Share

BAB 7

Penulis: LOVEBITES
last update Tanggal publikasi: 2026-06-29 10:32:06

"Terima kasih."

Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Kaluna sendiri tampak sedikit terkejut karena kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Sedangkan Xander hanya menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Ternyata kamu masih ingat cara mengucapkan itu."

Kaluna langsung mendecak kesal, "Jangan mulai. Aku hanya menghargai usahamu ini." Xander mengangguk dan tersenyum, "Itu sudah lebih dari cukup."

Suasana kembali hening, namun kali ini berbeda. Tidak lagi setegang beberapa menit sebelumnya. Xander kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi, sementara Kaluna melanjutkan makannya dengan lebih tenang.

"Kau masih sering memasak?" Pertanyaan itu keluar begitu saja.

Xander tampak sedikit terkejut. Mungkin karena sejak ia datang, itulah pertanyaan pertama yang tidak bernada mengusir. "Sesekali."

"Benarkah?"

Xander terkekeh pelan. "Aku memang tidak sesibuk dirimu."Kaluna hanya mengangguk kecil sambil memutar garpu di atas piringnya. Hening kembali menyelimuti meja makan. Sampai akhirnya Xander berbicara.

"Semenjak Mama meninggal... Papa hanya tidak tahu bagaimana caranya menjaga putri semata wayangnya."

Garpu di tangan Kaluna berhenti.

"Kau tahu itu."

Kaluna mengangkat kepalanya perlahan "Xan." Tatapannya kembali mengeras, "kalau kau datang ke sini hanya untuk membuatku merasa bersalah, kau bisa pulang sekarang."

Xander menghela napas pelan. "Kenapa kau selalu berpikir semua orang sedang menyerangmu?"

Kaluna tertawa kecil, "Karena biasanya memang begitu." Jawabannya begitu cepat hingga membuat Xander terdiam. Ia tidak membantah. Karena itu memang kenyataannya. Selama beberapa tahun terakhir, Kaluna terlalu sering dipaksa berdiri sendirian, meskipun banyak pihak yang mencoba menjatuhkannya.

"Aku sedang tidak membela papa,"

"Tapi kau terus membicarakan pria tua itu."

"Kita memang sedang membicarakannya."

Kaluna memutar bola matanya. Namun tidak menghentikan percakapan mereka, dan itu sudah merupakan kemajuan besar. Xander mengambil gelas air di depannya, lalu berkata pelan. "Papa selalu membaca semua berita tentangmu. Semuanya"

Kaluna hanya mengernyit, " Untuk apa?" Tatapannya mulai sinis. "Bukankah dia justru dalang di balik sebagian besar berita itu? Jangan bercanda, Xan."

"Aku terlihat sedang bercanda?" tanya Xander dengan tatapn melembut, sedangkan Kaluna hanya menggeleng pelan. "Beberapa tahun lalu, saat Eve group membuka hotel pertamanya," Kaluna mulai memperhatikannya. "Papa bahkan membeli lima koran berbeda, karena namamu ada dimana-mana setelah dia membungkam semua beritamu tentang perceraianmu saat itu."

"Untuk apa?"

"Untuk membaca semua artikel yang berbeda-beda tentangmu."

Kaluna menatap kakaknya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Xander sama sekali tidak percaya. "Itu omong kosong."

Xander hanya menggeleng, "Aku melihatnya sendiri,dia bahkan meminta asistenya mencetak semua artikel online."

Kaluna terdiam.

"Dan menyimpannya di ruang kerja. "

Kaluna tidak menjawab, karena semakin lama percakapan ini berlangsung semakin terasa asing. Ethan Vance yang ia kenal tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu, selama ini di matanya hanya Xander yang membuatnya bangga. Pria itu selalu menatapnya dingin, kaku dan menyebalkan. "Itu tidak mengubah apapun, Xan."

"Aku tahu. tapi kau juga harus tahu sesuatu." Tatapan mereka bertemu, "Papa tidak pernah melewatkan satu pun pencapaianmu."

Hening.

"Dia mungkin tidak datang, dia mungkin tidak mengatakannya, dia mungkin tidak perduli tapi dia selalu tahu." lanjut Xander dengan nada lebih lembut. Membuat dada Kaluna perlahan menegang, karena untuk pertama kalinya... Ia mulai mengingat sesuatu. Hal-hal kecil yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Ucapan selamat yang datang terlalu cepat. Investor yang tiba-tiba mundur setelah mencoba menjatuhkan Eve Group. Beberapa masalah yang seolah selesai dengan sendirinya. Dulu ia tidak pernah memikirkannya.

Apakah benar semuanya terjadi dengan sendirinya? Kaluna membuang pikirannya jauh-jauh. Tidak, Ia tidak suka ke mana arah percakapan ini berjalan. Karena semakin lama,semakin terasa seperti seseorang sedang mencoba menggoyahkan keyakinan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun.

"Itu tetap tidak mengubah apa pun." Suara Kaluna terdengar datar. "Papa tetap mencoba mengambil perusahaanku, papa tetap mencoba mengatur hidupku dan papa tetap meremehkanku."

Xander tidak langsung menjawab. Pria itu hanya memperhatikan adiknya beberapa saat. Lalu tersenyum tipis. "Aku rasa itu masalah utamanya."

"Apa"

"Di mata papa, kau memang masih anak kecil." Kaluna tertawa, kali ini benar-benar tertawa. Namun tidak ada ada sedikitpun homor dalam tawanya. "Hebat sekali, Usiaku tiga puluh lima tahun. aku seorang ibu dan aku mengelola perusahaan dengan puluhan ribu karyawan. Dan dia masih menganggapku anak kecil."

"kurang lebih begitu."

"Pria tua itu gila."

Xander mengambil gelasnya.

Memutar pelan sebelum melanjutkan.

"Luna, kau tahu kapan terakhir kali Papa benar-benar tenang?"

Kaluna mengangkat alis.

"Tidak."

"Karena tidak pernah."

Hening.

"Bahkan saat kau sudah menikah. Bahkan setelah kau punya Aldrich, bahkan setelah Eve Group berdiri."

Tatapan Xander perlahan melunak. "Papa tetap mengkhawatirkanmu."

Kaluna mendecak pelan. "Kalau itu bentuk kekhawatiran, aku tidak menginginkannya."

"Kau tidak harus menyukainya."

"Tentu saja aku tidak menyukainya."

"Tapi itu akan tetap ada, Lun."

Suasana kembali hening. Kaluna tidak langsung membalas. Karena ada sesuatu dalam nada suara Xander yang membuatnya sadar. Pria itu tidak sedang membela Ethan. Ia hanya sedang mengatakan kenyataan yang ia lihat selama bertahun-tahun.

"Lalu kenapa?" Suara Kaluna lebih pelan sekarang. "Kalau dia begitu peduli..." Tatapannya jatuh ke meja makan. "...kenapa rasanya selalu seperti aku harus memperjuangkan semuanya sendirian?"

"Karena kau terlalu mirip Mama."

Kaluna membeku, lagi dan lagi. Nama itu, selalu nama itu. Tatapannya perlahan terangkat, lalu menghela napas. "Kurasa sampai disini pembicaraan kita, kau hanya bicara omong kosong."

"Lun.."

"Sudah ku katakan, kau hanya membuang waktu ku. Semua itu tidak mengubah masalah utamanya, lebih baik kau pulang." Tatapannya mulai menajam kembali. "Jika Papa benar-benar melakukannya," Suara rendah, "Apa kau akan mengambil Eve Group?"

Untuk beberapa detik, Xander hanya diam lalu ia menggeleng. "Tidak. Aku tidak menginginkannya." Kaluna memperhatikannya lama. Seolah sedang mencari kebohongan di wajah kakaknya. Namun tidak menemukannya. "Aku tidak pernah menginginkannya."

Kaluna menarik napas panjang.

"Lalu kenapa?" Suaranya mulai meninggi. “Mengapa kamu tidak berhenti?”

Hening.

"Mengapa kau diam saja, Xan?" Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya benar-benar pecah. "Aku membangun perusahaan itu dari nol!"

Dadanya naik turun, tatapannya memerah, bukan karena air mata, melainkan karena kemarahan yang telah dipendam terlalu lama. "Bukan karena nama belakang Vance."

Hening.

"Aku membangunnya sendiri."

Xander tetap diam. Membiarkan adiknya meluapkan semua yang selama ini ia simpan.

"Kau tahu bagaimana mereka memperlakukanku saat itu?" Kaluna tertawa kecil. Namun tawanya terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan. "Mereka bahkan tidak mau duduk satu meja denganku."

Tatapannya mulai bergetar, namun bukan karena sedih melainkan karena marah. "Kau tahu kenapa? Karena mereka takut pada Ethan Vance."

Kaluna tertawa getir, "Saat itu.." Ia menarik napas panjang. "Aku datang menemui papa."

Xander perlahan mengangkat kepalanya. Kaluna kembali tertawa hambar. "Aku meminta bantuannya."

Hening.

"Aku bahkan tidak meminta bagian Vance Group, Aku tidak meminta hartanya, Aku tidak meminta kekuasaannya." tatapannya kembali bertemu dengan Xander. "Aku hanya meminta satu hal." Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. "Aku meminta Papa percaya padaku."

Suara Kaluna mulai bergetar, "Dan berdiri di sampingku." Ia menggeleng pelan seolah masih mengingat hari itu dengan sangat jelas. "Tapi dia menolakku."

Hening

"Tidak ada dukungan. Tidak ada kepercayaan. Yang kuterima Hanya penolakan." Tatapannya kembali bertemu dengan Xander. Tajam dan Terluka. "Dan sejak hari itu, aku tidak pernah meminta apa pun lagi darinya."

Xander mentap adiknya tanpa berkedip. "Jadi jangan bilang padaku dia peduli. Jangan bilang padaku dia mengkhawatirkanku. Karena saat aku benar-benar membutuhkannya..." Kaluna tersenyum pahit. "...dia memilih berdiri di sisi yang berlawanan."

Hening. Begitu hening hingga hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Kaluna menatap kakaknya tanpa berkedip. "Aku tidak akan diam ketika seseorang mencoba mengambil milikku." Tatapannya semakin tajam. "Termasuk Papa."

Sedetik kemudian, "Dan termasuk dirimu."

Xander tetap diam, tidak juga terlihat marah. Ia hanya menatap adiknya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan.

"Maka.." Kaluna berdiri perlahan dari kursinya, "Mulai hari itu, Kalian akan ada di daftar musuhku."

Hening.

Xander ikut berdiri, namun bukannya membalas ancaman itu, pria tersebut hanya menganggukan kepalanya pelan. "Aku tahu."

"Tidak." Kaluna tertawa hambar. "Kau tidak tahu."

"Kalau sampai ada yang mencoba mengambil Eve Group..." Suara wanita itu perlahan merendah. Namun justru terdengar lebih berbahaya. "...aku akan melawannya."

Hening.

"Sampai akhir."

Xander tersenyum. Bukan senyum mengejek. Bukan senyum meremehkan. Melainkan senyum bangga, senyum seorang kakak yang baru saja melihat adik kecilnya berdiri menopang seluruh hidup yang telah ia bangun dengan tangannya sendiri.

"Aku tahu." Suaranya memelan. "Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan Kaluna Vance, Kalau dia sudah memutuskan untuk bertarung."

Kaluna tidak menjawab, ia hanya menarap kakaknya beberapa detik lalu meninggalkan ruang makan. meninggalkan Xander yang masih berdiri di tempatnya. Tatapan pria itu perlahan jatuh pada pasta yang masih tersisa di meja. Ia mengembuskan napas panjang.

"Aku tidak akan mengambil milikmu, Lun. tidak akan." suaranya nyaris seperti bisikan,

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Marriage With Benefits   BAB 7

    "Terima kasih." Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Kaluna sendiri tampak sedikit terkejut karena kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Sedangkan Xander hanya menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Ternyata kamu masih ingat cara mengucapkan itu." Kaluna langsung mendecak kesal, "Jangan mulai. Aku hanya menghargai usahamu ini." Xander mengangguk dan tersenyum, "Itu sudah lebih dari cukup." Suasana kembali hening, namun kali ini berbeda. Tidak lagi setegang beberapa menit sebelumnya. Xander kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi, sementara Kaluna melanjutkan makannya dengan lebih tenang. "Kau masih sering memasak?" Pertanyaan itu keluar begitu saja.Xander tampak sedikit terkejut. Mungkin karena sejak ia datang, itulah pertanyaan pertama yang tidak bernada mengusir. "Sesekali." "Benarkah?" Xander terkekeh pelan. "Aku memang tidak sesibuk dirimu."Kaluna hanya mengangguk kecil sambil memutar garpu di atas piringnya. Hening kembali menyelimuti meja makan. Sampai akhirnya

  • Marriage With Benefits   SEPIRING PASTA

    Penthouse pribadi Kaluna berada di lantai paling atas salah satu gedung milik Eve Group. Suasana nya terlalu sunyi meskipun di dalamnya terlihat sangat mewah. Malam sudah hampir pukul sepuluh ketika Kaluna akkhirnya berhasil membawa Aldrich pulang. Anak itu tertidur bahkan sebelum mobil meninggalkan area parkir Lune et Pain. Dan kini anak itu sudah terlelap di kamarnya. Kaluna menggendong putranya perlahan menuju kamar. Ia membaringkannya dengan hati-hati di atas tempat tidur kecil, menarik selimut hingga menutupi tubuh mungilnya, lalu menyibakkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi dahinya. Sebuah kecupan singkat mendarat di kening Aldrich. "Selamat tidur, Sayang." Lampu kamar dipadamkan. klik, begitu pintu kamar tertutup, seluruh penthouse kembali di selimuti keheningan. Kaluna berjalan menuju jendela kaca setinggi langit-langit. Segelas air putih berada di tangannya. Dari sana, gemerlap lampu Jakarta terbentang begitu indah, tetapi malam ini ia sama sekali tidak mampu menik

  • Marriage With Benefits   BAB 5

    Jane memperhatikan Kaluna beberapa detik dari balik meja barista. Wajah itu sudah terlalu ia kenal. Dan wajah seperti itu biasanya berarti seseorang baru saja membuat Kaluna ingin membakar satu gedung penuh. Jane mengambil sebuah cangkir. Lalu mulai meracik sesuatu. Tidak lama kemudian, ia berjalan mendekati sofa tempat Kaluna duduk bersama Aldrich. Sebuah cangkir hangat diletakkannya tepat di depan Kaluna. "Minum." Kaluna melirik isi cangkir itu. Lalu mengernyit. "Aku pesan kopi." "Tidak." "Jane." "Tidak." Kaluna menatap sahabatnya datar. Jane balas menatapnya tanpa takut sedikit pun. Emily yang duduk tidak jauh dari sana langsung menahan senyum. Sudah bertahun-tahun. Dan hanya Jane satu-satunya manusia di bumi yang berani memperlakukan Kaluna Vance seperti anak kecil. "Aku tidak suka ini." "Makanya aku yang pilih." Kaluna mendengus, Jane kemudian ikut duduk di hadapannya. "Kau belum makan." "Aku tidak lapar." "Kau marah." "Aku tahu." "Kau juga keras k

  • Marriage With Benefits   Lune Et Pain

    Beberapa menit kemudian, Mercedes-Benz hitam itu akhirnya memasuki area parkir yang menghadap langsung ke danau kota. Lune et Pain. Sebuah coffee and pastry house berukuran tidak terlalu besar yang berdiri di salah satu sudut paling strategis di pusat kota Jakarta. Bangunannya didominasi kaca-kaca tinggi dengan sentuhan kayu hangat dan pencahayaan kekuningan yang nyaman. Dari teras belakang, pengunjung bisa menikmati pemandangan danau kota yang memantulkan cahaya lampu malam seperti ribuan bintang yang jatuh ke permukaan air. Tempat itu tidak pernah dirancang untuk menjadi jaringan bisnis besar. Tidak seperti Eve Group. Tidak seperti hotel-hotel mewah milik keluarga Vance. Lune et Pain dibangun untuk alasan yang jauh lebih sederhana. Karena seseorang pernah bermimpi memiliki tempat yang dipenuhi aroma kopi dan roti hangat. Dan seseorang itu adalah Kaluna. Sayangnya, hidup membawanya ke arah yang berbeda. Karena itulah selama lima tahun terakhir, tempat ini dikelola oleh oran

  • Marriage With Benefits   SELALU BUKAN AKU

    Pintu ruang kerja Ethan masih tertutup rapat. Sementara di luar koridor lantai dua yang sunyi itu, Xander berdiri di dekat jendela besar yang menghadap taman belakang mansion. Tangannya masuk ke saku celana. Tatapannya sesekali melirik ke arah pintu ruang kerja ayahnya. Sudah hampir tiga puluh menit. Dan itu bukan pertanda baik. Suara langkah kaki terdengar dari ujung koridor. Xander menoleh.Emily.Wanita muda itu baru saja naik dari lantai bawah setelah salah satu pelayan mempersilahkannya menunggu di area keluarga. Begitu melihat Xander, Emily langsung membungkukkan kepala sedikit. "Tuan Xander."Xander tersenyum tipis. "Emily."Mereka sudah cukup sering bertemu selama lima tahun terakhir. Bagaimanapun juga, Emily adalah orang yang hampir selalu berada di sisi Kaluna."Masih menunggu?" tanya Emily pelan.Xander mengangguk."Sudah berapa lama?""Hampir setengah jam."Emily meringis kecil. "Kalau sudah selama itu...""Mereka sedang bertengkar."Emily tidak menyelesaikan kalimatnya. N

  • Marriage With Benefits   ULTIMATUM

    Pintu ruang kerja itu tertutup pelan.Klik.Keheningan langsung mengambil alih ruangan.Kaluna menyilangkan kedua tangannya di dada. "Baik." Tatapannya tidak pernah lepas dari Ethan. "Apa yang sebenarnya Papa inginkan?"Ethan tidak langsung menjawab. Pria itu justru bangkit dari kursinya dan berjalan menuju jendela besar yang menghadap taman belakang kediaman keluarga Vance. Usianya sudah hampir enam puluh tahun, namun punggungnya masih tegak. Wibawanya masih cukup untuk membuat sebagian besar orang memilih diam. Namun Kaluna bukan sebagian besar orang."Aku tidak meragukan kemampuanmu."Kaluna mengangkat alis. "Kalau begitu berhenti mengatur hidupku.""Aku tidak sedang mengatur hidupmu." Jawab Ethan cepat. "Aku sedang mempersiapkanmu."Kaluna tertawa pendek. "Terdengar sama saja.""Dalam beberapa tahun terakhir aku masih bisa mengawasi banyak hal."Kaluna tidak menjawab."Aku masih bisa memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuh keluargaku.""Aku masih bisa memastikan tidak ada

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status