Mag-log inWaktu terus bergulir dan hari terus berganti. Tanpa terasa seminggu pun telah berlalu dan hari ini adalah hari kepulangan Yanto dan Feyla dari acara bulan madu mereka.Sekitar tengah hari mereka telah sampai ke rumah. Ternyata, Runi pun juga pulang pada hari itu. Hanya saja dia pulang lebih awal dari Yanto dan Feyla.Viana yang waktu itu memang tengah berada di rumah, memperhatikan suami dan madunya yang melangkah masuk ke dalam rumah.Dia melihat keduanya tampak gembira dengan raut wajah yang selalu dihiasi dengan senyuman.Feyla yang menyadari Viana tengah memperhatikan mereka makin mengeratkan pegangannya pada tangan sang suami dengan tujuan untuk membuat Viana menjadi panas dan cemburu.Akan tetapi, Viana hanya mengedikkan bahu, bersikap tidak peduli pada kedatangan kedua orang itu.Berbeda dengan Runi yang tampak begitu antusias menyambut kedatangan Yanto dan Feyla dengan sebuah maksud yang terselubung di baliknya yaitu mendapatkan oleh-oleh dari Feyla."Selamat pulang kembali ke
"Hallo, Mas.""Ya, ada apa Dek? Tumben telepon. Ish....aahhh... sebentar, Fey. Ini Viana lagi telepon."Deg!Walaupun kalimat terakhir diucapkan dengan lirih, tetapi telinga Viana cukup mampu mendengarnya dengan jelas.Dari ucapan Yanto barusan, Viana bisa mengerti apa yang mereka berdua sedang lakukan.Viana memejamkan mata, menarik napas panjang, berusaha mengenyahkan rasa sakit yang tiba-tiba menghujam dadanya. Meskipun berkali-kali mensugesti dirinya untuk bersikap biasa saja melihat kemesraan Yanto dan Feyla, tapi tak urung benteng yang dibangunnya itu harus porak poranda diterjang badai kecemburuan. Setelah beberapa saat, kala dia merasa sudah cukup tenang, barulah Viana kembali berbicara."Mana Feyla? Ini Bik Imah mau bicara."Hening sejenak dan tidak lama kemudian suara Feyla terdengar dari seberang sana."Ini aku. Ada apa?" ucapnya sedikit ketus karena merasa aktivitas bermesraannya jadi terganggu dengan telepon dari Viana.Alih-alih menjawab, Viana malah menyerahkan ponselny
"Aduh mamaku sayang, aku kan sudah bilang kalau aku gak tertarik sama cewek seperti itu. Aku memang nggak terlalu kenal sama dia walaupun aku pernah beberapa kali bertemu dengannya. Dia adalah tetangga Mika dan aku ketemu dengan dia waktu aku menginap di rumah Mika. Memang dia itu agak sedikit kegenitan juga, soalnya dia pernah nyamperin aku di rumah Mika dan minta kenalan sama aku secara langsung," jelas Jimmy"What? Jadi dia tinggal di dekat rumah Mika? Wah, bahaya nih. Kalau gitu lebih baik kamu nggak usah sering-sering ke sana, Jimmy. Siapa tahu dia nanti malah nungguin kamu di rumah Mika." Bu Helen tampak khawatir.Mendengar kekhawatiran mamanya, Jimmy tersenyum tipis."Nggak kok, Ma. Aku kan ke sana nggak sering-sering amat. Hanya sesekali saja, itu pun hanya untuk urusan pekerjaan. Lagian Mika juga kurang suka sama dia karena dia itu seorang pelakor, entah gimana ceritanya aku juga nggak tahu jelas karena aku jarang mantau media sosial.""Apa?! Dia pelakor? Wah, bener-bener gak
Runi menepuk pelan keningnya. Saking terburu-burunya ingin pergi dari situ, dia sampai melupakan bahwa dia telah memesan makanan di sana.Namun, sekarang dia tiba-tiba saja tidak berselera lagi dengan makanan itu."Batalin aja, aku lagi buru-buru sekarang. Gak sempat makan," ucapnya sambil bersiap untuk pergi.Mendengar perkataan Runi itu, sontak si pelayan menjadi marah dan kesal."Gak bisa kayak gitu, Kak. Pesanan Kakak sudah ready dan itu berarti Kakak harus bayar. Lain ceritanya kalau pesanan Kakak belum dibuat, baru Kakak boleh cancel," jelas pelayan itu."Ah gitu aja dibikin ribet. Kalian kan bisa tawarkan ke pengunjung lainnya, siapa tahu ada yang berminat," tukas Runi masih bersikeras tidak ingin membayar.Semakin geramlah pelayan itu melihat sikap Runi yang terkesan menggampangkan masalah."Saya nggak mau tahu ya, Kak. Pokoknya Kakak harus bayar makanan yang sudah Kakak pesan atau Kakak mau ya saya viralin di medsos dengan caption "gaya selangit tapi nggak punya duit". Apa ma
'Oh, namanya Jimmy toh,' gumam Runi dalam hati.Setelah merasa agak baikan, Jimmy segera menegakkan tubuhnya dan menatap Runi yang ternyata sudah mengambil tempat duduk di dekatnya dengan tatapan nyalang."Mau apa kamu ke sini? Kami tidak pernah mengundangmu. Lebih baik kamu kembali ke tempatmu. Gara-gara ucapanmu itu, aku jadi tersedak dan kerongkonganku jadi sakit," ketus Jimmy.Namun, bukannya merasa tersinggung, Runi malah tersenyum manis."Mas Jimmy jangan galak-galak gitu, dong. Aku ke sini kan mau ngobrol-ngobrol sama Mas. Kebetulan aku lagi sendirian saja dan aku merasa bete. Boleh ya Mas, aku ikut gabung di sini."Jimmy tidak menjawab, dia langsung memalingkan muka. Dalam hatinya dia merasa kesal pada sikap Runi tersebut.Berbeda dengan wanita paruh baya yang sejak tadi memperhatikan interaksi keduanya dengan tatapan heran. Setelah memperhatikan beberapa saat, akhirnya wanita tersebut memutuskan untuk bertanya kepada Runi."Kamu ini siapa? Apa hubunganmu dengan Jimmy?"Dengan
"Hah? Oh...itu." Nesya tertawa kecil."Ya nggaklah. Tadi itu aku cuma becanda doang. Habisnya aku jengkel melihat tingkahnya yang sok ngebossy di kantor ini makanya aku kerjain saja dia biar dia kepanasan sendiri.""Oh...cuma becanda doang. Aku kirain beneran." Lani tersenyum-senyum sendiri."Eh, jangan berpikiran aneh-aneh, deh. Gak mungkinlah aku lakuin hal itu. Gini-gini, aku termasuk perempuan yang setia lho sama suami," cetus Nesya sambil menepuk dadanya."Iya deh, si yang paling setia," olok Lani sambil tertawa."Ha ha ha...bisa aja kamu, Lan," balas Nesya yang ikut tertawa juga."Nesya, ayo kita ke ruanganku sekarang," panggil Deon yang sudah selesai menelepon."Iya, Pak. Eh Lan, aku tinggal dulu ya. Udah dipanggil pak Deon, nih," pamit Nesya."Oke. Selamat berpusing ria ya. Daaa..."Setelah mengucapkan salam perpisahan, Nesya dan Lani segera berpisah. Lani kembali ke ruangannya sedangkan Nesya mengekori Deon menuju ke ruangannya.Sementara itu Runi yang tengah dilanda perasaan







