Home / Romansa Pria / Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat / Bab 246-Amarah Yang Tidak Berdasar

Share

Bab 246-Amarah Yang Tidak Berdasar

Author: Ayuwine
last update publish date: 2026-11-04 22:25:58

Sheila berteriak histeris, bahkan refleks membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan saat menyaksikan adegan itu.

Malik yang sedang tidak siap sama sekali tak sanggup mengelak. Pipinya dihantam pukulan mentah nan kuat dari sahabatnya sendiri. Bibirnya seketika robek dan meneteskan darah segar.

"Kurang ajar kamu, Malik! Penjilat! Cih!" umpat Aris seraya meludah ke samping.

Sheila melangkah mundur beberapa pijakan dengan pandangan sangat syok.

"Mas!"

Aris menoleh ke arah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 247-Rencana?

    "Ris, kamu apa-apaan sih?! Tahan! Kamu kenapa?!" sela Malik cepat. Ia berusaha meredam amarahnya dengan susah payah, sebab pria di hadapannya ini seolah-olah mengamuk tanpa alasan yang jelas. Namun Aris yang sudah naik pitam dihinggapi rasa iri luar biasa itu tanpa segan-segan memuntahkan semua alasan kekesalannya. Begitu mendengar penjelasan Aris, baik Malik maupun Sheila seketika melotot kaget! "Apa?! Ke Amerika?!" pekik Sheila terperanjat, seolah kaget tak percaya dengan keputusan sang Papa. "Kenapa harus Malik? Kenapa gak kamu, Mas?!" "Itu dia! Kenapa harus dia?! Kenapa gak aku saja?! Seolah-olah dia itu anak kesayangan Papamu, Sheila!" desis Aris penuh nada tidak terima pada keputusan mertuanya sendiri. "Aku membawamu masuk ke kantor bukan untuk menjadikanmu naik pangkat dan setara denganku, Malik! Kamu gak akan pernah setara denganku, jangan mimpi! Pergilah dari kantor ini, aku pecat kamu!" desis Aris tajam, membuat mata Sheila membelalak lebar. "Ris, tenangkan dir

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 246-Amarah Yang Tidak Berdasar

    Sheila berteriak histeris, bahkan refleks membungkam mulutnya sendiri dengan kedua telapak tangan saat menyaksikan adegan itu. Malik yang sedang tidak siap sama sekali tak sanggup mengelak. Pipinya dihantam pukulan mentah nan kuat dari sahabatnya sendiri. Bibirnya seketika robek dan meneteskan darah segar. "Kurang ajar kamu, Malik! Penjilat! Cih!" umpat Aris seraya meludah ke samping. Sheila melangkah mundur beberapa pijakan dengan pandangan sangat syok. "Mas!" Aris menoleh ke arah Sheila dengan tatapan mata tajam membunuh. "Diam kamu, Sheila! Kenapa kalian berdua makin hari makin dekat, hah?! Bukannya makin cepat bikin kamu hamil, Malik ini malah jadi penjilat! Dia itu ular! Sudah aku tolong, malah menusuk dari belakang! Dia diam-diam mau menjatuhkan aku, Sheila!" teriak Aris membabi buta. Beberapa satpam di pekarangan rumah yang menyaksikan hal itu langsung mundur perlahan, takut kena amuk pertengkaran majikan mereka. Malik yang mendengar tuduhan itu hanya bisa menge

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 245-Pukulan Untuk Malik

    Sheila memutar bola matanya malas, berdecak sebal. "Aku usahakan deh, Mbak... Eh, Sheila," balas Malik ragu-ragu, membuat Sheila tak sanggup menahan kekeh geli dari bibirnya. Keduanya lantas masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam kabin terasa semakin hangat dan mencair, apalagi Malik kini sudah mulai memberanikan diri berusaha memanggil nama perempuan itu langsung tanpa embel-embel formal. "Akhirnya si Lily diseret Papanya! Lagian, apa sih yang dia sukai dari kamu? Kesel deh!" desis Sheila mencibir saat mereka sudah melaju beberapa menit di jalan raya. Malik sama sekali tidak merasa tersinggung. Pria itu hanya mengukir senyum tipis di bibirnya. Malam semakin larut saat mereka akhirnya tiba di depan pekarangan rumah. Begitu mobil berhenti, Malik bersiap turun untuk memasukkan kendaraan tersebut, namun Sheila menahannya. "Pak Satpam, tolong masukkan mobilnya ke garasi ya," titah Sheila pada sang satpam yang langsung diangguki patuh. " Mbak, padahal biar aku saja... Kan bi

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 244-Panggil Namaku

    "Sheila, ngapain kamu ada di sini? Terus ngapain lancang banget pakai ngadu segala ke Papaku?!" desis Lily murka. Ia berniat menerjang dan meraih tubuh Sheila. Namun dengan sigap, Malik langsung maju dan berdiri di depan Sheila—menjadikan tubuhnya sebagai tameng bagi perempuan itu. Tentu saja pemandangan tersebut membuat hati Lily bagaikan terbakar bara; ia amat geram melihat pria yang dicintainya sejak pandangan pertama justru membela wanita lain. "Malik! Apa-apaan kamu?!" pekik Lily histeris, menatap tajam penuh kebencian ke arah sang pria. Di balik punggung tegap Malik, Sheila tersenyum puas sembari menatap pria itu. Aroma parfum maskulin yang khas menguar lembut, memenuhi indra penciumannya. Meski Malik baru saja melewati hari yang melelahkan di lapangan, pria itu selalu pandai menjaga kebersihan dan kesegaran tubuhnya. Tak heran jika aroma tubuhnya tetap wangi dan menyenangkan, seolah kelelahan setelah seharian bekerja tak pernah mengurangi pesonanya sedikit pun. "Sa

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 243-Lily Yang Nekat

    Perempuan itu adalah Lily. Wanita berambut bondol itu bahkan dengan lancang langsung duduk tepat di hadapan Malik, menghalangi pandangannya ke arah Sheila yang berada cukup jauh dari sana. "Aku gak sendirian, Bu Lily," bohong Malik sambil berusaha melihat ke arah Sheila. Namun, Lily terus menggeser posisi kepalanya mengikuti arah mata Malik, menyulitkan pria itu untuk memantau keberadaan Sheila. "Masa sih? Berdua sama siapa? Ah, jangan bohong, Malik... Aku suka deh sama pria yang jual mahal begini, gak gampangan! Aku justru makin tertantang," ucap Lily blak-blakan. Tatapannya menatap nakal ke arah Malik, menelisik setiap inci tubuh pria itu hingga membuat Malik merasa seolah sedang dikuliti. Malik bingung harus merespons apa. "Gak usah gugup gitu ah..." lanjut Lily seolah sangat paham dengan kecanggokan pria di hadapannya. "Maaf, Bu Lily, sepertinya—" "Cukup ya, Malik! Jangan berusaha menjauh terus dari aku! Aku kurang apa coba buat kamu? Aku cantik, berpendidikan tinggi

  • Hari-Hari Memanjakan Istri Sahabat   Bab 242-Kiriman Foto

    "Kenapa, Ris?" "Ah, enggak, Pah... Aku cuma ikut senang aja," balas Aris sambil tersenyum kecil—berbanding terbalik dengan isi hatinya yang begitu panas. Sementara itu, Malik sedang mengunyah roti lapis sambil mengawasi jalannya proyek di tengah jam kerjanya. Pria itu benar-benar bekerja sangat keras. Namun di balik kesibukannya, hubungan antara dirinya dan Sheila justru semakin mencair; keduanya kini bahkan sudah sering bertukar pesan. "Lik, udah makan siang?" Malik tersenyum tipis, pipinya menggembung penuh oleh gigitan roti saat membaca pesan dari istri sahabatnya itu. "Sudah, Mbak. Ini lagi makan roti," balas Malik cepat, lalu menekan tombol kirim. Pesan itu langsung dibaca oleh Sheila detik itu juga. "Pak Malik!" panggil salah seorang pekerja proyek, membuat Malik menoleh dan lekas menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Pria tegap itu bangkit berdiri sambil menyuapkan sisa roti terakhir ke dalam mulutnya. "Ada Pak Arya di depan, Pak," lapor pekerja itu dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status