LOGINMalik mengerang panjang menahan amarah yang membendung. Rasanya sangat jengkel; bahkan saat dirinya ingin menikmati pelepasan, Aris selalu muncul mengganggu. Namun karena gairahnya sudah membuncah sampai ke ubun-ubun, Malik memutuskan untuk bersikap acuh—seperti sebelum-sebelumnya, ia menganggap pria di ambang pintu itu tak pernah ada. Malik memilih memfokuskan seluruh perhatiannya pada kenikmatan tubuh istri sahabatnya ini.Jika pada momen-momen awal kemarin,Malik selalu dibayangi rasa canggung , kali ini berbeda. Malik hanya melempar tatapan sekilas ke arah pintu, membiarkan Aris menyaksikan sendiri bagaimana Sheila—istri sahnya—berlutut serta pasrah sepenuhnya pada permainannya.Biarkan Aris menonton betapa Sheila mendominasi dan menikmati tiap sentuhan liar mereka berdua."Shhh... Malik, cepat... Ahhh..." erang Sheila dengan nada kesal karena Malik mendadak menghentikan gerakannya.Demi benar-benar menikmati permainan ini tanpa gangguan, Malik meraih sebuah syal yang kebetulan te
Bibir mungil Sheila terbuka, perlahan menerima pusaka Malik ke dalam rongga mulutnya. Malik—yang tubuhnya benar-benar membutuhkan pelepasan setelah pertarungan fisik yang panjang—tak sanggup lagi menahan gairah yang sudah membakarnya.Malik mengerang pelan saat merasakan sensasi yang membuatnya hampir kehilangan kendali. Ia mengusap rambut Sheila dengan lembut, sementara napasnya mulai terdengar tidak teratur.Tangan Sheila sedikit terangkat meraih tombol shower. Seketika, kucuran air hangat meluncur deras membasahi tubuh tegap Malik serta paras cantiknya sendiri.Sheila memejamkan mata, menikmati bulir air yang membasahi wajahnya. Sementara bagi Malik, nikmatnya lumatan bibir Sheila yang berpadu dengan guyuran air hangat terasa kian memabukkan."Ah, sial... Mbak, ini sangat nikmat... Enghh..." desah Malik seraya sedikit menekan kepala Sheila agar miliknya terbenam makin penuh di dalam rongga mulut perempuan itu.Sheila memejamkan mata rapat-rapat, merasakan kehangatan pusaka Malik ya
Bibir mereka akhirnya bersentuhan. Sheila refleks melingkarkan kedua tangannya di leher Malik, melepaskan pegangannya dari kerah baju pria itu. Malik membalas ciumannya dan menarik tubuh Sheila agar semakin dekat. Kini, tubuh mereka saling menempel tanpa jarak.Lumatannya berlangsung lama dan saling menuntut. Suara decakan manis memenuhi ruang kamar, membuat dada keduanya naik-turun memburu. Ciuman itu terasa makin panas dan bergelora; lidah mereka berbelit di dalam sana."Enghh... mmmhh..." Sheila mendesah pasrah saat merasakan jemari Malik berhasil melepas kaitan bra tak bertali yang ia kenakan hingga terlepas turun ke bawah.Malik memejamkan mata saat jemarinya meremas gundukan kenyal itu, merasakan betapa empuk dan bahagianya kulit di area sana.Lumatan itu terhenti sejenak, membuat keduanya saling terengah-engah. Sheila menatap wajah Malik dengan tatapan sayu, nafas hangatnya menyapu permukaan wajah Malik yang memerah. Malik masih memejamkan mata, menikmati kepalan tangannya yang
Namun, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Malik sejak tadi menahan napas. Jantungnya berdebar kencang saat menatap mata Sheila yang terlihat begitu tenang."Huh, sial... Kenapa kamu selalu membuat jantungku berdebar seperti ini? Bahkan saat bersama Aris, aku tidak pernah merasakan hal seperti ini," gumam Sheila pelan.Di luar dugaan, Sheila memiringkan kepalanya, bersandar pasrah pada dada tegap Malik. Ia memejamkan mata, mengatur napasnya yang sarat akan rasa kekhawatiran yang mendalam."Emm, Mbak..." panggil Malik gugup. Tangannya terangkat, ingin mengelus kepala Sheila, tetapi tertahan oleh rasa tak enak hati."Bisa diam enggak, sih, Lik? Jangan buat ulah! Kamu mau wajah dan tubuhmu habis dihantam para bajingan itu, hah?!" balas Sheila mengerang, namun sama sekali tak melepaskan sandarannya.Mendengar desisan itu, bukannya marah atau tersinggung, Malik malah menyunggingkan senyum tipis. Hatinya menghangat, seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang sedang memeluknya dengan erat.Tan
Rendra tewas seketika di tempat kejadian. Beruntung, ada banyak saksi di lokasi proyek. Saat proses pemeriksaan pasca-eksekusi penembakan terjadi, seluruh pekerja yang ada di sana secara sukarela menjadi saksi untuk membela Malik.Malik benar-benar terguncang. Ia tak menyangka nasib mengerikan seperti ini akan terjadi tepat di depan matanya. Tubuhnya terasa lemas—bukan hanya karena lelah fisik, melainkan karena ia masih memikirkan siapa sosok misterius yang telah menembak Rendra dari kejauhan. Malik mengedarkan pandangannya ke sekeliling, tetapi sialnya, ia tak menemukan jejak sang penembak sama sekali.Setelah insiden berdarah itu, proyek terpaksa dihentikan selama beberapa hari kedepan. Beritanya menggemparkan banyak pihak hingga akhirnya terdengar oleh ayah Sheila, yang otomatis juga sampai ke telinga Sheila sendiri.Ayah Sheila—Arya Wiratama—turun tangan langsung untuk membereskan kekacauan ini sekaligus membela Malik. Setelah melihat kinerja Malik, data-data perusahaan, serta kes
Malik mengulurkan tangannya pada Rendra, berniat membantunya berdiri. Namun hal itu justru membuat Rendra merasa direndahkan. Gengsinya menolak mentah-mentah; ia menganggap dirinya masih sanggup dan belum benar-benar tumbang di hadapan pria itu."Ck! Jangan senang dulu! Kamu tidak menang... aku masih sanggup melawanmu!" balas Rendra seraya menepis kasar uluran tangan Malik.Tindakan itu membuat Malik mengerutkan dahi dan mendesah panjang. Ia merasa sangat jengkel dengan keegoisan Rendra yang tak mau merasa kalah, padahal jelas-jelas pria itu sudah kalah telak. Gengsinya benar-benar membubung tinggi."Sudah cukup, Pak Rendra. Jangan memancing amarah saya lebih dalam lagi," ujar Malik. Ia sedikit meringis, merasakan luka di telapak tangannya berdenyut nyeri luar biasa.Mendengar ringisan itu, amarah Rendra justru makin tersulut. Ia merasa inilah saatnya untuk membalas, berpikir Malik mulai melemah karena darah segar terus merembes menembus balutan kainnya.Melihat kilat permusuhan di m







