Share

Bab 8

Author: Pein
last update publish date: 2026-08-01 06:26:25

Arman berusaha menahan rasa kesalnya. Lagi pula, misi yang baru saja berhasil diselesaikannya memang terjadi secara tidak sengaja. Jika hadiahnya hanya tiga bungkus mi instan, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mendapat apa pun.

"Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Rahayu tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.

Arman menoleh ke wanita itu, tanpa banyak bicara, dia menyelipkan tangan ke dalam pakaiannya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan tiga bungkus mi instan hadiah dari Sistem dan menyodorkannya kepada Rahayu.

"Masak ini dulu. Kalian pasti lapar, bukan?"

Mata Rahayu langsung membelalak. "Mi... mie instan?"

Di sampingnya, Rini buru-buru meraih ketiga bungkus mie itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan.

"Mas, dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" tanyanya antusias, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.

Arman sempat mengernyit heran. Namun, beberapa detik kemudian ia baru teringat.

Ini adalah dunia yang telah runtuh.

Di akhir zaman seperti sekarang, bahkan sepotong roti bisa menjadi alasan seseorang mempertaruhkan nyawa. Wajar jika tiga bungkus mi instan mampu membuat mereka bereaksi sedemikian besar.

"Tidak usah bertanya dari mana asalnya," ucap Arman tenang. "Lebih baik cepat dimasak dan dimakan."

Tatapannya kemudian beralih kepada Sekar yang sejak tadi hanya terdiam sambil menundukkan kepala. "Dan kamu juga jangan hanya diam. Tubuhmu terlalu lemah. Makanlah dulu supaya tenagamu pulih."

Sekar mengangkat wajahnya perlahan. "A-aku... juga boleh makan?" tanyanya lirih sambil meremas ujung pakaian compang-camping yang dikenakannya.

Arman mengangguk pelan.. "Bukankah aku sudah bilang? Mulai sekarang aku akan melindungimu."

Mata Sekar langsung memerah.

Selama bertahun-tahun hidup dalam penderitaan, belum pernah ada seorang pun yang memperlakukannya dengan begitu tulus. Namun sekarang, dia mendapatkan perhatian itu dari pria yang dia kira jahat.

[Ding!

Poin Afeksi Sekar Ayu meningkat +25.

Poin Afeksi saat ini: -50/100.]

Melihat layar hologram yang melayang di atas kepala Sekar, Arman tersenyum tipis.

Setidaknya... masih ada harapan.

Tak lama kemudian, layar hologram lain muncul di atas kepala Rini.

[Ding!

Poin Afeksi Rini Wulandari meningkat +10.

Poin Afeksi saat ini: 16/100.

Anda memperoleh 100 Poin Toko.]

Ekspresi Arman langsung berubah cerah. "Seperti dugaanku... Rini benar-benar pembawa keberuntungan," gumamnya dalam hati.

Tatapannya kemudian beralih kepada Rahayu. Begitu melihat layar hologram di atas kepala wanita itu, sudut bibirnya kembali terangkat.

[Ding!

Poin Afeksi Rahayu meningkat +10.

Poin Afeksi saat ini: 10/100.

Anda memperoleh 100 Poin Toko.

Total Poin Toko: 160.]

Tanpa ragu, Arman melangkah mendekati Rahayu. Ia meraih tangan kanan wanita itu, lalu meletakkan pistol yang sebelumnya direbut ke dalam telapak tangannya.

Rahayu menatapnya bingung. "Kau..."

"Mulai sekarang kita satu tim," jawab Arman datar. "Pistol ini lebih berguna berada di tanganmu."

Rahayu mengernyit bingung. "Kau tidak takut aku menembakmu?"

Arman hanya tersenyum tipis. "Aku percaya padamu."

Deg!

Jantung Rahayu berdetak lebih cepat.

Sudah lama sekali tidak ada orang yang memberinya kepercayaan sebesar itu.

[Ding!

Poin Afeksi Rahayu meningkat +10.

Poin Afeksi saat ini: 20/100.

Anda memperoleh 100 Poin Toko.

Total Poin Toko: 260.]

Melihat angka afeksi yang terus bertambah, Arman hampir saja tertawa puas.

Ternyata benar dugaannya, wanita-wanita yang selama ini hidup tertindas tidak membutuhkan kata-kata manis. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau mempercayai dan melindungi mereka.

"Sudahlah... Kalian masak dulu mie itu dan segera makan. Aku ingin memeriksa tempat ini. Siapa tahu masih ada sesuatu yang berguna." Usai berkata demikian, Arman berbalik dan berjalan menjauh.

Rahayu sebenarnya ingin menghentikannya, karena di laboratorium tersebut sudah tidak ada apa-apa, tetapi Rini lebih dulu menarik lengannya.

"Adik, biasanya kamu memasak di mana?" tanya Rini sambil merangkul lengan Rahayu.

Rahayu memandangnya heran. "Adik?"

Rini tersenyum hangat. "Iya. Kamu yang paling terakhir bergabung, jadi sekarang kamu adik kami."

Rahayu hanya bisa menghela napas pasrah. "Ayo ikut."

Dia pun membawa Rini dan Sekar menuju ruangan yang selama ini dijadikannya dapur sederhana.

---

Sementara itu, Arman yang sudah cukup jauh dari mereka segera memanggil antarmuka Sistem.

[Toko Sistem Lv.1

«Senjata»

«Makanan»

«Alat Sehari-hari»

«Pakaian dll.]

Tanpa ragu, ia memilih menu Makanan.

[Roti — 3 Poin/bungkus

Mi Instan — 5 Poin/bungkus

Mi Cup — 5 Poin/bungkus

Minyak Goreng — 5 Poin/kg

Beras — 7 Poin/kg

...dan lain-lain.]

Arman membaca seluruh daftar itu dengan saksama. Harga makanan rata-rata hanya lima poin, dengan total poin yang dimilikinya sekarang, setidaknya ia tidak perlu lagi mengkhawatirkan persediaan makanan.

Setelah itu, ia membuka kategori Pakaian.

Sebagian besar pakaian dibanderol sekitar sepuluh poin. Cukup mahal, tetapi kualitas yang ditampilkan memang jauh lebih baik dibanding pakaian biasa.

Arman terus menggeser layar hologram, berharap menemukan rompi antipeluru atau pakaian yang bisa menahan sayatan benda tajam..

Namun, gerakan jarinya tiba-tiba terhenti. Tatapannya terpaku pada sebuah katalog berisi pakaian tidur wanita dengan desain yang sangat menggoda.

Sudut bibirnya berkedut. "Kalau mereka bertiga memakai pakaian seperti ini..."

Tanpa sadar, berbagai bayangan liar mulai memenuhi kepalanya.

TRAT! TRAT! TRAT!

Rentetan suara tembakan yang memekakkan telinga tiba-tiba mengguncang suasana. Lamunan Arman langsung buyar, dia mengangkat kepala dengan cepat sambil mengerutkan kening.

"Habisi zombie itu!" Sebuah teriakan penuh kepanikan terdengar samar dari lantai atas, bercampur dengan suara tembakan yang terus bersahutan.

Mata Arman langsung membelalak. "Zombie?!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 102

    Keesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 101

    Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 100

    Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 99

    Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 98

    Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 97

    Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status