LOGINAngin laut yang berembus kencang dari arah pelabuhan membawa aroma garam dan besi yang pekat, menyelimuti mobil SUV hitam yang sedang melaju cepat membelah jalanan lingkar luar kota. Di dalam kabin mobil yang kedap suara itu, keheningan terasa begitu berat menekan. Marlon Pramudya duduk bersandar dengan tatapan mata yang lurus menembus kaca jendela yang gelap. Meskipun tubuhnya tampak rileks, setiap otot di tubuh tegapnya sebenarnya sedang berada dalam kondisi siaga penuh. Bayangan proyektil perak berukir huruf "V" yang kini tersimpan aman di dalam saku dalam jaketnya terus berputar-putar di dalam benaknya.Kembalinya organisasi Vivos bukan sekadar ancaman biasa bagi faksi militer rahasianya dahulu; itu adalah deklarasi perang terbuka. Namun, hal yang paling membuat rahang Marlon mengeras bukanlah fakta bahwa nyawanya kembali diincar, melainkan keselamatan orang-orang yang kini teramat sangat berharga baginya. Megah Hardiyata Group baru saja dibersihkan dari tikus-tikus korporasi sep
"Di mana kamu menemukan peluru ini, Walfred?" tanya Marlon dengan suara yang sangat rendah.Suasana di dalam lift eksekutif yang baru saja tertutup itu mendadak terasa membeku. Ketegangan yang tadinya sempat mencair setelah kemenangan di ruang sidang pleno kini kembali merayap, jauh lebih pekat dan mencekam dari sebelumnya.Walfred menelan ludah dengan susah payah sebelum menjawab. "Tepat di dalam mobil boks hitam milik Inspektur Zakie, Tuan. Mobil itu ditemukan dalam kondisi hancur terbakar di pinggiran dermaga utara. Tim intelijen militer Letkol Hermawan baru saja mengonfirmasi bahwa Zakie tewas dieksekusi di tempat sebelum pasukannya tiba. Dan peluru ini... bersarang tepat di jantungnya."Marlon tidak langsung merespons. Ia mengambil proyektil logam berwarna perak kusam berdiameter sembilan milimeter itu dari balutan kain beludru hitam di tangan Walfred. Ujung jarinya meraba permukaan logam yang dingin, merasakan lekukan ukiran huruf Latin kuno berbentuk "V" di pangkal selongsongnya
Plak...! Plak...! Plak...!Suara tepuk tangan menggema dengan ritme yang solid di dalam ruang sidang utama lantai paling atas gedung pencakar langit MHG. Seluruh jajaran direksi, komisaris independen, dan perwakilan pemegang saham institusi yang tersisa berdiri tegak dengan tatapan penuh rasa hormat. Ketakutan yang sempat membayangi mereka selama masa pembersihan internal kini telah lenyap, digantikan oleh rasa optimis yang membumbung tinggi.Kakek Hardiyata duduk di kursi rodanya di ujung meja konperensi, mengenakan kemeja batik sutra terbaiknya. Meskipun gurat-gurat kelelahan masih membekas di wajah senjanya, sepasang mata elang beliau memancarkan kelegaan yang teramat sangat mendalam. Di samping kanan dan kirinya, Marlon dan Erinka berdiri dengan anggun. Marlon tampak berwibawa dengan setelan jas hitam potongan modern yang pas di tubuh tegapnya, sementara Erinka memukau semua orang dengan gaun formal berwarna biru dongker yang elegan."Semuanya, silakan duduk kembali," ucap Kak
Brak!Bobby menghempaskan tubuhnya ke atas kasur busa tipis tanpa seprai yang terletak di sudut ruangan. Kamar kontrakan berukuran tiga kali tiga meter itu terasa sangat pengap. Dindingnya yang terbuat dari semen semi-permanen tampak berjamur di beberapa sudut, menyebarkan bau lembap yang menusuk hidung. Di langit-langit, sebuah lampu pijar lima watt bergoyang pelan, memancarkan cahaya kuning temaram yang suram."Panas sekali di sini... Aku tidak bisa bernapas, Bobby," keluh Jasmin sambil mengibas-ngibaskan selembar kardus bekas ke arah wajahnya.Mantan sosialita itu kini duduk bersila di atas lantai semen yang dingin. Daster katun murah yang ia kenakan tampak kusut, dan tidak ada lagi kilau perhiasan berlian di leher maupun jemarinya. Setelah berhasil meloloskan diri dari kejaran penagih utang misterius di halte bus kemarin, mereka terpaksa bersembunyi di kawasan kumuh pinggiran kota ini, memutus seluruh akses komunikasi dan meninggalkan Inspektur Zakie yang memilih jalur pelarian
Gubrak!Sebuah koper kain murah bermotif kotak-kotak dilemparkan secara kasar dari atas tangga teras, mendarat tepat di atas genangan air hujan yang mulai menggenang di trotoar. Pakaian-pakaian murah di dalamnya sedikit menyembul keluar dari resletingnya yang rusak."Pergi kalian dari sini! Jangan pernah injak kaki di kompleks ini lagi!" bentak seorang petugas keamanan perumahan berbadan tegap sambil mengacungkan tongkat pemukulnya ke arah Bobby dan Jasmin. "Kalian itu buronan sosial! Seluruh penanam modal dan vendor garmen bergantian datang ke pos jaga setiap jam hanya untuk mencari kepala kalian!"Bobby Hardiyata memungut koper tersebut dengan tangan yang gemetar hebat karena menahan amarah dan rasa malu. Ia menarik lengan Jasmin yang masih membeku menatap rumah mewah mereka yang kini sudah digembok rantai besi besar dan ditempeli stiker segel Kejaksaan Agung. "Ayo, Jasmin... jangan buat keributan lagi. Kita tidak punya hak apa-apa lagi di sini.""Tapi Bobby... semua baju desainer
Brak!Bobby Hardiyata menghempaskan selembar kertas koran ke atas satu-satunya meja kayu yang tersisa di dalam ruang tamu mereka. Wajahnya yang dahulu bersih dan terawat kini dipenuhi janggut tipis yang berantakan. Lingkaran hitam tebal menghiasi kedua matanya yang tampak cekung karena kurang tidur selama berhari-hari."Lihat ini! Lihat!" bentak Bobby, suaranya parau dan bergetar hebat. Telunjuknya menunjuk kasar ke arah halaman depan koran tersebut. "Gurita Garmen Hardiyata resmi dinyatakan pailit oleh pengadilan! Saham kita jatuh ke titik nol, Jasmin! Nol!"Jasmin yang sedang duduk bersandar di sudut dinding kosong hanya bisa melipat lututnya rapat-rapat. Gaun smahalnya kini telah berganti dengan daster katun murah yang kusut. Rumah mewah mereka yang dahulu megah kini terasa laksana gudang hantu yang sepi. Seluruh sofa kulit, televisi layar lebar, hingga lukisan dinding bernilai miliaran rupiah telah diangkut habis oleh tim sita kejaksaan dua hari yang lalu."Kenapa kamu berteria
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per







