共有

Chapter 67.

作者: Kester
last update 公開日: 2026-07-07 20:26:35

Perawat datang dengan langkah ringan, membawa nampan berisi makanan sehat ke ruangan baru tempat Kelly dirawat. Aroma sup hangat segera memenuhi udara, lembut dan menenangkan.

“Ini waktunya makan, Sayang,” ucap sang perawat sambil meletakkan nampan di atas meja kecil.

Vicktor segera berdiri dan mengambil alih nampan itu. Ia tersenyum lembut pada putrinya. “Ayo, Kelly. Supnya masih hangat.”

Namun, Kelly menggeleng cepat, bibir mungilnya mengerucut manja. “Ayah... aku mau disuapi Ibu,” rengeknya
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 70.

    Langkah kaki Lucy terdengar tergesa di lantai marmer, hentakannya penuh amarah. Ia mencengkeram pergelangan tangan Amora dengan kuat, menyeret wanita itu keluar dari kamar Kelly tanpa memberi kesempatan untuk bicara.“Lucy, jangan bersikap kasar pada Elisha!” seru Vicktor yang berlari dari belakang, suaranya berat dan panik.Namun Lucy tak menghiraukan. Pandangannya hanya tertuju pada satu sosok Elisha, wanita yang dianggapnya telah berani melangkah terlalu jauh.“Lucy, lepaskan tanganku,” ucap Amora lirih, mencoba melepaskan diri, tapi genggaman Lucy terlalu kuat.Begitu sampai di ruang tamu, Lucy mendorong tubuh Amora hingga terhempas ke sofa. Napasnya terengah, wajahnya merah karena emosi yang memuncak.“Dasar perempuan murahan!” seru Lucy tajam. “Oh, kau bermimpi menjadi Nyonya Caldwell, hah?" Lucy tersenyum mengejek. "Suamiku memang mencintaimu, Elisha. Tapi aku tidak akan biarkan wanita pelacur sepertimu masuk ke rumahku!”Amora mengangkat wajahnya perlahan, menatap Lucy dengan

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 69.

    Lima hari sudah Kelly dirawat di rumah sakit. Luka-luka di tubuhnya mulai mengering, namun ingatannya masih belum sepenuhnya kembali. Setiap kali ditanya soal kejadian sebelum ia pingsan, bocah itu hanya diam, menatap kosong seolah sedang mencari kepingan ingatan yang hilang dari dalam pikirannya.Hari ini, dokter akhirnya memperbolehkan Kelly pulang. “Namun, tolong diingat,” pesan dokter sambil menatap Vicktor dan Elisha bergantian. “Jangan beri tekanan apa pun padanya. Biarkan dia tenang. Ingatannya akan kembali dengan sendirinya, tapi jika dipaksa, justru bisa memperburuk keadaan.”Vicktor mengangguk pelan. “Saya mengerti, Dok.”Elisha mengusap lembut kepala Kelly. “Kau dengar, sayang? Kau boleh pulang hari ini.”Senyum kecil muncul di wajah Kelly. “Boleh aku pulang ke rumah Ibu?” tanyanya polos.Pertanyaan itu membuat dada Vicktor mengencang seketika. Ia menatap Amora, berharap wanita itu bisa menolongnya menjawab.“Ibumu sedang pergi sebentar, sayang,” kata Amora lembut, menenang

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 68.

    Vicktor menatap ponselnya yang tergeletak di meja. Sejak Kelly menangis mencari "ibunya", suasana di ruangan itu tak tenang sama sekali. Lucy masih di luar, mondar-mandir dengan wajah kesal, sementara Kelly terus memanggil nama “Ibu” di antara tangisnya.Akhirnya, dengan napas panjang dan hati bimbang, Vicktor membuka kontak dan menekan nama Elisha.Nada sambung terdengar beberapa kali sebelum suara lembut wanita itu menjawab, “Vick? Ada apa?”“Kelly… dia mencarimu, El.” Suara Vicktor terdengar berat. “Dia tidak mau makan, tidak mau bicara, bahkan menolak Lucy. Aku bingung harus bagaimana.”Terdengar hening sesaat di ujung telepon saat Amora mendengar suara tangisan gadis kecil itu , lalu Amora bertanya pelan, “Vick, kenapa Kelly menangis?”“Karena dia mencari ibunya,” ucap Vicktor lemah. “Dan yang dia maksud... ibu yang semalam bersamanya, itu kamu.”Ada keheningan singkat lagi. Setelahnya, suara Amora terdengar mantap, tanpa keraguan. “Baiklah, aku ke sana sekarang. Sekalian, aku me

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 67.

    Perawat datang dengan langkah ringan, membawa nampan berisi makanan sehat ke ruangan baru tempat Kelly dirawat. Aroma sup hangat segera memenuhi udara, lembut dan menenangkan.“Ini waktunya makan, Sayang,” ucap sang perawat sambil meletakkan nampan di atas meja kecil.Vicktor segera berdiri dan mengambil alih nampan itu. Ia tersenyum lembut pada putrinya. “Ayo, Kelly. Supnya masih hangat.”Namun, Kelly menggeleng cepat, bibir mungilnya mengerucut manja. “Ayah... aku mau disuapi Ibu,” rengeknya pelan.Ucapan itu membuat suasana seketika hening. Vicktor terpaku, menoleh pada Elisha yang duduk di sisi ranjang. Ada canggung yang sulit dijelaskan, perasaan bersalah sekaligus bingung.“Kelly, biar Ayah saja yang menyuapi, ya? Sambil kita bercerita.” Vicktor berusaha menenangkan, tapi Kelly malah menatapnya dengan mata basah.“Tidak mau!” seru Kelly cepat, suaranya meninggi penuh keras kepala.Amora yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara lembut. “Umm... Vick, berikan padaku.”“Tapi...

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 66.

    Suasana lorong rumah sakit malam itu terasa begitu sepi. Hanya terdengar suara mesin pendingin dan langkah kaki beberapa perawat yang lalu-lalang di ujung koridor. Di depan ruangan NICU, Vicktor duduk dengan tubuh sedikit membungkuk, jemarinya mengetuk-ngetuk lutut tanpa arah. Waktu sudah menunjukkan hampir pukul sebelas malam, namun Lucy belum juga kembali.Berulang kali pria itu mencoba menghubungi nomor istrinya, namun hasilnya tetap sama—tidak aktif.“Lucy… pergi ke mana kau sebenarnya?” gumam Vicktor lirih, menatap ponsel di tangannya dengan pandangan kosong.Sebelumnya, pria itu sempat menelepon pelayan di rumah, berharap Lucy sudah pulang untuk beristirahat. Tapi jawaban yang ia terima membuat dadanya makin sesak—Lucy tidak ada di rumah. Tidak ada seorang pun yang tahu ke mana wanita itu pergi.Di kursi seberangnya, Amora duduk diam, matanya sesekali melirik ke arah Vicktor yang tampak gelisah. Ada sesuatu di raut wajah pria itu yang membuat jantungnya berdetak lebih cepat. Kek

  • Mari Bercerai, Tuan CEO!    Chapter 65.

    Mata Lucy mengerjap keras, seolah baru tersadar dari mimpi buruk yang begitu nyata. Pandangannya berputar beberapa detik sebelum akhirnya fokus pada sosok di samping ranjang. “Kelly…” lirihnya nyaris tak terdengar. Tubuhnya menegak tiba-tiba, napasnya tersengal, dan dalam sekejap, tatapan sayu itu berubah menjadi tajam, menyala oleh amarah dan kebencian.“Lucy, kau sudah sadar?” suara lembut Amora bergetar, tapi belum sempat ia mendekat, tangan Lucy melayang cepat dan mencekik lehernya dengan kekuatan yang mengejutkan.“Kau harus mati, Elisha! Kau harus merasakan penderitaan putriku!” teriak Lucy kalap, matanya liar dipenuhi kebencian. Amora terbatuk keras, tangannya berusaha menarik tangan Lucy, tapi kemudian ia menghentikan perlawanan itu. Karena ada Vicktor yang berdiri di samping pintu, tubuhnya kaku menatap kejadian yang membuatnya panik tapi juga ragu untuk bertindak. Amora tahu, sandiwaranya harus terlihat nyata—dan kali ini, ia memilih membiarkan Lucy melampiaskan emosinya.“

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status