LOGIN"Terima kasih."
Untuk sesaat, tidak ada yang berbicara. Kaluna sendiri tampak sedikit terkejut karena kalimat itu keluar begitu saja dari mulutnya. Sedangkan Xander hanya menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Ternyata kamu masih ingat cara mengucapkan itu." Kaluna langsung mendecak kesal, "Jangan mulai. Aku hanya menghargai usahamu ini." Xander mengangguk dan tersenyum, "Itu sudah lebih dari cukup." Suasana kembali hening, namun kali ini berbeda. Tidak lagi setegang beberapa menit sebelumnya. Xander kembali menyandarkan tubuhnya pada kursi, sementara Kaluna melanjutkan makannya dengan lebih tenang. "Kau masih sering memasak?" Pertanyaan itu keluar begitu saja. Xander tampak sedikit terkejut. Mungkin karena sejak ia datang, itulah pertanyaan pertama yang tidak bernada mengusir. "Sesekali." "Benarkah?" Xander terkekeh pelan. "Aku memang tidak sesibuk dirimu."Kaluna hanya mengangguk kecil sambil memutar garpu di atas piringnya. Hening kembali menyelimuti meja makan. Sampai akhirnya Xander berbicara. "Semenjak Mama meninggal... Papa hanya tidak tahu bagaimana caranya menjaga putri semata wayangnya." Garpu di tangan Kaluna berhenti. "Kau tahu itu." Kaluna mengangkat kepalanya perlahan "Xan." Tatapannya kembali mengeras, "kalau kau datang ke sini hanya untuk membuatku merasa bersalah, kau bisa pulang sekarang." Xander menghela napas pelan. "Kenapa kau selalu berpikir semua orang sedang menyerangmu?" Kaluna tertawa kecil, "Karena biasanya memang begitu." Jawabannya begitu cepat hingga membuat Xander terdiam. Ia tidak membantah. Karena itu memang kenyataannya. Selama beberapa tahun terakhir, Kaluna terlalu sering dipaksa berdiri sendirian, meskipun banyak pihak yang mencoba menjatuhkannya. "Aku sedang tidak membela papa," "Tapi kau terus membicarakan pria tua itu." "Kita memang sedang membicarakannya." Kaluna memutar bola matanya. Namun tidak menghentikan percakapan mereka, dan itu sudah merupakan kemajuan besar. Xander mengambil gelas air di depannya, lalu berkata pelan. "Papa selalu membaca semua berita tentangmu. Semuanya" Kaluna hanya mengernyit, " Untuk apa?" Tatapannya mulai sinis. "Bukankah dia justru dalang di balik sebagian besar berita itu? Jangan bercanda, Xan." "Aku terlihat sedang bercanda?" tanya Xander dengan tatapn melembut, sedangkan Kaluna hanya menggeleng pelan. "Beberapa tahun lalu, saat Eve group membuka hotel pertamanya," Kaluna mulai memperhatikannya. "Papa bahkan membeli lima koran berbeda, karena namamu ada dimana-mana setelah dia membungkam semua beritamu tentang perceraianmu saat itu." "Untuk apa?" "Untuk membaca semua artikel yang berbeda-beda tentangmu." Kaluna menatap kakaknya, tidak percaya dengan apa yang dikatakan Xander sama sekali tidak percaya. "Itu omong kosong." Xander hanya menggeleng, "Aku melihatnya sendiri,dia bahkan meminta asistenya mencetak semua artikel online." Kaluna terdiam. "Dan menyimpannya di ruang kerja. " Kaluna tidak menjawab, karena semakin lama percakapan ini berlangsung semakin terasa asing. Ethan Vance yang ia kenal tidak mungkin melakukan hal-hal seperti itu, selama ini di matanya hanya Xander yang membuatnya bangga. Pria itu selalu menatapnya dingin, kaku dan menyebalkan. "Itu tidak mengubah apapun, Xan." "Aku tahu. tapi kau juga harus tahu sesuatu." Tatapan mereka bertemu, "Papa tidak pernah melewatkan satu pun pencapaianmu." Hening. "Dia mungkin tidak datang, dia mungkin tidak mengatakannya, dia mungkin tidak perduli tapi dia selalu tahu." lanjut Xander dengan nada lebih lembut. Membuat dada Kaluna perlahan menegang, karena untuk pertama kalinya... Ia mulai mengingat sesuatu. Hal-hal kecil yang selama ini tidak pernah ia pikirkan. Ucapan selamat yang datang terlalu cepat. Investor yang tiba-tiba mundur setelah mencoba menjatuhkan Eve Group. Beberapa masalah yang seolah selesai dengan sendirinya. Dulu ia tidak pernah memikirkannya. Apakah benar semuanya terjadi dengan sendirinya? Kaluna membuang pikirannya jauh-jauh. Tidak, Ia tidak suka ke mana arah percakapan ini berjalan. Karena semakin lama,semakin terasa seperti seseorang sedang mencoba menggoyahkan keyakinan yang telah ia bangun selama bertahun-tahun. "Itu tetap tidak mengubah apa pun." Suara Kaluna terdengar datar. "Papa tetap mencoba mengambil perusahaanku, papa tetap mencoba mengatur hidupku dan papa tetap meremehkanku." Xander tidak langsung menjawab. Pria itu hanya memperhatikan adiknya beberapa saat. Lalu tersenyum tipis. "Aku rasa itu masalah utamanya." "Apa" "Di mata papa, kau memang masih anak kecil." Kaluna tertawa, kali ini benar-benar tertawa. Namun tidak ada ada sedikitpun homor dalam tawanya. "Hebat sekali, Usiaku tiga puluh lima tahun. aku seorang ibu dan aku mengelola perusahaan dengan puluhan ribu karyawan. Dan dia masih menganggapku anak kecil." "kurang lebih begitu." "Pria tua itu gila." Xander mengambil gelasnya. Memutar pelan sebelum melanjutkan. "Luna, kau tahu kapan terakhir kali Papa benar-benar tenang?" Kaluna mengangkat alis. "Tidak." "Karena tidak pernah." Hening. "Bahkan saat kau sudah menikah. Bahkan setelah kau punya Aldrich, bahkan setelah Eve Group berdiri." Tatapan Xander perlahan melunak. "Papa tetap mengkhawatirkanmu." Kaluna mendecak pelan. "Kalau itu bentuk kekhawatiran, aku tidak menginginkannya." "Kau tidak harus menyukainya." "Tentu saja aku tidak menyukainya." "Tapi itu akan tetap ada, Lun." Suasana kembali hening. Kaluna tidak langsung membalas. Karena ada sesuatu dalam nada suara Xander yang membuatnya sadar. Pria itu tidak sedang membela Ethan. Ia hanya sedang mengatakan kenyataan yang ia lihat selama bertahun-tahun. "Lalu kenapa?" Suara Kaluna lebih pelan sekarang. "Kalau dia begitu peduli..." Tatapannya jatuh ke meja makan. "...kenapa rasanya selalu seperti aku harus memperjuangkan semuanya sendirian?" "Karena kau terlalu mirip Mama." Kaluna membeku, lagi dan lagi. Nama itu, selalu nama itu. Tatapannya perlahan terangkat, lalu menghela napas. "Kurasa sampai disini pembicaraan kita, kau hanya bicara omong kosong." "Lun.." "Sudah ku katakan, kau hanya membuang waktu ku. Semua itu tidak mengubah masalah utamanya, lebih baik kau pulang." Tatapannya mulai menajam kembali. "Jika Papa benar-benar melakukannya," Suara rendah, "Apa kau akan mengambil Eve Group?" Untuk beberapa detik, Xander hanya diam lalu ia menggeleng. "Tidak. Aku tidak menginginkannya." Kaluna memperhatikannya lama. Seolah sedang mencari kebohongan di wajah kakaknya. Namun tidak menemukannya. "Aku tidak pernah menginginkannya." Kaluna menarik napas panjang. "Lalu kenapa?" Suaranya mulai meninggi. “Mengapa kamu tidak berhenti?” Hening. "Mengapa kau diam saja, Xan?" Untuk pertama kalinya malam itu, suaranya benar-benar pecah. "Aku membangun perusahaan itu dari nol!" Dadanya naik turun, tatapannya memerah, bukan karena air mata, melainkan karena kemarahan yang telah dipendam terlalu lama. "Bukan karena nama belakang Vance." Hening. "Aku membangunnya sendiri." Xander tetap diam. Membiarkan adiknya meluapkan semua yang selama ini ia simpan. "Kau tahu bagaimana mereka memperlakukanku saat itu?" Kaluna tertawa kecil. Namun tawanya terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisan. "Mereka bahkan tidak mau duduk satu meja denganku." Tatapannya mulai bergetar, namun bukan karena sedih melainkan karena marah. "Kau tahu kenapa? Karena mereka takut pada Ethan Vance." Kaluna tertawa getir, "Saat itu.." Ia menarik napas panjang. "Aku datang menemui papa." Xander perlahan mengangkat kepalanya. Kaluna kembali tertawa hambar. "Aku meminta bantuannya." Hening. "Aku bahkan tidak meminta bagian Vance Group, Aku tidak meminta hartanya, Aku tidak meminta kekuasaannya." tatapannya kembali bertemu dengan Xander. "Aku hanya meminta satu hal." Ruangan mendadak terasa jauh lebih sunyi. "Aku meminta Papa percaya padaku." Suara Kaluna mulai bergetar, "Dan berdiri di sampingku." Ia menggeleng pelan seolah masih mengingat hari itu dengan sangat jelas. "Tapi dia menolakku." Hening "Tidak ada dukungan. Tidak ada kepercayaan. Yang kuterima Hanya penolakan." Tatapannya kembali bertemu dengan Xander. Tajam dan Terluka. "Dan sejak hari itu, aku tidak pernah meminta apa pun lagi darinya." Xander mentap adiknya tanpa berkedip. "Jadi jangan bilang padaku dia peduli. Jangan bilang padaku dia mengkhawatirkanku. Karena saat aku benar-benar membutuhkannya..." Kaluna tersenyum pahit. "...dia memilih berdiri di sisi yang berlawanan." Hening. Begitu hening hingga hanya suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Kaluna menatap kakaknya tanpa berkedip. "Aku tidak akan diam ketika seseorang mencoba mengambil milikku." Tatapannya semakin tajam. "Termasuk Papa." Sedetik kemudian, "Dan termasuk dirimu." Xander tetap diam, tidak juga terlihat marah. Ia hanya menatap adiknya dengan sorot mata yang sulit dijelaskan. "Maka.." Kaluna berdiri perlahan dari kursinya, "Mulai hari itu, Kalian akan ada di daftar musuhku." Hening. Xander ikut berdiri, namun bukannya membalas ancaman itu, pria tersebut hanya menganggukan kepalanya pelan. "Aku tahu." "Tidak." Kaluna tertawa hambar. "Kau tidak tahu." "Kalau sampai ada yang mencoba mengambil Eve Group..." Suara wanita itu perlahan merendah. Namun justru terdengar lebih berbahaya. "...aku akan melawannya." Hening. "Sampai akhir." Xander tersenyum. Bukan senyum mengejek. Bukan senyum meremehkan. Melainkan senyum bangga, senyum seorang kakak yang baru saja melihat adik kecilnya berdiri menopang seluruh hidup yang telah ia bangun dengan tangannya sendiri. "Aku tahu." Suaranya memelan. "Tidak ada seorang pun yang bisa menghentikan Kaluna Vance, Kalau dia sudah memutuskan untuk bertarung." Kaluna tidak menjawab, ia hanya menarap kakaknya beberapa detik lalu meninggalkan ruang makan. meninggalkan Xander yang masih berdiri di tempatnya. Tatapan pria itu perlahan jatuh pada pasta yang masih tersisa di meja. Ia mengembuskan napas panjang. "Aku tidak akan mengambil milikmu, Lun. tidak akan." suaranya nyaris seperti bisikan,Mobil Kaluna berhenti tepat di depan pintu utama gedung perkantoran Vance Group yang menjulang tinggi dan megah. Langkah Kaluna mantap dan berwibawa saat melangkah masuk menyambut sapaan para karyawan yang menunduk hormat ke arahnya. Emily berjalan selangkah di belakangnya, tangan memeluk tablet tipis, wajahnya tenang dan profesional. Sesampainya di ruangan kerja Kaluna yang luas, berlantai marmer dan dinding kaca menghadap pemandangan kota, Kaluna meletakkan tas kerjanya di meja lalu duduk di kursi besarnya. Emily berdiri di hadapannya, membuka catatan di layar tablet. "Jadwal hari ini, Nyonya. Pukul sepuluh rapat dengan tim keuangan. Pukul sebelas pertemuan dengan pengembang proyek baru. Pukul dua belas tiga puluh..." Emily berhenti sejenak. "Lanjutkan," perintah Kaluna sambil menandatangani berkas di depannya. "Makan siang dengan Tuan Sean Wiratama di restoran Sapphire Dining," ucap Emily tenang. Pena di tangan Kaluna berhenti bergerak. Ia mendongak menatap Emily. "Maksudmu..
Pintu penthouse terbuka lebar. Kaluna melangkah keluar lebih dulu, menuntun tangan kecil Aldrich yang berjalan rapi di sampingnya. Penampilannya hari ini memancarkan wibawa seorang pemimpin sekaligus kelembutan seorang ibu: balutan setelan jas berwarna krem yang pas di badan, sepatu hak tinggi yang berkilau, dan rambut hitamnya disusun rapi menonjolkan garis wajahnya yang tegas namun cantik. Aura dingin dan berkelas langsung menyelimuti setiap langkahnya.Aldrich berjalan dengan senyum ceria, mengenakan seragam sekolah yang rapi dan tas punggung kecil berwarna biru tua di punggungnya. Sesekali ia mendongak menatap ibunya, lalu meremas tangan Kaluna sedikit lebih erat.Tepat di belakang mereka berjalan beriringan. Emily dengan tablet di tangan kanannya, matanya tak pernah lepas dari Kaluna sedangkan Naya yang membawa perlengkapan tambahan Aldrich dan dua orang pengawal berbadan tegap dengan setelan gelap yang berjalan dengan langkah tenang namun siap siaga, menjaga jarak aman di sisi k
Pagi itu cahaya matahari masih lembut menyelinap lewat jendela kaca besar. Kaluna berjalan pelan keluar kamar, matanya masih sedikit kabur karena baru bangun tidur. Di ruang tengah, Aldrich duduk tenang di atas karpet empuk, sedang serius membaca buku tebal berisi gambar-gambar planet, sementara Naya berdiri di belakangnya dengan sisir di tangan, merapikan rambut anak itu. Di sudut dapur, koki pribadi sudah sibuk menyiapkan aroma sarapan yang menggugah selera.Kaluna berjalan mendekat lalu menepuk pelan bahu Naya."Biar aku saja," katanya lembut."Baik, Nyonya," jawab Naya sopan sambil menyodorkan sisir, lalu berjalan menuju dapur membantu koki.Kaluna mengangguk, lalu mencium puncak kepala Aldrich dengan penuh kasih sayang.Aldrich langsung menoleh cerah, matanya berbinar senang."Selamat pagi Mami ku yang cantikkk!""Selamat pagi, sayang," balas Kaluna sambil tersenyum lebar. "Wangi sekali anak Mami hari ini.""Iyaaa dong! Anak Mami harus selalu wangi," jawab Aldrich bangga.Kaluna
Nathan menyetir dengan tenang, ponselnya tersambung otomatis ke sistem suara mobil. Tiba-tiba suara Celine terdengar jelas memenuhi kabin, karena Nathan lupa tidak mematikan fitur sambungan otomatis dan tidak menggunakan earphone. "Nanti aku hubungi lagi begitu sampai di apartemen ya, sayang," ucap Nathan pelan. "Hmm... aku juga baru mau pulang dari sini," jawab Celine dari seberang. "Hati-hati di jalan ya pulangnya," pesan Nathan lembut. "Kamu juga ganteng. I love you, Nath." "Iya sayang, I love you so much." Sambungan terputus. Sejak tadi Kaluna hanya bersandar lemas di jok samping, matanya terpejam rapat, padahal setiap kata percakapan itu terdengar sangat jelas di telinganya. Kaluna tertawa kecil, suaranya datar tanpa membuka mata. Nathan tersenyum tipis, lalu tangannya terulur mengacak rambut Kaluna dengan lembut—hanya dialah satu-satunya orang yang berani dan bisa melakukannya tanpa ditolak. "Sudah selesai?" tanya Kaluna pelan. "Hmm," jawab Nathan. Kaluna tertawa lagi.
Di sudut paling tenang bar eksklusif di lantai tertinggi gedung pusat kota, cahaya lampu gantung berwarna keemasan jatuh lembut di atas meja kayu gelap. Aroma kopi arabika yang baru diseduh bercampur dengan wangi kayu cendana ruangan, menciptakan suasana hening namun terasa berat. Xander duduk santai di salah satu sofa kulit, berhadapan dengan Sean dan Arron.Sean menyandarkan punggungnya, cangkir kopi di tangannya diputar pelan tanpa diseruput sedikit pun. Wajahnya datar, tapi matanya menahan ketidaksukaan yang jelas."Aku tidak suka menjalin kerja sama dengan sesuatu yang bahkan informasinya tidak jelas," ucapnya pelan namun tegas. "Nathan?" tanya Xander seolah baru mendengar nama itu."Mungkin saja," timpal Arron sambil menyandarkan dagu di atas tangan."Kalian mengenalnya.""Benarkah?? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya," Arron menoleh cepat ke arah Sean. "Kau mengenalnya?""Kurasa tidak," jawab Sean singkat, matanya menatap lurus ke luar jendela menatap kerlap-kerlip lamp
Sore itu, sinar matahari mulai berwarna keemasan menyelimuti jalanan. Di dalam mobil sedan limusin paling mewah milik keluarga Vance—berkulit cokelat lembut, pencahayaan hangat, dan kedap suara sempurna—Kaluna duduk bersandar lepas di kursi belakang yang luas. Ia sama sekali tak sadar bahwa ia sudah tertidur pulas selama satu jam penuh, padahal cairan infusnya sudah habis sejak lama di rumah sakit. Perlahan Kaluna membuka mata, menatap ke luar jendela yang melaju pelan. "Kenapa tidak membangunkanku?" tanyanya pelan. "Nyonya butuh istirahat," jawab Emily tenang dari kursi depan. "Lagipula saya sudah menyusun ulang semua jadwal Nyonya sejak Nyonya masuk UGD tadi." "Kata siapa?" potong Kaluna cepat. "Kata Dokter Nathan," jelas Emily santai. "Semalam Nyonya mabuk, lalu Nyonya..." Kaluna langsung berdeham keras, sengaja memotong pembicaraan itu. "Tidak perlu diingatkan terus!" Emily tertawa kecil, lalu menoleh ke belakang sambil menyipitkan mata menatap bosnya. "Sesuatu terjadi di







