Share

Part 10

Author: Umi Kulsum
last update publish date: 2026-09-25 23:08:29

Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.

Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.

Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.

Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di ruang arsip, ruangan kecil tanpa jendela di lantai sebelas, penuh lemari berkas dan bau kertas tua, pintu terbuka dan Ethan masuk.

"Kamu tidak membalas pesan Adrian, kan?" tanyanya tanpa pembukaan.

Claire menoleh. "Kamu tahu dia mengirim pesan padaku?"

"Aku tahu dia tipe orang yang akan melakukannya."

"Kamu bertanya karena khawatir, atau karena kamu tidak suka?" kata Claire.

Ethan berhenti sejenak. "Itu dua pertanyaan yang sama."

"Tidak. Itu dua pertanyaan yang berbeda."

"Kalau begitu aku memilih tidak menjawab."

Claire menyadari sudut bibirnya bergerak naik, dan ia buru-buru menegakkan wajah. Ini bukan percakapan yang lucu. Lelaki ini masalah.

Ethan menutup pintu di belakangnya, dan ruangan itu terasa lebih sempit. "Dia mengirim pesan, dan di acara dia mendekatimu. Aku ingin tahu apa yang dia bilang."

Claire meletakkan dokumen di tangannya. Ia sudah menyimpan pertanyaan ini sejak malam itu, dan sekarang pertanyaan itu akhirnya terucapkan.

"Dia bilang tiga tahun lalu dia melihatmu di kafe dekat kampus," katanya. "Bersama seseorang. Dan dia pikir itu aku."

Ethan tidak bergerak. Tetapi wajahnya berubah, bukan kaget, melainkan semacam kelelahan yang datang dari tempat yang sangat dalam.

"Dan?"

"Aku bilang tidak mungkin," jawab Claire. "Karena selama tiga tahun kita bersama, kamu tidak pernah mengajakku ke kafe itu. Aku tidak tahu kamu bahkan pernah ke sana."

Ethan menatapnya lama. Lalu ia menarik kursi kayu di sudut dan duduk, tidak seperti atasan yang menjelaskan sesuatu pada bawahannya, tetapi seperti orang yang akhirnya membuka topengnya karena terlalu lelah menyimpannya.

"Kafe itu," katanya, "adalah tempat aku bertemu dengan orang dari keluargaku. Bukan tempat aku berkencan."

"Orang dari keluargamu?"

"Orang yang waktu itu tidak aku kenal, tapi ternyata mengenal aku." Ethan menatap tangannya. "Dua tahun lalu, tepat sebelum jam itu pecah, aku mulai menerima hal-hal yang tidak bisa aku jelaskan. Seseorang mengirimiku foto-foto lamaku. Bukan foto yang pernah aku unggah. Ada juga catatan tentang ke mana aku pergi, dengan siapa. Dan semuanya berkaitan denganmu."

Claire merasakan suhu ruangan turun. "Maksudmu... seseorang mengawasi kita?"

"Aku tidak tahu seberapa jauh." Suara Ethan tenang, tetapi ada retakan di dalamnya. "Yang aku tahu, ada orang yang ingin aku tahu bahwa mereka bisa menyentuhmu kapan saja. Dan mereka memakainya untuk membuatku melakukan apa yang mereka mau."

"Melakukan apa?"

Ethan mengangkat kepala. "Mundur dari posisi yang Kakek siapkan untukku."

Ruangan arsip itu sunyi. Claire bisa mendengar suara pendingin, detak jam dinding, dan jantungnya sendiri yang terlalu cepat.

"Jam itu pecah," lanjut Ethan, "di malam yang sama aku menerima ancaman terakhir. Dan aku mengambil keputusan paling bodoh dalam hidupku. Aku memutuskan hubungan kita supaya mereka berhenti memakaimu. Aku pikir kalau aku menjauh, kamu akan aman, dan kamu tidak perlu tahu apa pun. Aku pikir itu melindungimu."

"Kamu salah," kata Claire, dan suaranya bergetar meski ia berusaha keras menahannya. "Kamu melindungi dirimu sendiri dari keputusan yang sulit. Kamu tidak memberiku pilihan."

"Aku tahu." Ethan menatapnya, dan untuk pertama kalinya tidak ada penjagaan di matanya. "Aku tidak akan minta kamu memaafkanku. Aku cuma ingin kamu tahu, apa yang kamu pikirkan tentang dirimu selama dua tahun ini, bahwa kamu yang menghancurkan segalanya, itu tidak benar. Sama sekali tidak benar."

Claire menunduk. Dadanya penuh, tetapi bukan dengan kelegaan. Kalimat itu benar, dan justru karena benar, ia marah. Dua tahun. Dua tahun ia hidup dengan rasa bersalah yang tidak pernah ia pantas tanggung, dan Ethan hanya perlu satu percakapan untuk menghapusnya, tetapi ia memilih diam.

"Aku belum bisa mempercayaimu," katanya akhirnya.

"Aku tidak memintamu."

"Aku perlu waktu."

"Aku tahu." Ethan berdiri. Ia berjalan ke pintu, tetapi sebelum membukanya ia berhenti, lalu menoleh, dan untuk sesaat ia tampak seperti ingin menambahkan sesuatu. Ia membatalkannya. "Aku akan pastikan kamu tidak sendirian di kantor selama proyek ini. Bukan untuk mengawasimu. Untuk memastikan tidak ada yang mendekatimu tanpa sepengetahuanmu."

Ia keluar, dan pintu itu tertutup pelan.

Claire duduk di kursi kayu di tengah ruang arsip, menatap tumpukan dokumen yang belum selesai, dan merasakan sesuatu yang aneh menjalar di tengah amarahnya, sesuatu yang mirip rasa iba. Ethan membawa beban itu sendirian selama dua tahun. Tetapi rasa iba tidak sama dengan kepercayaan, dan Claire tahu ia tidak boleh mencampur keduanya hanya karena ia lelah.

Ia menarik napas, lalu kembali bekerja. Ia membuka kotak terakhir yang belum ia sentuh, sebuah kotak tua tanpa label, yang menurut daftar seharusnya kosong. Isinya hanya beberapa lembar foto. Claire mengeluarkannya satu per satu, dan pada lembar ketiga ia berhenti.

Foto itu memperlihatkan jam antik keluarga Callahan, jam yang sama, dengan kaca bulat dan pendulum tembaga. Tetapi ada yang berbeda. Di sudut kanan bawah kaca, tepat di tempat di mana Claire selalu mengingat ada retakan lama sebelum ia memecahkannya, kini ia melihat sesuatu yang tidak ia perhatikan sebelumnya. Retakan itu bukan retakan biasa.

Itu bukan retakan sama sekali. Itu ukiran, huruf-huruf kecil yang dipahat halus ke dalam kaca, nyaris tidak terlihat kecuali dari dekat. Claire mendekatkan foto ke lampu dan memicingkan mata, mencoba membaca huruf-huruf itu.

Dua huruf. Satu tanggal. Dan satu nama yang membuatnya menahan napas.

E. V. 1963.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 15

    Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 14

    Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 13

    Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 12

    Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 11

    Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 10

    Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status