Share

Bab 219-Merasa Tidak Puas

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-10-26 21:59:20

Sheila berdiri di sana dengan rambut yang masih basah, membuat Malik seketika paham alasan perempuan itu mandi larut malam begini.

Pria itu berdehem pelan seraya memalingkan wajah ke arah lain—sebuah gestur menghindar yang justru membuat mata Sheila berkaca-kaca menahan perih.

"Kamu mau ke mana?" tanya Sheila berusaha membuka percakapan,hal berbasa-basi yang sebenarnya selalu Sheila hindari.

"Pulang, Mbak," jawab Malik lesu.

Namun tepat setelah Malik mengucapkannya, Sheila melangkah c
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 221-Terlalu Terbuka

    Sesampainya di balkon, Malik menatap sekeliling. Tempat ini benar-benar terbuka lebar; bahkan dari sudut ini, Malik mampu melihat deretan perumahan yang berjarak cukup jauh dari kediaman Sheila. ​Glek! ​Malik menelan ludah kasar. Jujur saja, saat ini dirinya merasa sedang sangat ditantang oleh keadaan. ​"Mbak yakin?" tanya Malik memastikan, berharap perempuan di hadapannya mengurungkan niat gila ini. ​Namun Sheila sama sekali tak goyah. Ia menarik sebuah kursi yang ada di sana, mendudukinya, lalu tanpa ragu membuka kedua pahanya lebar-lebar tepat di hadapan Malik yang berdiri terpaku. Malik membeku, terpana melihat keberanian Sheila yang kini sudah sepenuhnya dikuasai kabut gairah. ​"Ayo, Honey..." bisik Sheila. ​Malik tak ingin membuang waktu. Sejenak ia memejamkan mata, menyandarkan pandangan sekali lagi ke sekeliling untuk memastikan tak ada sepasang mata pun yang melihat. Sungguh, Malik enggan membiarkan keindahan dan kemolekan tubuh Sheila disaksikan oleh orang la

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 220-Balkon?

    ​"Mbak...?" ​Namun, baru saja Malik ingin melanjutkan perkataannya, jari lentik Sheila sudah bersarang lembut di atas bibirnya, membuat pria itu langsung bungkam dan mengatupkan rahang rapat-rapat. ​"Ssshhh..." ​Malik menelan ludah dengan kasar. Elusan lembut itu justru membuatnya semakin kehilangan akal. Bayangan saat melihat Sheila bersama sang suami kembali berkelebat, memicu rasa perih yang membakar. Tanpa ragu, ia merengkuh tubuh Sheila erat-erat, meresapi kehangatan dari rambut perempuan itu yang masih basah. ​"Maaf, Mbak... Aku sudah gak tahan," bisik Malik. ​Ia langsung menyambar bibir Sheila dengan penuh rasa lapar, seolah menumpahkan seluruh sisa kecemburuan dan amarahnya di sana. Sheila membalas ciuman itu dengan sama menggeburnya, seolah melupakan sepenuhnya rasa perih di bagian bawah tubuhnya. lidah keduanya saling bertaut. Ciuman yang tadinya beringas dan menuntut kini berubah menjadi lembut namun menghanyutkan. Desahan-desahan kecil lolos dari bibir Sheila

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 219-Merasa Tidak Puas

    Sheila berdiri di sana dengan rambut yang masih basah, membuat Malik seketika paham alasan perempuan itu mandi larut malam begini. Pria itu berdehem pelan seraya memalingkan wajah ke arah lain—sebuah gestur menghindar yang justru membuat mata Sheila berkaca-kaca menahan perih. "Kamu mau ke mana?" tanya Sheila berusaha membuka percakapan,hal berbasa-basi yang sebenarnya selalu Sheila hindari. "Pulang, Mbak," jawab Malik lesu. Namun tepat setelah Malik mengucapkannya, Sheila melangkah cepat dan menarik lengan Malik secara paksa menuju area taman belakang yang sepi. Malik terbelalak kaget. Tenaganya seolah terkuras habis menghadapi benturan emosi dan perasaan serba salah sejak tadi, sehingga ia memilih pasrah. Namun, matanya tak bisa lepas dari sosok Sheila; rambutnya yang basah meneteskan sisa air, memendarkan aroma sabun dan sampo yang menguar wangi menyerbu indra penciuman Malik. Tanpa membuang waktu, Sheila melepaskan genggaman tangannya dengan kasar, lalu mendorong dan

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 218-Tak Memakai Perasaan

    Permainan Aris begitu kasar. Dalam sekali hentakan, ia langsung melesakkan miliknya ke dalam liang kewanitaan Sheila. Perempuan itu memekik dan menjerit menahan sakit yang luar biasa! Pasalnya, Aris tak pernah memberikan pemanasan sedikit pun, atau sekadar memastikan Sheila sudah cukup basah. Pria itu langsung saja menghujamkan miliknya tanpa ampun. Hal itulah yang selalu membuat Sheila emosi. Selain durasinya yang selalu sangat singkat, Aris juga jarang memedulikan kenyamanan dan kepuasan istrinya di atas ranjang. Perlakuan buruk Aris inilah yang membuat Sheila sering kali secara tak sadar membayangkan gairah dan kelembutan Malik. Sheila mengerang—bukan karena kenikmatan, melainkan akibat rasa perih yang melilit di bagian bawahnya saat Aris terus memaju-mundurkan pinggangnya. Tangan Sheila mencengkeram sprai erat-erat, berusaha mengusir rasa sakit yang menyiksa. Namun setiap hentakan kasar Aris justru membuat liangnya makin perih bukan main. Meski ukuran milik Aris jauh

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 217—Rasa Sesak

    Aris benar-benar menjatuhkan harga diri Sheila serendah-rendahnya.Gumaman itu meluncur dari bibir Malik seraya ia mengepalkan kedua tangannya. Melihat ekspresi kaget sekaligus amarah yang tertahan di wajah Malik, Aris justru tersenyum puas sebelum melangkah pergi.Mungkin jika pria lain yang melakukannya, Malik sudah menghajarnya babak belur tanpa ampun. Namun ini Sheila... dan pria itu adalah suaminya sendiri. Entah mengapa, ada perasaan asing yang bergejolak di dada Malik—seolah-olah dirinya merasa kamilah yang paling berhak atas Sheila.Malik mendengus sinis, membuang muka dengan rasa jijik yang amat sangat. Apalagi saat ia melihat punggung Aris melangkah dengan gagah kembali ke arah atas menuju kamar tempat Sheila berada.Drrrtt... Drrrtt...Ponsel di saku celananya berdering. Malik mengambilnya dan melihat layar benda pipih tersebut."Lik, aku di luar nih, di pos satpam," ucap Leo dari seberang sambungan.Malik mengerutkan dahi kebingungan. Apa urusannya si Leo malam-malam begin

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 216—Lagi?

    "Mas... Serius kamu mengatakan hal sekeji itu padaku?!" tanya Sheila dengan suara bergetar hebat—antara sakit hati yang mendalam dan emosi yang sudah meluap-luap. Untuk pertama kalinya, Malik merasa dirinya begitu pengecut karena tak bisa bertindak bebas. Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin melayangkan bogeman mentah untuk menghantam wajah Aris dengan kepalan tangannya. "Ris... Apa yang kamu katakan? Sheila bukan barang yang bisa kamu lempar ke sana-sini dengan bebas!" desis Malik. Ia berusaha tetap bersikap sopan, meski nada suaranya begitu berat. Aris memang sangat suka memancing emosi Malik dan selalu menunggu momen puncaknya. Namun sayangnya, Malik bukanlah pria impulsif. Jika akal sehatnya masih bisa dipergunakan, mengapa harus mengedepankan emosi semata? "Sheila sepertinya jauh lebih menikmati saat bersamamu, Lik... Tapi sayang sekali, aku gak boleh melupakan hakku atas dirinya. Masa kamu terus yang 'memakainya'?" provokasi Aris berani. "Ris, cuku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status