LOGIN
“Dasar anak nggak tahu diuntung!”
Plak!
Tamparan keras itu mendarat di pipi Claire. Dada perempuan itu sesak, bukan hanya dipenuhi amarah, tapi juga kekecewaan yang mendalam.
Dengan pipi yang basah, Claire menengadah, menatap Ahmad, ayahnya yang berwajah masam.
“Selama ini apa salahku?! Aku nggak pernah berbuat onar seperti Brian yang nggak berguna itu!” Claire terisak sambil memegangi pipinya yang panas.
“Berani-beraninya kamu berkata seperti itu pada kakakmu!” Suara Ahmad kembali meninggi.
“Sudah!” Mirian, ibunya Claire, langsung menahan laju tangan suaminya yang hendak menampar Claire lagi. Lantas, wanita setengah baya itu menatap putri satu-satunya. “Claire… tolonglah… kamu harus bisa memahami situasinya, Nak. Hanya kamu yang bisa menolong keluarga kita…”
“Memahami situasi bagaimana maksud Ibu? Tiba-tiba aku harus menikah dengan pria tua bangka demi melunasi utang pinjol Brian, begitu? Kenapa lagi-lagi aku yang harus berkorban, Bu? Kenapa?!”
“Dia bukan pria tua bangka, Claire! Jaga mulutmu!” Kedua mata Ahmad melotot. “Dia adalah pria penyelamat keluarga kita! Seharusnya kamu bersyukur, ada pria kaya yang mau menikahimu. Lagi pula kita sudah membicarakan soal pertunangan sejak bulan lalu.”
“Tapi aku nggak pernah menyetujuinya, Yah! Kenapa Ayah dan Ibu seenaknya menerima pertunangan ini, tanpa persetujuanku?!”
“Pokoknya, pertunangan kalian akan dilangsungkan bulan depan.”
Claire berdecak, melempar tatapan muak pada ayahnya. Dia sudah tak peduli lagi kalau dirinya dicap sebagai anak durhaka.
“Kalian nggak berhak mengatur hidupku!” Pekik Claire. Air matanya kembali jatuh.
“Claire, tunggu!” Mirian berusaha mengejar putrinya, tapi Ahmad sontak menahan.
Brak! Claire membanting pintu rumah keras-keras.
“Sudahlah. Biarkan saja dia pergi,” ucap Ahmad. “Aku yakin dia tak akan kabur. Anak itu tak mungkin tahan hidup di jalanan.”
***
Claire menenggak satu sloki wiski ke dalam mulutnya.
“Menikah? Dengan pria tua bangka itu?” Gumamnya kesal. Sedari dulu, dia selalu jadi kambing hitam kesalahan yang dilakukan Brian, kakaknya, yang delapan tahun lebih tua darinya.
Seharusnya, Claire bisa melanjutkan kuliah di luar negeri, tapi karena Brian terjerat kasus narkoba dan harus berurusan dengan hukum, maka Claire harus merelakan tabungan pendidikannya untuk membayar pengacara Brian.
Seharusnya, Claire tenang di kosannya dengan uang saku yang lebih dari cukup. Tapi karena Brian–lagi-lagi–dipecat dari pekerjaannya, maka uang saku Claire dipotong setengahnya dan dia harus pulang ke rumah karena uang ayahnya harus dialokasikan demi menghidupi Brian beserta istri dan anaknya.
Dan sekarang, Claire harus jadi tumbal perjodohan paksa demi melunasi utang pinjol Brian.
“Enak saja. Dasar Brian brengsek!” Jeritannya teredam suara musik yang keras.
Claire lantas menenggak wiski itu langsung dari botolnya. Lalu dengan percaya diri, dia turun ke lantai dansa, meliukkan tubuhnya mengikuti alunan musik yang menghentak.
Dia tak peduli lagi dengan hidupnya, apalagi dengan keluarganya yang brengsek itu. Malam ini dia hanya ingin bersenang-senang!
Beberapa lelaki mulai mendekatinya, membisikkan kata-kata mesum, merayunya untuk menari bersama dan melakukan lebih. Tapi Claire menolak. Sampai akhirnya matanya tertumbuk pada sosok yang duduk di meja yang tak jauh dari lantai dansa.
“Sendirian?” Goda Claire tanpa basa basi di pinggir meja pria itu.
Pria itu melirik acuh setelah menenggak minumannya. “Ya.”
“Harimu berat ya?” Claire memperhatikan dua botol miras yang kosong di atas meja.
“Begitulah,” dia mengedikkan bahu.
“Mau kutemani? Hariku juga berat. Rasanya aku pengen menghilang tau,” Claire cekikikan sambil duduk di samping pria itu.
Pria itu menelengkan wajahnya, menatap Claire yang mabuk. Suasana kelab yang remang membuat Claire tak bisa menangkap maksud tatapan itu. Apakah pria itu menginginkannya atau tidak. Tapi satu yang pasti, Claire menginginkan pria tampan ini.
Tiba-tiba saja Claire merengkuh dagu kasar pria itu dan melumat bibirnya. Claire merasakan sedikit rasa pahit di mulutnya, anehnya rasa itu malah membuat dirinya semakin terangsang.
“Wow, wow—” ucap pria itu dengan napas terengah saat Claire menghentikan ciumannya karena kehabisan napas. “Kamu gila?”
“Gila?” Claire berdecak. “Aku nggak gila, Tampan. Aku hanya… sedikit mabuk.” Claire bersendawa kecil. Napasnya yang bau alkohol berembus ke pipi pria di hadapannya.
“Kamu mabuk dan kamu gila,” pria itu menyimpulkan. “Pergilah jauh-jauh jika tak mau bermasalah.”
Claire tertawa renyah. “Aku nggak peduli, sih. Mau aku mabuk atau gila, yang pasti… Tidur denganku yuk?…” jemari lentik Claire kembali meraih dagu pria itu.
Bola mata Claire bergerak menelusuri rahang milik lelaki itu, menatap sorot mata menggodanya, juga bibirnya yang seksi.
Seketika tubuh Claire terasa panas. Dadanya berdebar kencang. Entah karena alkohol yang sudah menguasai tubuhnya, atau memang karena nafsu membara.
“Asal kamu tahu…” jemari Claire kini mendarat di bibir tebal pria itu. “Miliki aku semuanya…” Claire berujar dengan nada rendah–bahkan terdengar sedikit memohon–sambil mengerlingkan matanya.
Jakun pria itu bergerak pelan. Ditatapnya lekat-lekat perempuan asing di depannya ini. Sepasang mata bulat perempuan itu nampak sayu. Pipinya merona merah.
“Yakin?” Tanyanya dengan menantang. “Saat kamu sudah berada dalam dekapanku, maka aku nggak akan membiarkanmu pergi begitu saja.”
Claire mengangguk sambil menjilat bibir merahnya. “Miliki aku sepenuhnya,” Belum sempat Claire menyelesaikan kalimatnya, pria itu keburu menarik tubuhnya mendekat. “Sampai tak ada yang tersisa untuk tua bangka itu.”
Bibir mereka kembali bersentuhan. Kali ini pria itu yang bergerak begitu liar, mendesak tubuh Claire ke permukaan sofa.
Ciuman mereka pun bergulir semakin panas. Sampai akhirnya, pria itu menyudahi ciumannya dan menarik lengan Claire.







