Home / Romansa Pria / Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat / Bab 218-Tak Memakai Perasaan

Share

Bab 218-Tak Memakai Perasaan

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-10-26 21:13:49

Permainan Aris begitu kasar. Dalam sekali hentakan, ia langsung melesakkan miliknya ke dalam liang kewanitaan Sheila.

Perempuan itu memekik dan menjerit menahan sakit yang luar biasa! Pasalnya, Aris tak pernah memberikan pemanasan sedikit pun, atau sekadar memastikan Sheila sudah cukup basah. Pria itu langsung saja menghujamkan miliknya tanpa ampun.

Hal itulah yang selalu membuat Sheila emosi. Selain durasinya yang selalu sangat singkat, Aris juga jarang memedulikan kenyamanan dan kepuasa
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 219-Merasa Tidak Puas

    Sheila berdiri di sana dengan rambut yang masih basah, membuat Malik seketika paham alasan perempuan itu mandi larut malam begini. Pria itu berdehem pelan seraya memalingkan wajah ke arah lain—sebuah gestur menghindar yang justru membuat mata Sheila berkaca-kaca menahan perih. "Kamu mau ke mana?" tanya Sheila berusaha membuka percakapan,hal berbasa-basi yang sebenarnya selalu Sheila hindari. "Pulang, Mbak," jawab Malik lesu. Namun tepat setelah Malik mengucapkannya, Sheila melangkah cepat dan menarik lengan Malik secara paksa menuju area taman belakang yang sepi. Malik terbelalak kaget. Tenaganya seolah terkuras habis menghadapi benturan emosi dan perasaan serba salah sejak tadi, sehingga ia memilih pasrah. Namun, matanya tak bisa lepas dari sosok Sheila; rambutnya yang basah meneteskan sisa air, memendarkan aroma sabun dan sampo yang menguar wangi menyerbu indra penciuman Malik. Tanpa membuang waktu, Sheila melepaskan genggaman tangannya dengan kasar, lalu mendorong dan

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 218-Tak Memakai Perasaan

    Permainan Aris begitu kasar. Dalam sekali hentakan, ia langsung melesakkan miliknya ke dalam liang kewanitaan Sheila. Perempuan itu memekik dan menjerit menahan sakit yang luar biasa! Pasalnya, Aris tak pernah memberikan pemanasan sedikit pun, atau sekadar memastikan Sheila sudah cukup basah. Pria itu langsung saja menghujamkan miliknya tanpa ampun. Hal itulah yang selalu membuat Sheila emosi. Selain durasinya yang selalu sangat singkat, Aris juga jarang memedulikan kenyamanan dan kepuasan istrinya di atas ranjang. Perlakuan buruk Aris inilah yang membuat Sheila sering kali secara tak sadar membayangkan gairah dan kelembutan Malik. Sheila mengerang—bukan karena kenikmatan, melainkan akibat rasa perih yang melilit di bagian bawahnya saat Aris terus memaju-mundurkan pinggangnya. Tangan Sheila mencengkeram sprai erat-erat, berusaha mengusir rasa sakit yang menyiksa. Namun setiap hentakan kasar Aris justru membuat liangnya makin perih bukan main. Meski ukuran milik Aris jauh

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 217—Rasa Sesak

    Aris benar-benar menjatuhkan harga diri Sheila serendah-rendahnya.Gumaman itu meluncur dari bibir Malik seraya ia mengepalkan kedua tangannya. Melihat ekspresi kaget sekaligus amarah yang tertahan di wajah Malik, Aris justru tersenyum puas sebelum melangkah pergi.Mungkin jika pria lain yang melakukannya, Malik sudah menghajarnya babak belur tanpa ampun. Namun ini Sheila... dan pria itu adalah suaminya sendiri. Entah mengapa, ada perasaan asing yang bergejolak di dada Malik—seolah-olah dirinya merasa kamilah yang paling berhak atas Sheila.Malik mendengus sinis, membuang muka dengan rasa jijik yang amat sangat. Apalagi saat ia melihat punggung Aris melangkah dengan gagah kembali ke arah atas menuju kamar tempat Sheila berada.Drrrtt... Drrrtt...Ponsel di saku celananya berdering. Malik mengambilnya dan melihat layar benda pipih tersebut."Lik, aku di luar nih, di pos satpam," ucap Leo dari seberang sambungan.Malik mengerutkan dahi kebingungan. Apa urusannya si Leo malam-malam begin

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 216—Lagi?

    "Mas... Serius kamu mengatakan hal sekeji itu padaku?!" tanya Sheila dengan suara bergetar hebat—antara sakit hati yang mendalam dan emosi yang sudah meluap-luap. Untuk pertama kalinya, Malik merasa dirinya begitu pengecut karena tak bisa bertindak bebas. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin melayangkan bogeman mentah untuk menghantam wajah Aris dengan kepalan tangannya. "Ris... Apa yang kamu katakan? Sheila bukan barang yang bisa kamu lempar ke sana-sini dengan bebas!" desis Malik. Ia berusaha tetap bersikap sopan, meski nada suaranya begitu berat. Aris memang sangat suka memancing emosi Malik dan selalu menunggu momen puncaknya. Namun sayangnya, Malik bukanlah pria impulsif. Jika akal sehatnya masih bisa dipergunakan, mengapa harus mengedepankan emosi semata? "Sheila sepertinya jauh lebih menikmati saat bersamamu, Lik... Tapi sayang sekali, aku gak boleh melupakan hakku atas dirinya. Masa kamu terus yang 'memakainya'?" provokasi Aris berani. "Ris, cuku

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 215—Aris Yang Menyebalkan

    Mendengar pertanyaan itu, Malik membeku. Ia menelan ludah dengan kasar, bingung harus menjawab apa karena sekujur tubuhnya terasa kaku seketika. "Malik..." panggil Sheila lagi, membuat pria itu perlahan menoleh menatap manik mata Sheila yang tampak sayu dan berkaca-kaca. Sheila menghela napas panjang, begitu pula dengan Malik. Keduanya sama-sama dilanda kebingungan harus bersikap dan merespons seperti apa. "Enggak kok, Mbak..." jawab Malik gugup. Ia memang tak terbiasa berbohong, membuat hatinya merasa sangat gelisah. Malik seolah tengah berperang dengan batinnya sendiri, mencoba membenarkan sekaligus menyalahkan apa yang ia saksikan. Ia menundukkan kepala. Kedua tangannya mengepal begitu kuat , membuat Sheila yang melihatnya merasa semakin gelisah. "Malik, ngomong dong ?! Bisu, hah?" Sheila, yang memang tak pernah sabar menghadapi keheningan, akhirnya kembali membuka suara setelah keduanya sempat terdiam dengan pikiran masing-masing. "Mbak ... aku bingung harus menja

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 214—Pertanyaan Sheila

    Malik melotot tajam karena kaget, Dengan jantung yang bergemuruh hebat, Malik cepat-cepat membalikkan badan, menuruni tangga dengan tergesa-gesa, lalu duduk di ruang utama,posisi tempat ia bisa melihat tangga menuju kamar Sheila dan Aris dengan sangat jelas. Beberapa kali Malik mencoba mengatur napasnya. Ia memejamkan mata rapat-rapat, mendengus kasar berulang kali, dan membenarkan posisi duduknya. Ia benar-benar merasa gelisah luar biasa; kedua tangannya saling bertaut erat di atas paha. "Sialan!" umpatnya seraya mengeluarkan sebatang rokok pemberian Leo yang waktu itu sama sekali belum tersentuh. Kini Malik membukanya. Ia menatap sebatang rokok itu dengan pandangan yang sulit diartikan. Malik meraup napas dalam, seolah-olah udara di sekitarnya mendadak hilang. Dengan tangan yang sedikit bergetar, Malik menyelipkan rokok itu pada bibir tipisnya lalu menyalakan pemantik. Setelah ujungnya menyala, ia menyesapnya dalam-dalam, meresapi setiap gulungan asap yang memenuhi teng

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status