เข้าสู่ระบบ"Terima kasih banyak, Dok. Saya hanya memiliki seikat bayam dan beberapa butir telur ini untuk membayar pengobatan anak saya," ucap seorang petani dengan wajah sungkan sambil menyodorkan sebakul kecil hasil panennya."Jangan khawatir, Pak. Ini sudah lebih dari cukup. Yang terpenting, anak Bapak bisa segera sembuh dan ceria lagi seperti sedia kala," jawab Marlon dengan nada suara yang sangat lembut dan menenangkan."Benar, Pak. Sayurannya terlihat sangat segar sekali. Terima kasih ya, Pak, ini akan menjadi makan malam yang sangat nikmat untuk kami," sambung Erinka yang langsung menyambut bakul tersebut dengan senyuman manisnya yang khas.Petani itu berkali-kali membungkuk penuh rasa syukur sebelum akhirnya pamit pulang dengan hati yang lega, membawa bungkusan ramuan herbal yang baru saja diracik oleh tangan Marlon sendiri.Erinka menatap kepergian pasien tersebut dengan mata yang berbinar-binar penuh kebahagiaan, merasakan kepuasan batin yang tidak pernah ia dapatkan saat masih hidup b
"Apakah obat-obatan ini benar-benar gratis, Pak Marlon? Kami sama sekali tidak dimintai biaya pendaftaran?" tanya seorang paruh baya dengan suara bergetar menahan haru."Benar, Bapak. Di klinik ini, semua pelayanan dan obat herbal yang kami racik murni gratis untuk masyarakat sekitar," jawab Marlon dengan seulas senyuman yang sangat hangat."Terima kasih banyak, Pak. Kebaikan Anda dan Ibu Erinka benar-benar menjadi penyelamat bagi keluarga kecil kami yang serba kekurangan ini," ucap pria itu sembari membungkuk penuh rasa hormat.Erinka yang berdiri tepat di sebelah Marlon segera mengangguk lembut, menyerahkan bungkusan vitamin tambahan ke dalam genggaman tangan keriput pasien pertama mereka pagi itu."Sama-sama, Pak. Jangan lupa obatnya diminum secara teratur setelah makan, dan istirahatlah yang cukup di rumah ya," sambung Erinka dengan nada suara yang sangat ramah.Tatapan penuh rasa syukur dari warga setempat menjadi pembuka hari yang begitu indah bagi kelangsungan klinik kecil yang
Meskipun Marlon telah memilih keluar dari struktur harian Megah Hardiyata Group (MHG), pengaruhnya tidak memudar begitu saja. Ia tetap memegang penuh hak eksklusif atas paten formula murni Yellow Pill miliknya yang legendaris itu. Formula medis berharga tinggi tersebut tetap menjadi aset terbesar yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun.Sistem bagi hasil yang telah disepakati bersama Sugalih sejak awal tetap berjalan secara otomatis setiap bulannya. Dana royalti yang sah terus mengalir deras ke dalam rekening pribadi mereka tanpa ada hambatan apa pun. Hal ini membuat finansial mereka tetap kokoh tanpa Marlon harus ikut campur dalam intrik manajemen harian.Kekayaan yang terus bertambah itu tidak membuat Marlon dan Erinka silau untuk kembali ke dunia glamor. Uang bagi mereka kini hanyalah alat untuk memperluas jangkauan pelayanan kemanusiaan di klinik kecil mereka. Mereka lebih memilih membeli obat-obatan berkualitas untuk dibagikan gratis kepada warga miskin yang datang berobat.Namun
Pagi itu, matahari terbit dengan kehangatan yang berbeda di ufuk timur kota. Tidak ada lagi deru mesin mobil mewah pengawal militer yang mengintai di balik gerbang besi, atau dering telepon yang membawa panggilan sidang darurat korporasi. Yang terdengar hanyalah kicauan burung liar dan gesekan dedaunan dari pohon-pohon pinus yang tumbuh subur di sekitar pekarangan rumah baru mereka.Marlon dan Erinka telah memilih untuk melangkah pergi dari tembok tinggi kemewahan keluarga Hardiyata yang penuh dengan intrik berdarah. Mereka sengaja meninggalkan gemerlapnya harta dan kekayaan demi kembali ke sebuah bentuk kehidupan yang sederhana, namun dipenuhi oleh kebahagiaan yang murni dan tulus. Baginya, ketenangan batin sang istri jauh lebih berharga daripada seluruh takhta bisnis dunia bawah yang pernah ia kuasai.Di sebuah sudut pinggiran kota yang berudara sejuk dan asri, mereka memulai lembaran baru dengan penuh harapan. Di atas sebidang tanah yang tidak terlalu luas, Marlon mendirikan sebu
Marlon memosisikan dirinya dalam keadaan terbaring telentang sepenuhnya di atas bantal. Kedua lengan kekarnya yang berotot diangkat ke atas, lalu ditekuk dengan kedua telapak tangan bertumpu dengan nyaman di bawah kepala sebagai sandaran. Posisi ini memberikan keleluasaan penuh bagi Erinka untuk memegang kendali penuh atas apa yang akan dilakukannya terhadap tubuh sang suami malam itu. Dari posisinya, Marlon menyaksikan dengan tatapan mata yang menggelap oleh gairah saat Erinka mulai memberikan pelayanan yang penuh keintiman itu. Jemari lentik Erinka mulai bergerak, menyentuh dengan sangat lembut pangkal kejantanan milik Marlon yang berdenyut kencang, memberikan pijatan-pijatan kecil yang membuat Marlon spontan mendesah rendah. Erinka menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberaniannya, lalu mulai mendekatkan bibir tipisnya yang lembut untuk memberikan sentuhan kehangatan yang paling sensual di ujung milik Marlon. Detik ketika kehangatan bibir dan rongga mulut Erinka menyen
Suasana kamar tidur yang sederhana itu tampak begitu senyap ketika jarum jam dinding bergeser melewati angka dua dini hari. Angin malam yang berembus pelan di luar jendela membawa hawa sejuk, membuat udara di dalam ruangan terasa semakin meneduhkan. Di atas ranjang yang empuk, Marlon dan Erinka semula telah terlelap dalam posisi saling mendekap erat di bawah selimut tebal berbahan lembut yang hangat. Kedamaian yang baru saja mereka raih setelah keluar dari bayang-bayang lingkaran korporasi Megah Hardiyata Group seolah terwujud sepenuhnya dalam pelukan hangat keduanya.Namun, ketenangan tidur itu tidak bertahan lama bagi Marlon. Di tengah keheningan yang pekat, kesadaran pria itu perlahan-lahan mulai pulih dari alam mimpi. Saraf-saraf di dalam tubuh tegapnya mendadak berdesir hebat tanpa alasan yang jelas. Aroma wangi bunga yang berasal dari lotion malam Erinka yang masih melekat di kulit mulus sang istri kembali terhirup oleh indra penciumannya, bertindak sebagai stimulan alami yang s
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per







