LOGINSarah tidak mengerti kenapa dirinya bisa segila ini melanggar batasnya sendiri, tetapi di sisi lain, pikirannya merasa sangat nyaman menerima semua perlakuan penuh kasih sayang dari Ethan."Apakah Tachi sungguh lahir dari sini?" tanya Ethan sambil menahan tubuh Sarah agar berbaring di lengannya, sementara tangannya yang lain membelai perut rata wanitanya itu dengan ujung jemari. "Uhm, lahir dari sana... keluar secara alami lalu menyusu selama dua tahun di sini," sahut Sarah pelan sambil menahan pergelangan tangan Ethan yang hendak merayap membelai kebun tembakau kecilnya yang dicukur rapi.Tiba-tiba Ethan bergerak cepat, membaringkan Sarah di atas bentangan handuk di lantai, lalu turun, memposisikan wajahnya tepat di depan area sensitif Sarah."Oh, kau sungguh sangat cantik, Zaika..." desis Ethan sambil menahan kedua paha Sarah agar wanitanya itu tidak membalikkan badan. "Dia seperti tersenyum padaku..."Sarah benar-benar meronta pelan. Ia sangat malu bagian paling privasinya ditatap
Ethan masih ingin bersama Sarah di ruangan sauna, tetapi ia akan menjaga batas untuk tidak terlalu memaksakan kehendaknya.Dengan berat hati, Ethan bangkit berdiri dari duduknya. Namun, baru selangkah tangannya hendak menyentuh gagang pintu..."Aow!"Kaki basah Sarah tergelincir dan bibirnya refleks terpekik nyaring. Detik berikutnya, ia jatuh tercebur kembali ke dalam kolam air panas."Kau baik-baik saja?" tanya Ethan yang spontan melompat masuk ke dalam air, langsung menarik tubuh Sarah ke dalam pelukannya."Kakiku tergelincir. Tapi aku baik-baik saja. Terima kasih," Sarah menjawab cepat, berniat melepaskan diri dari dekapan erat Ethan.Namun... tali penutup dada Sarah yang hanya disimpul asal di belakang punggungnya tersangkut kancing kemeja Ethan. Ketika Sarah bergerak melepaskan diri, ikatan itu pun terlepas. Tubuh bagian atas Mommy Tachi tersebut seketika terekspos, dan bra renangnya kini tergantung di depan pakaian Ethan."Berbalik, Ethan!" pekik Sarah seraya melingkarkan kedua
Ketika Brian kembali ke Yaroslavl dengan wajah berseri-seri, Mister Konstantin justru sedang sibuk membantu merapikan mantel tebal di tubuh Tachi yang akan ia bawa menemaninya pulang ke Moskow."Kenapa kau tersenyum-senyum? Kau senang tim independen menemukan transaksi mencurigakan dari akun atas nama Grandma? Cepat sana bersiap-siap, ikut Praded pulang ke Moskow!" tegur Ethan dingin, melirik Brian dari sudut matanya."Baik, Bos!" sahut Brian patuh, "Tapi, Madam Maria tidak mungkin melakukan kecurangan itu, seperti mengeluarkan sejumlah dana untuk membayar pembunuh demi melenyapkan Anda dan Lady Sarah...""Praded tak berpikiran begitu. Sudahlah, kau temani saja beliau. Duduk seperti patung, jangan bicara jika tidak diminta, tetapi laporkan semuanya padaku!" potong Ethan cepat. Ethan sangat paham akan hubungan kakek buyut dan neneknya memang tidak pernah membaik sejak bertahun-tahun lalu, dimana mereka memutuskan tinggal terpisah, hampir tak pernah saling bertemu atau berkunjung.Bria
Sudah seminggu Sarah, Ethan, Tachi, Bu Indar, Mister Konstantin, dan Brian berada di Yaroslavl. Hari-hari mereka berjalan dengan sangat menyenangkan. Hanya Brian yang harus bolak-balik ke Moskow menggunakan helikopter untuk menghadiri rapat di Volkov Holdings sebagai perwakilan Ethan, sekaligus menemani Madam Maria.Audit internal yang diminta oleh Madam Maria masih berjalan alot. Namun, tim independen menemukan kejanggalan transaksi keuangan yang justru mengarah pada Madam Maria... dan Ethan sendiri.Sebelum hal tersebut dibawa ke rapat pemegang saham, Madam Maria memanggil Brian terlebih dahulu untuk berbicara empat mata."Mengenai hal ini, Saya bisa jelaskan," ucap Brian tenang begitu melihat berkas transaksi besar yang dilakukan Ethan saat mengakuisisi El Man Company milik Ted Mansouri."Ya, kau memang harus menjelaskan!" seru Madam Maria tegas. Saat ini, hanya ada dirinya dan Brian di dalam ruangan rapat yang luas tersebut."Bos Ethan mengakuisisi El Man Company semata-mata bukan
Sarah sudah selesai meracik satu botol parfum menggunakan instingnya, setelah mencium aroma dasar dari setiap parfum di dalam drawer."Ini... sangat lembut dan wangi. Ada kehangatan yang membuat pikiran merasa damai dalam seketika setelah menghirup aromanya," tutur Mister Konstantin setelah Sarah memberikan sampel di atas kertas uji pada kakek buyutnya itu."Kau sungguh berbakat, Nak."Kalimat itu bukan sekadar pujian, melainkan sebuah pernyataan. Mister Konstantin merasa sangat bangga pada Sarah."Praded akan buatkan satu, khusus hanya untukmu," bisik Mister Konstantin.Kakek buyutnya Sarah dan Ethan yang masih sehat tersebut, bergerak penuh keanggunan, meraih pipet dan mencium setiap aroma di dalam botol dengan khusyuk sambil memejamkan mata, sebelum meramunya ke dalam satu botol kosong.Tak lama kemudian, satu botol ramuan khusus pun selesai. Mister Konstantin menyerahkannya pada Sarah, yang langsung menyemprotkannya ke pergelangan tangan."Oh..."Sarah memejamkan mata. Ia mengangka
Sudut bibir Mister Konstantin tertarik samar. Ia menarik lembut kepala Sarah agar bersandar ke pundaknya, "Indar memang pelayan pribadi yang sudah dianggap sahabat oleh Anna. Tetapi hati Praded tahu, Indar tak akan mungkin melakukan perbuatan terkutuk itu... meracuni Anna atau pun Raphael."Tangan tua Mister Konstantin membelai lembut rambut Sarah, "Otak boleh jenius, Nak, tetapi kepekaan hati harus tetap dijaga dengan baik. Apakah kau pernah merasa Ibumu tidak menyayangimu dengan tulus?"Sarah memutar wajahnya, menyusupkan kepalanya ke dada Mister Konstantin. Pundaknya gemetar dan tangisnya pun akhirnya pecah. Beberapa detik lalu, ia sempat membisikkan prasangka buruk atas kesetiaan orang yang telah membesarkan dan mempertaruhkan nyawa untuk mencintainya dengan tulus.Setelah beberapa saat dan tangis Sarah mulai mereda, Mister Konstantin membawa Sarah bangkit berdiri. "Mari, kita lihat ruangan tempat Adeline biasa meracik parfum," ajaknya lembut.Sambil melangkah menelusuri lorong ha
Karena pemeriksaan medis menyatakan kondisi Sarah stabil dan tidak ada keluhan fisik yang berarti, Ia memutuskan untuk keluar dari rumah sakit. Sarah juga memiliki hal yang perlu dia selesaikan secepatnya"Kita makan-makan dulu yuk, Abah... Ibu," ajak Sarah sembari menatap kedua orangtua angkatnya
Setelah sambungan telepon dengan Rafli terputus, Sarah terdiam cukup lama. Matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan dingin yang belum pernah terlihat selama enam bulan terakhir."Mommy, Tachi sudah siap. Tachi harus bawa baju berapa setel untuk menginap?" Tachi tiba-tiba masuk ke dalam kamar
Setelah memutuskan menginap di hotel hanya berdua dengan Tachi yang sebenarnya Sarah merasa hendak muntah setiap kali hembusan angin membawa aroma pekat aneh dalam rumahnya. "Tachi mandi dulu sendiri ya, Mommy bersiap-siap, oke?" Tachi langsung mengangguk cepat, turun dari ranjang dan kaki keciln
"Ahh ..." Kepala Pitri terlontar ke belakang dan dadanya membusung ke depan, merasakan gempuran Rafli di bawah sana yang sangat menyesakkan namun membuat seluruh syarafnya bergetar nikmat. "Tahan, Sayang ...sedikit lagi abang juga sampai." bisik Rafli sembari terus memompa cepat. Suara Pitri







