Share

Bab 9

Author: Pein
last update publish date: 2026-08-02 07:04:28

Arman tertegun ketika suara seseorang tiba-tiba menggema dari kejauhan.

"Zombie! Ada zombie!"

"Cepat tembak!"

Rentetan tembakan langsung menyusul, memecah kesunyian malam. Suara peluru menghantam dinding dan besi bergema di seluruh laboratorium.

Trat! Trat! Trat! Trat!

Arman refleks menoleh ke arah sumber suara. Wajahnya dipenuhi kebingungan. "Zombie...?"

Dia segera mengingat kembali serpihan ingatan pemilik tubuh aslinya. Sejauh yang diketahuinya, dunia ini memang telah memasuki era akhir zaman akibat berbagai bencana.

Peradaban runtuh, hukum tidak lagi berlaku, dan manusia saling berebut sumber daya. Namun, tidak pernah ada informasi mengenai makhluk seperti zombie.

Lalu, apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Belum sempat ia berpikir lebih jauh, Rahayu tiba-tiba berlari melewatinya dengan wajah serius.

Arman terkejut, tanpa sadar ia meraih pergelangan tangan wanita itu. "Kau mau ke mana?" tanyanya.

Rahayu berusaha melepaskan diri. "Lepaskan aku. Kalau terlambat, tempat ini tidak akan aman lagi." Nada bicaranya terdengar tergesa-gesa.

Arman mengernyit, jawaban itu terlalu ambigu.

Namun, ketika melihat sorot mata Rahayu yang penuh kesungguhan, ia tahu wanita itu tidak sedang bercanda. Ada sesuatu yang sangat penting yang harus segera dilakukan.

"Kalau begitu... aku ikut."

Rahayu menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepala. "Baik."

Arman pun melepaskan cekalannya. Tanpa membuang waktu, mereka berdua berlari menuju tangga yang mengarah ke lantai atas laboratorium.

Koridor yang mereka lewati dipenuhi kegelapan. Setiap langkah kaki mereka memantulkan gema panjang di lorong Laboratorium.

Beberapa menit kemudian mereka tiba di sebuah ruangan.

Ruangan itu dipenuhi berbagai mesin yang bentuknya asing. Kabel-kabel tebal menjulur ke segala arah, sementara beberapa monitor tua masih menyala redup dengan deretan kode yang terus bergerak.

Arman memandang sekeliling dengan penuh rasa ingin tahu. "Tempat apa ini...?"

Tanpa menjawab, Rahayu langsung duduk di depan sebuah panel kendali. Jari-jarinya bergerak sangat lincah menekan berbagai tombol.

Suara mesin mulai bermunculan satu demi satu, layar monitor menyala lebih terang, jarum-jarum indikator bergerak dan lampu peringatan berkedip merah.

Tak lama kemudian...

GROOOAAAAARRRRR!!!

Sebuah raungan menggelegar tiba-tiba memenuhi seluruh laboratorium.

Suara itu begitu keras hingga dinding bergetar hebat. Arman membelalakkan mata, tubuhnya refleks mundur beberapa langkah.

Raungan itu sama sekali tidak terdengar seperti suara manusia. Justru lebih menyerupai monster raksasa yang sedang mengamuk.

Belum hilang keterkejutannya, seluruh bangunan mulai berguncang. Debu-debu halus berjatuhan dari langit-langit dan mesin-mesin bergetar.

Lantai di bawah kaki mereka ikut berguncang seolah ada makhluk berukuran puluhan meter sedang berjalan tepat di luar laboratorium.

Arman sampai kehilangan keseimbangan, dia buru-buru berpegangan pada meja besi di dekatnya.

"Apa yang terjadi...?" Tanpa berpikir panjang, ia menghampiri Rahayu dan memegang kedua bahu wanita itu. "Di sini terlalu berbahaya. Kita harus pergi sekarang juga!"

Namun, berbeda dengan Arman yang panik, Rahayu justru terlihat sangat tenang. Wanita itu menoleh sambil memperlihatkan senyum kecil.

"Tenang saja, semuanya masih berada dalam kendaliku," katanya santai.

Arman semakin bingung.

Dalam kendali?

Apa maksudnya?

Bukankah jelas-jelas ada sesuatu yang sangat besar di luar sana?

Mengapa Rahayu bisa setenang itu?

Meski dipenuhi berbagai pertanyaan, Arman memilih diam, dia merasa wanita itu sengaja menyembunyikan sesuatu darinya.

---

Sementara itu, di lantai pertama laboratorium. Sekelompok orang akhirnya berhasil mencapai lobi utama.

Mereka masih memegang senapan sambil terus mengarahkan laras ke berbagai sudut ruangan, dimana ada sesuatu yang bergerak ke arah mereka.

Salah seorang pria perlahan mengangkat kepala, wajahnya langsung berubah pucat. "Itu... itu apa...?"

Semua orang mengikuti arah pandang pria tersebut. Melalui pintu utama, tampak sesosok bayangan raksasa berdiri di tengah pekatnya malam.

Sosok itu begitu tinggi hingga kepalanya nyaris sejajar dengan pepohonan di kejauhan. Diiringi suara geraman berat yang mengguncang udara.

GROOOAAAAARRRR!!

Setiap langkah bayangan itu membuat tanah bergetar. Wajah seluruh orang di lobi langsung kehilangan warna.

"Ada... ada raksasa!"

"Celaka itu zombie raksasa!"

"Lari!!"

Tak seorang pun berani memastikan apa makhluk itu sebenarnya. Naluri bertahan hidup mengalahkan rasa penasaran mereka, tanpa menunggu aba-aba, semuanya berbalik arah dan berlari keluar laboratorium secepat mungkin.

Beberapa orang bahkan saling bertabrakan karena terlalu panik. Salah seorang pria yang membawa ransel besar tersandung.

Bruk!

Tasnya terlempar cukup jauh. Namun, pria itu sama sekali tidak berani mengambilnya kembali, dia bangkit dan terus berlari tanpa menoleh sedikit pun.

Tak lama kemudian, setelah suara tembakan berhenti dan jeritan kepanikan perlahan menghilang, laboratorium kembali sunyi.

Getaran tanah ikut lenyap, raungan mengerikan tadi juga menghilang begitu saja, seolah tidak pernah terjadi.

---

Beberapa menit kemudian, Rahayu dan Arman berjalan santai keluar dari ruangan kendali menuju lobi.

Begitu tiba di sana, mata Rahayu langsung berbinar ketika melihat sebuah tas besar yang tergeletak di lantai, tanpa ragu ia mengambilnya.

Resleting tas segera dibuka, senyumnya semakin lebar. "Bagus...."

Di dalamnya terdapat beberapa kaleng makanan, roti kering yang masih tersegel, beberapa botol air minum, kotak peluru, hingga perlengkapan bertahan hidup lainnnya.

Rahayu memeluk tas itu dengan wajah puas.

Sementara itu, Arman hanya bisa menatapnya dengan ekspresi aneh.

Setelah menghubungkan semua kejadian barusan, akhirnya sebuah dugaan muncul di kepalanya. "Jadi... Zombie tadi... semuanya hanya akal-akalanmu?"

Rahayu mendongakkan kepala, senyum bangga menghiasi wajah cantiknya. "Tentu saja, kalau tidak seperti itu, bagaimana mungkin aku bisa bertahan hidup di tempat ini dari kejaran Para pria brengsek itu?!"

Arman menghela napas pelan, kini semuanya mulai masuk akal. Namun, masih ada satu hal yang belum ia mengerti. "Kalau begitu... Getaran seperti gempa tadi... dan bayangan raksasa yang mereka lihat... apakah itu juga ulahmu?"

Rahayu menutup kembali tas tersebut, dia hanya tersenyum misterius. "Besok saja aku jelaskan, malam sudah semakin larut, lebih baik kita istirahat dulu."

Tanpa memberi kesempatan Arman bertanya lagi, Rahayu mengangkat tas itu ke bahunya lalu berjalan menuju pintu yang mengarah ke ruang bawah tanah.

Arman hanya bisa menggeleng sambil tersenyum tipis. Semakin lama mengenal wanita itu, semakin ia menyadari bahwa di balik wajah cantik dan sikap dinginnya, Rahayu adalah sosok yang sangat mandiri, cerdas, dan penuh kejutan.

Tidak heran ia mampu bertahan hidup sendirian di laboratorium selama bertahun-tahun.

Arman pun melangkah mengikuti Rahayu.

Saat mereka sudah pergi, tak jauh dari laboratorium, sepasang mata merah menyala perlahan terbuka. Tatapannya mengikuti kepergian Arman dan Rahayu tanpa berkedip sedikit pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 102

    Keesokan harinya, suasana di sekitar Laboratorium kembali terlihat tenang. Matahari baru saja naik cukup tinggi ketika sekelompok pasukan bersenjata lengkap bergerak dari arah kejauhan. Pasukan tersebut berhenti cukup jauh dari Laboratorium.Di bagian depan, Handi turun dari kendaraan sambil mengamati wilayah sekitar dengan tatapan tajam. Di sampingnya, Alex ikut memperhatikan bangunan Laboratorium yang terlihat dari kejauhan.Benteng baja yang mengelilingi Laboratorium tampak begitu kokoh. Menara-menara pengawas berdiri di beberapa titik, tetapi dari tempat mereka berada tidak terlihat seorang pun penjaga.Handi menyipitkan matanya. "Jadi ini tempatnya?" tanyanya.Alex mengangguk. "Benar. Informasi yang kita dapat ada kelompok penyintas tinggal di dalam Laboratorium itu."Handi kembali mengamati wilayah tersebut. "Pertahanannya terlihat cukup kuat.""Karena itu kita tidak boleh menyerang secara terbuka," jawab Alex. "Kalau mereka mengetahui kedatangan kita lebih awal, kita bisa kehi

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 101

    Tatapan semua orang langsung tertuju kepada Rini. Setelah mendengar perkataan Rahayu, tanpa sadar pandangan mereka turun ke arah perut wanita itu.Rini sendiri tampak masih belum sepenuhnya percaya. Tangannya perlahan terangkat, kemudian mengusap perutnya dengan gerakan lembut.Senyum kecil muncul di wajahnya. "Benarkah aku hamil?" tanyanya pelan.Rahayu mengangguk. "Kemungkinan besarnya memang begitu."Rini terdiam beberapa saat, kemudian senyumnya semakin lebar. "Kalau benar... aku pasti akan sangat senang."Tangannya masih berada di atas perutnya. Ada kebahagiaan yang sulit disembunyikan dari tatapannya.Rahayu kemudian menjelaskan, "Gejala yang kamu alami memang cukup sesuai. Kamu beberapa hari ini sering mual, mudah lelah, dan..." Dia melirik Arman sebentar sebelum kembali menatap Rini. "... kita juga sudah berhubungan selama hampir tiga bulan dengan Mas Arman, jadi kemungkinan hamil memang cukup besar."Sekar langsung tersenyum. "Kalau benar, berarti kita akan punya anggota kelu

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 100

    Malam telah benar-benar turun ketika Arman memilih naik ke atap Laboratorium.Di sana, beberapa panel surya berjajar rapi di salah satu sisi atap. Permukaannya memantulkan cahaya bulan yang tampak begitu indah malam itu. Tidak ada lampu kota, tidak ada gedung pencakar langit, bahkan suara kendaraan pun tidak terdengar.Hanya ada suara angin malam yang berembus perlahan.Arman duduk santai di sebuah kursi, menikmati sebotol bir sambil menatap langit yang dipenuhi bintang."Sudah lama aku tidak menikmati pemandangan seperti ini." Dia mengangkat botol birnya sedikit, kemudian tersenyum tipis.Dunia memang sudah berubah. Namun, anehnya, justru setelah dunia hampir runtuh, Arman bisa melihat langit dengan jauh lebih jelas dibandingkan sebelumnya.Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki dari arah tangga.Arman menoleh.Rahayu muncul bersama Sekar, Rini, dan Yulia. Mereka membawa sebuah tikar yang kemudian digelar tidak jauh dari tempat Arman duduk."Mas duduk bersama kami," kata Se

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 99

    Mendapatkan pertanyaan langsung dari Rahayu, ditambah tiga pasang mata yang kini tertuju kepadanya dengan tatapan penuh tekanan, membuat Arman seketika merasa canggung.Dia menggaruk bagian belakang kepalanya yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Arman tampak seperti seseorang yang sedang mencari alasan paling tepat agar tidak memperburuk keadaan."Bukan aku yang memberitahunya," akhirnya Arman menjawab. "Tapi dia sendiri yang melihatnya."Ucapan itu membuat Rahayu langsung mengalihkan pandangannya kepada Windi, tatapan matanya berubah semakin tajam."Kamu melihatnya sendiri?" tanya Rahayu dengan nada yang terdengar menahan emosi.Windi yang sejak tadi tangannya masih dipegang oleh Rahayu segera melepaskan diri. Dia tidak membalas tatapan tajam tersebut dengan kemarahan. Sebaliknya, Windi justru berdiri tenang, meskipun jelas terlihat sedikit gugup menghadapi ketiga wanita yang selama ini telah lebih dahulu berada di sisi Arman."Jangan salahkan Mas Arman," kata Windi pelan.

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 98

    Windi menatap manik mata Arman selama beberapa saat. Tatapannya terlihat mantap, seolah seluruh keraguan yang selama ini menghalangi langkahnya telah lenyap begitu saja.Wanita itu sudah bertekad untuk menjadi bagian dari kehidupan Arman. Karena itu, ketika pria tersebut merengkuh pinggangnya, Windi sama sekali tidak berusaha menjauh.Justru sebaliknya.Perlahan, Windi mendekatkan kepalanya dan menyandarkan pipinya di dada bidang Arman. Kehangatan tubuh pria itu terasa begitu nyata, membuat perasaannya yang sejak tadi tegang perlahan menjadi tenang.Arman yang masih merengkuh pinggang Windi sedikit terkejut. Dia sama sekali tidak menyangka Windi akan mengambil keputusan secepat itu. Selama ini wanita tersebut memang menunjukkan perhatian yang semakin jelas kepadanya, tetapi Arman tidak pernah menduga bahwa Windi akan berani mengatakannya secara terang-terangan.Windi mengangkat wajahnya. "Mas, dilihat dari mana pun, kamu pasti sudah tahu apa tujuanku."Dia berhenti sejenak. Matanya k

  • Mas Arman, Giliranku Kapan?   Bab 97

    Arman sama sekali tidak mengetahui bahwa pasukan elit milik Penguasa Kota sedang bergerak menuju Laboratorium BioGen yang kini telah menjadi tempat tinggalnya. Pria itu masih terlihat santai, seolah tidak ada sesuatu pun yang perlu dikhawatirkan.Sejak pagi, Arman memang sibuk mengurus pembangunan peternakan di sisi kanan laboratorium. Setelah kandang ayam selesai dibangun, dia memasang sejumlah kabel, lampu, serta saluran listrik yang menghubungkan area peternakan dengan sumber energi yang tersedia di dalam laboratorium.Setelah memastikan seluruh sambungan terpasang dengan benar, Arman berdiri di depan sakelar, menyalakannya.Lampu-lampu yang terpasang di sepanjang kandang langsung menyala.Cahaya putih menerangi bagian dalam peternakan, membuat kandang yang sebelumnya hanya diterangi cahaya matahari kini bisa digunakan dengan lebih nyaman hingga malam hari.Arman memperhatikan seluruh bagian kandang dengan teliti. Dia memastikan tidak ada kabel yang longgar dan tidak ada bagian lam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status