로그인Malam itu mereka semua berkumpul di kamar Hartono di panti. Lukisan lima pintu yang muncul di langit-langit aula bawah tanah masih menghantui pikiran Maman, jadi ia ingin memastikan sesuatu.Hartono terbaring di ranjang putih, napasnya teratur seperti tiga bulan terakhir. Bedanya, tato lima titik di dadanya menyala merah redup."Dia nggak pernah begini sebelumnya," kata Surya pelan."Berarti pintunya benar-benar dia," jawab Maman.Rudi memeluk pancinya yang sudah kosong. "Man, jujur ya. Aku capek. Hari ini aku sudah bertarung, ketakutan, dan kehilangan separuh kuah. Boleh nggak ada satu pintu yang gampang?""Pintu gampang itu cuma pintu kulkas, Rud," sahut Lisa."Itu juga bisa bikin masalah kalau isinya basi."Bintang berdiri di samping ranjang, menatap tato itu. Telapak tangannya berdenyut pelan."Dasar. Kamu tahu isi pintu ketiga?""Tahu." Suara Dasar terdengar berat. "Pintu ketiga bukan tempat. Itu bagian dari diriku yang dulu menolak berdamai. Yang pernah dipakai Hartono lewat tub
"Yang lebih tua dari Ki Dasar?" ulang Maman.Karta Sentana merangkak keluar dari ambang pintu. Jubahnya compang-camping, kukunya patah, dan tubuhnya gemetar seperti orang yang tidak tidur berbulan-bulan."Tiga bulan..." Ia terengah. "Tiga bulan aku dikejar di dalam sana. Waktu pilar Sekar menelanku, aku nggak masuk ke tempat tenang. Aku jatuh ke sini.""Itu salahmu sendiri," kata Ririn dingin."Aku tahu.""Kamu membunuh Sekar.""Aku tahu!" Karta menutup wajah dengan kedua tangan. "Aku nggak minta dimaafkan. Aku cuma minta pintunya jangan dibuka lebih lebar!"Rudi menggaruk kepala sambil memegang gayungnya. "Man, aku nggak mau nyela, tapi dia kelihatan beneran takut. Biasanya orang jahat itu takutnya pura-pura.""Aku sadar, Rud."Dari balik pintu terdengar suara seperti seretan kain basah. Pelan, panjang, dan makin dekat."Bintang," suara Dasar terdengar tegang. "Dengarkan aku baik-baik. Dulu ada lima penjaga. Aku yang kelima. Yang kedua bernama Nyai Kelam.""Dia jahat?""Dia kesepian.
"Semua mundur!" teriak Maman.Dimas, yang matanya hitam pekat, turun dari altar dengan gerakan kaku. Lima titik hitam di telapak tangan kirinya berdenyut, dan bayangan di lantai mulai merayap ke arah Bintang."Dim, ini aku!" Bintang maju selangkah. "Bintang!""Aku tahu," jawab suara dua lapis itu. "Sahabat yang kutunggu.""Itu bukan Dimas!" seru Rudi sambil mengangkat gayung kuah. "Itu orang tua yang numpang!""Rud, jangan disiram dulu!" Maman menahan tangannya. "Itu badan anak orang!""Terus aku harus gimana?""Tahan aja.""Aku bawa panci, bukan perisai!"Kusuma Sentana tertawa pelan dari sisi ruangan. "Kalian pikir aku akan membiarkan kalian bertarung? Aku hanya ingin tontonan sederhana. Dua sahabat. Satu kunci. Satu pintu."Bayangan di lantai menyambar. Surya melompat dan menarik Bintang ke belakang, tepat sebelum sulur hitam menghantam tempat ia berdiri."Bintang, jangan maju sendirian!" bentak Surya."Dia temanku, Kek!""Teman yang sedang dikuasai!"Lisa mengarahkan alat pemindai
Maman berlari ke perpustakaan sambil menarik Bintang. Rudi menyusul di belakang, masih memeluk pancinya."Man, pelan-pelan! Aku bawa kuah panas!""Taruh dulu!""Kalau kutaruh, itu senjata satu-satunya!"Pintu perpustakaan terbuka lebar. Di dalam, hanya ada rak buku, meja baca, dan seorang penjaga perpustakaan yang tertidur di kursi dengan mulut menganga. Jendela tempat pria tua tadi berdiri kosong."Dia hilang," kata Ririn sambil mengecek semua sudut."Atau memang nggak ada orangnya," sahut Rudi. "Mungkin kita salah lihat.""Aku lihat jelas," jawab Maman. "Cincin K.S, tongkat hitam, senyumnya.""Kalau gitu pasti Karta. Kan dia yang bikin pesan ke ponselmu tiga bulan lalu.""Karta sudah ditarik Sekar.""Berarti ada Karta yang lain?"Maman terdiam. Itu pertanyaan yang sama di kepalanya.Bintang menarik lengan bajunya. "Yah. Dimas nggak ada di sini.""Iya, Ayah tahu.""Kita harus cari dia.""Kita cari.""Sekarang.""Bintang." Maman berlutut dan memegang kedua bahu anaknya. "Dengar. Orang
Bintang berlari sampai napasnya hampir habis. Ia berhenti tepat di depan gerbang, terengah-engah, dan berdiri di antara ibunya dan lima pria berjas hitam itu."Mundur, Bu!""Bintang, kamu ngomong apa?" Ririn menurunkan rantang makanannya pelan-pelan. Matanya tidak lepas dari para pria itu. "Siapa mereka?""Aku nggak tahu! Tapi mata mereka hitam semua!""Ibu lihat."Kala, pria paling tinggi di antara mereka, tersenyum sopan seperti petugas bank. "Selamat pagi, Nyonya Ririn. Kami tidak bermaksud mengganggu. Kami hanya ingin mengajak putra Anda berbicara.""Berbicara di sekolah dengan lima orang bermata hitam?""Kami tidak punya banyak waktu.""Kalau begitu cari waktu di tempat lain."Ririn merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah pisau perak kecil yang sudah lama tidak ia sentuh. Bilahnya masih mengilap. Bintang melongo."Ibu bawa pisau?""Ibu selalu bawa. Dari dulu.""Kenapa nggak bilang?""Karena kamu nggak pernah tanya."Kala mengangkat satu alisnya. "Menarik. Ibu rumah tangga y
*** EMPAT BELAS TAHUN KEMUDIAN ***"Bintang! Sudah jam enam lewat!"Teriakan Ririn menembus pintu kamar di lantai dua. Tidak ada jawaban. Ririn menghela napas, lalu memanggil lagi dengan nada lebih tinggi."Bintang Wiratama! Ibu hitung sampai tiga!""Iya, Bu! Aku udah bangun!""Bangun dari mana? Itu suara orang masih ngorok!"Pintu kamar terbuka. Seorang anak laki-laki empat belas tahun keluar sambil mengucek mata. Rambutnya berantakan, seragam SMP-nya dipakai terbalik."Baju kamu kebalik.""Itu fashion, Bu.""Itu kelalaian."Dari dapur, Maman muncul sambil membawa dua piring nasi goreng. Rambutnya sudah mulai beruban di sisi telinga, tapi badannya masih tegap. "Sudah, Rin. Biarin dia makan dulu.""Kamu selalu belain dia.""Aku bukan belain. Aku cuma mau nasi gorengnya nggak dingin."Bintang duduk di meja makan dan langsung melahap sesuap besar. "Enak, Yah.""Ayah masaknya pakai cinta.""Pakai garam kebanyakan juga.""Itu bagian dari cinta."Ririn mendelik. "Kalian berdua sama aja."D