LOGINClaire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding.
E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1963. Ulang tahun keenam puluh yang sedang mereka persiapkan tepat bersamaan dengan tahun itu. Dan setiap dokumen resmi mengulang satu kalimat yang sama, didirikan oleh William Callahan. Tanpa nama lain. Namun sebelum Claire sempat menggali lebih jauh, hari itu datang. Rabu pagi, ia menemukan sesuatu di mejanya. Bukan berkas kantor, bukan sticky note. Sebuah amplop cokelat tanpa nama pengirim, diletakkan di bawah keyboard nya, seolah seseorang menyelipkannya saat ruangan kosong. Claire membukanya dengan perasaan tidak enak yang menjalar di tengkuknya. Di dalamnya ada tiga lembar foto. Foto pertama, dirinya sedang keluar dari halte bus dekat rumah, diambil dari jarak yang cukup dekat untuk mengenali wajahnya. Foto kedua, ibunya, Elena, sedang mengunci pintu toko bunga pada suatu sore. Foto ketiga, Claire lagi, kali ini bersama Ryan, di depan sebuah kedai makan, tertawa. Ketiganya diambil tanpa sepengetahuannya. Tanggal di sudut foto menunjukkan minggu-minggu terakhir. Tangan Claire dingin. Ia menoleh ke seluruh ruangan, tetapi lantai dua belas masih seperti biasa, Mia sedang menelepon, mesin kopi mendesis, tiga anggota tim sibuk dengan layar masing-masing. Tidak ada yang mencurigakan. Tidak ada yang menatapnya. Ia menyimpan foto-foto itu di dalam tas dan bekerja sepanjang pagi dengan jantung yang berdebar terlalu cepat. Ia tidak tahu harus bilang apa, atau pada siapa. Yang ia tahu, ia harus memberitahu Ethan. Tetapi, ia takut bahwa memberitahu Ethan justru akan memperburuk sesuatu. Sore itu, Ethan memanggilnya ke ruangannya. Begitu Claire masuk, ia tahu sesuatu terjadi. Ethan berdiri di dekat jendela, tidak menyapa, dan di atas mejanya tergeletak sebuah amplop yang persis sama dengan yang Claire temukan. "Kamu juga dapat," kata Claire pelan. Ethan menoleh. Matanya menajam. "Kamu juga?" Claire mengeluarkan tiga foto itu dari tasnya dan meletakkannya di meja. Ethan menatapnya lama, lalu menutup matanya, dan untuk pertama kalinya Claire melihat lelaki itu benar-benar marah. Bukan meledak, bukan berteriak, tetapi marah dengan cara yang membuat ruangan terasa dingin. "Kapan kamu mendapatkannya?" tanyanya. "Pagi ini." Ethan mengambil foto ibu Claire, menatapnya lebih lama dari dua foto lain, lalu meletakkannya kembali. "Ini bukan ancaman kosong," katanya, lebih kepada dirinya sendiri daripada pada Claire. "Mereka ingin aku tahu seberapa dekat mereka bisa mendekat." "Dekat ke apa?" Ethan mendongak, dan Claire melihat bahwa ia sedang menimbang apakah akan menjawab. Untuk sekali ini, ia menjawab. "Dekat ke kamu. Dan ke keluargamu." Ruang itu sunyi. Claire memikirkan ibunya yang sendirian membuka toko jam tujuh pagi, memikirkan Ryan yang pulang malam dari kelas, memikirkan ayahnya yang baru pulang tugas. Ia memikirkan bahwa seseorang pernah berdiri cukup dekat untuk memotret mereka dan tidak ada satu pun dari mereka yang tahu. "Apa yang mereka mau darimu?" tanya Claire. Ethan tidak menjawab langsung. Ia berjalan ke meja, menyimpan kembali amplop itu ke dalam laci dan menguncinya. "Aku akan menyelesaikan ini," katanya. "Tapi untuk beberapa hari ke depan, aku minta kamu melakukan sesuatu untukku. Jangan pulang sendirian. Jangan lewat jalan yang sama dua hari berturut-turut. Dan kalau ada apa pun yang terasa aneh, telepon aku, jam berapa pun." Claire menatapnya. "Kamu tidak bisa mengatur hidupku seperti mengatur jadwal rapat." "Aku tahu." Suara Ethan turun. "Tapi aku tidak bisa kehilanganmu lagi karena aku terlalu sopan untuk meminta." Kalimat itu jatuh di antara mereka, dan Claire tidak tahu harus menjawab apa. Ia ingin marah, ingin mengatakan bahwa dua tahun lalu ia sudah pernah menjadi "sesuatu yang dijauhkan" tanpa diberi pilihan. Tetapi ia juga melihat wajah Ethan malam itu dan memahami bahwa ketakutan lelaki itu bukan dibuat-buat. Malam itu, Claire pulang naik bus seperti biasa, tetapi ia memperhatikan sesuatu yang tidak pernah ia perhatikan sebelumnya, sebuah mobil hitam yang mengikuti busnya selama beberapa halte, lalu berhenti di lampu merah dan tidak melanjutkan perjalanan. Ia turun di halte dekat rumah, berjalan cepat, dan memastikan pintu terkunci dua kali sebelum tidur. Di atas meja kamarnya, ia meletakkan tiga foto itu dan menatapnya lama. Sebelum tidur, ia mengirim satu pesan singkat kepada Ethan. Siapa E. V.? Balasan Ethan datang hampir satu jam kemudian, saat Claire sudah hampir tertidur. Hanya satu kalimat, dan kalimat itu membuatnya terjaga sepenuhnya. "Kalau aku jawab sekarang, kamu akan jadi bagian dari hal yang seharusnya kamu hindari. Tidurlah, Claire. Besok aku cerita semampuku."Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai
Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun
Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per
Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg
Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1
Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua







