Share

Part 2

Author: Umi Kulsum
last update publish date: 2026-09-16 00:12:40

Claire butuh hampir sepuluh menit untuk menyadari bahwa ia sedang menatap layar login selama itu tanpa mengetik satu huruf pun. Gelas air yang disodorkan Mia masih di mejanya, belum tersentuh lagi, dan bayangan lelaki berkemeja putih dengan lengan tergulung itu masih menempel di belakang kelopak matanya, dan tidak mau pergi.

Cucu pendiri LUMIÈRE.

Kata-kata itu tidak masuk akal. Selama tiga tahun mereka bersama, Ethan menceritakan padanya tentang apartemen kecil di lantai empat yang liftnya sering mati, tentang ayahnya yang "kerja kantoran biasa", tentang makan malam mie instan ketika akhir bulan. Claire pernah menertawakan betapa hematnya dia. Pernah menabung diam-diam untuk mentraktirnya makan di tempat yang lebih bagus, karena ia pikir Ethan sedang berusaha menghemat uang.

Yang berarti selama tiga tahun itu, Ethan membohonginya. Tanpa pernah berhenti.

"Claire?" Suara Mia menyentak kesadarannya. "Kamu benar-benar pucat. Mau ku buatkan teh?"

"Tidak." Claire menegakkan punggung dan memaksakan senyum. "Aku cuma belum sempat mengaktifkan akun kerjaku. Link dari HR masih di ponsel."

Mia menatapnya agak lama, tetapi akhirnya menyerah dan membantu. Claire membenamkan dirinya ke dalam email, dokumen, dan panduan kerja yang tak berujung, dan untuk beberapa jam ia berhasil meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah hari pertama bekerja biasa. Hanya perlu menghindari satu lorong, satu pintu kaca, satu nama di plakat.

Sayangnya, tim itu hanya punya enam orang, dan jam sebelas, Ethan memanggil rapat.

Ruangan meeting nya kecil dan meja panjang, dan entah kebetulan atau bukan, satu-satunya kursi yang tersisa untuk Claire persis di seberang Ethan. Punggungnya setegak mungkin. Matanya ia tujukan pada buku catatan yang masih kosong, dan ia berjanji pada diri sendiri untuk tidak menatap ke depan sekali pun.

Ethan membuka rapat dengan suara tenang dan efisien. Ia membahas kampanye produk baru, menjadwalkan konten untuk bulan berikutnya, dan mendengarkan ketika anggota timnya berbicara, benar-benar mendengarkan, dengan kepala sedikit miring dan mata yang tidak pernah beralih ke ponsel. Beberapa kali ia mengajukan pertanyaan yang tepat pada saat yang tepat, dan Claire, dengan kesal, menyadari bahwa Bu Selena benar. Ethan memang enak diajak kerja.

Itu membuatnya makin sulit dimengerti.

Ketika rapat berakhir dan kursi-kursi bergeser, Ethan menatap lurus padanya untuk pertama kalinya sejak ruangannya pagi tadi. "Claire Bennett."

Claire mengangkat kepala, jantungnya melompat tanpa izin.

"Kamu ikut mengurus konten untuk launching produk musim gugur," katanya, datar dan profesional, sama seperti ketika ia berbicara pada anggota tim yang lain. "Mia akan mengajarimu alurnya. Kalau ada yang tidak jelas, tanya."

Ia mengangguk. "Baik, Team Leader."

Ethan nyaris mengangguk balik, tetapi ada satu jeda sebelum ia bangkit, satu detik terlalu panjang, dan untuk sepersekian detik itu, Claire melihatnya bukan sebagai team leader, melainkan sebagai lelaki yang dulu menyisir anak rambutnya dari wajah ketika ia sedang sibuk, yang terbiasa mengingat hal-hal kecil tentangnya tanpa pernah diminta.

Lalu Ethan bangkit, dan momen itu hilang.

Sepanjang sisa hari, Claire menenggelamkan diri di dalam pekerjaan. Ia mempelajari arsip kampanye, membaca panduan brand, mengatur ulang folder yang berantakan, dan mengagumi sendiri betapa normalnya semua ini terasa bila ia tidak memikirkan siapa yang duduk di balik pintu kaca di ujung lorong. Menjelang sore, Mia menoleh dari mejanya dengan wajah letih.

"Claire, tolong, ya. Antarkan berkas ini ke ruangan Team Leader. Dia tadi bilang mau bawa pulang malam ini."

Jantung Claire berhenti sejenak. "Kamu saja yang antar?"

"Aku lagi telfon vendor. Please?" Mia menyodorkan map tebal itu dengan kedua tangan, dagunya sedikit terangkat, gaya khas orang yang sedang butuh bantuan.

Claire mengambilnya. Langkahnya menuju ujung lorong ia buat sepelan mungkin, meski lututnya lemas. Pintu kaca itu setengah terbuka. Ia mengetuk pelan, menunggu, dan ketika tidak ada jawaban, ia melongok ke dalam.

Ruangan itu kosong. Mungkin Ethan sedang ke lantai lain.

Claire melangkah masuk dengan hati-hati, menaruh map itu di atas meja sesuai instruksi, lalu berbalik untuk segera keluar, tetapi pandangannya tersangkut pada sesuatu di rak kayu di balik meja.

Sebuah bingkai foto kecil, berdiri dengan sudut yang rapi. Di dalamnya, bukan wajah keluarga, bukan potret liburan, bukan apa pun yang bisa menjelaskan bahwa pemiliknya adalah cucu pendiri perusahaan besar. Di dalam bingkai itu hanya ada satu benda, sebuah jam antik berdiri tinggi, kayunya gelap dan berukir, dengan pendulum tembaga yang menjuntai di bawah kaca bulat tua.

Jam itulah yang dua tahun lalu ia pecahkan.

Claire mengenalinya seketika, bagian kaca yang retak di sudut kanan bawah, sudah ada sejak sebelum ia memecahkannya, lalu retakan baru memancar dari tengah karena tangannya yang ceroboh. Ia tidak pernah melupakan bentuknya, karena selama dua tahun terakhir ia memutar ulang malam itu setiap kali ia gagal tidur. Bau apartemen kecilnya yang lembap. Suara Ethan yang tercekat. Dan tangannya yang gemetar saat memungut pecahan kaca.

Ia pikir jam itu sudah lama dibuang. Sudah lupa. Sudah tidak penting.

Waktu itu, Claire tidak tahu apa itu jam antik. Baginya, itu hanya jam tua yang aneh di sudut apartemen Ethan, barang keluarga yang ia pikir sudah lama tidak dipakai. Tidak ada yang memberitahunya bahwa jam itu berumur lebih dari seratus tahun, atau bahwa benda itu berasal dari keluarga pemilik gedung tempat ia kini bekerja. Dua tahun lalu, ia bahkan tidak tahu bahwa keluarga Ethan punya gedung setinggi ini.

Tapi Ethan memotretnya. Menyimpannya dalam bingkai kecil di ruang kerjanya, di tempat yang setiap pagi pasti ia lewati.

"Claire."

Suara itu datang dari ambang pintu, tenang, tetapi berat. Claire berbalik. Ethan berdiri di sana dengan beberapa lembar dokumen di tangan, dan pandangannya mengikuti arah mata Claire, ke rak kayu, ke bingkai foto itu. Wajahnya berubah. Sesuatu yang rapuh dan tanpa penjagaan melintas terlalu cepat untuk ditangkap.

Lalu ia kembali menjadi atasan yang tenang. Ia menaruh dokumen di meja, berjalan lewat, terlalu dekat, cukup dekat sampai Claire mencium aroma sabun dan kopi yang ia kenal, lalu menutup pintu di belakangnya sebelum berbicara. Jantung Claire memilih waktu yang sangat buruk untuk berdebar. Konsentrasi. Ini atasanmu. Mantan atasanmu. Mantan kekasihmu. Yang pernah membohongimu selama tiga tahun. Yang... Ia menghentikan pikirannya sebelum kepalanya meledak.

"Kamu seharusnya tidak ada di sini," katanya. "Berkasnya saja bisa kamu tinggalkan di luar."

Claire menelan ludah. "Aku hanya mengantar."

"Mhm." Ethan menatapnya, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, tatapan itu tidak menyembunyikan apa pun. "Tapi sekarang kamu sudah lihat, kan?"

Claire tahu ia tidak perlu berpura-pura tidak mengerti. Ia terlalu lelah untuk itu. "Kamu masih menyimpan fotonya," katanya, suaranya lebih kecil dari yang ia inginkan. "Jam yang aku rusak itu. Kenapa?"

Ethan menunduk sejenak, menimbang sesuatu. Ketika ia mengangkat kepala lagi, ada satu kalimat yang melayang di udara di antara mereka, pendek, tenang, tetapi mengguncang Claire lebih keras dari apa pun yang pernah ia dengar selama dua tahun terakhir.

"Karena jam itu," katanya, "bukan alasan sebenarnya kita putus."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 15

    Ethan memilih tempatnya dengan hati-hati. Bukan kafe, bukan taman, bukan kantor. Ia membawa Claire ke sebuah gedung parkir lama di pinggir kota, tempat lantai paling atas menghadap lampu-lampu jalan yang memanjang seperti sungai yang membeku. Ia memarkir mobil, mematikan mesin, untuk beberapa saat keduanya hanya menatap kota di bawah mereka. "Aku tidak akan bertanya kenapa kita di sini," kata Claire. "Tidak ada yang mengikuti kita di sini. Tidak ada kamera yang aku tahu. Dan tidak ada dinding tipis." Ethan menatap kemudi. "Aku sudah lama ingin memberitahumu semuanya, Claire. Sejak hari pertama aku melihatmu berdiri di lobi gedung itu. Tapi setiap kali aku mencoba, aku ingat apa yang mereka katakan, dan aku berhenti." "Katakan sekarang." Ethan menarik napas, dan ia mulai. Dua tahun lalu, kata Ethan, ada dua hal yang terjadi bersamaan. Yang pertama adalah ancaman. Surat-surat itu, foto-foto itu, dan satu panggilan terakhir yang datang ke ponselnya sore hari, sebelum Claire nai

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 14

    Kalimat Victoria Callahan menempel di kepala Claire sepanjang malam, dan pada Senin pagi ia sudah mengambil keputusan. Ia tidak akan bertanya pada Ethan. Ia juga tidak akan menunggu William Callahan memanggilnya. Ia akan mencari jawabannya sendiri, lewat cara yang paling sederhana, mengingat kembali siapa saja yang pernah mendekatinya tanpa alasan. Pertama, arsip. Kotak yang ia butuhkan sudah dipindahkan ke Kantor Strategi, tetapi Claire menyimpan salinan digital dari sebagian besar dokumen yang pernah ia buka, di laptopnya sendiri, dalam folder yang diberi nama membosankan, Kampanye Warisan Draf, karena hal-hal penting sebaiknya tidak dinamai penting. Di rumah, malam itu, ia membuka folder itu dan mulai menyusun garis waktu yang berbeda dari garis waktu perusahaan. Garis waktu dirinya. Dua tahun lalu, bulan-bulan sebelum jam itu pecah. Apa yang ia lakukan? Siapa yang ia temui? Ke mana ia pergi? Claire membuka catatan-catatan lamanya, pesan-pesan lama, dan pelan-pelan menyusun

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 13

    Jamuan bulanan LUMIÈRE diadakan di ruang makan besar lantai dua, tempat yang biasanya hanya dipakai kalau ada tamu penting. Claire datang dengan gaun sederhana yang ia pinjam dari Mia, dan sepanjang jalan menuju gedung ia berpesan pada dirinya sendiri untuk tidak bicara lebih dari yang perlu. Ia tidak duduk di meja kedua bersama anggota tim seperti biasa. Atas undangan Adrian, ia duduk di meja utama, cukup dekat untuk melihat semuanya. Di ujung meja, William Callahan duduk seperti patokan yang menjaga arah. Di sebelah kanannya Alexander Callahan, sang CEO, dengan punggung tegak dan wajah yang tidak banyak berubah. Di sebelah Alexander, seorang perempuan elegan yang Claire kenali dari acara ulang tahun, Victoria Callahan, istri Alexander, ibu Ethan. Ia tersenyum sopan sepanjang malam, tetapi matanya bergerak seperti orang yang menghitung setiap pergeseran di ruangan. Di sisi lain meja, Edward Callahan bercerita dengan santai, dan di sampingnya Adrian mendengarkan dengan penuh per

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 12

    Keesokan paginya, Claire masuk kerja lebih awal, tetapi bukan pekerjaan yang menyambutnya. Sebuah pengumuman resmi sudah menunggu di kotak masuk tim, proyek kampanye Warisan akan berada di bawah koordinasi Kantor Strategi, dengan Adrian Callahan sebagai penanggung jawab. Tim Brand Marketing tetap terlibat, tetapi arah dan kurasi akhir akan ditinjau oleh Kantor Strategi. Claire membaca kalimat itu tiga kali, lalu menatap ruangan. Mia sedang membaca hal yang sama di layarnya, dan ketika mata mereka bertemu, Mia hanya mengangkat bahu, ekspresi yang jelas berarti aku juga nggak tahu apa-apa. Sore itu seluruh tim dipanggil ke ruang rapat besar. Bukan oleh Ethan. Di depan ruangan sudah berdiri Adrian Callahan, tenang seperti biasa, dengan berkas rapi di tangan. Ia tersenyum kepada semua orang seperti seorang senior yang baik hati, dan ia menyapa satu per satu, mengingat nama, menanyakan hal kecil. Claire memperhatikan bahwa ia melakukan itu dengan cara yang membuat orang merasa diharg

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 11

    Claire memotret ukiran itu dengan ponselnya, tiga kali, dari tiga sudut, sampai ia yakin huruf-huruf kecil di kaca itu benar-benar ada dan bukan halusinasi karena terlalu lama menatap dokumen tua. Lalu ia mengembalikan foto itu ke dalam kotak tanpa label, menutupnya rapi, dan duduk di kursi kayu sambil menatap dinding. E. V. 1963. Dua huruf dan satu tahun. Seluruh sejarah LUMIÈRE yang ia baca selalu berbicara tentang Callahan. Tidak ada E.V. di mana pun. Claire tahu ia seharusnya bertanya pada Ethan. Ia juga tahu bahwa setiap kali ia membuka topik tentang jam itu, Ethan akan memberikan jawaban setengah, lalu menutupinya kembali. Dan Claire sudah terlalu sering berhadapan dengan pembicaraan yang setengah-setengah itu. Maka ia memilih jalannya sendiri. Di kantor, pekerjaan kampanye Warisan berjalan seperti biasa. Claire menyusun garis waktu perusahaan, mengumpulkan foto lama, dan membaca laporan tahunan selama puluhan tahun. Dari situ ia belajar satu hal, LUMIÈRE berdiri pada 1

  • Mantan Pacarku Rekan Kerjaku   Part 10

    Claire menyimpan kartu nama Adrian Callahan di laci meja kantornya, di bawah tumpukan sticky note yang tidak pernah ia pakai. Ia tidak bermaksud menghubunginya. Ia hanya tidak sanggup membuangnya, karena membuangnya berarti berpura-pura percakapan itu tidak pernah terjadi.Selama beberapa hari sesudah acara, hidupnya kembali berjalan dalam ritme yang biasa saja, pagi di kantor, siang bersama arsip, sore pulang. Ia dan Ethan bicara tentang pekerjaan dengan efisien, sesekali diwarnai keheningan yang tidak lagi terasa canggung, melainkan lelah. Keduanya tahu ada sesuatu yang belum selesai, dan keduanya memilih bekerja seolah tidak ada.Namun Claire memperhatikan satu perubahan. Sejak malam acara, Ethan lebih jarang meninggalkan ruangannya sendirian. Ia tidak pulang lebih dulu jika Claire masih lembur, atau memastikan ada anggota tim lain di ruangan sampai Claire pergi. Ia tidak pernah menjelaskannya. Ia hanya melakukannya, tanpa rencana.Hari Kamis, ketika Claire sedang bekerja di rua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status