共有

Bab 9

作者: Pein
last update 公開日: 2026-08-02 07:04:28

Arman tertegun ketika suara seseorang tiba-tiba menggema dari kejauhan.

"Zombie! Ada zombie!"

"Cepat tembak!"

Rentetan tembakan langsung menyusul, memecah kesunyian malam. Suara peluru menghantam dinding dan besi bergema di seluruh laboratorium.

Trat! Trat! Trat! Trat!

Arman refleks menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Zombie...?"

Dia segera mengingat kembali serpihan ingatan pemilik tubuh aslinya. Sejauh yang diketahuinya, dunia ini memang telah memasuki era akhir zama
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 10

    Arman dan Rahayu akhirnya tiba kembali di tempat persembunyian di ruang bawah tanah laboratorium yang hanya diterangi satu buah lampu darurat.Begitu suara langkah kaki mereka terdengar, dua sosok wanita yang sejak tadi menunggu dengan cemas segera berdiri."Mas!"Rini berlari paling cepat menghampiri Arman. Wajahnya yang sejak tadi dipenuhi kecemasan akhirnya sedikit mengendur setelah melihat pria itu kembali dengan selamat.Tanpa ragu ia memeluk lengan Arman erat-erat. "Kalian tidak apa-apa, Mas?" tanyanya dengan nada penuh kekhawatiran.Di belakangnya, Sekar hanya berdiri memandangi Arman dan Rahayu bergantian. Meski tidak seberani Rini dalam mengungkapkan perasaannya, sorot matanya sudah cukup menunjukkan betapa lega ia melihat keduanya kembali.Arman tersenyum menenangkan. "Kami baik-baik saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."Mendengar jawaban itu, Rini mengembuskan napas panjang seolah beban di dadanya akhirnya terangkat.Sementara itu, Rahayu memandang interaksi keduanya d

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 9

    Arman tertegun ketika suara seseorang tiba-tiba menggema dari kejauhan."Zombie! Ada zombie!""Cepat tembak!"Rentetan tembakan langsung menyusul, memecah kesunyian malam. Suara peluru menghantam dinding dan besi bergema di seluruh laboratorium.Trat! Trat! Trat! Trat!Arman refleks menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Zombie...?"Dia segera mengingat kembali serpihan ingatan pemilik tubuh aslinya. Sejauh yang diketahuinya, dunia ini memang telah memasuki era akhir zaman akibat berbagai bencana. Peradaban runtuh, hukum tidak lagi berlaku, dan manusia saling berebut sumber daya. Namun, tidak pernah ada informasi mengenai makhluk seperti zombie.Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?Belum sempat ia berpikir lebih jauh, Rahayu tiba-tiba berlari melewatinya dengan wajah serius.Arman terkejut, tanpa sadar ia meraih pergelangan tangan wanita itu. "Kau mau ke mana?" tanyanya.Rahayu berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku. Kalau terlambat, tempat ini tidak akan

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 8

    Arman berusaha menahan rasa kesalnya. Lagi pula, misi yang baru saja berhasil diselesaikannya memang terjadi secara tidak sengaja. Jika hadiahnya hanya tiga bungkus mi instan, itu masih jauh lebih baik daripada tidak mendapat apa pun."Jadi... apa rencanamu sekarang?" tanya Rahayu tiba-tiba sambil bangkit dari duduknya.Arman menoleh ke wanita itu, tanpa banyak bicara, dia menyelipkan tangan ke dalam pakaiannya. Sesaat kemudian, ia mengeluarkan tiga bungkus mi instan hadiah dari Sistem dan menyodorkannya kepada Rahayu."Masak ini dulu. Kalian pasti lapar, bukan?"Mata Rahayu langsung membelalak. "Mi... mie instan?"Di sampingnya, Rini buru-buru meraih ketiga bungkus mie itu dengan mata berbinar penuh kegembiraan. "Mas, dari mana kamu mendapatkan makanan ini?" tanyanya antusias, seolah sedang memegang harta karun yang tak ternilai.Arman sempat mengernyit heran. Namun, beberapa detik kemudian ia baru teringat.Ini adalah dunia yang telah runtuh.Di akhir zaman seperti sekarang, bahkan

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 7

    Melihat layar hologram Sistem yang menyatakan bahwa wanita di hadapannya memenuhi syarat untuk menjadi bagian dari Keluarga Harmonis, Arman menyunggingkan senyum tipis. Senyum itu justru membuat Rahayu semakin kesal. Genggaman tangannya pada pistol semakin erat, sementara tekad untuk membunuh pria di hadapannya kian menguat. Namun, sebelum sempat menarik pelatuk, Arman bergerak lebih cepat. Duak! Kakinya melesat menendang pergelangan tangan Rahayu. Pistol yang berada dalam genggamannya terlepas dan melayang jatuh beberapa meter. Rahayu terkejut. Tanpa pikir panjang, ia langsung berlari ke arah pistol itu. Sayangnya, Rini bergerak lebih sigap. Wanita itu lebih dulu meraih pistol, lalu mengacungkannya tepat ke arah Rahayu. Rahayu mendongak dengan wajah penuh amarah. "Berikan pistolku! Jangan percaya pada pria gila itu! Wanita seperti kita c

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 6

    Arman masih meremas benda kenyal yang tanpa sadar berada dalam genggamannya. Jarinya bahkan sempat menekannya beberapa kali, seolah berusaha memastikan apa yang sedang disentuhnya di tengah gelapnya malam. Sampai, sebuah tangan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keras. "Brengsek! Akan kubunuh kau!" Suara itu terdengar dingin, penuh amarah, dan jelas berasal dari seorang wanita. Arman membeku, matanya membelalak saat cahaya bulan yang samar menerobos sela-sela awan, memperlihatkan wajah sosok yang tadi menindih tubuhnya. Seorang wanita cantik. Namun, tatapannya setajam bilah pedang. Arman buru-buru melepaskan tangannya sambil menelan ludah. "Pantas saja terasa... kenyal." Pikiran itu muncul begitu saja, membuat wajahnya sedikit memerah meski situasi sama sekali tidak memungkinkan untuk merasa malu. Belum sempat ia meminta maaf, wanita itu sudah menghunus sebuah belati hitam dari balik pinggangnya. Tanpa ragu, wanita itu menusukkan belati tersebut ke arah dada Arman, tapi

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 5

    Arman masih mematung di tempatnya. Tatapannya tidak beralih sedikit pun dari layar hologram transparan yang melayang di hadapannya. Alisnya berkerut dalam melihat notifikasi Sistem yang tertera.Poin toko sama sekali tidak berubah. Padahal beberapa saat sebelumnya, poin afeksi Sekar telah meningkat lima poin. Seharusnya, menurut dugaan Arman, peningkatan afeksi akan diikuti dengan bertambahnya poin toko. Namun kenyataannya, saldo poin tetap sama.Rasa kesal mulai memenuhi dadanya, dalam hati ia menggerutu. "Sistem, jangan main curang! Hadiah pemula yang kau berikan saja sudah aneh. Bukannya kemampuan bertarung atau senjata, malah sepuluh set bikini transparan. Sekarang poin toko juga tidak bertambah? Jangan bilang kau memang sengaja mempermainkanku!"Suara Sistem segera bergema di dalam benaknya.[Poin Toko hanya diperoleh ketika Poin Afeksi meningkat dari nilai positif. Poin Afeksi yang naik dari nilai minus tidak menghasilkan Poin Toko.]Arman membeku beberapa saat, kemudian urat di

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status