LOGINSebelum sore, Bu Indar dan Tachi sudah kembali lagi ke rumah sakit. Mereka membawa koper kulit mini berisi beberapa botol sampel oil murni parfum, reed diffuser, botol kaca kosong, serta peralatan lainnya yang diperlukan Sarah untuk meracik wewangian.
Tachi langsung berlari ke samping brankar Ethan, menyapa ![]()
![]()
![]()
![]()
"Kita pergi ke toko perhiasan sekarang?" bisik Ethan setelah tautan bibirnya dengan Sarah terlepas."Uhm! Ayuk, kita pergi," sahut Sarah cepat sambil menganggukkan kepala.Ethan kembali mengambil alih posisi di depan kemudi, merapikan pakaiannya ala kadarnya. Sarah pun melakukan hal yang sama, merapikan dan mengancingkan kembali kemejanya yang sempat terbuka akibat ulah Ethan, lalu memasang kembali seatbelt-nya.Sarah mengulum bibirnya ke dalam, mengalihkan pandangan ke luar jendela untuk menyembunyikan wajahnya yang merona dan salah tingkah. Sementara itu, Ethan menggerakkan ujung jemari sebelah tangan menyentuh bibirnya sendiri yang sempat digigit Sarah ketika mereka berciuman tadi. Tanpa sadar, kelopak mata cucu lelaki Madam Maria itu menyipit membentuk senyuman kemenangan. lalu kemudian ujung jemarinya tersebut mengetuk-ngetuk setir, dan kini sesekali bibirnya bersenandung kecil."Jangan kepedean!" seloroh Sarah gemas, menoel lengan Ethan dengan ujung telunjuknya karena mendengar
Ethan baru saja melajukan mobilnya dengan Sarah duduk di kursi pengemudi. Mereka mengobrol santai sambil menikmati cuaca cerah di luar, salju tampak berkilau bagaikan hamparan berlian yang diterpa cahaya matahari siang.Tiba-tiba ponsel Sarah berdering. Sebuah panggilan video dari Dewa terpampang di layar."Hei, tumben menghubungiku, ada apa?" sapa Sarah tersenyum begitu menggeser tombol jawab dan melihat Dewa melambaikan tangan menyapanya."Aku sedang berada di Hong Kong," ucap Dewa pendek sambil balas tersenyum menatap kamera ponselnya."Hong Kong?" ulang Sarah dengan dahi mengernyit heran."Aku tidak bisa menyerah mengejar Catherine... karena itu aku harus datang menemuinya," ujar Dewa santai diiringi tawa kecil."Dewa..."Dewa buru-buru mengangkat telunjuknya ke depan bibir, memberi gestur agar Sarah diam. Kamera ponsel Dewa lantas ia arahkan ke depan, memperlihatkan dua orang pria yang tengah bersalaman, disusul suara lantang dokter Ali mengucapkan ijab kabul dengan lancar dan teg
Sarah masih bergelung di tengah ranjang yang hangat, selimut hanya menutupinya sampai pinggang begitu ia terbangun membuka mata.Sebenarnya Sarah sudah terjaga sejak dini hari, tetapi suara desisan dan bisikan lembut dari bibir Ethan selalu mampu membuatnya terlelap lagi dan lagi."Mom? Sudah bangun?" Tachi membuka perlahan pintu kamar Ethan, berjalan masuk membawa segelas susu almond hangat yang ia pegang hati-hati sejak dari pantry bawah."Kata Daddy, Mommy harus minum susu hangat, makan makanan hangat..." tambah anak lelaki itu seraya menyodorkan gelas di tangannya ke hadapan Sarah yang masih bergelung malas.Sarah tersenyum manis, bergegas duduk dan menurunkan kakinya dari ranjang, tetapi Tachi mendadak terpekik pelan karena melihat Sarah hanya mengenakan pakaian dalam."Aww, Mommy seksi sekali!" Tachi langsung menenggelamkan wajahnya ke depan dada Sarah dan membelai perut rata ibunya itu penuh pemujaan, "Dulu Tachi keluar dari perut Mommy ini?"Sarah meneguk susu di dalam gelas
Ethan segera merangkul pinggang Sarah begitu turun dari mobil, membimbingnya melangkah cepat menaiki beberapa anak tangga marmer menuju pintu masuk utama yang terbuat dari kayu ek berat beraksen kuningan antik.Di depan pintu, dua orang bouncer-penjaga pintu berbadan tegap dengan setelan jas hitam rapi berdiri mengawasi. Sebelum mereka sempat melangkah mendekat, salah satu penjaga pintu dengan sigap menegakkan tubuh, mengenali sosok pria di hadapannya."Selamat malam, Tuan Volkov," sapa penjaga pintu itu dengan hormat dalam bahasa Inggris beraksen tegas, sambil memberi gestur isyarat agar rekannya segera membukakan pintu.Ethan hanya mengangguk tipis sebagai balasan, tanpa perlu repot-repot mengeluarkan kartu identitas karena wajah dan kekuasaannya sudah menjadi tiket masuk paling mutlak di tempat eksklusif ini.Begitu pintu berat berlapis kayu ek dan aksen kuningan didorong terbuka, aroma kemewahan langsung menyambut. Suasana di dalam bar eksekutif Moskow itu terasa begitu kontras de
Beberapa menit kemudian, Ethan mengemudikan mobil keluar dari garasi mansion dengan Sarah yang duduk di kursi penumpang."Dingin? Perutmu baik-baik saja?" tanya Ethan sembari sebelah tangannya menggenggam jemari Sarah sementara tangan yang lain tetap sigap mengemudikan setir.Sarah balas meremas telapak tangan besar Ethan, "Uhm, aku baik-baik saja."Sarah melonggarkan mantelnya dan melepasnya karena penghangat di dalam mobil bekerja dengan sangat baik."Kau sangat cantik, Zaika..." bisik Ethan setelah menoleh sekejap ke arah Sarah. "Selalu cantik!" tambah pria itu cepat seolah menduga Sarah akan memprotes perkataannya."Kukira dulu kau tidak pandai berkata-kata, ternyata kau penggombal ulung!" dengkus Sarah disusul tawa kecil yang langsung ditanggapi tawa rendah oleh Ethan.Salju turun tipis di luar sana, berputar-putar anggun di bawah sorot cahaya lampu jalan kota. Gedung-gedung tinggi yang berjajar di kejauhan tampak bagaikan lukisan raksasa berwarna keemasan, sementara di dalam ka
"Apakah perutmu sungguh baik-baik aja? Ingat untuk tidak pendam rasa sakit, hem?" tanya Ethan masih kuatir pada keadaan Tachi. "Uhm! Tachi baik-baik aja. Daddy bacain buku dongeng aurora lagi ya." jawab Tachi sambil memberikan buku dongeng aurora ke Ethan. Dua lelaki beda usia itu sudah sama-sama sudah memakai piyama tidur dan tadi pun Ethan mandi bersama Tachi. Sementara Sarah mandi belakangan. "...Di bawah langit malam yang bertabur cahaya aurora borealis keemasan, sang pangeran beruang putih berjanji untuk menjaga sang putri dari segala badai salju yang membekukan. Mereka hidup bahagia, melewati musim dingin paling abadi dengan kehangatan cinta yang tidak akan pernah padam..." Ethan masih terus membacakan kalimat demi kalimat dari buku dongeng itu dengan suara baritonnya yang lembut, meskipun Tachi telah tertidur pulas di sebelahnya dengan ritme pernapasan yang teratur dan tenang. "Sudah tidur?" tanya Sarah yang baru saja keluar dari kamar mandi, seraya membuka gulungan hand
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya







