LOGIN"Tolong … beri aku kesempatan sekali lagi, Embun?" pinta Lintang, tangannya meraih jemari Embun dan menggenggamnya.Kepalanya mendongak menatap wajah Embun yang memandang ke arah lain."Maaf, Mas. Aku tidak bisa.""Embun ... Aku mohon ...., " tambahnya. "Pikiran Bintang, dia baru saja kehilangan ibu kandungnya, sekarang kau juga ingin meninggalkannya?" tambahnya.Tanpa sadar kalimat itu hanya menambah luka hati, menegaskan jika dia hanyalah seorang pengganti pengganti."Kita akan besarkan Bintang sama-sama,” Rayunya. Dia tahu Embun sangat mendambakan seorang anak.“Dia juga anakmu, Embun,” tambahnya berharap Embun luluh.Embun tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Dari dulu lelaki itu tidak pernah sadar, setiap kata, setiap keputusan yang diambilnya seperti pisau yang selalu merobek hatinya.Embun mengembus napas berat. "Keputusanku tetap sama, Mas. Aku yakin kelak kau bisa mendapatkan ibu yang lebih baik untuk Bintang.”Genggaman tangan Lintang perlahan lepas, seperti harapannya. K
Lintang kembali mengunjungi rumah sakit sebelum berangkat ke kantor. Beberapa hari terakhir ini, dia selalu menyempatkan melihat keadaan Bintang terlebih dahulu.Lintang berdiri cukup lama menatap dari balik kaca. Diperhatikannya dada itu masih bergerak, naik turun pelan. Banyak alat yang menempel padanya.Sebuah ketakutan tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, bayi itu akan pergi menyusul Jasmine. Membayangkannya saja hatinya perih.Segera dia menggelengkan kepala pelan mengusir bayangan itu. Dia kembali menatap Bintang. “Sayang … apapun yang terjadi jangan tinggalkan papa,” ucap Lintang lirih. “Papa sayang Bintang,” lanjutnya pedih. Setelah itu Lintang berangkat ke kantor. Namun, pikirannya melayang entah ke mana. Sepanjang rapat, beberapa Lintang dia kehilangan fokus. Matanya terasa berat karena kurang tidur. Kepalanya pun sesekali berdenyut.Setelah rapat selesai, Lintang menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Dia mengusap wajah kasar.Tubuhnya terasa sangat lelah, seolah habis d
Setelah pemakaman selesai, satu persatu para pelayat pergi, meninggalkan Lintang yang membeku di samping pusara sang istriMatanya menatap lekat pada gundukan tanah yang ditaburi bunga itu, seakan masih belum percaya itu benar-benar terjadi. Di sisi lelaki itu berharap jika ini hanyalah mimpi buruk dan seseorang segera membangunkannya. Namun, rasa hancur terlalu nyata untuk disebut mimpi. “Nak …,” Bu Inggrid menyentuh pundak Lintang. Pria itu bergeming. “Ayo pulang, sebentar lagi mau hujan,” lanjutnya. Lelaki itu tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras. Mata itu kembali memerah.“Jasmine sendirian di sini.” Kalimat itu membuat suasana kembali sesak. Bu Inggrid menutup mulutnya karena air mata hendak menerobos. “Jasmine pasti kesepian,” kata Lintang meracau. Bu inggrid semakin tidak kuasa menahan tangisnya. “Bagaimana kalau dia kedinginan?” lanjutnya pilu. Bu Inggrid menatap sayu melihat keadaan anaknya saat ini. “Nak ….” suara Bu Inggrid bergetar. “Lintang masih mau di sini
Lorong rumah sakit terasa sunyi dan dingin. Lintang berdiri di depan kaca bulat ruang NICU, melihat putranya berjuang di dalam sana. Tampak bayi itu terbaring lemah di dalam inkubator, dengan selang-selang yang terpasang di tubuhnya. Diperhatikannya, dada itu naik turun pelan dibantu alat pernapasan. Mata Lintang berkaca-kaca. Hatinya teriris melihat pemandangan itu. Perihnya menjalar ke seluruh tubuh. “Anakku …,” ucapnya lirih. Tangannya bergetar, menempel pada kaca seolah menyentuh si bayi. Embun yang berada di samping Lintang hanya terdiam. Dia tidak tau harus apa. Matanya ikut menatap bayi merah di dalam. Hatinya terenyuh. Ingin rasanya dia membenci bayi itu, tetapi tidak bisa. Bayi itu tidak berdosa, dia tidak berkhianat, meski kehadirannya lahir dari sebuah pengkhianatan. “Kasihan sekali kamu, nak,” batin Embun. Sebuah bulir bening mengalir begitu saja di pipi, Embun cepat-cepat menghapusnya sebelum Lintang menyadarinya.“Meski tante membenci ibumu, tapi tante tidak ingin
“Kenapa memangnya, Ma?” tanya Embun. Kepalanya langsung dipenuhi oleh berbagai prasangka buruk. Pasalnya selama ini, setiap apa yang keluar dari mulut ibu mertua selalu menggores hatinya. “Mama mau kamu menemani Lintang.” Suaranya terdengar bergetar.Embun mengernyitkan dahi mendengar perkataan Bu Inggrid. Prasangka buruk di. Kepalanya makin kuat. “Jasmine kemana, Ma?”“Jasmine … tadi pagi kecelakaan. Sekarang masih di ruang operasi,” sahut Bu Inggrid lesu.Embun menegang mendengarnya. Wanita yang telah melabraknya dengan buas kini terbaring di rumah sakit. Mungkin itu karma pikirnya, seperti tidak punya empati. Persetan dengan empati, hatinya tidak merasakan apa-apa mendengar kabar itu. Tubuhnya menegang karena terkejut. “Lintang terpukul sekali sejak tadi,” lanjut Bu Inggrid lirih. “Mama takut dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri,” lanjutnya. Jujur saja hatinya menolak permintaan itu, dadanya terasa panas. Seolah, jika sesuatu yang buruk dilemparkan kepadanya dan dipaksa
Mobil ambulance berhenti di depan IGD. Pintu langsung dibuka cepat. Beberapa perawat segera berlari membawa brankar. “Cepat! Pasien kritis!”Tubuh Jasmine langsung dipindahkan lalu didorong cepat memasuki ruang tindakan. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari pahan hingga membasahi kain yang menutupinya.“Tekanan darah turun!”“Siapkan ruang operasi!”Para dokter dan perawat bergerak cepat. Suara alat medis saling bersahutan memenuhi ruangan dengan tegang.“Detak janin melemah, Dok!” kata salah satu perawat. Jantung dokter itu langsung mencelos. “Kita harus hentikan perdarahannya sekarang.”Di tengah kepanikan itu, jemari Jasmine bergerak lemah. Kelopak matanya perlahan terbuka.“Bu Jasmine? Anda dengar saya?” tanya dokter. Napas Jasmine tersengal. Pandangannya buram.” “Bayi saya…” lirihnya pelan sambil memegangi perut.“Kami sedang berusaha menyelamatkan Anda dan bayi Anda.”Air mata Jasmine jatuh. Dengan sisa tenaganya, ia menggeleng lemah. “Bayi saya dulu …,” suaranya hampir
Lintang meletakkan kembali makanan itu di atas nakas dengan kasar, dia kesal karena niat baiknya tidak disambut baik oleh Embun. "Terserah! Mau kau makan atau kau buang!" ucap Lintang setelah itu melesat ke luar kamar. "Jasmine, kau sudah tidur?" tanya Lintang setelah memasuki kamar mereka. Ibu hami
Jenar pergi ke sebuah supermarket bersama salah satu PRTnya untuk belanja bulanan. Wanita itu memang tidak pernah melepaskan PRTnya untuk berbelanja sendiri, dia ingin memastikan sendiri bahan makanan yang dipilih berkualitas. Jenar dan sang PRT turun dari mobil dan melenggang menuju ke dalam superm
Embun bersandar pada kepala ranjang sembari memangku laptop memeriksa pekerjaannya. Sejak tadi siang Embun tidak keluar kamar, ia juga tidak peduli apakah Jasmine mau makan atau tidak. "Aku perlu egois juga demi kewarasan diriku sendiri," gumam Embun.Terdengar suara pintu kamar di ketuk, Embun menol
"Aku bertahan demi kamu, Mas. Aku khawatir siapa yang akan menemanimu di saat-saat sulit, saat kau tidak berdaya seperti kemarin, tapi mengapa kau tidak sedikit pun memikirkan perasaanku," gumam Embun sambil memperhatikan mobil sang suami yang kian menjauh. Air matanya kembali tumpah karena hati tid







