LOGINLeo yang menyaksikan pemandangan itu seketika menegang. Matanya membelalak kaku tanpa berkedip.Sementara itu, air dari hoodie basah Malik mulai merembes ke pakaian Sheila, membuat perempuan itu ikut basah kuyup. Namun, keduanya masih dalam posisi yang sama, tak bergeming menatap satu sama lain."Malik, are you okay?! Aku... aku enggak bisa duduk tenang sejak tadi!" ucap Sheila spontan.Perempuan itu langsung memeluk erat tubuh tegap Malik. Wajah cantiknya menempel pas di dada bidang Malik yang terbungkus hoodie basah. Sheila sama sekali tak merasa terganggu oleh dinginnya air hujan yang meresap.Malik membeku. Ia tak pernah menyangka akan mendapat respons dan perlakuan semanis ini dari Sheila. Perasaan hangat seketika menjalar ke seluruh aliran darahnya, seolah menyuplai ulang energinya yang sempat terkuras habis akibat dikeroyok tujuh orang tadi.Tangan Malik yang melingkar di pinggang Sheila semakin mempererat pelukannya. Ia menarik tubuh Sheila agar menempel sepenuhnya dalam pangk
Bugh!Bugh!Brakkk!Malik lagi-lagi melumpuhkan kedua pria terakhir itu dengan gerakan tubuh yang cepat dan efisien. Pukulan menggelegar dilayangkan tepat ke rahang musuh, disusul gerakan menangkis serangan yang amat presisi.Bahkan saat tinju dari salah satu musuh nyaris menghantam wajahnya, Malik dengan cepat memiringkan kepala ke samping—membuat pukulan keras itu hanya meninju angin.Memanfaatkan celah tersebut, Malik langsung merendahkan tubuhnya, menjatuhkan diri, dan mengayunkan sapuan kaki (sweep kick) yang menghantam keras kedua pergelangan kaki musuh! Kedua pria bertubuh besar itu seketika kehilangan keseimbangan, terhuyung, dan terjerembap keras ke tanah yang basah."Kurang ajar! Kaparat!" teriak salah seorang pengeroyok seraya meringis menahan perih luar biasa di kakinya.Namun, Malik hanya menatap mereka dengan tatapan datar. Saat ini, yang terpenting baginya adalah menyelamatkan Leo secepat mungkin. Anak buah pria asing itu terlihat cukup banyak, jadi Malik tidak boleh me
Malik menatap tajam wajah-wajah ganas di sekelilingnya satu per satu. Tanpa rasa gentar sedikit pun, ia kembali memasang kuda-kudanya.Seorang musuh menyerang maju dengan pukulan bertubi-tubi. Dengan sigap, Malik menangkis serangan demi serangan dari kelima orang itu secara beruntun. Leo yang menyaksikan dari kejauhan merasa waswas luar biasa, terlebih hujan di luar gedung tua ini mengucur kian deras.Pukulan dan tendangan saling berbalas. Namun harus diakui, dikeroyok lima pria berbadan besar sekaligus cukup menguras stamina Malik. Sebuah tendangan samping yang melayang cepat berhasil menembus pertahanan dan menghantam rusuknya!"Ah!"BRUK!Malik mengerang saat tubuhnya terdorong ke belakang, menghantam meja kayu lapuk hingga hancur berkeping-keping."Enghh..."Malik meringis, menahan nyeri hebat yang menjalar di punggung dan perutnya.Melihat Malik terhempas, Leo kian panik. Secara sembunyi-sembunyi, jemari tangan Leo yang terikat di belakang kursi mulai bergerak giat mencoba melong
Malik membalas tatapan pria itu dengan tatapan yang begitu tajam.Namun, ada satu hal yang membuat Malik merasa aneh sekaligus gusar—ia seperti tidak asing dengan tempat ini.Malik membuka pintu mobilnya, lalu membantingnya hingga tertutup dengan keras. Pria itu melangkah maju menghampiri mereka dengan gestur tubuh yang tegap dan rahang yang mengeras kaku.Kedua tangannya disembunyikan di dalam saku hoodie hitamnya. Tatapan matanya menggelap, namun seolah menyalakan kilat berbahaya di tengah pekatnya malam dan bayangan tudung hoodie yang menutupi sebagian wajahnya.Kondisi Leo saat ini sungguh mengkhawatirkan."Siapa kalian? Kenapa menyakitinya dan dari mana kalian mengenalku?" tanya Malik tanpa berniat basa-basi sedikit pun.Pria itu terkekeh pelan. Ia merasa tertantang melihat keberanian Malik yang berdiri tegak tanpa menyiratkan rasa takut sedikit pun di matanya."Kamu akan segera mengetahuinya..." balas pria itu.Tanpa peringatan, ia mengarahkan moncong pistolnya tepat ke kepala L
Di layar ponsel itu, tampak Leo terikat di atas kursi dengan tangan kebelakang dan wajah yang sudah babak belur."Cepat ke sini! Aku akan memberikan alamatnya. Jika telat dalam sejam, kamu akan menemukan dia tinggal nama," ucap pria misterius di balik ponselnya.Malik melotot tajam. Rahangnya semakin mengeras hingga otot-otot di pipinya berkedut menahan amarah."Saya tidak main-main, Malik. Kalau saja kamu telat..."Pria itu berjalan mundur perlahan, lalu mencengkeram dan menarik rambut Leo dengan kuat hingga kepala sahabatnya itu mendongak menghadap kamera. Wajah Leo sangat memprihatinkan—sudah babak belur dan lebam di mana-mana.Tangan Malik yang menggenggam ponsel meremasnya dengan sangat kuat."Pilihan ada di tanganmu, Malik: membiarkan sahabatmu mati atau menolongnya. Waktu dimulai dari sekarang! Aku tidak main-main... Telat beberapa menit saja, pria sialan ini akan mati!"Tuuut!Panggilan video itu terputus begitu saja. Malik membelalakkan matanya.Ting!Sebuah notifikasi masuk.
Malik pulang di tengah guyuran hujan yang sangat lebat. Ia menyetir mobil dengan perasaan yang tak karuan.Di mana Leo? batinnya terus bertanya-tanya. Malik sudah beberapa kali mencoba menelpon ke ponsel Leo, namun tak kunjung ada jawaban. Panggilan yang hampir kesepuluh kalinya itu bahkan mendadak berubah menjadi tidak aktif.Di sanalah kepanikan Malik mulai memuncak. Perjalanan menuju rumah yang seharusnya hanya menempuh waktu tiga puluh menit, kali ini membengkak hingga enam puluh menit akibat cuaca buruk dan beban pikiran yang berkecamuk.Dengan perasaan cemas yang makin membakar, Malik memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.Ia berlari menembus hujan deras masuk ke dalam rumah hingga pakaiannya basah kuyup. Malik langsung membuka pintu depan, tanpa menyadari sejak awal bahwa pintu rumahnya sama sekali tidak terkunci.Mata Malik seketika membelalak kaget saat melihat siapa yang sedang berada di hadapannya. Seorang perempuan duduk di sofa dengan tatapan tajam dan kedua tangan terlipa







