Share

Bab 149

Author: Joker Sarjana
last update publish date: 2026-10-29 20:25:11

"Dim, ini aku!" Bintang menggenggam bahu sahabatnya. "Bintang! Kita sekelas dari SMP!"

Dimas menepis tangannya pelan. "Maaf. Aku nggak kenal."

"Kamu takut ayam!"

"Hah?"

"Kamu nggak bisa tidur kalau lampu mati. Kamu pernah muntah siomay di lapangan!"

Dimas mengerutkan dahi. Ada sesuatu di wajahnya, tapi cepat hilang. "Kenapa kamu tahu semua itu?"

"Karena kamu sahabatku!"

Dari belakang, Jati tertawa kecil sambil memainkan lenteranya. "Percuma. Ingatan yang sudah kuambil tidak akan kembali. Kecual
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 149

    "Dim, ini aku!" Bintang menggenggam bahu sahabatnya. "Bintang! Kita sekelas dari SMP!"Dimas menepis tangannya pelan. "Maaf. Aku nggak kenal.""Kamu takut ayam!""Hah?""Kamu nggak bisa tidur kalau lampu mati. Kamu pernah muntah siomay di lapangan!"Dimas mengerutkan dahi. Ada sesuatu di wajahnya, tapi cepat hilang. "Kenapa kamu tahu semua itu?""Karena kamu sahabatku!"Dari belakang, Jati tertawa kecil sambil memainkan lenteranya. "Percuma. Ingatan yang sudah kuambil tidak akan kembali. Kecuali kalian bisa mengalahkan aku."Di halaman, orang-orang mulai kehilangan arah. Ririn memegang kepala sambil menatap Maman dengan bingung. "Kamu... siapa ya?""Rin, ini aku. Maman.""Maman." Ririn mengulang pelan. "Aku merasa kenal. Tapi aku nggak ingat kenapa."Maman menelan ludah. Tangannya menggenggam tangan istrinya erat-erat, tapi hatinya mulai panik. Surya sudah duduk lemas di tanah, memandang kosong ke langit. Sari memeluk lututnya sambil mengulang nama sendiri berkali-kali tanpa suara."I

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 148

    Ririn memeluk Rembulan lebih erat. "Kamu bukan Nyi Lupa. Kamu anakku.""Aku juga anakmu, Bu," jawab Rembulan dengan suara halus. Matanya masih biru, tapi senyumnya lembut. "Aku bukan mau mengambil tubuh Bulan. Aku sudah ada di dalam dia sejak lahir.""Sejak lahir?""Wiratama menaruh ingatanku di dalam jiwa bayi yang akan lahir lima ratus tahun kemudian. Bulan yang kecil itu masih ada di sini. Dia cuma sedang tidur.""Aku mau bicara sama dia.""Boleh."Rembulan memejamkan mata. Saat membukanya lagi, biru di matanya memudar jadi cokelat. Ia mengerjap, menguap, dan menatap sekeliling dengan bingung."Ibu? Kenapa kita di sini?"Ririn menahan tangis. "Kamu nggak apa-apa, Sayang?""Bulan ngantuk." Rembulan mengusap mata. "Kak Tepi mana?"Bintang cepat-cepat menyodorkan boneka kelinci itu. Rembulan memeluknya erat."Kak Tepi tadi Bulan cari.""Aku di sini," kata Ki Tepi dengan suara serak. "Maaf aku tidak menjagamu.""Nggak apa-apa. Tante yang cantik tadi baik kok. Dia nyanyi buat Bulan."Se

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 147

    "Putar balik, Rud!" teriak Maman."Aku sudah putar balik dari tadi, Man!" Rudi memegang setir dengan dua tangan, wajahnya tegang. "Kalau kecepatannya ditambah lagi, ban van ini lepas!""Tambah!""Itu bukan saran yang aman!""Rembulan di sana!"Rudi menelan ludah dan menginjak gas lebih dalam. Van tua itu menderu di jalan berkelok, melewati kendaraan lain dengan klakson panjang.Di kursi tengah, Ririn menggenggam tangan Maman erat-erat. Wajahnya pucat dan matanya basah, tapi ia tidak menangis. Bintang duduk di sebelahnya sambil memeluk boneka Ki Tepi. Dimas di sampingnya terus mencoba menelepon panti, tapi tidak ada yang menjawab.Di kursi paling belakang, Kinanti duduk bersandar ke jendela. Gaun putih lusuhnya masih berdebu, dan napasnya berat."Kamu bilang Laras dikendalikan," kata Maman sambil menoleh. "Dikendalikan siapa?""Penjaga pintu keempat. Namanya Nyi Lupa.""Nyi Lupa?" Rudi hampir tertawa. "Namanya aneh banget. Kayak nama tokoh sinetron.""Rud, fokus nyetir," kata Ririn."S

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 146

    *** TIGA TAHUN KEMUDIAN ***"Rembulan! Jangan lari di dalam rumah!"Teriakan Ririn tidak ada gunanya. Anak perempuan berumur hampir tiga tahun itu sudah menyelinap lewat kolong meja makan, membawa boneka kelinci biru yang hampir sama besar dengan badannya."Kak Tepi mau main kejar-kejaran!" teriak Rembulan."Kak Tepi itu boneka, Sayang.""Bukan! Kak Tepi hidup!""Aku memang hidup," kata suara berat dari dalam boneka itu. Ia terdengar pasrah. "Tapi aku tidak pernah bilang mau main kejar-kejaran."Rembulan tertawa dan lari ke ruang tamu. Maman menangkapnya di pintu, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi."Ketangkap!""Ayah curang!""Ayah nggak curang. Ayah cuma lebih tinggi.""Itu curang!"Bintang turun dari tangga sambil menguap. Umurnya tujuh belas tahun sekarang, tingginya sudah hampir menyamai ayahnya. Seragam SMA-nya kali ini dipakai dengan benar."Pagi.""Pagi, Kak!" Rembulan melambai dari gendongan Maman."Pagi, Bul. Sudah makan?""Belum. Ibu bikin nasi goreng.""Pasti keasinan.""Itu

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 145

    Malam itu mereka semua berkumpul di kamar Hartono di panti. Lukisan lima pintu yang muncul di langit-langit aula bawah tanah masih menghantui pikiran Maman, jadi ia ingin memastikan sesuatu.Hartono terbaring di ranjang putih, napasnya teratur seperti tiga bulan terakhir. Bedanya, tato lima titik di dadanya menyala merah redup."Dia nggak pernah begini sebelumnya," kata Surya pelan."Berarti pintunya benar-benar dia," jawab Maman.Rudi memeluk pancinya yang sudah kosong. "Man, jujur ya. Aku capek. Hari ini aku sudah bertarung, ketakutan, dan kehilangan separuh kuah. Boleh nggak ada satu pintu yang gampang?""Pintu gampang itu cuma pintu kulkas, Rud," sahut Lisa."Itu juga bisa bikin masalah kalau isinya basi."Bintang berdiri di samping ranjang, menatap tato itu. Telapak tangannya berdenyut pelan."Dasar. Kamu tahu isi pintu ketiga?""Tahu." Suara Dasar terdengar berat. "Pintu ketiga bukan tempat. Itu bagian dari diriku yang dulu menolak berdamai. Yang pernah dipakai Hartono lewat tub

  • Maman, Kamu Sungguh Hebat!   Bab 144

    "Yang lebih tua dari Ki Dasar?" ulang Maman.Karta Sentana merangkak keluar dari ambang pintu. Jubahnya compang-camping, kukunya patah, dan tubuhnya gemetar seperti orang yang tidak tidur berbulan-bulan."Tiga bulan..." Ia terengah. "Tiga bulan aku dikejar di dalam sana. Waktu pilar Sekar menelanku, aku nggak masuk ke tempat tenang. Aku jatuh ke sini.""Itu salahmu sendiri," kata Ririn dingin."Aku tahu.""Kamu membunuh Sekar.""Aku tahu!" Karta menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku nggak minta dimaafkan. Aku cuma minta pintunya jangan dibuka lebih lebar!"Rudi menggaruk kepala sambil memegang gayungnya. "Man, aku nggak mau nyela, tapi dia kelihatan beneran takut. Biasanya orang jahat itu takutnya pura-pura.""Aku sadar, Rud."Dari balik pintu terdengar suara seperti seretan kain basah. Pelan, panjang, dan makin dekat."Bintang," suara Dasar terdengar tegang. "Dengarkan aku baik-baik. Dulu ada lima penjaga. Aku yang kelima. Yang kedua bernama Nyai Kelam.""Dia jahat?""Dia kesepian.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status