Home / Romansa / Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa. / 162. Pak Rafael benar-benar aneh!

Share

162. Pak Rafael benar-benar aneh!

last update publish date: 2026-09-11 08:46:09

"Maaf kalau sikap saya buat kamu berpikir buruk," ujar Rafael masih mendekap tubuh Sarah yang membeku.

Sarah tidak langsung menjawab. Tubuhnya masih kaku, pikirannya bahkan belum sepenuhnya bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Namun, suara Rafael yang terdengar lebih tenang sedikit demi sedikit membuat ketegangan di dalam dirinya mereda.

"Sebenarnya mengajakmu ke hotel juga salah, tapi Sarah bukan itu tujuan saya." Pria itu melepas dekapannya, menatap mata Sarah yang basah.

Sarah segera menun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    176. Meminta bantuan Rafael

    Widya kembali menatap Sarah. Ketika dua pembantu itu hanya bisa menunduk. Kali ini, kemarahannya seolah akan membabi buta. "Memang hebat kamu, Sarah. Baru berapa lama bekerja di sini, tapi sudah berhasil membuat Rafael membawamu pergi berdua ke hotel!" kalimat itu mampu membuat Sarah merasa seluruh darah di wajahnya seakan surut. Dari ekor matanya, Sarah bisa melihat keterkejutan di wajah Mbak Yati. Ia tak tahu, mungkin perempuan itu akan menilainya sebagai wanita yang buruk. "Bu," lirihnya hendak menjelaskan semuanya, tapi kata-katanya berhenti, mengalahkan rasa takutnya. "Jangan panggil saya begitu seolah-olah kamu tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan!" Widya menunjuk ke arah Sarah dengan tangan gemetar menahan amarah. "Saya melihat kalian datang bersama! Kamu pikir saya sebodoh itu sampai tidak bisa menebak apa yang sedang terjadi?" Kepala wanita itu menggeleng berkali-kali. "Saya bisa menjelaskan, Bu. Sungguh, semuanya tidak seperti yang Ibu pikirkan." "Menjelas

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    175. Sarah, ternyata kamu?

    "Mbak, ada apa? Kok dari tadi melamun?"Suara Mbak Yati membuyarkan pikiran Sarah. Tangannya yang sejak tadi sibuk memotong wortel berhenti di tengah gerakan. Ia tersadar bahwa beberapa menit terakhir dirinya hanya menatap sayuran di atas talenan tanpa benar-benar memperhatikannya.Sarah segera menggeleng. "Gak ada apa-apa kok, Mbak."Mencoba fokus, dan kembali menunduk mengambil pisau, berusaha melanjutkan pekerjaannya seperti biasa. Namun, gerakannya tidak lagi setenang tadi. Jemarinya bahkan sempat berhenti beberapa kali karena pikirannya kembali kepada percakapan Rafael dan Widya di lorong.Meskipun cukup dekat dengan Mbak Yati, ia tetap memilih menyimpan semuanya sendiri. Bukan karena tidak percaya, tetapi karena ia takut perempuan yang selama ini selalu membelanya sebagai sesama pembantu justru akan memandangnya berbeda setelah mengetahui masalah tersebut.Namun, raut wajah Yati jelas menunjukkan bahwa ia tidak sepenuhnya percaya.

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    174. Dasar perebut lelaki orang!

    Sarah menggigit bibir bawahnya, kemudian buru-buru melepaskannya ketika sadar dirinya semakin gugup. Pikirannya mulai kacau membayangkan bagaimana Widya memandangnya sekarang. Seorang pembantu yang pergi bersama suaminya ke hotel. Apa pun penjelasannya, dari luar semuanya memang terlihat buruk. Sarah menundukkan kepala. Kedua tangannya kini saling menggenggam erat. Jika saja Widya tahu bahwa keberadaan mereka di hotel itu bukan sesuatu yang ia rencanakan. Bahkan Sarah sendiri tidak pernah benar-benar memahami apa yang sedang direncanakan keluarga Adijaya dan hanya mengikuti. Tapi sekarang, justru dirinya yang harus menanggung akibatnya. "Jaga omonganmu!" Bentakan Rafael membuat Sarah tersentak. Bahu perempuan itu naik karena kaget bahkan sempat menutup mulut dengan telapak tangan ketika jantungnya berdegup begitu keras. "Aku lihat buktinya!" Suara Widya kembali terdengar. Sarah memejamkan mata. Air matanya mulai menggenang. Ia buru-buru mengusap sudut matanya, lalu menari

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    173. Pak..Tolong jangan!

    "Pak, tolong jangan masuk dulu." ia sedikit berteriak. "Iya," jawaban Rafael terdengar begitu singkat. Namun, sebelum langkah pria itu benar-benar menjauh, Sarah mendengar Rafael berkata pelan. "Saya benar-benar minta maaf. Sarah." suaranya sarat akan rasa bersalah. Setelah itu terdengar langkah kaki yang perlahan menghilang di lorong. Sarah masih berdiri di tempatnya. Ia menatap pintu yang kini tertutup rapat, kemudian menundukkan kepala. Entah kenapa, kejadian sederhana itu justru membuat perasaan Sarah semakin tidak tenang. Ia tahu Rafael tidak sengaja dan tak perlu ada yang di besar-besarkan. Namun, setelah semua percakapan mereka hari ini, setelah pria tersebut mengungkapkan perasaannya dan setelah orang tua Rafael bahkan mengatakan bahwa mereka merestui hubungan keduanya, Sarah tidak bisa menganggap kejadian ini sebagai sesuatu yang sepele. "Kenapa hidupku jadi serumit ini." Sarah menghembuskan napas panjang. Dari balik pintu, suara Rafael terdengar lagi. "Sarah,

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    172. Aaakhhhh, bapak ngapain?

    "Kamu istirahat saja dulu." Adijaya membuka suara setelah melihat Sarah yang masih tampak gelisah. Namun, perempuan itu justru menggeleng cepat. "Maaf, Pak. Pekerjaan saya masih banyak. Saya gak enak dengan yang lain." Sarah langsung teringat pada Mbak Yati dan para pekerja lain. Bagaimana kalau mereka melihat dirinya justru beristirahat ketika pekerjaan masih menumpuk? Pasti akan muncul pertanyaan. Terlebih setelah kejadian hari ini, Sarah sendiri sudah merasa tidak nyaman menerima perlakuan khusus dari keluarga Adijaya. "Tidak apa-apa, Sarah. Ini kami yang perintah." Nada Anisa terdengar lembut, tetapi bagi Sarah kalimat itu justru membuatnya tidak punya alasan lagi untuk menolak. Ia kembali bungkam. Bagaimanapun, dirinya hanyalah seorang pembantu di rumah ini. Ia tidak memiliki banyak suara untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh di lakukan. Ketika orang-orang yang menjadi atasannya sudah memberikan perintah, Sarah hanya bisa mengangguk dan menurut. "Baik, Bu." Pada

  • Maaf Pak, Saya Hanya Pembantu Biasa.    171. Kami merestui kok.

    "Sayang, Tante pergi ke kamar dulu ya, ganti baju?" Sarah menunduk menatap Salsabila yang masih berdiri di hadapannya. Gadis kecil itu memang tidak banyak bertanya, tetapi dari raut wajahnya terlihat jelas bahwa Salsabila tahu orang tuanya bertengkar lagi seperti biasanya. Beberapa detik kemudian, Salsabila mengangguk pelan. Senyum tipis muncul di wajahnya. "Nanti, temani aku ya, Tante," pintanya. Sarah segera mengangguk. "Iya, Tante temani." Setidaknya, permintaan sederhana dari Salsabila sedikit membuat pikirannya teralihkan. Sarah kemudian berjalan menyusuri lorong menuju kamarnya. Namun, semakin jauh dari ruang tengah, langkahnya justru terasa semakin berat. Pikirannya kembali kepada kejadian tadi. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa setelah ini. Bahkan juga tidak tahu bagaimana sikap Widya kepadanya nanti. Yang paling membuat Sarah takut adalah kemungkinan perempuan itu benar-benar murka dan menganggap dirinya sebagai akan menambah sebab permasalahan rumah tangga me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status