Share

Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi
Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi
Author: Otinel

Bab 1

Author: Otinel
last update publish date: 2026-09-24 03:01:41

Kalau bukan karena ibuku menikah lagi dengan pria yang kekayaannya bisa menyelamatkan ekonomi kami, aku tidak akan sudi bertemu lagi dengan pria menyebalkan dari SMA-ku dulu!

"Risa, ini Jason, sekarang kamu panggil dia kakak. Ayo, sapa dia," ucap ibuku dengan lemah lembut, menarik lenganku agar mendekat.

Di depanku, pria tinggi berwajah cuek itu menatapku sekilas, sebelum tatapannya kembali pada ponsel di tangannya. Dia terlihat tidak tertarik.

Aku tidak mau terlihat tidak sopan di depan keluarga baru kami. Dan lebih dari itu, aku tidak ingin mempermalukan ibuku. Jadi, aku pasang senyum terbaikku.

"Kak Jason ... halo," ucapku dengan nada sopan.

Jason tidak membalas. Samar-samar, aku berhasil menangkap bagaimana satu sudut bibirnya terangkat. Laki-laki itu tertawa!

Aku menahan perasaan kesal dalam hati. Tentu saja aku tidak bisa terang-terangan menunjukkannya karena aku sedang berada di depan ayah baruku. Ini adalah acara makan malam pertama kami sebagai keluarga.

Ibuku tampak puas dengan sikapku. Ia lalu melangkah mendekat dan menarik lengan Robert; pria yang dinikahinya seminggu lalu, sekaligus ayah Jason.

"Ayo, kita masuk." Mereka berdua berjalan duluan ke dalam ruangan VIP di restoran mewah yang baru pertama kali aku datangi ini.

Ya, aku baru bertemu dengan mereka meski Ibu menikahi Robert seminggu yang lalu. Selama ini, aku tinggal jauh dari Ibu karena berkuliah di universitas di luar kota. Aku hanya dengar soal kabar pernikahan ibuku lewat telepon. Sekarang, aku baru bisa pulang setelah menyelesaikan ujian akhir semesterku.

Aku melirik Jason sejenak. Tidak diduga, tatapan kami bertemu. Tapi aku mengalihkan wajah dan hendak berjalan mendahuluinya. Kalau tidak di depan orang tua kami, aku akan mengabaikannya, begitulah keputusanku.

"Lama tidak ketemu. Kamu bahkan tidak menyapaku dengan benar?"

Suara dalam Jason terdengar. Ternyata aku masih mengenal suaranya bahkan setelah tiga tahun.

Langkahku terhenti. Aku menoleh ke arahnya dengan kening berkerut. "Cuma ada aku di sini. Tidak usah bersikap sok akrab."

Jason terkekeh pelan, lalu melangkah mendekat. Suara tapak sepatu mahalnya beradu dengan lantai, sampai ia berhenti tepat di depanku. Karena tubuhnya yang tinggi, saat menatapku begini, ia terlihat seperti merendahkanku.

"Jangan pasang wajah cemberut begitu. Kamu adikku sekarang. Kamu tidak dengar perintah ibumu tadi? Bersikaplah patuh dan panggil aku 'kakak'," ucapnya dengan nada jenaka yang dulu sering kudengar.

Inilah dia! Sikap menyebalkan inilah yang membuatku kesulitan memasang sikap manis di depan orang tua kami sejak tadi!

Aku tidak menyukainya, tapi bagaimanapun, aku tidak mau kalah. Jadi aku mendongak dan balas menatapnya dengan tajam.

"Kalau begitu, biar kuperjelas, Kak. Yang menikah adalah orang tua kita. Kamu dan aku tetap orang asing. Sudah kubilang, tidak usah sok akrab," balasku.

Setelahnya, aku langsung mundur dan berbalik, dan langsung menyusul ke dalam ruangan yang sudah direservasi untuk keluarga kami. Aku tidak melihatnya lagi, sementara Jason melangkah santai di belakangku.

Saat kami duduk di ruang makan privat yang terasa eksklusif itu, aku duduk di seberang Ibu. Tidak lama kemudian, Jason masuk dan duduk di seberang Robert, yaitu di sampingku.

Mungkin ini memang denah tempat duduk yang masuk akal. Tapi, berada di sampingnya mengingatkanku pada masa sekolah dulu.

Jason dulu adalah murid sebangkuku. Bisa dibilang, dia termasuk murid yang populer, meski sifatnya cukup bandel. Saat jam pelajaran, ia tidur. Saat ada PR, ia akan meminta jawabanku. Anehnya, saat ujian, nilainya selalu masuk peringkat sepuluh teratas!

Bagi siswi teladan yang belajar dengan giat dan hanya bisa masuk dua puluh besar, melihat Jason terasa benar-benar menyebalkan. Itulah sebabnya aku tidak menyukainya.

Namun, makin besar rasa kesalku padanya, makin gencar Jason menggangguku. Ia mengekoriku kemana-mana, duduk di sampingku di kantin saat makan siang, sampai-sampai anak perempuan tidak ada yang mau bicara padaku karena ada murid populer berwajah dingin di belakangku.

Karena hal itu juga, ia sampai membuat hubunganku dengan kekasihku waktu itu memburuk.

Aku menghela napas. Lebih baik tidak usah dipikirkan lagi. Semua itu masa lalu.

Sambil berusaha mengabaikan Jason di sampingku, aku makan pelan-pelan dan mengobrol dengan Ibu dan Robert yang tampak bahagia malam ini.

"Oh, iya. Kalian dulu teman sekelas, kan? Berarti Jason bisa membantu Risa beradaptasi," ucap Robert sambil menatapku dengan hangat. "Agar tidak perlu tinggal jauh dari rumah, kamu akan melanjutkan kuliah di universitas yang sama dengan Jason. Dia bisa membantumu menyiapkan keperluan yang dibutuhkan."

Aku tersenyum kaku. Ibu sudah pernah membicarakan hal ini denganku sebelumnya, jadi aku tidak kaget.

"Kak Jason tidak perlu membantuku, aku bisa mengurus keperluan sendiri. Aku tidak mau merepotkan," tolakku sopan.

"Tidak ada yang kerepotan," potong Jason di sampingku, menoleh ke arahku dengan seringai tipisnya yang menyebalkan itu. "Sudah tugasku sebagai kakak untuk membantumu, Adik."

Penekanan pada kata 'adik' itu membuatku nyaris saja mendengus sebal. Tapi aku hanya bisa tersenyum.

"Jason benar. Jangan merasa sungkan, Nak. Kita semua adalah keluarga sekarang," timpal Robert setuju. "Lagipula, kita akan tinggal bersama-sama."

"Ah, benar," Ibu ikut menimbrung dengan wajah sumringah. "Ayahmu bahkan sudah menyiapkan kamarmu juga, Risa. Apakah kamu sudah tahu? Kamarmu berada di sebelah kamar Jason."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 8

    Memangnya dijemput kakak sendiri itu aneh? Aku berpikir lama di dalam mobil Jason saat pria itu menyetir di sebelahku. Aku merasa sikapnya wajar. Kami sekarang tinggal serumah. Orang tua kami baru menikah. Robert juga meminta Jason membantuku beradaptasi. Tapi jika diingat-ingat lagi, sikap ini ... Jason memang seperti itu sejak dulu. Aku memang terbiasa dengan Jason. Aku terbiasa mendengar ketukan pintunya di pagi hari. Terbiasa dengan suaranya yang menyuruhku sarapan. Terbiasa melihatnya menunggu di depan kampus. Terbiasa mendengar panggilannya. Tapi, bahkan sebelum kami jadi saudara tiri yang tinggal serumah, aku merasa perlakuan ini tidak terlalu berbeda dengan apa yang sejak dulu ia lakukan. Padahal Clara hanya mengatakan hal sederhana. Namun kata-katanya seperti mengenai sesuatu yang selama ini tidak pernah ingin kupikirkan. "Risa." Aku tersentak. Kudapati Jason menoleh kepadaku. "Kenapa melamun?" Aku mengalihkan perhatian, sibuk memegang ponsel di tangan. "Tida

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 7

    Aku tidak bergerak. Jason juga tidak bergerak. Beberapa detik berlalu. Aku bisa mendengar detak jantungku sendiri, sekarang bergemuruh bergitu kencang. "J-Jason..." Suaraku terdengar kecil. Jason masih menatapku dengan mata yang baru saja terbangun. Dalam kegelapan ruangan, ia seolah berusaha mengidentifikasiku. Kemudian dia mengangkat satu alis. "Risa..." ucapnya dengan suara rendah. "Apa yang kau lakukan? Masuk kamar orang diam-diam di malam hari?" Wajahku terasa panas, aku sedikit berseru untuk membela diri. "Aku sudah mengetuk!" "Dan aku tidak menjawab atau membukakan pintu. Tetap saja kau masuk sembarangan." Pria itu berkata dengan fakta, membuatku tidak bisa mengelak. "Kamu—ah, terserah. Lepaskan tanganku." Aku hendak bangun. Namun, tangannya masih memegang pergelangan tanganku. Ini lagi. Terjadi seperti ini lagi. Di hari pertama aku pindah, ia juga menjahiliku seperti ini. "Lepaskan, Jason!" Pria itu malah terlihat santai, menarik tanganku lebih dekat.

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 6

    “Lalu? Kamu menerimanya?” desak Jason. Seolah dituduh melakukan tindak kriminal, sontak saja aku tersinggung. "Kau gila? Tentu saja aku menolaknya." Barulah di situ ekspresi Jason sedikit berubah. Setelah mengatakan itu, Jason terlihat lebih tenang. Wajah dinginnya melunak sedikit. Tangannya perlahan turun dari bahuku. Pria itu menghela napas, seolah sejak tadi menahan napas. "Bagus." Aku menatapnya heran, tapi Jason tidak berkata apa-apa lagi. Dia berbalik dan membuka pintu mobil, lalu keluar dari bagian penumpang. Baru saja, dia kelihatan marah sekali. Tapi aku tidak mempertanyakannya karena aku tahu sebagian besar alasannya. Karena Jason juga tidak pernah menyukai David Ford, sejak dulu. Berbeda dengan aku yang malah benar-benar menyukai David di masa lalu. Tergila-gila padanya bahkan. Di mata diriku yang masih remaja dan naif itu, David terlihat bagai pria idaman. Dia adalah pacar pertamaku. Tentu saja aku pikir dia menyukaiku dengan tulus, sebesar rasa sukaku pada

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 5

    "Wah, Risa. Aku tidak menyangka bisa bertemu kamu di sini."Wajah David masih sama seperti yang kulihat terakhur kali. Terlihat ramah. Tersenyum manis.Aku yang dulu pasti akan meleleh melihatnya. Namun sekarang, aku sudah tahu jika selalu ada maksud lain di balik wajah baiknya. Aku menatapnya dingin. "Maaf, aku sedang buru-buru." David tidak memberi celah. Begitu aku mau melangkah, ia langsung menghadang di depanku. "Kenapa dingin sekali? Kita sudah lama tidak bertemu," kekehnya pelan. David mengamati pakaian dan barang-barang yang kubawa. Tatapannya berubah, matanya mengamatiku dari ujung kepala hingga kaki. "Kamu berubah, ya." Merasa risih, aku mengeratkan dekapanku pada buku, berusaha menutupi diri. "Aku rasa semua orang berubah setelah tiga tahun." David tertawa. "Tapi bukan berubah menjadi putri dalam semalam. Aku dengar kamu sekarang tinggal bersama keluarga Calloway." Aku tidak menyukai cara dia mengucapkan nama itu. Seolah-olah dia sedang membicarakan sesuatu yang luc

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 4

    Aku pura-pura tidak mendengar. Tapi bisik-bisik mereka terdengar di kelas yang masih sepi."Adik tiri? Maksudnya anak dari istri kedua ayahnya Jason?""Iya. Kamu belum dengar? Itu kan anak baru yang masuk semester ini."Aku menggenggam pulpen sedikit lebih erat.Ternyata kabar tentang hubunganku dan Jason sudah tersebar secepat itu."Dia dulu sekolah di mana?""Sekolah yang sama dengan Jason, katanya.""Oh ... aku ingat. Anak yang masuk dari rekomendasi beasiswa itu, ya?" Suara perempuan itu terkikik pelan."Keluarganya pas-pasan saja, tapi nekat menyekolahkan anaknya di sekolah privat. Tidak lama perusahaan mereka bangkrut, terus dia keluar dari sekolah. Setelah itu tidak ada yang tahu kabarnya.""Serius? Bisa-bisanya dia masih punya muka untuk pakai nama Calloway buat kuliah di sini?""Ah. Pantas saja."Aku menoleh sedikit, menatap tiga mahasiswi yang sedang bergosip itu tajam. "Pantas saja apa?"Mereka langsung terdiam sambil saling lirik. Tidak menyangka aku akan angkat bicara. Ak

  • Malam Ini, Jangan Panggil Aku Adikmu Lagi   Bab 3

    Badanku merinding hingga ubun-ubun.Sungguh pria tidak tahu malu!Aku memukul-mukul bahunya hingga ia akhirnya mau melepaskanku. Begitu aku bisa berdiri, aku langsung mengambil tas jinjingku dan memeluknya erat di dada, sambil melangkah mundur untuk jaga jarak darinya."Keluar, Jason. Aku bisa beres-beres sendiri."Jason mendengus rendah saat ia bangkit, merapikan bajunya yang sedikit berantakan akibat terjanganku tadi. Sekilas, ujung baju yang tersingkap memperlihatkan garis otot perutnya yang tegas.Aku buru-buru mengalihkan padangan dan memutar badan, memunggunginya.Kudengar suara dengusan napasnya yang samar, sebelum suara langkahnya menjauh, dan pintunya tertutup.-Di rumah Calloway, rutinitasnya tidak seperti yang kubayangkan. Kalau pagi, ternyata mereka tidak sarapan bersama."Tuan Robert langsung berangkat karena ada meeting dengan dewan eksekutif perusahaan pagi ini, Nona," jelas seorang pelayan saat aku bertanya kenapa aku sarapan sendirian di ruang makan yang luas itu."I

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status