Share

Bab 31 | Baby boy

Penulis: Dara Kirana
last update Tanggal publikasi: 2023-09-04 22:05:22

Tiga bulan berlalu …

Sejak kejadian malam itu, Embun harus menerima bahwa kini hati suaminya benar-benar telah terbagi. Pahit memang, tetapi ia harus menelan kenyataan itu.

Embun menghela napas kasar memikirkan jalan hidupnya. Ia menatap wajah yang semakin tirus di cermin, terlihat seperti orang yang mengidap penyakit.

Selama dua bulan ini ia melakukan apa yang Lintang inginkan, Embun berharap sang suami mengingat pengorbanannya satu hari nanti. Ia sudah merelakan batin dan perasaannya tersiks
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MADU YANG BERACUN   Bab 84 | Menjadi Ibu ( End)

    "Tolong … beri aku kesempatan sekali lagi, Embun?" pinta Lintang, tangannya meraih jemari Embun dan menggenggamnya.Kepalanya mendongak menatap wajah Embun yang memandang ke arah lain."Maaf, Mas. Aku tidak bisa.""Embun ... Aku mohon ...., " tambahnya. "Pikiran Bintang, dia baru saja kehilangan ibu kandungnya, sekarang kau juga ingin meninggalkannya?" tambahnya.Tanpa sadar kalimat itu hanya menambah luka hati, menegaskan jika dia hanyalah seorang pengganti pengganti."Kita akan besarkan Bintang sama-sama,” Rayunya. Dia tahu Embun sangat mendambakan seorang anak.“Dia juga anakmu, Embun,” tambahnya berharap Embun luluh.Embun tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Dari dulu lelaki itu tidak pernah sadar, setiap kata, setiap keputusan yang diambilnya seperti pisau yang selalu merobek hatinya.Embun mengembus napas berat. "Keputusanku tetap sama, Mas. Aku yakin kelak kau bisa mendapatkan ibu yang lebih baik untuk Bintang.”Genggaman tangan Lintang perlahan lepas, seperti harapannya. K

  • MADU YANG BERACUN   Bab 83 | Karena Aku Ingin Bahagia

    Lintang kembali mengunjungi rumah sakit sebelum berangkat ke kantor. Beberapa hari terakhir ini, dia selalu menyempatkan melihat keadaan Bintang terlebih dahulu.Lintang berdiri cukup lama menatap dari balik kaca. Diperhatikannya dada itu masih bergerak, naik turun pelan. Banyak alat yang menempel padanya.Sebuah ketakutan tiba-tiba merasuk ke dalam hatinya, bayi itu akan pergi menyusul Jasmine. Membayangkannya saja hatinya perih.Segera dia menggelengkan kepala pelan mengusir bayangan itu. Dia kembali menatap Bintang. “Sayang … apapun yang terjadi jangan tinggalkan papa,” ucap Lintang lirih. “Papa sayang Bintang,” lanjutnya pedih. Setelah itu Lintang berangkat ke kantor. Namun, pikirannya melayang entah ke mana. Sepanjang rapat, beberapa Lintang dia kehilangan fokus. Matanya terasa berat karena kurang tidur. Kepalanya pun sesekali berdenyut.Setelah rapat selesai, Lintang menyandarkan tubuhnya pada kursi kerja. Dia mengusap wajah kasar.Tubuhnya terasa sangat lelah, seolah habis d

  • MADU YANG BERACUN   Bab 82 | Kamu Mencintai Jasmine

    Setelah pemakaman selesai, satu persatu para pelayat pergi, meninggalkan Lintang yang membeku di samping pusara sang istriMatanya menatap lekat pada gundukan tanah yang ditaburi bunga itu, seakan masih belum percaya itu benar-benar terjadi. Di sisi lelaki itu berharap jika ini hanyalah mimpi buruk dan seseorang segera membangunkannya. Namun, rasa hancur terlalu nyata untuk disebut mimpi. “Nak …,” Bu Inggrid menyentuh pundak Lintang. Pria itu bergeming. “Ayo pulang, sebentar lagi mau hujan,” lanjutnya. Lelaki itu tidak langsung menjawab, rahangnya mengeras. Mata itu kembali memerah.“Jasmine sendirian di sini.” Kalimat itu membuat suasana kembali sesak. Bu Inggrid menutup mulutnya karena air mata hendak menerobos. “Jasmine pasti kesepian,” kata Lintang meracau. Bu inggrid semakin tidak kuasa menahan tangisnya. “Bagaimana kalau dia kedinginan?” lanjutnya pilu. Bu Inggrid menatap sayu melihat keadaan anaknya saat ini. “Nak ….” suara Bu Inggrid bergetar. “Lintang masih mau di sini

  • MADU YANG BERACUN   Bab 81 | Suasana Duka

    Lorong rumah sakit terasa sunyi dan dingin. Lintang berdiri di depan kaca bulat ruang NICU, melihat putranya berjuang di dalam sana. Tampak bayi itu terbaring lemah di dalam inkubator, dengan selang-selang yang terpasang di tubuhnya. Diperhatikannya, dada itu naik turun pelan dibantu alat pernapasan. Mata Lintang berkaca-kaca. Hatinya teriris melihat pemandangan itu. Perihnya menjalar ke seluruh tubuh. “Anakku …,” ucapnya lirih. Tangannya bergetar, menempel pada kaca seolah menyentuh si bayi. Embun yang berada di samping Lintang hanya terdiam. Dia tidak tau harus apa. Matanya ikut menatap bayi merah di dalam. Hatinya terenyuh. Ingin rasanya dia membenci bayi itu, tetapi tidak bisa. Bayi itu tidak berdosa, dia tidak berkhianat, meski kehadirannya lahir dari sebuah pengkhianatan. “Kasihan sekali kamu, nak,” batin Embun. Sebuah bulir bening mengalir begitu saja di pipi, Embun cepat-cepat menghapusnya sebelum Lintang menyadarinya.“Meski tante membenci ibumu, tapi tante tidak ingin

  • MADU YANG BERACUN   Bab 80 | Kehadiran Dan Kepergian

    “Kenapa memangnya, Ma?” tanya Embun. Kepalanya langsung dipenuhi oleh berbagai prasangka buruk. Pasalnya selama ini, setiap apa yang keluar dari mulut ibu mertua selalu menggores hatinya. “Mama mau kamu menemani Lintang.” Suaranya terdengar bergetar.Embun mengernyitkan dahi mendengar perkataan Bu Inggrid. Prasangka buruk di. Kepalanya makin kuat. “Jasmine kemana, Ma?”“Jasmine … tadi pagi kecelakaan. Sekarang masih di ruang operasi,” sahut Bu Inggrid lesu.Embun menegang mendengarnya. Wanita yang telah melabraknya dengan buas kini terbaring di rumah sakit. Mungkin itu karma pikirnya, seperti tidak punya empati. Persetan dengan empati, hatinya tidak merasakan apa-apa mendengar kabar itu. Tubuhnya menegang karena terkejut. “Lintang terpukul sekali sejak tadi,” lanjut Bu Inggrid lirih. “Mama takut dia terlalu larut dalam pikirannya sendiri,” lanjutnya. Jujur saja hatinya menolak permintaan itu, dadanya terasa panas. Seolah, jika sesuatu yang buruk dilemparkan kepadanya dan dipaksa

  • MADU YANG BERACUN   Bab 79 | Selamatkan Bayi Saya

    Mobil ambulance berhenti di depan IGD. Pintu langsung dibuka cepat. Beberapa perawat segera berlari membawa brankar. “Cepat! Pasien kritis!”Tubuh Jasmine langsung dipindahkan lalu didorong cepat memasuki ruang tindakan. Wajahnya pucat, darah masih mengalir dari pahan hingga membasahi kain yang menutupinya.“Tekanan darah turun!”“Siapkan ruang operasi!”Para dokter dan perawat bergerak cepat. Suara alat medis saling bersahutan memenuhi ruangan dengan tegang.“Detak janin melemah, Dok!” kata salah satu perawat. Jantung dokter itu langsung mencelos. “Kita harus hentikan perdarahannya sekarang.”Di tengah kepanikan itu, jemari Jasmine bergerak lemah. Kelopak matanya perlahan terbuka.“Bu Jasmine? Anda dengar saya?” tanya dokter. Napas Jasmine tersengal. Pandangannya buram.” “Bayi saya…” lirihnya pelan sambil memegangi perut.“Kami sedang berusaha menyelamatkan Anda dan bayi Anda.”Air mata Jasmine jatuh. Dengan sisa tenaganya, ia menggeleng lemah. “Bayi saya dulu …,” suaranya hampir

  • MADU YANG BERACUN   Bab 70 | Pagi yang Kacau

    Tangan Embun bergerak pelan, menyuap nasi dan lauk ke dalam mulut yang terasa hambar. Rasanya yang tersaji di meja itu bukanlah makanan, tetapi kekecewaan.Matanya selalu menatap layar ponsel yang gelap. Tidak ada pesan masuk, tidak ada panggilan. Hanya sunyi yang menjelaskan perasaan tidak dianggap

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • MADU YANG BERACUN   Bab 69 | Tujuh Bulanan

    Hari yang ditunggu pun tiba. Siang itu kediaman keluarga Yolan Svarga telah disulap menjadi area acara tujuh bulanan yang begitu indah, dengan nuansa biru pastel seperti permintaan Jasmine.Balon-balon bergelantungan di gerbang masuk. Tirai-tirai tipis terikat di tiang-tiang dekorasi. Bunga-bunga d

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • MADU YANG BERACUN   Bab 71 | Manis Di Lidah Lelaki

    Hari yang ditunggu Jenar pun tiba. Namun, pagi ini dia justru sibuk mengurusi Ethan yang tiba-tiba demam. Bayi itu terbangun pukul empat pagi dengan tangisan keras. Setelah diperiksa, suhu tubuhnya cukup tinggi. Jenar mendadak lesu, kecewa. Namun, khawatir keadaan anaknya.Terpaksa dia mengundur ma

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-05
  • MADU YANG BERACUN   Bab 66 | Rencana Tujuh Bulanan

    Di kediaman keluarga Svarga, saat ini mereka tengah menikmati sarapan pagi dengan khidmat. Dentingan piring beradu dengan sendok mengisi ruangan ditambah dengan obrolan ringan yang membuat hubungan kekeluargaan semakin erat.“Lintang, kamu sudah punya rencana untuk syukuran tujuh bulanan istrimu?”

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status