LOGIN"Apakah kau sudah mendengar tentang pemuda bernama Marlon dari kelompok The Shadow of Death?" bisik seorang gembong narkoba asal Thailand kepada rekannya di sudut ruang privat yang temaram."Siapa yang belum mendengarnya? Hakim Azis dan Cukong Amir dihabisi tanpa jejak dalam waktu singkat. Bocah berusia dua puluh tahun itu adalah monster baru di Asia Tenggara," jawab rekannya dengan tubuh yang sedikit bergidik ngeri mengingat rumor kekejaman sang eksekutor."Mereka menyebutnya bloody killer. Konon, dia tidak hanya dingin saat mencabut nyawa musuh, tetapi juga sangat mematikan bagi hati para wanita," sambung pria pertama sembari meneguk minumannya, menatap ke bawah ke arah lantai dansa yang bising.Perbincangan di kalangan atas dunia kriminal itu menjadi bukti nyata bagaimana nama Marlon kini telah bertransformasi menjadi sebuah momok yang sangat ditakuti sekaligus disegani.Hanya dalam hitungan bulan sejak resmi dilepas dari sangkar emas, reputasi Marlon sebagai pembunuh berdarah din
"Apakah kau selalu sesempurna ini dalam memperlakukan seorang wanita, Marlon?" bisik wanita berambut pendek sebahu itu dengan suara mendayu, jemari tangannya yang lentik perlahan menelusuri garis rahang tegas Marlon yang begitu menawan."Mengecewakan wanita cantik yang mendambakanku adalah sebuah tindakan yang sangat tidak terpuji, sayang," jawab Marlon dengan nada suara rendahnya yang terdengar maskulin, memberikan seulas senyuman tipis yang sangat memikat."Kalau begitu, jangan biarkan malam yang indah di kamar mewah ini berlalu begitu saja tanpa ada kenangan yang tak terlupakan di antara kita," sambung wanita itu lagi sembari merapatkan tubuh seksinya tanpa jarak pada dada bidang Marlon.Marlon membalas dengan senyuman yang sulit diartikan, sementara instingnya yang tajam mulai memetakan setiap detail di ruangan itu. Sebagai pemuda yang telah ditempa keras oleh pengalaman lapangan selama lima tahun, Marlon memiliki intuisi yang mampu mendeteksi niat buruk di balik keramahan yang p
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden jendela pent house milik Marlon tidak mampu mengusir sisa-sisa kenangan malam itu. Kenikmatan berhubungan dengan Santy untuk pertama kalinya kini kian membayang dan menari-nari di dalam pikiran liarnya. Setiap kali ia teringat bagaimana rasa jepitan yang begitu hangat di dalam milik Tante Santy, milik Marlon seketika langsung berdiri tegak dan menegang keras di dalam celananya. Otot-otot di sekitar kejantanannya itu berdenyut kuat, menuntut pelepasan yang sama besarnya dengan energi masa muda yang terus bergejolak hebat di dalam dirinya.Namun, hari-hari penuh berahi yang terus bergejolak di dalam jiwa mudanya itu tidak lantas membuat Marlon menjadi pria murahan yang bertindak liar. Ia tidak pernah sengaja berkeliaran di jalanan hanya untuk mencari wanita sembarangan demi dijadikan sebagai pemuas nafsu bejatnya. Marlon tetap memegang teguh sebuah prinsip hidup yang sangat unik dan sakral bagi dirinya: ia tidak akan pernah mengecewakan
"Siapa pria tampan itu? Aku belum pernah melihatnya di kalangan kita," bisik salah satu teman Santy dengan mata berbinar.Santy tidak menjawab. Ia langsung berdiri, membawa segelas sampanye, dan berjalan mendekati Marlon dengan senyuman paling memikat yang ia miliki. "Hai... sepertinya kamu sendirian di malam seindah ini? Boleh aku menemanimu?" tanya Santy dengan suara yang dibuat memikat.Marlon menatap Santy dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ia tahu persis jenis wanita seperti apa Santy, namun prinsipnya untuk menghargai ketertarikan wanita membuatnya tersenyum manis. Senyuman Marlon yang menawan langsung membuat jantung Santy berdegup kencang."Tentu saja, wanita secantik dirimu tidak boleh dibiarkan berdiri sendirian," jawab Marlon menyambut tangan Santy dan mengecup punggung tangannya dengan sopan namun sensual.Malam itu mengalir dengan liar. Di bawah pengaruh alkohol dan pesona karisma Marlon, Santy sepenuhnya jatuh ke dalam pelukan sang bloody killer. Mereka berpindah ke ka
Malam itu, langit di atas ibu kota menggantung pekat, menyembunyikan kilatan bintang di balik polusi dan kabut tipis. Bagi dunia luar, malam itu hanyalah malam biasa yang penuh dengan hiruk-pikuk kemacetan dan gemerlap lampu kota. Namun bagi Marlon Pramudya, malam ini adalah gerbang kebebasan yang sesungguhnya. Tepat pada hari ini, usianya menginjak dua puluh tahun. Kontrak lima tahun atas fasilitas mewah, perlindungan total, dan pendidikan elit yang diberikan oleh orangtua angkatnya, Tante Goldies, telah resmi berakhir. Lima tahun yang lalu, ia hanyalah seorang remaja berusia lima belas tahun yang hancur, sebelum akhirnya dilarikan ke tempat aman oleh jaringan Tante Goldies untuk dipersiapkan menjadi eksekutor masa depan.Di balik kemegahan statusnya sebagai anak angkat pemimpin tertinggi The Shadow of Death, lima tahun terakhir hidup Marlon sebenarnya dihabiskan di dalam sebuah ‘sangkar emas’ yang sangat keras. Tubuhnya yang penuh memar kala itu disembuhkan secara total melalui fa
Malam semakin larut menyelimuti kota metropolitan dengan hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Di dalam ruang tengah rumah megah keluarga Hardiyata yang sunyi, bayangan pilar-pilar besar tampak laksana jeruji besi yang mengurung sesosok wanita paruh baya yang tak lagi berdaya. Hanya suara detak jam dinding kuno yang memecah keheningan, berdentang ritmis seolah menghitung sisa-sisa waktu dari kejayaan yang telah runtuh. Lampu gantung kristal yang mewah sengaja dibiarkan padam oleh perawat medis yang sudah malas melayaninya, menyisakan kegelapan yang pekat dan suasana mencekam yang seakan menelan seluruh ruang kehidupan di tempat tersebut.Kebencian Kemala kepada Marlon kini telah mendarah daging hingga ke sumsum tulang terdalamnya, menjadi racun yang mengalir di setiap sisa aliran darahnya yang tersumbat stroke. Meskipun tubuhnya sudah lumpuh total di atas kursi roda dan lidahnya kelu untuk berucap, sepasang matanya yang merah masih memancarkan kilatan amarah yang luar biasa pe
Si wanita bergincu tebal itu terus mengikuti langkah Marlon hingga ke smoking area, dia duduk tidak jauh dari tempat duduk Marlon yang saat itu hanya seorang diri di balkon hotel yang terbuka bebas itu. Ada semilir angin bertiup di siang menjelang sore itu yang mengibas rambut panjang wanita berpak
Meygi menyuruh Herru yang berdiri di belakangnya untuk memanggil si manager restoran. Tidak lama datang lah wanita berponi dan bermata sipit menghadapnya.“Iya Bu Meygi... Ibu panggil saya?” tanya si manager sambil membungkukan badan di depan Meygi untuk menunjukkan rasa hormatnya.“Tadi kamu bila
“Kenapa kamu sejak tadi diam saja sih, Beb? Apa kamu masih belum yakin dengan Black Card yang aku miliki bisa membayar semua makanan yang dipesan teman-temanmu,” ucap Erinka saat terlihat kurang berselera menikmati makan siangnya di meja terpisah dengan teman-temannya. “Aku percaya kok, pasti kamu
Setelah Albert menyetujui untuk menyampaikan permohonan maafnya pada Hendrik dan tony, Erinka kembali mengajak Marlon untuk bergabung dengan teman-temannya yang sedang asyik mengobrol. Wenny tampak berbisik-bisik dengan lelaki kurus di sebelahnya, entah apa yang direncanakannya.“Marlon, selama per







