Masuk“Ada apa itu terdengar ribut-ribut?” tanya Marlon pada Erinka ketika keduanya berjalan mendekati sebuah ruangan yang berukuran besar di lantai empat MHG tower.“Itu ruang meeting, mungkin sedang ada rapat di dalam,” ujar Erinka menjelaskan.“Kenapa suaranya gaduh sekali, sih, seperti di terminal saja,” ucap Marlon merasa tidak nyaman dengan suara bising yang didengarnya.“Jangan heran, seperti itulah petinggi perusahaan cabang kalau bertemu, masing-masing saling berdebat mengenai pencapaian masing-masing,” jelas Erinka agar suaminya tidak terkejut dengan keadaan yang biasa terjadi di kantor barunya.Saat melintas pintu ruang rapat keluar seorang karyawan bawahan yang dikenali Erinka, dia langsung menyapa wanita berkacamata yang tertunduk hormat saat berpapasan dengannya.“Sedang meeting apa mereka di dalam sampai ribut begitu?” tanya Erinka.“Maaf Ibu, mereka sedang membicarakan staff baru yang ditunjuk oleh Pak Hardiyata,” jelas wanita itu.“Maksudnya mereka membicarakan suamiku ini?
“Ternyata bagus juga ya kantornya, Beb” ucap Marlon saat ditemani Erinka untuk melihat-lihat seisi kantor Megah Hardiyata Group yang bangunannya memiliki lima lantai.“Memang belum lama ini baru renovasi, jadi semua masih kelihatan baru,” jelas Erinka yang berjalan di samping suaminya. “Di lantai lima ini selain ruang Kakek Har, ruang siapa lagi?” tanya Marlon sambil memerhatikan ke sekelilingnya. Tampak ada dua ruangan lagi yang pintunya tertutup. “Yang berhadapan dengan ruang Kakek Har itu ruangan sekretaris, sedangkan ruangan yang paling besar itu departemen keuangan, di dalamnya ada sekitar 10 karyawan yang menangani administrasi keuangan. Kata Kakek memang sengaja bagian keuangan ditempatkan dekat dengan ruangannya, katanya biar sewaktu-waktu bisa mengontrolnya, terutama untuk mengontrol anak-anaknya agar tidak sembarangan datang untuk meminta memakai uang perusahaan. Kalau masalah uang dan pengeluaran perusahaan Kakek Har itu begini lho orangnya?” jelas Erinka sambil menunjukk
“Sudah lama sampai, Pak Andhika?” sapa Adam sambil menyalami lelaki berkaos polo putih yang berdiri menyambut kedatangannya.“Lumayan...,” jawab Andhika, lalu dia duduk sejurus dengan Adam yang berpakaian lebih formal mengenakan kemeja lengan panjang berwarna biru muda dan blazer semi formal berwarna hitam pada bagian luarnya. “Makin tua makin kelihatan gagah saja penampilan Pak Adam,” tambah Andhika mengomentari penampilan sahabat lamanya itu.“Maklumlah, sekarang kan saya jomblo, jadi harus jaga penampilan sedikit setiap keluar rumah, siapa tahu masih ada wanita yang mau melirik... hehehe...” balas Adam menimpali ucapan Andhika.“Oh iya, tidak terasa sudah setahun lebih ya ibunya Benny meninggal, pasti sudah lama nih pak Adam haus belaian wanita... hehehe...” canda Andhika lagi membuat Adam tersenyum lebar.“Bukan haus lagi, Pak, tapi saya sudah kebelet nih... hahaha...” balas Adam, tawa keduanya pun meledak mewarnai resto hotel bintang lima yang malam itu memang tidak banyak pengu
“Sedang cari apa, Pah?” tanya Jasmin saat melihat Benny membuka-buka laci di kamarnya menjelang tidur.“Kok enggak ada obatku, Mah, biasanya kan aku taruh di dalam laci ini?” tegas Benny.“Maksud Papa Viagra? Sudah, Mama buang, Pah...” jelas Jasmin yang sedang mengenakan krim malam pada wajahnya di depan meja rias.“Lho, kenapa dibuang? Papa lagi pengin nih, Mah...” jelas Benny kemudian menghampiri Jasmin yang sedang duduk lalu berdiri di belakangnya sambil memijit-mijit punggung istrinya memberi kode kalau dia sedang ingin dilayani.“Mulai malam ini, Mama rasa kita harus mencoba terapi yang diucapkan Marlon, Pah, Papa tak perlu menggunakan obat kuat lagi untuk membangkitkan gairah Papa, tapi Mama lah yang akan melakukannya. Papa setuju, kan?” ucap Jasmin, lalu membalikan tubuh, menghadap ke depan suaminya yang masih berdiri.“Ua udah, Papa terserah Mama saja,” ucap Benny yang hanya mengenakan underwear berwarna putih dan sudah bertelanjang dada sudah siap bertempur dengan Jasmin yang
“Aku menantu Mama...” jawab Marlon saat Kemala menanyakan identitas aslinya. Kemala jadi tersenyum dibuatnya.“Jawablah, Marlon..., kenapa Pak Walfred bisa menghormatimu sedemikian rupa? Bahkan dia tidak segan-segan memarahi orang yang berani merendahkanmu,” tegas Kemala.“Hmm, entahlah, Mah, aku juga tidak tahu tiba-tiba dia jadi begitu. Aku bahkan baru bertemu dan kenal dengannya hari ini saat pergi ke mall bersama Erinka untuk membeli jas. Mungkin Walfred hanya simpati melihat aku yang terlihat lusuh dan miskin ini...” jelas Marlon lagi yang memang tidak ingin memberitahu Kemala mengenai identitas aslinya.“Ya sudahlah kalau kamu tidak ingin mengatakan yang sebenarnya, tapi pesan Mama, kamu harus berbuat baik pada Pak Walfred, mudahkan segala urusannya, karena dia sudah berbuat baik pada keluarga kita,” tegas Kemala yang tidak ingin memaksa Marlon bercerita lebih jauh, karena setidaknya sekarang menantunya itu sudah membawa keuntungan untuk keluarga, baginya itu lebih dari cukup.B
Untuk memperkuat posisinya dalam menghadapi Marlon, Adam tanpa pikir panjang segera menghubungi paman dari Benny untuk membantunya. Dia adalah seorang berpengaruh di kepolisian kota. Dengan jabatannya dia bisa memuluskan rencana Adam untuk menyingkirkan Marlon.“Bagaimana, Yah, apa sudah ada cara untuk membalaskan sakit hatiku pada Walfred?” tanya Benny saat ayahnya kembali ke ruang depan setelah cukup lama di menelepon di balkon rumahnya.“Walfred itu kita ketepikan dulu, sekarang yang perlu kita singkirkan adalah sumber masalahmu yaitu Marlon,” jawab Adam menjelaskan keputusannya pada putranya.“Tapi, harus hati-hati, Yah, menghadapi Marlon, kalau betul ucapan Walfred bahwa Marlon itu punya relasi yang dekat dengan pak gubernur dan para pejabat lainnya, bisa-bisa kita akan mendapat masalah,” ucap Benny coba mengingatkan ayahnya.“Tenang saja, Ben, Om kamu itu bukan orang sembarangan juga, sudah pasti dia bisa mengatasi kemungkinan terburuk sekalipun,” tegas Adam dengan penuh keyakin
Setelah Marlon memandu mobil Avanza berwarna hitam itu di jalan raya, Erinka bisa merasakan kalau hari ini Marlon sangat berbeda. Rupanya dia piawai memandu mobil, cara menyetirnya halus dan tenang, membuat penumpang merasa nyaman. Erinka menyimpulkan, kalau suaminya itu mempunyai sisi lain pada di
Menjelang siang hari saat mengerjakan tugas rutin membersihkan rumah, menyapu dan mengepel lantai, Marlon kembali menerima sebuah pesan di ponselnya. Dia pun langsung tersenyum lebar mengetahui bahwa dirinya telah mendapat hadiah yang begitu banyak hari ini. Mulai dari uang 100 Milyar yang ditransf
“Kenapa makan sedikit sekali, Pah?” tanya Marlon melihat Sugalih menelungkupkan sendok dan garpunya saat Marlon dan Erinka sedang lahap-lahapnya menikmati cap cay seafood buatan Kemala.“Papa sudah kenyang, Nak,” ucap Sugalih beralasan, padahal yang sebenarnya, konsentrasinya hanya terfokus pada pr
“Bagaimana rasanya, Sayang, enak enggak nasi goreng buatanku?” tanya Marlon yang berdiri di samping Erinka, setelah istrinya itu menyuap sesendok nasi goreng ke mulutnya.“Hmm... sedap... beneran ini kamu yang masak?” tanya Erinka.“Iya, dong aku... tapi bumbunya sih Bi Puri yang membuat, aku bagia







