggal bersama Sarah.Brian melanjutkan pekerjaan Ethan yang selama ini menyokong Sarah dari belakang layar, terutama memantau perusahaan di Jerman serta perusahaan-perusahaan penyedia bahan baku agar terus lancar mengirimkan pasokan ke V.M Company tanpa kendala."Brian, apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Sarah membuka pembicaraan pada Brian yang telah duduk
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Tak lama setelah obrolan hangat di dalam ruangan perawatan Sarah, pintu kamar rawat itu tiba-tiba diketuk pelan. Sosok tinggi tegap dr. Ali melangkah masuk dengan senyum ramah yang menenangkan. Di tangannya, terdapat sebuah map berisi hasil laboratorium Sarah yang keluar pagi ini."Selamat pagi. Wa
Pagi sudah terang ketika kelopak mata Sarah perlahan terbuka. Ia merasa baru saja terbangun dari sebuah mimpi panjang yang seolah tak berujung, memutar adegan kelam yang sama secara terus-menerus di kepalanya.Sarah memindai sekeliling. Ia mendapati dirinya terbaring di atas brankar dalam sebuah ru
Sementara Sarah terbaring lemah di rumah sakit, di belahan nyata tempat lain, Rafli baru saja melangkah keluar dari lobi hotel murah bersama Pitri.Wanita muda itu terus bergelayut manja pada lengan kekar Rafli, sebelum keduanya masuk ke dalam mobil mewah milik Sarah yang selama ini diakui Rafli se







