แชร์

Bab 15 - Kesepakatan

ผู้เขียน: Delf
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2025-07-25 08:03:38

Ivan bersandar di samping mobilnya sambil menyilangkan kedua tangannya. Dari jauh dia mengamati Olivia yang duduk di samping makam, dan sesekali Ivan melihat tubuh Olivia bergetar. Ivan tau Olivia sedang menangis. Ada perasaan ingin untuk memeluk gadis itu, merangkulnya hanya sekedar menghapus kesedihannya. Namun gadis itu terlalu keras, tidak membiarkan celah hatinya terbuka sedikit pun. Dan itu semakin membuat Ivan penasaran.

Walau baru beberapa hari mengenal Olivia, namun Ivan sudah bisa menyimpulkan bahwa gadis itu begitu keras kepala, mencoba selalu terlihat kuat, walau mungkin di dalam hatinya sudah keropos. Dan Ivan sangat terkejut ketika dua hari lalu Olivia menelponnya untuk bertemu. Dan pertemuan itu sangat singkat, bahkan tidak sampai lima belas menit. Dan ingatan itu kembali terulang.

Flashback ON

Gadis itu terlihat sangat gugup, sambil memainkan jari tangannya ketika Ivan duduk di hadapannya, di bakery sebelah tempat Olivia mengajar les.

“Kamu kangen aku ya?” ucap Ivan sa
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 76 - Pulang bareng

    “Liv, kamu tolong anterin Ivan pulang ya.” Ucap Steffany ketika mereka telah berada di parkiran.“Ivan ga bawa mobil?” Olivia sedikit heran. Tapi memang tadi dia tidak melihat mobil Ivan di panti, itu sebabnya dia sangat terkejut melihat keberadaan Ivan di sana.Steffany menggeleng, “Lagi service di bengkel. Aku bisa aja sih anter dia pulang ke rumah dulu, tapi...”Olivia mengangguk mengerti, ingin rasanya Olivia menjawab ada Calvin atau bisa naik ojek online, kenapa harus dirinya? Tapi dia sangat mengerti bahwa Calvin pasti ingin berdua dengan Ana, begitu pun Steffany dan Andrew. Hari masih tergolong “pagi” bagi pasangan baru di akhir weekend seperti ini. Olivia menoleh kepada Ivan yang masih asik berbincang dengan Calvin, Ana, dan juga Andrew sambil menggendong Dariel. Ada rasa teduh di hati Olivia melihat pemadangan itu, terlihat Ivan sangat menyayangi Dariel.“Please.. kalian kan searah juga.” Lanjut Steffany melihat keraguan di mata Olivia.Olivia akhirnya mengangguk menyetujui.

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 75 - Kita hanya teman

    “Liv, mau ke mana? Ga ikut makan?” Ivan terkejut melihat Olivia yang berjalan ke arah mobilnya, dan pria itu segera mengejarnya.“Engga, aku mau jemput Iel.”Ivan melihat jam tangannya, baru menunjukkan pukul lima sore. “Kamu tadi bilang Iel nonton bioskop sama Calvin.”“Iya, harusnya bentar lagi selesai. Aku juga ada janji makan malam dengan Calvin.”Ivan merasa kecewa namun dia mengangguk.“Kaki kamu uda ga papa? Bisa nyetir ga? Mau aku anter pulang?”Olivia tersenyum, “Uda ga papa koq, untung ga terkilir. Thanks ya.”Ivan tersenyum, “Yeah, sama-sama.”“Kak Ivan, ayo..” suara Nanda terdengar, mereka berdua menoleh pada sumber suara tersebut. Terlihat gadis cantik itu melambaikan tangan sambil tersenyum.“Uda ada yang nungguin tuh.” Ucap Olivia terdengar menggoda Ivan walau entah mengapa perasaannya sedikit sakit ketika mengatakan hal itu.“Ya uda, aku duluan ya. Ati-ati di jalan, Liv. Bye.”Olivia mengangguk dan melihat pria itu berlari sambil melambaikan tangan menuju Nanda. Olivi

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 74 - Memilih mundur

    “Ivan? Kamu di sini juga?” Olivia tiba-tiba merasa gugup. Pria yang sudah seminggu tidak pernah muncul batang hidungnya, ternyata kini berada di tempat yang sama dengannya.Ivan tersenyum, “Yeah, sekarang aku selalu di sini.”Olivia mengangguk. Jadi ini alasan Ivan tidak pernah muncul lagi?“Iel ga ikut?”Olivia menggeleng, “Iel lagi jalan sama Calvin dan Ana. Katanya mau nonton bioskop dengan keponakan Ana.”Ivan mengangguk, “Kalau gitu kamu ada waktu dong buat tanding basket?”Olivia tersenyum sambil menggeleng.“Kenapa? Takut kalah?” Tantang Ivan mengangkat sebelah alisnya.“Aku ke sini pengen main sama anak-anak, bukan mau mencari siapa yang lebih hebat.”Ivan tertawa, “Pertandingan itu tidak selalu mencari siapa yang terhebat. Anggap saja ini pertandingan persahabatan. Yang kalah traktir anak-anak makan.”Olivia memandang Ivan kemudian tersenyum, “Oke kalo gitu, aku yang duluan pilih team.”Ivan mengulurkan tangannya sembari sedikit membungkuk, “Silahkan, tuan putri.”Pertandinga

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 73 - Ga kangen aku?

    “Permisi, Bu. Pesanan makanannya sudah datang.” Lanny mengetuk pintu ruangan Olivia.Olivia meletakkan pulpennya dan mengkerutkan dahinya. “Makanan? Saya ga ada pesan makanan.”“Tapi nama dan alamatnya benar, Bu.” Ucap Lanny.“Ya uda, tolong taruh di meja sana aja, nanti saya lihat. Terima kasih, Lan.”Lanny mengangguk dan kemudian keluar ruangan setelah menaruh makanan tersebut. Olivia melihat jam di tangannya, sudah hampir pukul dua belas, entah mengapa jantungnya jadi berdebar kencang. Mungkinkah Ivan datang lagi? Ya Tuhan, kenapa aku jadi memikirkan dia?Olivia melangkah menuju box makanan, membuka plastiknya, dan ternyata ada sebuah kertas catatan di sana.Sibuk boleh, tapi sakit jangan.Jangan telat makan. Happy lunch.-Client paling nyebelin-Olivia membaca catatan tersebut, dia terkejut, namun bibirnya tidak mampu menahan senyuman. Olivia membuka kotak tersebut, Nasi dan soto ayam. Senyuman kembali terlukis di wajah cantik wanita itu. Namun di dalam hatinya ada tanda tanya, me

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 72 - Busur panah

    Ivan membuka pintu rumah dan terdengar suara gelak tawa Steffany dan Calvin. Ivan melangkah lunglai, merasa iri melihat kedua saudaranya dapat tertawa lebar penuh kebahagiaan, sedangkan dirinya merasa hancur ditolak berkali-kali oleh wanita yang dicintainya.“Jadi gimana uda first kiss belum?” suara Steffany terdengar.“Menurutmu?” Calvin terkekeh.Steffany tertawa, “Manis mana ma bibir Olivia?”Ivan yang mendengar nama Olivia disebut langsung mendekat, “Kalian omongin apa?”Steffany dan Calvin terkejut, “Ini loh pasangan baru, ceritain pengalaman first kissnya.” Ucap Steffany terkekeh.“Aku denger ada Olivia disebut.”“Eheeemm… ada yang langsung cemburu dengar nama Olivia disebut.”“Kak, uda makan belum? Mama ada masak semur tuh.”“Aku uda makan di rumah Oliv.” Ivan duduk di samping Steffany.Steffany dan Calvin terkejut, saling menatap namun kemudian tertawa, “Ciieeeh cieeehh… ada yang CLBK nih ceritanya.” Goda Steffany.“Emang mereka pernah jadian?” Calvin bertanya serius pada Stef

  • Masih Menjadi Milikku   Bab 71 - I like him so much

    Olivia melangkah duluan membuka pintu dan diikuti oleh Ivan.“Ivan..” Olivia tau bahwa dia harus mengatakan yang sejujurnya sebelum Ivan berharap terlalu jauh padanya.“Ya?” Ivan memasang senyum terindahnya.“Terima kasih uda memberikan Iel mainan, dan mau main dengannya.” ucap Olivia dengan tulus.Ivan tersenyum, “No problem, aku suka main dengan Iel.”Olivia terdiam kemudian melanjutkan, “Aku harap kamu jangan terlalu memanjakan dia, dan.. jangan terlalu sering bertemu dia. A..aku tidak ingin dia bergantung pada kamu.”Ivan terkejut, ingin mengucapkan sesuatu tapi lidahnya kelu. “Aku tidak ingin kamu menaruh harapan padaku.” Lanjut Olivia jujur.“Liv.. aku mencintai kamu. Dan itu bohong jika kamu tidak merasakan hal yang sama. Kita tidak bisa terus-terusan menyangkalnya Liv.” Ivan spontan memegang pundak Olivia.Olivia memejamkan matanya mencari kekuatan, “Sudah terlambat. Keadaannya kini sudah berbeda, Van.”“Apa bedanya?”“Aku sudah pernah menikah, aku janda, punya anak satu.”“I

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status