Share

Bab 158—Lanjutkan Saja

Penulis: Ayuwine
last update Tanggal publikasi: 2026-10-09 20:47:07

Bibir mungil Sheila terbuka, perlahan menerima pusaka Malik ke dalam rongga mulutnya. Malik—yang tubuhnya benar-benar membutuhkan pelepasan setelah pertarungan fisik yang panjang—tak sanggup lagi menahan gairah yang sudah membakarnya.

Malik mengerang pelan saat merasakan sensasi yang membuatnya hampir kehilangan kendali. Ia mengusap rambut Sheila dengan lembut, sementara napasnya mulai terdengar tidak teratur.

Tangan Sheila sedikit terangkat meraih tombol shower. Seketika, kucuran air hangat me
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 229-Jangan Ganjen!

    Aris yang mendapatkan tatapan itu seketika merasakan firasat buruk. Seolah-olah sesuatu yang tidak menyenangkan akan segera terjadi. Setelah panggilan terputus, Arya bangkit dari duduknya. “Aris, ikut Papa ke belakang,” titahnya tegas sebelum melangkah lebih dahulu, meninggalkan ruangan. “Ck!” Aris berdecak kesal. Tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Sheila maupun Malik, ia segera menyusul Arya dengan wajah masam. Sheila hanya bisa terdiam menyaksikan kepergian mereka. Ia bahkan tak tahu harus berkata apa, terlebih setelah melihat tatapan sang papa yang begitu dingin kepada Aris. Tatapan yang jarang sekali Arya tunjukkan kepada menantu kesayangannya itu. Ada apa sebenarnya? batin Sheila, diliputi kebingungan. Namun seketika, senyum mengembang muncul di bibir manis Sheila. Perempuan itu seolah berharap agar sang papa terus-menerus merasa kecewa pada Aris. Bagi Sheila, kemarahan dan kekecewaan papanya adalah satu-satunya hal yang bisa membebaskan dirinya dari jeratan

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 228-Tatapan Murka Pak Arya

    Baru saja Pak Arya hendak menjelaskan, suara deru mesin mobil lain terdengar mendekat. Kebetulan mobil Pak Arya belum sepenuhnya masuk ke dalam garasi. Dengan inisiatif cepat, Malik langsung meminta izin untuk memarkirkan mobil sang bos—yang tentu saja disambut anggukan ramah serta serahan kunci mobil dari Pak Arya. ​Saat Malik memundurkan mobil Pak Arya agar mobil Aris bisa masuk, Aris yang baru tiba mendesis sinis di balik kemudi, "Cih... Cari muka!" ​Aris dengan cepat turun dari mobilnya. ​"Aris itu beruntung sekali punya sahabat seperti Malik. Pria itu sangat perhatian, gesturnya sopan, dan tampan lagi," puji Pak Arya yang tak sengaja terdengar oleh Aris. ​Pria itu langsung terdiam kaku, mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan emosi. Sementara Sheila yang mendengar pujian sang ayah hanya bisa terkekeh tipis. ​"Pah..." panggil Aris mendekat, menyalami tangan sang mertua dan berusaha bersikap sopan seperti biasanya. ​"Ris, baru pulang? Bagaimana pekerjaan hari in

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 227-Merasa Kalah Saing

    Lily berteriak histeris merasakan hangatnya sisa roti bakar beserta semburan ludah Aris di wajahnya. Dengan cepat, perempuan itu berlari ke arah toilet, menundukkan kepala sambil mengumpat habis-habisan di dalam hati. ​Malik yang menyaksikan insiden itu kaget bukan main, begitu pula dengan Aris. ​"Ris! Apa yang kamu lakukan?!" tanya Malik. ​"Kamu nyalahin aku?! Ini tuh salah kamu, Lik!" tegas Aris tak mau kalah, membuat Malik makin mengerutkan dahi heran. ​"Lik, ada apa sih? Tadi aku lihat nona cantik itu berteriak dan berlari ke toilet dengan wajah yang..." ​Perkataan Leo yang baru saja datang mendadak terhenti saat matanya tak sengaja menatap Aris yang wajahnya sudah merah padam menahan malu sekaligus amarah yang memuncak. ​"Kenapa kamu natap-natap saya?! Sana masuk ruangan! Jam berapa ini, cepat!" bentak Aris melampiaskan emosinya pada Leo, membuat pria itu terperanjat kaget karena mendadak jadi sasaran empuk. ​Aris kembali menghadap Malik. "Kenapa kamu yang bimbing d

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 226-Semburan Untuk Lily

    Tak terasa jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Itu artinya, setelah jam istirahat usai, Malik sudah harus bersiap membimbing perempuan bermata sipit itu. ​"Lemes banget, Lik?" tanya Andre yang tak sengaja melihat Malik makan sendirian di kantin. Biasanya ada Leo yang menemani, namun kini entah mengapa pria itu tidak terlihat di sisinya—dan Malik pun sama sekali tidak peduli. ​Malik menoleh sekilas. "Biasalah, masalah pekerjaan," balas Malik sekenanya. ​Setelah Andre berlalu, Malik kembali menyantap bekal sarapannya. Seperti biasa, makanan itu disiapkan oleh Sheila. Di balik rasa nikmatnya, Malik masih memikirkan mengapa Sheila masih bersikap jutek padanya. Namun satu hal yang pasti: bekal itu tak pernah absen, dan tentu saja Aris sama sekali tidak tahu tentang ini. ​"Ekhem... Permisi," ucap seseorang tiba-tiba. ​Belum sempat Malik mendongak, perempuan itu kembali bersuara. "Boleh aku ikut bergabung? Kayaknya kamu sendirian." Tanpa menunggu aba-aba, perempuan berambut

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 225-Lily

    ​"Emm... Ii... Iya, Pak," jawab Malik gugup. Pasalnya, sungguh aneh dan janggal kenapa tiba-tiba status pribadi dan asmaranya dipertanyakan secara mendadak. ​"Bagus," balas Pak Arya singkat dan tegas, membuat Malik makin mengernyit heran. ​Keheningan sempat menyapu seisi ruangan itu. Karena tak tahan dengan atmosfer yang serba canggung, Malik memberanikan diri untuk membuka suara. ​"Ada apa ya, Pak?" ​Pak Arya mendongak, menyandarkan penanya di atas meja lalu menegakkan posisi duduknya. ​"Begini, Malik... Perkenalkan dulu, dia Lily, putri dari sahabat saya. Dia ingin magang di perusahaan ini. Kamu pasti sudah tahu kan tujuan Lily datang kesini??" ​Malik mengangguk singkat, menanggapi penjelasan Pak Arya meski sejujurnya masih belum menangkap arah pembicaraan tersebut. ​"Dan Lily, perkenalkan... Ini Malik. Dia karyawan yang terbilang cukup baru di sini, tapi dalam urusan pekerjaan, dia sangat lihai, cekatan, dan disiplin," ucap Pak Arya, kali ini menatap ke arah Lily. ​

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 224-Pertanyaan Aneh Arya

    Semua orang yang berada di sana mengagumi sosok perempuan itu. Pak Arya lantas mengenalkan siapa perempuan itu dan berapa lama ia akan belajar di perusahaan ini. Ternyata, perempuan itu adalah putri dari rekan bisnis Pak Arya yang sedang menjalani masa magang yang mendalami dunia bisnis. ​"Mari masuk... Nanti saya akan mengutus seseorang untuk mengajarimu," ucap Pak Arya ramah. Beliau melangkah melewati deretan karyawan dengan senyum sopan tanpa ada kesan sombong sedikit pun. Semua karyawan memberi hormat, termasuk Malik. ​"Sumpah, moga-moga aku yang terpilih!" oceh Leo antusias. Pria itu tampaknya sangat tertarik dengan kecantikan perempuan berambut bondol tersebut. ​Namun Malik benar-benar acuh tak acuh. Dalam hati, ia justru berdoa agar jangan sampai dirinya yang ditunjuk; pekerjaannya sudah cukup menumpuk tanpa harus ditambah tanggung jawab baru memandu orang lain. ​Aris pun ternyata sejak tadi ada di sana. Pria itu menyunggingkan senyum tipis, mengangkat dagunya penuh p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status