LOGINPegawai itu segera masuk ke dalam dan tak lama kemudian dia keluar bersama-sama wanita paruh baya yang berpakaian modis
Wanita paruh baya itu tersenyum ramah kepada Runi. Terlihat dari raut wajahnya bahwa dia telah mengetahui masalah yang sedang terjadi saat itu.
"Maaf ya Mbak, mana kartunya? Sini, saya coba dulu."
Runi segera menyerahkan semua kartu-kartu yang dimilikinya dan pemilik toko mulai mencoba menggesekkan satu persatu kartu-kartu tersebut ke mesin EDC.
S
Yanto tertegun. Ancaman Mika membuatnya sedikit takut. Akhirnya, tanpa banyak bicara lagi, dia segera pergi dari sana. Namun, sebelum itu dia sempat mengatakan sesuatu kepada Mika."Tidak masalah kau tidak mau memberitahuku. Aku akan cari cara lain untuk menemukan Viana.""Terserahmu, tapi yang jelas kau tidak akan dapat informasi apa pun dari aku," ucap Mika.Yanto pun segera berlalu dari sana dengan membawa kekesalan yang menggunung dalam hatinya."Itulah akibatnya Mik kalau kita terlalu ikut campur masalah orang. Kita juga yang bakalan repot. Dulu sudah kubilang, jangan terlalu mencampuri urusan rumah tangga Viana, tapi kamu berdalih atas dasar rasa kasihan. Sekarang beginilah jadinya, kita yang dikejar-kejar suaminya. Untung aku tadi cepat keluar, kalau tidak entah apa yang akan diperbuatnya padamu," omel Rizal yang sejak awal mula sudah mewanti-wanti Mika untuk tidak terlibat dalam kisruh rumah tangga Viana karena dia sudah menduga suatu saat nanti hal seperti ini akan terjadi da
Mika menahan napas, dia tidak menduga Yanto akan menanyakan hal ini kepadanya. Namun, sejurus kemudian dirinya sudah bisa memahami alasannya.Akan tetapi, tentu saja Mika tidak akan membocorkan hal tersebut karena dia sudah berjanji kepada Viana untuk menutup mulutnya dari Yanto."Oh, jadi kamu sudah tahu kalau Viana pergi dari rumah?" ucap Mika dingin."Ya dan sekarang aku sedang mencarinya. Kamu tau kan dia ada dimana?"Mika menghela napas panjang."Untuk apalagi kamu mencarinya. Bukankah kamu sudah hidup bahagia dengan keluarga barumu itu. Lepaskanlah Viana, dia juga berhak untuk bahagia setelah apa yang menimpanya akhir-akhir ini." Mika mencoba memberi saran kepada Yanto.Namun, alih-alih menerima saran Mika, Yanto justru tersulut emosi."Jangan mengajariku tentang apa yang harus aku lakukan, Mika. Kau hanya orang luar yang kebetulan dipercayai oleh istriku. Jadi jaga batasanmu, jangan terlalu dalam ikut campur urusan rumah tangga orang lain. Sekarang katakan padaku, dimana Viana
"Apa benar Yanto sudah menikah lagi dengan perempuan lain?" tanya Pak Darma seusai mereka makan malam.Viana mengangkat kepalanya, menatap wajah Pak Darma sejenak lalu kembali menundukkan wajahnya."Benar, Yah," jawabnya dengan suara lirih.Suara hembusan napas yang cukup keras meluncur dari mulut pria paruh baya itu. Demi apa pun, sungguh dia tak rela melihat putri angkatnya disakiti demikian. Emosi dan kemarahan perlahan-lahan mulai merayapi hatinya."Apa alasannya?" tanyanya dengan intonasi sedikit meninggi.Viana menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, tatapan matanya terlihat menerawang."Dia ingin punya anak sedangkan aku sampai detik ini belum bisa memberikannya. Istri keduanya itu adalah janda beranak satu. Dia merasa yakin jika menikah dengan perempuan itu, dia akan bisa punya anak karena istri keduanya itu sudah terbukti subur katanya. Selain itu, dia juga ingin meninggikan statusnya menjadi orang kaya serta terpandang karena perempuan itu adalah anak seorang pengusaha te
Derit pintu terdengar halus ketika Viana membuka dan mendorong daunnya ke samping. Sambil menenteng tas yang berisi barang-barangnya, Viana melangkah masuk dengan pelan."Hm...suasana kamar ini masih sama seperti waktu ku tinggalkan dulu. Ternyata ibu masih rajin merawat dan membersihkannya."Seketika itu juga timbul rasa bersalah dalam hati Viana karena selama ini terkesan mengabaikan ibu angkatnya itu."Ibu... maafkan aku karena selama ini tidak pernah menghubungimu," ucapnya lirih.Viana lalu membongkar isi tas nya dan meletakkan barang-barang bawaannya pada tempat yang semestinya. Kegiatan itu ternyata cukup menguras tenaganya sehingga Viana memutuskan untuk beristirahat sebentar.Viana membaringkan tubuhnya di atas ranjang, dia menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Kilas balik kenangan saat dia masih hidup berumah tangga dengan Yanto dan bayang-bayang pengkhianatan Yanto berputar dan bermain-main di benaknya, menciptakan perasaan rindu dan benci dalam waktu yang
"Ayahmu kan sedang di toko. Jam-jam segini biasanya orang rame belanja, jadi dia tidak bisa pulang," jawab Bu Resti."Di toko? Maksudnya, Bu?" tanya Viana dengan heran karena sepengetahuannya ayahnya itu berjualan secara online dari rumah.Bu Resti malah balik menatap Viana dengan heran. Namun, sejurus kemudian, dia menepuk keningnya sambil tertawa kecil."Owalah, pikunnya ibumu ini, Res. Kamu kan belum tahu kalau ayahmu udah punya toko. Jadi gini, dua tahun setelah kamu pergi ke Kota U ikut suamimu, ayahmu dapat warisan dari orang tuannya di kampung. Jumlahnya lumayan besar dan dari warisan itulah, ayahmu memutuskan untuk membeli sebuah ruko dan berjualan sembako di sana karena omset penjualan onlinenya makin lama makin berkurang seiring dengan masuknya pesaing baru. Awal mulanya ya...masih sepi gitu, belum banyak pembelinya. Tapi untungnya ayahmu itu orang yang gigih dan tidak mudah putus asa. Dia melakukan berbagai cara supaya toko itu dikenal banyak orang termasuk promosi baik mel
"Apa? Jadi Yanto telah menikah lagi dengan wanita lain?" seru Bu Resti usai Viana menceritakan prahara dalam rumah tangganya.Viana mengangguk pelan, membenarkan pertanyaan ibunya."Benar, Bu dan karena itulah aku memutuskan untuk pulang kembali ke sini. Aku nggak mau dimadu, Bu. Aku tidak sanggup menjalani rumah tangga seperti itu," ucap Viana dengan suara lirih.Betapa geramnya hati Bu Resti kala mengetahui putri angkatnya itu dimadu oleh suaminya."Kurang ajar sekali si Yanto itu! Beraninya dia menikah lagi dengan perempuan lain disaat kau masih berstatus sebagai istrinya. Menyesal dulu ibu telah memberi restu kepadanya. Dulu dia berjanji akan selalu setia kepadamu baik susah maupun senang, dulu dia juga bilang tidak akan menduakanmu dan akan selalu membuatmu bahagia. Nyatanya apa? Dia mengingkari semua janjinya itu. Benar-benar manusia tidak tahu diri dia itu!" umpat Bu Resti dengan emosi.Viana terdiam, membiarkan ibunya meluapkan semua kekesalannya.Setelah puas mengomel – omel
"Hah? Oh...itu." Nesya tertawa kecil."Ya nggaklah. Tadi itu aku cuma becanda doang. Habisnya aku jengkel melihat tingkahnya yang sok ngebossy di kantor ini makanya aku kerjain saja dia biar dia kepanasan sendiri.""Oh...cuma becanda doang. Aku kirain beneran." Lani tersenyum-senyum sendiri."Eh, j
"Hei, kamu siapa? Apa hubunganmu dengan mas Deon?" tanya Runi to the point.Nesya menatap Runi dengan bingung."Kamu...bicara sama saya?""Ya iyalah, emang kamu lihat ada orang lain lagi di sekitar sini?" tukas Runi sewot.Nesya tersenyum tipis. Dia tiba-tiba teringat bahwa Runi adalah pelakor yang
Seketika timbul rasa cemburu dan tidak suka dalam hati Runi melihat kedekatan Deon dengan wanita itu.Dia melihat Deon begitu bersikap ramah dan friendly kepada wanita itu sedangkan kepada dirinya Deon malah selalu bersikap ketus dan dingin.Dengan langkah yang lebar dan sedikit tergesa, Runi berja
Beberapa hari kemudian, Yanto dan Feyla berangkat ke luar negeri untuk honeymoon dan untuk urusan perusahaan, Feyla mempercayakan Deon untuk menggantikannya sementara.Sedangkan Susi dan Randy pindah ke rumah Pak Indra atas permintaan Randy sendiri yang telah termakan hasutan ibunya yang mengatakan







